Bab 1.1 Korban Pertama

1174 Kata
Bulan Juli, bulan ke tujuh dalam satu tahun. Bulan yang menunjukkan tahun ajaran baru dimulai. Sekolah yang bersiap menjemput murid baru dengan tanggung jawab yang baru. Di hari yang baru ini, semua siswa yang totalnya berjumlah 34 anak, berbaris dengan rapi di aula sambil mendengarkan pidato panjang dari sang kepala sekolah. "Bapak mengucapkan selamat datang di sekolah ini. Bapak harap, begitu kalian lulus, kalian akan menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan. Tidak ada kata terlambat, Bapak percaya potensi setiap anak." Sosok pria tua dengan kepala bundar tanpa rambut itu tersenyum lembut ke arah peserta upacara. Upacara pembukaan murid baru itu pun dilanjutkan. Hingga sampai di pengunjung acara, pengucapan doa. Semuanya merunduk mengheningkan cipta. Entah menghayati doa atau sudah mengantuk. Sinar terik mentari di lapangan membuat beberapa murid merasa lelah. Itu juga hal yang dirasakan oleh Kelvin, pemuda bertumbuh gempal yang terus menyeka keringat di pelipisnya. Para awan begitu kejam, mereka menyingkir dari langit dan membiarkan matahari menikmati panggungnya sendiri. Sibuk menatap langit membuatnya tak menyadari jika siswa di dekatnya limbung dan hendak terjatuh. Suara benda yang jatuh membuatnya dan semua orang menoleh. Kelvin terkesiap, spontan dia mendekatinya dan menjatuhkan diri. "He-hei, kau tak apa?" tanyanya mulai panik. Tubuh siswa itu sedikit bergerak, tangan Kelvin mundur saat ingin menyentuh sang siswa. "Ah, maaf. Aku baik kok," katanya mengangkat kepalanya. Namun, semuanya kembali terkejut. Sebuah cairan merah mengalir dari salah satu lubang hidungnya. Beberapa gadis berteriak, sedang yang lain hanya menonton. Rasa panik Kelvin semakin menjadi. "Dari mananya? Kau sakit, bukan? Harusnya kau ke UKS." Siswa berambut hitam itu mengusap pelan hidungnya yang berdarah. Ia menggeleng kecil, lalu menerima uluran tangan Kelvin untuk memaksakan kakinya berdiri tegak. Namun, hanya beberapa saat setelah sang siswa berdiri, kini Kelvin justru kehilangan kesadaran. Tubuhnya kini terjatuh di dekat siswa yang baru saja ia tolong. Hal itu juga membuat semuanya kembali terkejut. "Siapa yang sakit?" Petugas kesehatan pun datang dengan membawa alat pertolongan pertama serta tandu oranye. Kedua siswa tadi pun dibawa mundur dan diarahkan ke UKS. Upacara tetap dilanjutkan setelah keributan kecil itu. *** "Tewas?" Ian, selaku teman terdekat Kelvin merasa syok mendengar kabar dari petugas kesehatan. Selepas upacara tadi, ia langsung berlari cepat menuju tempat berbau obat itu. Namun, kabar tidak mengenakkan itu harus ia telan bulat-bulat. "I-itu tidak mungkin!" elaknya. "Pasti Kelvin hanya pingsan, bukan? Nggak mungkin meninggal gitu aja. Kalian sengaja menipuku?" Petugas yang dituduh, merasa kesal. Mereka mempersilakan masuk ke dalam UKS agar sang murid memastikannya sendiri. Ian mengatur napasnya sebelum membuka tirai. Tangannya bergetar, mentalnya tak cukup kuat jika kenyataan menamparnya. "Kelvin?" panggil pemuda berambut pirang itu. Jarinya masih bergetar saat menyentuh kain putih yang menutupi kepala teman gempalnya. Air ludahnya ia telan dengan kasar beriringan dengan terangkatnya kain. Ian tertegun. Wajah pucat, bibir juga pucat, dan hidungnya tak kembang kempis untuk memasok oksigen. d**a Ian bergetar nyeri, ia merasa sesak sebelum akhirnya lututnya lemas dan akhirnya tak bisa menompang posisi berdiri. Ian hanya mempertahankan kesedihannya sejenak. Karena sekelebat ingatan menyambar kesadarannya. Tangannya mengepal pegangan ranjang. Giginya menggeletuk dan darahnya mendidih. "Ini pasti ulah si Tua Bangka itu!" desisnya meruntuki bayangan di ingatannya. Sudah sengaja dimasukkan ke sekolah ini, dia juga membunuh anaknya sendiri? Monolog Ian dalam hati. Ia pun menegakkan punggung, menatap sendu raut muka sang teman, sambil menahan rasa sesak yang menjalar. Tangannya meraih kain penutup muka dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Langkah kakinya membalik, dengan tatapan yang berbeda. "Tunggu saja, Kelvin. Akan kubalaskan dendammu!" Langkahnya melebar dengan penuh tekanan. Derap kakinya menggelegar di sepanjang lorong yang sedang sepi. Walaupun masih kalah keras dengan keributan yang terjadi di dalam kelas. Dibukanya pintu kelas dengan cukup kasar. Dan perhatian pun tertuju padanya. Semua orang terdiam. Menatap heran pemuda yang matanya tertutup oleh rambut gondrong panjang yang menjuntai sepanjang lehernya. Saat Ian mengangkat kepala, saat itulah tatapan tajamnya menusuk siapa saja yang melihat ke arahnya. "Di kelas ini ...," katanya kemudian, "... ada pembunuh." Bukannya gaduh, seisi kelas menanggapinya dengan biasa. Beberapa siswa tak acuh dan melanjutkan aktivitasnya. Desas desus juga terdengar di telinga Ian. "Pembunuh itu beneran ada di sini?" bisik salah seorang siswi pada gerombolannya. Rambut cokelatnya yang tak ada sepundak bergerak dengan lucu. Apalagi model rambutnya trap dengan poni, alias potongan tak beraturan dan memiliki poni yang cukup tebal. "Ish. Ngapain sih? Cuma rumor, kan?" Siswi lainnya menyanggah, "Itu korbannya udah ada. Mau bukti apa lagi?" timpalnya membenahi lipstik merah mudanya yang memudar. Ada juga yang justru tertawa. "Haha. Nekat banget bunuh orang di hari pertama masuk." "Apa maksud kalian?" tanya Ian menginterupsi. Karena gerombolan siswi tadi berjarak tak jauh dari pintu masuk, membuat apa yang mereka bicarakan terdengar cukup jelas olehnya. Ketiga siswi terdiam dan menoleh ke arahnya. Salah seorang tersenyum dan angkat bicara. "Raja Kepanikan, kau pernah dengar?" Warna rambut merah muda di beberapa helai rambut pirangnya membuat Ian sedikit salah fokus. Agaknya siswi itu menyemir sendiri rambut yang mencolok itu. Iiona Sophia, itulah yang tertera di seragamnya. Pemuda itu memejamkan mata sejenak memfokuskan diri. "Raja Kepanikan? Apa lagi itu?" Sophia mendekati Ian dan merangkul bahu yang lebih pendek dari sang siswi. Aneh, padahal tinggi Ian 165 cm, bukannya gadis ini terlalu tinggi? "Dia adalah pembunuh. Istimewanya, dia hanya membunuh orang saat korbannya dalam keadaan panik," jelasnya. Ian tergugu mendengarnya. "Apa-apaan itu?" protesnya yang menekan bahwa rumor itu hanya lelucon. Ketiganya sontak tertawa lepas. "Sepertinya kau kurang membaca berita, Ian Kingstone," cakap siswi berambut cokelat itu. Mata hijaunya nampak memandanginya dengan tatapan mengejek. Namun, Ian tak menyanggah. Dia memang malas membaca berita yang penuh dengan politik negara. "Tidak ada informasi yang detail tentangnya," kata Sophia menginterupsi. "Muncul sekitar dua tahun yang lalu. Seperti yang kubilang, dia membunuh orang dalam keadaan panik. Bahkan dia rela menciptakan kekacauan demi hal itu. Rumornya dia berada di sekolah ini." "Jika sebuah kasus sudah dimulai, itu tandanya detektif beraksi!" Perhatian penghuni kelas kembali ke pintu depan yang dibuka paksa oleh seseorang. Sosok pemuda yang Ian tahu karena dia berada di sebrang ranjang Kelvin di UKS tadi. Siswa yang terjatuh hingga hidungnya mimisan. Dengan senyum percaya dirinya, sang siswa berjalan ke tengah kelas. