Merenung, itu lah yang menjadi kebiasaan Ara setelah kejadian pada saat malam pelamaran. "Apa Alex benar-benar lelah memperjuangkan perasaannya? Sebegitu lelahnya kah dia?" gumam Ara dalam hati, dengan begitu mudahnya membuat matanya memerah. Sesekali ia menatap ponselnya, "ke mana Alex? Kenapa beberapa hari ini handphonenya tidak aktif, apa dia benar-benar ingin menghilang dari kehidupanku, jika benar it's okay i'll be fine." tegas Ara penuh keyakinan dan menghapus air mata yang tak sengaja mengalir begitu saja. "Araa..." "Iya Mah, kenapa?" jawabnya lesu. "Sejak kejadian itu kamu jadi murung Ra, okay Mamah akuin wajar Alex kecewa sama kamu dan Namah akuin kamu emang salah, tapi Mamah juga gak mau lihat anak Mamah jadi murung kayak gini..." ujar Riana. Hiiksss... Menangis, itu

