Rosalie menoleh ke sana kemari. Beberapa wanita di sampingnya sudah menjerit histeris karena bahagia lelaki itu menatap ke arah mereka. Rosalie menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan dugaannya yang tidak mungkin itu.
‘Tidak! Dia hanya kebetulan menatap ke arah sini saja. Jadi jangan pikirkan dia,’ batin Rosalie.
Lelaki itu tersenyum sebelum mengawali ucapannya. Banyak karyawan yang meleleh dan langsung berbisik-bisik membicarakannya. Sementara Pak Abiyasa berdiri di dekat lelaki tampan yang menarik semua perhatian.
“Selamat pagi semuanya. Mungkin di sini sudah ada yang mendengar rumor bahwa Pak Abiyasa akan pensiun dan akan digantikan oleh anaknya. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan diri. Nama saya, Ganendra Abiyasa. Saya akan menggantikan ayah saya.”
Rosalie menggaruk kepalanya, saking sibuknya dengan urusan hidupnya sendiri, ia tidak pernah memperhatikan ada rumor semacam itu. Saat Ganendra menceritakan semua prestasinya banyak wanita yang terkesima. Tampan, cerdas, berkharisma dan berprestasi, apalagi yang kurang dari sosok seorang Ganedra.
Hampir semua karyawan memujinya. Rosalie memainkan ujung kemejanya sendiri. Ia gelisah dengan kenyataan itu. Beberapa kali tepuk tangan riuh karena Ganendra bisa menguasai suasana yang ada.
“Terakhir, sebagai pimpinan baru perusahaan ini. Saya ingin semua karyawan disiplin waktu. Tidak hanya itu, saya juga ingin kalian menjaga penampilan diri karena itu sangatlah penting. Saya yakin kalian bisa melakukannya. Tetap semangat dan selalu bekerja dengan kebahagiaan!” ucapan Ganendra di akhir itu cukup membuat Rosalie tersindir.
Tiba-tiba Elia merangkul Rosalie saat acara perkenalan singkat itu dibubarkan. Beberapa kali Elia menepuk pundak Rosalie. Ia seolah tahu bagaimana perasaan Rosalie.
Mereka kembali ke ruang kerja masing-masing. Rosalie menatap monitor di depannya dengan tatapan kosong. Siapa sangka, Diky yang duduk tak jauh darinya sedang memperhatikan Rosalie.
“Hai Ros, hari ini kamu tampak pucat. Apa kamu sakit??” tanya Diky.
“Nggak kok. Aku masih agak ngantuk.”
“Oh ya, ini untuk kamu. Kamu suka jus strawberry kan? Biar lebih segar,” ucap Diky sambil tersenyum.
Rosalie menatap Dicky yang selalu baik padanya. Mungkin saja Diky sudah mendengar rumor soal perceraian Rosalie. Ia menghela napas lalu mengambil botol pemberian Diky.
“Terima kasih,” ucap Rosalie sambil tersenyum.
“Sama-sama. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri ya,” saran Diky.
“Iya Dik,” jawab Rosalie pendek.
Saat istirahat siang, seperti biasa Rosalie makan bersama Elia. Hari itu terasa begitu panjang bagi Rosalie. Namun, baru memasuki kantin Rosalie dan Elia tidak sengaja mendengar obrolan dari beberapa karyawan.
“Eh, kami tadi lihat kan?? Si Diky mulai menaruh perhatian ke janda baru itu.”
“Benar tuh. Dimana-mana janda selalu begitu. Bisa lebih nekat dari pelakor. Hati-hati aja deh.”
“Benar. Aku punya tetangga janda masih muda juga. Huh, ibu-ibu satu RT resah. Mereka pada takut tuh kalau suaminya digoda si janda itu.”
“Ih ngeri deh. Btw, ada yang tahu nggak si Rosalie cerai karena masalah apa?? Sejauh ini kan nggak ada yang tahu soal itu.”
Rosalie bisa mendengar beberapa karyawan yang sedang menggunjingkannya. Napasnya terasa sesak. Ia tidak terima dengan perkataan teman-teman kerjanya itu.
Dengan langkah cepat Rosalie mendekati meja itu. Elia mencoba menarik tangannya, tapi semua sudah terlambat. Rosalie sudah terlanjur naik pitam.
Brak!!
Rosalie menggebrak meja itu. Wajahnya merah padam karena marah. Beberapa karyawan wanita yang membicarakannya tampak kaget melihat keberanian Rosalie.
