Bab.5 Pria Menyebalkan!

1144 Kata
  Rosalie menatap lelaki yang baru saja mengancamnya itu. Seorang lelaki yang begitu tampan sedang menatapnya dengan tajam. Badannya tinggi besar dengan pakaian yang sangat rapi. Pakaiannya, sepatunya bahkan jam tangannya terlihat mahal.   Sesaat mereka saling tatap. Rosalie belum pernah melihat lelaki itu. Meski tampan, Rosalie tetap kesal karena lelaki itu baru saja mengancamnya. Rosalie berbalik dan mendekati lelaki itu.   “Maaf, kenapa Bapak ingin memecat saya?? Memangnya Bapak siapa?” tanya Rosalie berani.   “Apa kamu tidak tahu siapa pemimpin tertinggi di perusahaan ini?” tanya pria itu dengan wajah sinis.   “Aku tahu!! Pak Abiyasa namanya. Jadi Anda jangan coba-coba mengancam saya seperti itu!”   Lelaki itu tersenyum meski wajahnya masih terlihat kesal. Rosalie tak ingin menghiraukannya. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Namun, lelaki itu memegangi tangannya.   Rosalie sangat kaget mendapatkan sentuhan dari lelaki yang tidak ia kenal itu. Dengan segera Rosalie mengghentakkan tangannya. Genggaman lelaki itu terlepas. Namun, di luar dugaannya, lelaki itu kembali memegangi tangan Rosalie dengan lebih kuat.   “Ada apa sih?? Jangan pegang-pegang orang sembarangan!! Atau aku akan berteriak minta tolong!” ancam Rosalie.   “Dasar gadis bar-bar. Ikut aku sebentar saja!!” perintahnya.   “Aku nggak mau. Aku harus bekerja. Aku sudah terlambat kali ini!” tolak Rosalie.   “Dasar keras kepala! Cepat ikut aku!” lelaki itu menyeret Rosalie.   Rosalie masih kebingungan. Ternyata lelaki itu mengajaknya ke dekat sebuah ruangan yang dibatasi oleh kaca yang amatlah mengkilap. Setelah itu ia melepaskan tangan Rosalie.   “Aku rasa, meski ini bukan cermin, kamu bisa melihat wajahmu! Ya seluruh penampilanmu dari ujung kaki sampai ujung kepala!” perintah lelaki itu.   Rosalie menatap ke arah kaca itu. Ia bisa melihat bayangan penampilannya yang begitu amburadul. Bahkan ia bisa melihat eyeliner di matanya melebar kemana-mana. Rambutnya sangat tidak rapi karena ia lupa menyisirnya.   Rosalie menepuk jidatnya saat melihat sepatu yang ia pakai tidak sama. Dua-duanya memang high heels kesayangannya, tapi dua sepatu itu tidak berpasangan. Ia masih agak beruntung karena modelnya hampir mirip. Sayangnya itu masih sangat kelihatan karena yang satu berwarna nude dan yang satu dark brown.   ‘Ya Tuhan, kenapa nasibku seperti ini? Karena terburu-buru semuanya jadi sangat kacau! Bahkan aku tidak sadar memakai sepatu salah seperti ini. Aduh, rasanya aku sangat malu,’ batin Rosalie sedih.   Semenjak menjadi janda, hidupnya semakin suram. Kevin tidak hanya mengukir luka di hatinya. Namun, ia sudah membuat hidup Rosalie hancur. Rosalie agak beruntung, banyak orang yang belum tahu masalah perceraiannya. Hanya Elia yang tahu dan sahabatnya itu sangat menjaga rahasianya.   Kini Rosalie berdiri seperti patung meratapi penampilannya. Kakinya terasa lemas untuk melanjutkan langkahnya. Sementara lelaki di sampingnya mengamati Rosalie yang tampak sedih itu.   “Apa kamu ada masalah?” tiba-tiba lelaki yang tadinya ketus mulai memberi perhatian.   Rosalie terbelalak melihat perubahan sikapnya. Namun, saat itu ia tidak ingin dikasihani oleh siapapun termasuk pria itu. Terlebih lagi, Rosalie sudah cukup malu berada di depannya.   “Itu bukan urusanmu!” tegas Rosalie sambil berlalu pergi.   “Tunggu!! Aku belum tahu siapa namamu!” teriak lelaki itu.   Rosalie tidak menghiraukannya. Ia langsung mencari kamar mandi terdekat untuk membenarkan riasannya. Di depan cermin wastafel itu, Rosalie mendengus kesal. Ia bahkan belum memulai pekerjaan hari ini, tapi semuanya sudah kacau.   “Apa aku bolos kerja saja ya?” bisik Rosalie sambil membuka tas dan mengambil peralatan make up nya.   “Tidak! Aku sudah bolos beberapa kali. Bisa-bisa gajiku dipotong banyak. Lebih baik aku masuk. Em, apa aku coba telepon Elia ya? Barangkali dia mau membantuku,” ucap Rosalie pada dirinya sendiri.   