“Apa maksudmu?? Jangan seenaknya sendiri!” teriak Rosalie sambil mencoba merebut kertas miliknya.
“Indri, coba baca ini!! Ini pasti dari seorang laki-laki!!” seru Siska sambil melemparkan kertas itu pada Indri.
“Wah, hebat sekali. Baru juga beberapa minggu dia jadi janda, eh kelakuannya sudah seperti ini!” cibir Indri sambil memasukkan kertas itu ke tempat sampah.
“Kalian ini benar-benar seperti anak kecil ya! Dasar kekanak-kanakan!!” cecar Elia.
“Biarin! Emangnya dari siapa sepatu itu?? Kelihatannya mahal. Apa kamu habis morotin om-om??” tanya Siska.
“Jangan sembarang menuduh!! Lihat kalian aku jadi nggak selera makan!” ucap Rosalie sambil meninggalkan tempat itu.
Karena begitu kesal Rosalie sampai tidak sempat membawa sepatu itu. Namun, Elia mengejarnya sambil membawakan sepatu misterius itu.
Rosalie ternyata pergi ke balkon di lantai paling atas. Tempat itu sebenarnya adalah ruang untuk istirahat karyawan agar menghilangkan penat dalam bekerja.
Tempatnya cukup bagus karena dari sana mereka bisa merasakan sejuknya angin yang berhembus dari luar. Tempatnya yang cukup luas membuat keadaan tidak terlalu ramai. Rosalie duduk di sofa sambil menatap langit yang biru.
“Ros, tataplah aku!” perintah Elia.
Rosalie melihat ke arah sahabatnya itu. Elia merentangkan tangannya. Rosalie menghambur ke pelukannya. Ia mulai terisak.
“Rasanya aku tidak sanggup menghadapi semua ini El,” ucap Rosalie yang tidak bisa menahan air matanya.
“Istirahat masih ada setengah jam lagi. Menangislah kalau semua itu bisa membuatmu tenang. Jangan terlalu sering menyimpan semuanya sendirian,” ucap Elia.
“Iya El,” jawab Rosalie.
Beberapa menit berlalu dengan air mata berderai di pipi Rosalie. Elia mengambilkan tisu ke untuk menghapus air mata Rosalie. Tak lama, sahabatnya itu membuka kardus sepatu.
“Pakailah ini. Sepatu yang sangat cantik. Sangat cocok untukmu. Aku rasa ini juga pas sekali dengan ukuran kakimu,” pinta Elia.
“Tapi aku tidak tahu siapa yang memberikannya padaku,” ucap Rosalie.
“Tidak apa-apa. Kamu bisa mencarinya setelah ini. Yang penting perbaiki penampilanmu hari ini dan kembalilah sebagai Rosalie yang aku kenal. Rosalie yang selalu percaya diri dan berani,” kata Elia memberikan semangat.
“Benar juga katamu. Terima kasih. Kamu begitu baik,” ucap Rosalie sambil melepaskan sepatu yang ia kenakan.
Rosalie memakai high heels dengan warna merah maroon itu. Meski bukan warna kesukaannya, Rosalie tersenyum saat melihat sepatu itu begitu cantik di kakinya.
Ia mencobanya dengan melangkah ke sana kemari. Sepatu itu sangat nyaman dipakai. Modelnya juga keluaran terbaru.
“Wah, ini sih nggak salah lagi! Aku lihat di katalog kemarin. Harganya kalau tidak salah jutaan. Aku lupa berapa,” celetuk Elia sambil mengamati kardus sepatunya.
“Benarkah?? Rasanya tidak mungkin ada orang yang memberikan barang mahal dengan cuma-cuma,” sahut Rosalie tak percaya.
“Hadeh, sini duduk. Kita cari harganya di market place,” ajak Elia sambil mengutak-atik smartphone-nya.
Rosalie ikut mengamati layar smartphone Elia. Dalam hati, ia terus bertanya-tanya siapa orang yang memberikan bantuan di hari itu. Sesaat ia terhenyak. Ada dua orang lelaki yang menanyakan keadaanya di hari itu.
Pertama, Pak Ganendra yang ia temui tadi pagi. Lelaki itu sempat bertanya soal keadaan Rosalie. Kedua, Diky teman samping kubikelnya. Dia juga bertanya soal wajah Rosalie yang kelihatan sedih.
“Nah!! Ketemu Ros! Harganya dua jutaan. Lihat ini kalau kamu nggak percaya!” perintah Elia.