“Sekarang aku memang janda! Tapi aku punya harga diri! Jangan karena statusku, kalian bebas membicarakan ku seenaknya!!” ucap Rosalie.
“Haduh Ros, jangan marah-marah seperti ini. Yang namanya wanita itu wajar kalau ngobrol. Lagian kami juga nggak merugikan kamu,” ucapan ketus itu keluar dari mulut Siska.
“Nggak merugikan katamu?? Coba kalian bayangkan berada di posisiku? Apa kalian bisa bertahan? Belum tentu kalian kuat!!” bentak Rosalie marah.
“Sudah Ros! Sabar! Malu dilihatin banyak orang. Mereka nggak penting. Ayo kita pergi saja,” ajak Elia.
“Nah, itu sahabat kamu saja malu. Jadi kenapa kamu masih punya keberanian membentak-bentak kami. Kami cuma ngobrol. Apa salahnya??” tanya Indri sinis.
“Salahnya sudah jelas!! Kalian membicarakan penderitaan orang lain!!” kini Elia mulai ikut naik pitam.
“Penderitaan?? Ah iya, kalau boleh tahu, kenapa kamu bercerai dengan suami kamu?? Apa jangan-jangan kamu tidak bisa memberikannya keturunan? Bukankah kalian sudah menikah tiga tahun tapi tidak juga diberi keturunan?” pertanyaan Siska membuat hati Rosalie semakin sakit.
Rosalie melangkah mendekati Siska hendak melayangkan tamparannya. Namun, dengan cekatan Elia menahannya. Elia memegangi tangan kanan Rosalie dengan sangat erat.
“Jangan lakukan itu Ros. Aku mohon,” ucap Elia.
Beberapa orang yang datang ke kantin itu mulai menaruh perhatian lebih pada konflik yang mulai memanas itu. Sementara dengan sekuat tenaga, Elia menarik Rosalie untuk menjauh.
Belum reda ketegangan di antara mereka, tiba-tiba ada seorang pria mendekati Rosalie. Pria itu menggunakan jaket ojek online dan membawa kardus yang dibungkus amatlah cantik.
“Maaf, dengan Ibu Rosalie??” tanya lelaki itu.
“Iya saya sendiri,” jawab Rosalie sambil mengatur napasnya.
“Ada paket untuk ibu. Silakan tanda tangan di sini,” ucap lelaki itu sambil menyodorkan secarik kertas.
“Tapi Pak, saya nggak pesan paket hari ini,” ucap Rosalie bingung.
“Saya hanya bertugas mengantarnya Bu. Coba ibu periksa alamat di paket ini,” pinta lelaki itu.
“Di sini benar alamat saya. Bahkan ini juga nomor telepon saya,” ucap Rosalie bingung.
“Baiklah, silahkan ditandatangani saja Bu. Bisa saja ada orang yang ingin mengirimkan kado untuk ibu,” pinta lelaki itu.
“Em, baiklah,” jawab Rosalie.
Setelah menandatanganinya, Rosalie menerima paket itu. Banyak mata tertuju pada Rosalie yang baru saja marah-marah itu. Lelaki itu segera pergi sementara Rosalie masih mengamati kardus itu.
“Tidak ada nama pengirimnya. Siapa ya yang mengirim hadiah??” tanya Rosalie lirih.
“Apa kita buka saja. Ayo kita cari tempat duduk yang masih kosong,” ajak Elia.
Rosalie mengangguk. Paket itu sudah mengalihkan kemarahannya. Ia segera membuka paket itu setelah mendapatkan tempat duduk. Elia ikut penasaran dengan paket mendadak itu.
“Woow, sepatu!! Pengirimnya pasti tahu masalahmu hari ini,” ucap Elia takjub.
“Eh?? Tapi siapa??” tanya Rosalie heran.
“Coba lihat-lihat lagi. Ada kartu ucapannya atau tidak?” tanya Elia.
Rosalie memungut kertas yang ada di kardus tempat sepasang sepatu misterius itu. Saat membaca pesan itu, Rosalie mengernyitkan keningnya. Elia semakin penasaran melihat ekspresi sahabatnya itu.
“Hari ini kamu terlihat sangat sedih. Semoga kamu lebih semangat lagi ya!” Rosalie membaca pesan tanpa nama itu.
“Jadi siapa yang mengirimnya? Apa kamu bisa menebaknya??” tanah Elia.
Belum sempat Rosalie menjawab, Siska dengan cepat menyambar kertas di tangan Rosalie. Kedatangan Siska begitu tiba-tiba hingga mereka tidak sadar.
Bersambung...