"Ya. Kata mereka, yang membunuh Kelvin adalah Raja Kepanikan itu. Walau aku juga tak yakin. Memangnya sosok itu benar-benar ada?"
"Memang ada. Kalian pasti tak lupa saat Kelvin menolongku, bukan? Raut seperti apa yang dia tampilkan?" tanya pemuda berambut hitam itu.
Sebagian siswa menimbang, mencoba kembali mengingat kejadian yang belum ada tiga jam itu. "Khawatir dan ... panik?" kata seorang siswa.
Sherly menjentikkan jarinya. "Sudah sewajarnya bagi kita jika panik di kejadian yang tak terduga. Namun, yang jadi pertanyaannya, kenapa Kelvin? Bukan hanya dia yang panik di sana, bukan?"
Semua siswa saling toleh. Tak mendapatkan jawaban di kepala mereka. Begitu juga dengan Ian, ia berdiri tak jauh dengan Kelvin. Dia bahkan panik setengah mati saat melihat Kelvin jatuh ke bawah. Namun, kenapa penyerangan hanya pada Kelvin dan berhenti pada Kelvin?
Tak puas dengan pertanyaan pertama, Sherly kembali melanjutkan, "Kelvin tewas saat berada di kerumunan siswa. Aku tak enak membicarakannya, tapi, sang Raja Kepanikan bisa jadi salah satu diantara kita."
Seorang siswa berdecak dan tak terima. "Kau menuduh kami melakukannya?"
"Hanya deduksiku kok." Sherly mengerucutkan bibir dengan wajah santai.
Ian mulai berjalan mendekati Sherly. "Jika memang salah satu dari kita, bukannya kau juga termasuk, Sherlock?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.
Semua orang terkejut dengan penuturannya. Suasana semakin memanas karena kobaran kemarahan Ian memancar jelas di matanya.
"Kau yang berada di dekat Kelvin. Kau juga yang melakukan kontak langsung dengannya. Bisa saja kau sengaja menjatuhkan diri untuk membuat kepanikan dan membunuhnya, bukan?" imbuh Ian tersenyum miring. Dia memang tak memiliki bukti, tapi ucapannya cukup membuat Sherly disudutkan. Beberapa siswa juga mendukung pernyataan Ian.
Sherly justru tertawa. Tangannya mengusap sudut mata yang memiliki tahi lalat. "Pernyataan yang bagus, Ian Kingstone. Tapi, sayangnya. Aku memang memiliki fisik yang lemah. Berdiri terlalu lama di bawah terik membuatku mudah mimisan. Mau kuberi riwayat kesehatanku?"
"Kau ingin bilang jika ini semua hanya kebetulan?" tanya Ian masih tetap dengan tatapannya.
Sherly menggeleng. "Menemukan jawaban dari setiap pertanyaanmu adalah tugas dari seorang detektif. Karena itu, kita harus bergegas menuju mayat korban," imbuh Sherly membalikkan tubuh.
"Untuk apa?"
Sherly kembali menoleh ke arah Ian. "Mencari tahu penyebab kematiannya. Ayo cepat, Ian! Sebelum pihak sekolah membawanya ke rumah duka!"
***
Kedua lelaki itu datang tepat waktu. Jasad Kelvin akan diangkut tiga puluh menit lagi. Di waktu itulah, Ian dan Sherly mengecek tubuhnya. Tentu dengan sarung tangan medis.
"Racun?"
"Tidak ada luka luar, tidak ada riwayat penyakit dalam, apa lagi yang bisa membunuh seseorang dalam waktu singkat?" tanya Sherly memperkuat pernyataannya. Meski tak memiliki bukti yang lebih akurat. Ian pun tak memiliki sanggahan.
"Tapi, kapan racunnya diberikan? Apa dia sarapan tadi pagi?"
Ian mengangguk singkat, "Iya. Dia sarapan dari kantin bersamaku. Seporsi sup ayam dengan teh hangat," jelasnya.
Sherly menompang dagu. Di depannya terdapat jasad Kelvin yang selesai dia periksa. Mencoba memikirkan sesuatu. "Racun macam apa yang menyerang setelah beberapa jam?" cicitnya berbicara sendiri.
Ruang kesehatan itu sedang sepi, karenanya Ian mendengar jelas perkataan Sherly. "Kalau makanannya beracun, seharusnya aku juga terkena. Karena aku menukar daging ayamku dengannya," Sherly menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia mau yang ada kulitnya," kata Ian menjawab pertanyaan di wajah Sherly.
"Sudahlah! Kamu kan yang ngeracuninya?" simpul Ian kembali menyudutkannya.
Sherly tak menjawab. Pemuda bermata biru itu melepas sarung tangannya dan menyentuh lengan Ian yang tak tertutup karena seragam sekolah yang hanya berlengan pendek. Ian menatap Sherly dengan datar. "Ngapain sih?"
"Gimana? Apa tubuhmu baik-baik saja?"
Ian bergedik ngeri. "Apaan, sih! Aku baik!" teriaknya menepis tangan Sherly.
"Berarti bukan aku. Lagipula, aku bukan manusia super yang mana kalau ada yang menyentuhku langsung mati. Yang benar saja," cemberut Sherly tiba-tiba.
"Bisa saja kau menusuknya dengan jarum yang penuh dengan racun," tebak Ian.
Sherly semakin menggembungkan pipinya. "Hei! Kau lupa aku nyaris pingsan? Jenius sekali aku masih sempat memikirkan membunuh orang disaat kesadaranku menipis."
"Terus, gimana?"
"Kita harus cari saksi."
Sherly melepas sarung tangan di tangan lainnya. Membuangnya ke tempat sampah dan menoleh ke arah siswi yang duduk di meja pojok ruangan. Ian yang mengikuti arah pandangnya merasa kaget. Dia pikir hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Gadis berambut pirang yang sedang membaca buku mengangkat kepalanya saat bayangan manusia menghalau cahaya.
"Apa? Kau mimisan lagi?" tanyanya dengan nada datar.
Teringat dengan tisu yang masih menempel di hidungnya, Sherly mendengus kasar agar tisu itu keluar. Gadis itu lantas beralih pada Ian, menanyakan apakah ada keluhan.
Ian tak menjawab, dia justru takut-takut dan berbisik dari belakang. "Dia siapa, sih?" tanyanya.
"Siswa yang mengajukan diri menolong tanpa bayaran. Alias, Palang Merah Remaja (PMR)."
Penjelasan Sherly tak membuatnya puas. Apa lagi melihat mata biru siswi itu yang kosong tanpa penghidupan, jangan lupakan tubuh yang penuh dengan perban. Daripada menolong, sepertinya dia yang harus ditolong.
"Kalau nggak ada yang sakit, sana, balik ke kelas," cakap gadis PMR itu mengembalikan perhatiannya pada buku psikolog di genggamannya.
"Tunggu, dulu!" cegah Sherly, "ada yang ingin kutanyakan."
Sherly pun menjelaskan maksud dan tujuan mereka. Menjelaskan kenapa mereka harus mengetahui penyebab kematian Kelvin.
"Aku tak tahu penyebabnya. Namun, dia masih hidup setelah sampai di sini." Kedua siswa itu terlonjak kaget. "Aku yang menemaninya saat Kelvin ditandu petugas. Dan aku bisa memastikan jika ia masih bernapas selama diperjalanan menuju ke mari. Namun, setelah kami kembali mengeceknya, dia sudah tiada," terangnya.
Kenyataan yang semakin membingungkan. Sherly sempat menebak jika pelakunya adalah salah satu dari petugas kesehatan, tapi dielak mentah-mentah. Petugas terlalu sibuk mengurusi mereka yang sakit. Gadis itu hanya memberi Kelvin obat kayu putih lantas meninggalkannya di atas ranjang. Namun, satu hal yang tak bisa dipungkiri, tidak ada yang mengawasi korban setiap saat.
"Pelaku bisa saja menyelinap dengan memanfaatkan kesibukan PMR," simpul Ian. Sherly terdiam seolah setuju.
"Kenapa kalian yakin sekali ini pembunuhan?" tanya sang gadis. "Tidak menutup kemungkinan dia bunuh diri, bukan? Di sini banyak obat-obatan." Gadis itu melirik rak di sebelahnya.
"Tidak mungkin! Kelvin bukan orang yang seperti itu!" Ian berteriak keras.
"Oke-oke, aku tahu kau sahabatnya. Tapi, itu tadi hanyalah tebakan. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu hasil otopsi," ujar Sherly melirik dengan ekor matanya. Para orang dewasa telah masuk ke dalam ruangan dan segera membawa mayat itu keluar.
***
Beberapa saat kemudian, semua siswa diarahkan untuk keluar gedung. Mereka diarahkan ke salah satu rumah di pinggir sekolah. Hanya berlantai satu, cukup tua, dan lebih mirip sebuah gudang. Di depan rumah bercat senada dengan gedung sekolah, cokelat s**u, terdapat tanda duka dengan bertuliskan nama Kelvin Yardly.
Di dalam sana, terdapat peti mati berwarna putih dengan latar belakang bunga. Dari berbagai jenis dan warna. Namun, yang paling dominan adalah putih. Di tengah-tenganya, terdapat sebuah foto anak muda yang sedang tersenyum gembira. Yang tak lain adalah foto mayat itu sendiri.
Para siswa duduk di kursi yang menghadap ke peti mati tersebut. Beberapa menatap malas, beberapa lagi memasang wajah sendu. Belum ada sehari mereka bertemu sudah dipisahkan oleh kematian. Terlalu kejam memang.
"Apa maksud kalian?" Ian nyaris meninggikan suaranya jika tak ingat dia sedang berada di pemakaman. Matanya melayang tak terima dengan apa yang dia dengar oleh orang-orang yang mengaku 'dewasa'.
Seorang pria dewasa menengahinya dengan sang lawan bicara. "Seperti yang kau dengar, Tuan Kingstone," jawabnya tak memberi penjelasan berlebih.
"Tapi, kenapa? Kenapa kau menolak otopsi? Kau tak penasaran dengan penyebab kematiannya?" tanya Ian tak mempedulikan pria berjas hitam yang berdiri di depan lawan bicaranya. Sejenak, wajahnya melunak. "Ah, benar. Mana mungkin kau peduli? Dasar orang tua!"
***