Rosalie segera melihatnya. Ia terbelalak melihat sepatu yang sama persis dengan yang ia pakai. Harganya memang cukup mahal. Bahkan Elia menunjukkan harga di beberapa tempat lainnya.
“Rasanya tidak mungkin, bisa jadi ini barang tiruan alias KW,” ucap Rosalie.
“Sini copot satu! Aku tahu soal itu!” perintah Elia.
Rosalie menyerahkan salah satu sepatu itu. Elia mengamatinya dengan cermat.
“Ini asli. Aku punya sepatu merk ini satu. Ini benar-benar asli. Jadi siapa yang memberikan ini Ros?? Apa kamu sudah mencoba memikirkan hal itu??” tanya Elia sambil menatap Rosalie tajam.
Rosalie kembali teringat dengan dua orang. Pak Ganendra dan Diky. Namun, ia tidak berani untuk percaya diri. Pak Ganendra memang menanyakan keadaannya. Namun, mereka baru saja bertemu tadi pagi.
‘Rasanya tidak mungkin kalau orang itu yang membelikannya. Dia belum mengenalku. Bagaimana dia tahu ukuran kakiku? Apa dengan sekali lihat dia bisa tahu?? Nggak mungkin banget kan?? Jadi apa ini pemberian Diky??’ batin Rosalie mulai menduga-duga.
“Ros?? Ditanya kok malah ngelamun??” tanya Elia.
“Aku sebenarnya curiga kalau Diky yang memberikan sepatu ini,” jawab Rosalie.
“Diky?? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Elia sambil tertawa.
“Iya. Soalnya tadi dia tahu kalau aku sedang sedih. Nanti aku coba tanyakan ke dia saja.”
“Tapi aku yakin, jawabannya pasti bukan. Gaji kita saja cuma empat jutaan. Nggak mungkin dia beliin kamu sepatu semahal ini. Dan aku sendiri juga tahu tanggungan Diky tuh banyak. Dua adiknya masih kecil-kecil. Ayahnya sudah lama meninggal. Aku rasa kamu salah tebak,” ucap Elia begitu yakin.
“Tapi aku tetap ingin menanyakannya pada Diky,” ucap Rosalie.
“Ya terserah kamu sih. Emangnya kamu nggak ada orang lain yang bisa dicurigai gitu??” tanya Elia.
Rosalie terdiam. Sesaat ia berpikir untuk menceritakan soal Pak Ganendra pada Elia. Namun, Rosalie kembali mengurungkan niatnya.
“Nggak ada sih. Sementara aku curiga sama Diky saja,” kata Rosalie.
“Baiklah. Ayo kita kembali ke ruang kerja,” ajak Elia.
Sesampainya di ruang kerja, mereka kembali ke kubikel masing-masing. Rosalie sudah lebih percaya diri sekarang. Sepatu yang ia kenakan susah serasi dan kelihatan bagus.
Saat melihat Diky di sampingnya, ia berpikir untuk memberanikan diri bertanya soal sepatu itu. Rosalie mengamati sekelilingnya, ia tidak ingin ada yang menguping pertanyaannya.
“Dik, apa kamu yang memberiku sepatu ini?” bisik Rosalie lirih.
“Tidak. Bukannya sejak pagi kamu sudah pakai sepatu ya?” Pertanyaan Diky semakin membuat Rosalie tercengang.
“Ah iya,” sahut Rosalie tak ingin bertanya lebih lanjut.
Rosalie menatap layar monitornya kembali. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu juga. Namun, batinnya terus meronta-ronta penasaran.
‘Jelas pengirimnya bukan Diky. Dia saja nggak sadar masalah sepatuku. Mana mungkin dia membelikan sepatu itu. Jadi kemungkinan satu-satunya ada pada Pak Ganendra. Aku malu mengakui ini, kesannya aku terlalu percaya diri. Tapi hanya dia satu-satunya orang yang bisa aku curigai,' batin Rosalie.
Sampai jam pulang tiba pun, Rosalie masih terus memikirkannya. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya secara langsung pada Pak Ganendra.
Semalaman ia memikirkan sepasang sepatu misterius itu. Rosalie tidak bisa tenang sebelum tahu siapa pengirimnya.
“Besok aku akan menemui Pak Ganendra dan menanyakannya. Ya daripada aku dihantui rasa penasaran seperti ini,” bisik Rosalie pada hari yang sudah larut malam itu.
Bersambung...