Beberapa kali ia mencoba menelepon sahabatnya tapi tidak juga ada jawaban. Sepertinya Elia sedang sibuk. Beberapa saat kemudian, ada sebuah pesan masuk dari Elia.   Elia: Kamu kemana saja? Buruan ke aula pertemuan lantai 7. Semua karyawan diminta ke sana. Ini wajib. Aku udah di sana, aku tunggu di pintu masuk ya.   Rosalie segera menyusul sabahatnya. Butuh beberapa menit untuk sampai di tempat yang dimaksud. Ternyata di sana sudah banyak karyawan yang berkumpul. Saat melihat Rosalie datang, Elia langsung merangkul Rosalie dengan akrab.   “Kamu baik-baik saja kan?” tanya Elia cemas.   “Coba lihat sepatuku,” bisik Rosalie.   “Eh, buset!! Kamu berani sekali pakai sepatu beda sebelah! Apa ini trend baru? Apa yang terjadi Ros?” ucap Elia panik.   “Aku terburu-buru. Ini sebuah ketidaksengajaan. Jadi jangan menatapku seperti itu.”   “Ros, ayolah. Sudah saatnya kamu move on. Aku tahu, setiap malam kamu masih selalu menangisi Kevin. Setebal apapun riasan di matamu, tidak akan mampu menutupi bengkak di bawah kelopak matamu. Sudah saatnya kamu melupakan pria itu!” perintah Elia.   “Aku tidak memikirkan Kevin. Sekarang aku sudah tidak peduli dia mau ngapain. Dia mau mati pun aku tidak peduli. Yang bikin aku terpuruk adalah nasibku ini. Entahlah, sering kali aku merasa menjadi manusia paling malang di dunia ini,” ungkap Rosalie.   Elia menatap Rosalie dengan iba. Gadis itu memang tampak menderita. Bahkan bisa dilihat dengan jelas kesedihan di wajah Rosalie. Elia menghela napasnya, ia belum bisa membuat sahabatnya bangkit.   “Oh ya, apa Papa kamu juga masih marah?” tanya Elia.   “Jangan tanya soal Papa. Semuanya menjadi tak mudah. Papa terlihat tidak peduli denganku. Mungkin kesalahan yang sudah aku lakukan membuat Papa sangat kecewa,” kata Rosalie.   “Jangan berkata seperti itu. Kekecewaan orang tua adalah hal yang wajar saat anaknya melakukan suatu kesalahan. Tapi yakinlah, bahwa kasih sayang orang tua akan tetap sama sepanjang masa,” ucap Elia.   “Terima kasih atas nasehatnya Ros. Semoga suatu saat nanti Papa mau menerimaku kembali. Kamu memang sahabatku yang paling berharga. Ngomong-ngomong ada acara apa kita diundang ke sini?” tanya Rosalie heran.   “Aku denger-denger Pak Abiyasa memutuskan untuk pensiun. Nah nantinya posisi CEO akan dipegang oleh anaknya yang baru saja pulang dari luar negeri,” jawab Elia.   “Oh, gitu. Bisa-bisanya di acara yang cukup penting speerti ini penampilanku malah berantakan.”   “Udah-udah. Nggak usah sedih. Kamu tetap cantik kok,” ucap Elia sambil menepuk-nepuk pundak Rosalie.   “Kamu bercanda ya El?? Sudah jelas aku hancur berantakan gini,” sahut Rosalie sambil menekuk wajahnya.   Belum sempat Elia menanggapi perkataan Rosalie, beberapa karyawan perempuan mulai riuh. Elia dan Rosalie melihat ke arah yang menjadi pusat perhatian mereka. Dua wanita itu terbelalak.   “Wah, gimana nggak histeris. Bos kita jadi muda dan tampan gitu,” celetuk Elia sambil tertawa.   Sementara Rosalie hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia melihat lelaki yang tadi. Lelaki yang sebenarnya telah menolong Rosalie. Namun, semakin mengingat kejadian tadi, Rosalie semakin malu.   “Ros, kamu kenapa??” tanya Elia.   “Em, nggak apa-apa kok,” Rosalie belum siap menceritakan kejadian yang konyol itu.   Bahkan ia sempat membentak-bentak lelaki itu. Rosalie menghela napasnya panjang sambil berdoa agar pemimpin perusahaan itu tidak membencinya. Rosalie menatap ke arah podium.   Lelaki itu tidak langusng berbicara. Ia masih melihat sekeliling seolah sedang mencari sesuatu. Pandangannya berhenti saat menemukan Rosalie. Cukup lama lelaki itu terpaku menatap Rosalie.   ‘Eh??? Tunggu!! Apa dia menatapku??’ tanya Rosalie dalam hati.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN