Bab.4 Resmi Menjadi Janda

1343 Kata
  “Jangan asal bicara Ros!! Aku tahu kamu tak punya bukti untuk omong kosongmu itu!” ucap Kevin parau.   Rosalie terdiam. Ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Setelah ia masuk ke kamarnya kembali, ada sebuah pesan masuk dari Elia. Ia membukanya.   Rosalie cukup syok melihat video yang berdurasi tak lebih dari satu menit. Saat Rosalie membeku melihat kelakuan suaminya, ia sangat beruntung memiliki sahabat yang cepat tanggap merekam kejadian itu.   Rosalie langsung menelepon Elia saat itu. Ia mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam. Ia tak menyangka Elia sangat cerdas. Di saat dibutuhkan seperti ini, Rosalie bisa menggunakan video singkat itu untuk bukti.   “Nah, benar kan?? Dia hanya bisa diam. Jadi ayah, ibu, papa dan mama mertua, dengarkan aku. Rosalie hanya mengada-ada. Aku ini lelaki normal. Jangan fitnah aku dengan informasi seperti itu!” teriak Kevin merasa menang.   “Aku memang benar-benar punya buktinya. Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Akan aku tunjukkan,” ucap Rosalie tegas.   Rosalie mengeluarkan smartphone-nya. Ia memberikannya pada Pak Brata. Beberapa orang yang ada di sana langsung melihat ke arah layar itu. Video sudah berjalan beberapa detik dan orang tua Kevin menutup mulut mereka.   Wajah Kevin berubah menjadi merah seperti udang rebus. Tentu saja orang tuanya juga menanggung malu melihat kelakuan anaknya. Pak Anton dan Bu Marni begitu syok melihat video pendek itu.   “Jadi bagaimana Pak? Apakah sudah jelas sekarang? Putri saya tidak mengada-ada. Hal ini tidak bisa dibiarkan, Kevin sudah mencoreng nama baik keluarga saya! Kalau sudah seperti ini, perceraian harus segera dilakukan!” ucap Pak Brata tegas.   Meski masih memendam kemarahan pada Rosalie, di depan Kevin dan keluarganya, Pak Brata masih membela putrinya. Pak Anton menatap anak laki-lakinya dengan penuh kemarahan.   “Dasar memalukan!! Bisa-bisanya kamu melakukan hal laknat seperti itu!” maki Pak Anton.   “Berpuluh-puluh tahun ayah dan ibu membesarkanmu tanpa kurang suatu apapun, tapi kenapa kamu malah membalasnya dengan kelakuan seperti ini!” ucap Bu Marni sedih.   Kevin tak menanggapi perkataan ayah dan ibunya. Ia masih saja menundukkan kepala. Beberapa saat kemudian Pak Anton mendekati anaknya dan melayangkan sebuah pukulan. Kevin terkapar di sofa itu.   “Dasar anak kurang ajar!” teriak Pak Anton.   Barra dan Pak Brata mencoba menahan Pak Anton yang mulai tidak terkendali. Sementara Bu Marni mulai terisak meratapi keluarganya yang kacau karena kelakuan Kevin.   “Pukullah aku sesuka ayah! Tapi itulah hidup yang aku pilih! Ayah dan ibu tak akan pernah tahu rasanya jadi aku! Aku sangat mencintai Novan!” ucapan Kevin membuat seisi ruangan itu bertambah kesal.   “Sudah ketahuan salah tapi kamu masih merasa paling benar. Ibu menyesal pernah melahirkanmu!” ucap Bu Marni parau.   Bu Rita merangkul besannya itu saat tangisannya semakin menjadi-jadi. Napas Pak Anton terengah-engah saat Barra dan Pak Brata mencoba menahan gerakan lelaki itu.   “Aku tak sudi menganggapmu sebagai anak lagi!!” ucap Pak Anton menahan malu.   “Kalau itu yang ayah inginkan, aku memilih pergi! Aku tidak bisa meninggalkan Novan dia begitu berarti bagiku!” tegas Kevin sambil memegangi pipinya yang sudah bonyok.   “Dasar anak tidak tahu diri! Aku membesarkanmu selama ini! Tapi kenapa kamu malah menjadi lelaki tak berguna!” ucap Pak Anton geram.   “Kevin, apakah kamu lebih memilih laki-laki itu daripada orang tua kamu sendiri?? Sungguh ibu tidak bisa memaafkanmu!!” kata Bu Marni dengan berderai air mata.   “Sabar Bu. Ini semua ujian. Semoga Kevin bisa kembali selayaknya laki-laki normal,” ucap Bu Rita.   “Tidak!! Aku sudah memilih jalanku sendiri. Tidak ada yang bisa menghalangi kebahagiaanku!” kata Kevin sambil mencoba berlari pergi.   “Tunggu! Jangan kabur dari tanggung jawabmu!!” ucap Barra sambil mengejar lelaki itu.   Barra memegangi pundak Kevin. Lelaki itu membalikkan badannya sambil menyerang Barra dengan sebuah tendangan. Dengan tangkas Barra menangkis setiap serangan Kevin.   Barra melawannya dengan mudah. Kevin bukanlah tandingannya. Kini Kevin babak belur di tangan adik iparnya sendiri. Barra mendorong tubuh Kevin untuk kembali ke tempat duduk.   “Aku bisa melalukan lebih parah dari ini kalau kamu macam-macam! Silakan pergi setelah menceraikan kakakku!” ucap Barra kesal.   “Bar, sudahlah. Jangan berlebihan!” pinta Rosalie.   “Mbak, aku mohon! Jangan pernah anggap masalah ini sepele! Dia nyaris kabur kalau aku tak menghajarnya tadi,” ucap Barra penuh emosi.   “Barra tenangkan dirimu. Papa akan urus semua ini,” perintah Pak Brata.   “Baik Pa.”   Beberapa saat ruangan kembali hening. Kevin menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Seluruh permukaan wajahnya terasa nyeri karena pukulan tadi.   “Baiklah, Pak Anton dan Bu Marni. Semuanya sudah jelas. Anak bapak dan ibu terbukti bersalah. Bagaimana kalau saya mengajukan sebuah kesepakatan,” ucap Pak Brata.   “Kesepakatan apa??” tanya Pak Anton.   “Kami akan menjaga aib keluarga Bapak asalkan Kevin mengurus perceraiannya dengan Rosalie dengan cepat! Tapi kalau Kevin tidak mau, tentunya kami akan mengambil langkah lain. Kami akan membeberkan kelakuan Kevin ini ke semua orang dan tentu saja memberikan pelajaran yang setimpal pada anak Bapak!” ucapan Pak Brata terdengar begitu serius.   Keluarga Kevin tidak langsung menjawab. Mereka tahu, Pak Brata tidak main-main dengan ucapannya. Terlebih lagi melihat status sosial Pak Brata yang terpandang dengan harta yang bergelimangan.   “Baiklah. Saya setuju. Kami akan mengurus perceraian itu dengan cepat,” ucap Pak Anton.   “Baguslah! Saya sangat mengapresiasi keputusan Anda. Saya nantikan itikad baik Anda. Sekali lagi saya tegaskan, urus perceraian ini secepatnya!” kata Pak Brata.   “Iya Pak. Saya minta maaf atas semua yang terjadi. Maaf juga kami sudah membuat kegaduhan di rumah Bapak. Mengenai masalah ini akan kami bahas lebih lanjut di rumah,” ucap Pak Anton sambil menundukkan kepala.   “Peristiwa ini di luar dugaan semua orang. Tapi saya juga ikut berduka. Semoga bapak dan ibu diberikan kesabaran. Semoga Tuhan kembali membukakan kesadaran untuk Kevin. Terima kasih atas kehadirannya,” ucapan Pak Brata mengakhiri pertemuan malam itu.   Satu bulan kemudian, akta perceraian Rosalie dan Kevin sudah keluar bersamaan dengan berita yang terus menyebar. Tadinya beberapa orang hanya menganggapnya sebagai rumor belaka. Namun, setelah Rosalie dan Kevin resmi berpisah, berita tentang mereka malah semakin santer.   Rosalie mencoba menghadapi semua itu dengan hati yang lapang. Semua adalah takdir cinta yang harus ia alami. Meski hatinya belum sepenuh sembuh, ia harus kuat berdiri di tengah badai gunjingan yang akan ia terima.   Pagi itu Rosalie kembali bangun kesiangan. Dengan tergesa-gesa, ia mandi. Rosalie berpakaian dengan serampangan melihat waktunya tak lagi banyak. Saat duduk di depan meja riasnya, Rosalie menepuk jidatnya melihat wajahnya sendiri.   “Sial!! Kenapa mataku masih bengkak seperti ini!! Aku sudah tak punya waktu lagi,” ucap Rosalie sambil mengoleskan foundation ke wajahnya lalu meratakannya menggunakan spons.   Duka Rosalie teramat dalam setelah menjadi janda. Tidak hanya karena patah hati, tapi juga karena meratapi nasibnya. Bahkan Pak Brata, ayahnya sendiri jarang mengajaknya bicara. Rosalie merasa ayahnya belum memaafkannya.   Setiap malam air mata selalu menemani tidurnya. Rosalie akan terlelap setelah lelah menangis. Ia memang gadis yang rapuh apalagi setelah rumah tangga yang ia bina selama tiga tahun kandas mengenaskan.   Sialnya pagi itu lebih parah dari pagi-pagi sebelumnya. Rosalie masih mencoba membubuhkan concealer pada bagian bawah matanya. Beberapa kali ia mendengus kesal.   “Ayolah!! Jangan kelihatan! Kalau tidak aku bisa jadi bahan ejekan teman-teman kantor,” keluh Rosalie.   Wanita itu membubuhkan eyeshadow dan eyeliner dengan hati-hati. Salah satu cara mengaburkan kesedihan di wajahnya menggunakan riasan mata yang agak tebal. Riasan di wajahnya beres meski kelihatan sedikit aneh. Matanya masih saja tampak bengkak.   “Biarlah! Aku harus berangkat!” ucap Rosalie sambil menenteng tasnya.   “Astaga!! Aku sudah terlambat!!” teriak Rosalie setelah melihat jam tangannya.   Resmi menjadi janda membuat hidupnya lebih berantakan dari sebelumnya. Ada sebongkah semangat yang hilang. Bu Rita meminta Rosalie untuk sarapan terlebih dahulu. Namun, wanita itu tak menghiraukannya. Pak Brata hanya melirik Rosalie yang berlari keluar.   Sesampainya di kantor, Rosalie menggunakan semua tenaganya untuk berlari. Ia ingin sampai di ruang kerjanya secepat-cepatnya. Entah berapa orang yang sudah ia tabrak hari itu.   “Aduh!!” teriakan itu keluar dari seorang pria yang kakinya tak sengaja terinjak oleh Rosalie.   “Maaf Pak! Saya buru-buru!” ucap Rosalie tak ingin menghiraukan pria itu.   “Kurang ajar! Berhenti atau aku akan memecatmu sekarang juga!” teriak pria itu geram.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN