Selamat Datang di Jakarta
BAGIAN I: "Awal Dari Semua Kisah”
*****
Puas rasanya saat melihat sekeliling apartemen yang berhasil aku benah. Setelah hampir lima jam membongkar kotak barang dan menata mereka semua sampai rapi, akhirnya aku bisa merebahkan badan di sofa kecil di ruang tamu.
Sebenarnya aku sudah sampai di Jakarta seminggu yang lalu, tetapi baru sempat membereskan barang-barang dari kotak sekarang.
Apa yang kalian harap dari orang yang kelelahan dan putus asa? Aku tidak mau memaksakan diri kalau akibatnya buruk.
Kuambil ponsel dan kunyalakan. Sesuai dugaan, ada hampir sepuluh panggilan tak terjawab dari Ibu dan lima dari Ayah. Aku periksa beberapa pesan yang Ayah kirim dan langsung menyesalinya. Hampir semua isi pesannya menghinaku karena kabur dari rumah dan membatalkan tunangan dengan Endik.
Biar aku ceritakan masa laluku yang sedikit ... tampaknya sangat suram bagiku sendiri.
Dua tahun lalu, Ayah mewariskan semua properti dan uangnya kepada kakakku yang bodoh, Ivan. Sebenarnya, boleh dibilang Ivan itu anak kesayangan Ayah. Sayangnya, beberapa bulan setelah semua properti menjadi nama Ivan, kakakku yang bodoh itu menjualnya, termasuk rumah yang kami tempati dan dia kabur dengan semua uang itu.
Lalu? Apa yang terjadi pada Ivan?
Jangan harap semua orang membenci Ivan! Bagian paling ironisnya, orang tuaku justru tidak membencinya sama sekali, bahkan mereka malah lebih membenciku.
Ada apa? Biar aku jelaskan.
Aku masih ingat saat-saat Ayah mengitari kompleks rumah dan beberapa area kota untuk mencari Ivan dan bahkan berharap putranya yang tidak tahu terima kasih itu pulang dengan rasa menyesal. Namun, tampaknya itu tidak pernah terjadi.
Setelah Ivan menjual rumah kami, aku dan orang tuaku harus pindah ke rumah yang jauh lebih kecil. Lalu Ibu jadi lebih sering sakit darah tinggi dan sekarang harus minum obat setiap hari. Ayah mencoba mencari pekerjaan , tetapi tidak ada yang mau mempekerjakannya karena sudah tua. Akhirnya, aku harus bekerja dan menunda rencana kuliah yang selama ini aku idam-idamkan.
Entah angin dari mana, datang sebuah keluarga yang kata orang tuaku sih teman lama mereka. Namanya keluarga Wilson. Mereka tahu situasi kami dan berencana untuk menjodohkan putra mereka, Endik, denganku. Jika kami menikah, mereka akan mendukung kami secara finansial.
Astaga! Memangnya ini zaman Siti Nurbaya?!
Aku tidak mau! Lagi pula, aku tidak pernah kenal dengan Endik.
Berhubung ini karena finansial keluarga, kami akhirnya resmi bertunangan. Mau tidak mau juga aku harus menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. Bagi orang tuaku, semuanya sempurna—aku akan menikahi putra dari keluarga kaya, dan Endik akan mendukung kami secara finansial sehingga orang tuaku bisa kembali hidup dengan gaya hidup mereka yang tinggi.
Tidak butuh waktu lama, aku mulai sadar Endik adalah pria b******k. Ternyata dia sudah punya anak dengan gadis lain yang telah dia tinggalkan sebelumnya. Setelah pernikahanku dengannya, kami harus berpura-pura bahwa anak itu adalah anak kami.
Pada dasarnya, orang tua Endik hanya membutuhkan seorang pengasuh anak. Dengan dalih sahabat, mereka menjodohkanku dengan Endik padahal hanya ingin cucunya memiliki Ibu.
Jahat, bukan?
Orang tuaku memang memaksa pertunangan ini, tetapi saat aku punya kesempatan untuk melarikan diri, aku akan mengambilnya.
Seperti sekarang, aku pergi ke Jakarta dan meninggalkan orang tuaku dengan uang yang selama ini aku tabung. Nanti aku akan kuliah di sana dari uang ini dan sementara waktu terlepas dari masalah keluarga.
Jangan bilang itu keputusan yang bagus, ya! Justru itu keputusan yang paling membuatku menyesal.
Selain menanggung biaya hidup orang tuaku, biaya pernikahan kemarin juga harus aku bayar. Entah ide dari mana mereka bisa menghabiskan hampir dua ratus juta untuk pernikahan kemarin, padahal pernikahannya biasa-biasa saja.
Berhubung aku harus mengganti semua itu agar keluargaku tidak dapat teror, aku harus mencari pekerjaan. Sejak beberapa hari ini aku mengirim lamaran ke beberapa perusahaan. Mudah-mudahan ada salah satu dari mereka yang membalasnya.
"Kumohon ...,” kataku sambil menggigit bibir bagian bawah saat membuka email.
Di kotak masuk, ada pesan dari berbagai macam platform dan ada satu pesan yang membuatku melotot.
"Akhirnya!" pekikku kegirangan.
Aku dapat jadwal wawancara kerja besok jam delapan pagi. Langsung aku berlari mencari pakaian yang akan dipakai besok. Kemudian menggantungnya di balik pintu kamar.
Setelah itu, aku mandi sebelum tidur dan menyetel alarm jam empat pagi, berjaga-jaga agar tidak terlambat. Aku lebih suka tiba satu jam lebih awal daripada terlambat tiga puluh menit.
Sebelum memejamkan mata, aku tulis pesan untuk Ibu dan Ayah agar tidak terlalu memikirkan masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Kita akan baik-baik saja setelah aku mendapatkan pekerjaan.
***
Jam lima pagi, aku sudah siap dengan pakaian formal. Taksi yang dipesan juga sudah siap di depan lobi dan aku harus bergegas menghampiri.
Sampai di depan gedung kantor yang megah, aku terdiam beberapa detik sembari menikmati pemandangan megah dan cantik gedung yang ada di hadapanku.
"Aku harap bisa menjadi pemilik gedung besar ini," ucapku sambil menghela napas kasar.
Gedung besar ini bertuliskan "Habil Enterprises" dengan huruf besar. Aku pernah mendengar tentang perusahaan ini sejak di Garut. Perusahaan paling terkenal dalam bisnis impor dan penyewaan mobil. Ada beberapa lokasi penyewaan mobil dari perusahaan yang sama di Garut, tetapi gedung ini kantor pusatnya.
Aku masuk dan berjalan menuju resepsionis. Petugas di sana langsung berdiri dengan anggun sambil tersenyum. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Rina Renata. Saya ada wawancara kerja hari ini," jawabku dengan senyum hangat.
"Baiklah, saya akan cari data Anda," katanya.
Saat menunggu, aku lirik sekeliling dan seketika mataku memicing. Semua wanita yang datang memakai rok atau celana panjang formal dan blazer rapinya. Sangat formal, itu yang terlintas di benakku.
Lalu aku melirik pakaianku dan langsung malu saat itu juga. Aku hanya pakai kemeja yang paling “formal” sesuai dengan gayaku dilengkapi dengan celana jeans.
"Anda bisa naik ke lantai paling atas pakai lift di sebelah sana,” ucapnya sambil menunjuk lift yang terpisah dari lift lainnya. “Nanti ada bertemu rekan kerja saya yang akan membimbing Anda untuk wawancara."
Aku mulai berjalan menuju lift dan naik ke lantai paling atas. Beberapa orang terkejut saat melihatku. Seketika itu juga aku bingung, kenapa mereka tidak masuk lift ini? Padahal lift yang lain mengantre dan lift yang aku gunakan sangat sepi.
Apa ini lift barang?
Aku tekan tombol di sana yang hanya satu-satunya tombol. Saat itu juga aku heran, mengapa hanya ada satu tombol lantai di sini? Apa memang lift khusus?
Saat keluar dari lift, ada seorang resepsionis tersenyum dan berjalan mendekat. Wanita itu sangat cantik, mungkin usianya sekitar 25 tahun. Tubuh dan wajahnya seperti seorang model.
"Anda pasti Rina Renata," katanya, dan aku mengangguk. "Saya Sonia, silakan ikuti saya," katanya. Dia berjalan menuju sebuah ruangan.
"Selamat datang di Habil Enterprises, perusahaan impor dan penyewaan mobil terkemuka .…" Dia terus berbicara tentang perusahaan dan aku mendengarkan dengan penuh perhatian.
Aku sadar dia diam-diam melihat pakaianku dari atas sampai bawah. Sering kali juga dia tersenyum kaku. Aku bersumpah! Nanti waktu aku punya cukup uang, aku akan membeli pakaian baru.
"Jam kerjanya sangat fleksibel dan malah bisa tergantung Pak Erik. Biasanya Pak Erik datang jam sembilan, tetapi Anda harus datang sebelum itu untuk menyiapkan berkas dan menyalakan komputer sebelum dia datang. Sepuluh menit sebelum kedatangannya, kopi sudah harus ada di mejanya. Tidak masalah jika dia tidak datang ke kantor, Anda harus selalu menyediakan kopi itu di mejanya. Di perusahaan ini, kami memiliki hierarki, tetapi Anda akan memiliki pengecualian dalam posisi Anda karena Anda hanya akan mematuhi perintah CEO."
CEO? Apa aku akan menjadi asisten pribadi CEO di perusahaan ini?
Ya memang aku sangat butuh pekerjaan, tetapi aku bahkan tidak sadar pernah melamar menjadi asisten CEO.
"Maaf, apa Anda bilang CEO tadi?" tanyaku terkejut.
"Ya," kata Nona Sonia. "Apa ada masalah?"
"Tidak," kataku cepat. "Saya hanya sedikit terkejut, maaf," bisikku.
"Anda harus pergi ke mana pun dia pergi, dan jam kerja Anda berakhir setelah jam kerjanya berakhir juga. Jika ada perubahan, dia pasti akan bilang. Ini kartu yang akan Anda gunakan untuk membuat reservasi restoran atau penerbangan. Dengan kartu ini juga, Anda akan membeli barang-barang yang diminta bos. Selamat datang di Habil Enterprises. Ada pertanyaan?"
Jujur saja, aku sangat terkejut bahkan tidak memperhatikan penjelasannya. Namun yang jelas, aku mengacu pada satu kesimpulan.
"Apa itu artinya saya diterima?" kataku terkejut.
Bukannya aku datang untuk wawancara? Seharusnya mereka akan menanyakan banyak pertanyaan, bukan hanya menjelaskan apa yang harus kulakukan.
"Ya, Anda bisa mulai bekerja besok," katanya sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak!" pekikku begitu gembira.
"Besok datang tepat waktu, ya!"
Setelah itu, aku menanyakan semua pertanyaan yang muncul di benakku padanya dan dia menjawab setiap pertanyaan dengan ramah. Gajiku dibayar mingguan dan itu sempurna. Aku bisa kirim uang pada Ibu untuk membayar biaya rumah dan obat sebelum akhir bulan.
Akhirnya proses tanya-jawab selesai. Aku berpamitan padanya dan kembali ke lantai utama. Kakiku tanpa sadar mengetuk lantai mengikuti irama lagu yang diputar khas di lift ini.
Entah berapa lama aku di dalam gedung, tetapi yang pasti aku melewatkan hujan. Tanah yang basah membuatku sadar beberapa saat yang lalu pasti hujan.
Berhubung masih gerimis, aku berjalan tanpa khawatir menyusuri jalanan Jakarta. Semakin jauh berjalan, hujan semakin deras. Akhirnya aku berlari menuju toko untuk beli satu payung di sana.
Jakarta adalah kota yang sangat indah. Bahkan saat hujan, pemandangannya yang indah tidak rusak. Sebenarnya bisa lebih indah di malam hari akibat cahaya dari gedung-gedung kantor di sini.
Jadi sedih. Aku ingin orang tuaku mengerti alasanku melarikan diri. Mereka selalu saja menganggapku barang yang pantas untuk dijual beli untuk kebahagiaan mereka. Padahal kan aku putri mereka. Sayangnya mereka tidak menerima alasan itu.
Aku terus berjalan di tepi trotoar sambil melihat sekeliling. Apa aku benar-benar di Jakarta?
Sekarang, aku sedang menjalani impian banyak orang. Sejak SMA, aku dengar banyak teman sekelas berkata, "Setelah lulus, aku akan meninggalkan kota s****n ini secepat mungkin dan pergi ke Jakarta."
Aku tahu itu hanya ego semata. Mereka sangat mengidealkan gagasan tinggal di sini sampai tidak sadar sekarang kami hanyalah orang dewasa yang mencoba menemukan stabilitas dalam hidup kami.
Pikiranku melayang begitu tinggi hingga hampir menyentuh awan langit. Lalu aku tersadar saat merasa seluruh tubuhku basah kuyup. Mataku membulat saat melihat sebuah Audi merah baru saja melewati trotoar dan mencipratkan semua genangan air di pinggir jalan.
"Orang gila s****n!" pekikku yang marah sambil menyaksikan mobil merah itu melaju pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aku yakin tadi pengemudi bodoh mobil itu menatapku lewat kaca spion. Pasti dia tertawa terbahak-bahak. Untungnya aku bisa ingat nomor Audi merah itu
Tunggu pembalasanku!!!
Nomornya B 1 RIK. Apa dia salah satu seorang jutawan Jakarta yang sombong?
"Dasar orang kaya s****n!" dengusku.
Sekarang, lebih dari apa pun, aku berharap Audi merah itu ada di depanku dan aku bisa menggores seluruh sisinya dengan kunci apartemen.
Semua orang yang tadi melihat kejadian itu masih tetap menatapku. Mereka terkejut sekaligus sedikit kasihan mungkin. Berhubung sudah basah kuyup, Aku tidak mau repot-repot memegang payung lagi.
Sepanjang perjalanan pulang aku terus menyumpah serapahi mobil audi tadi.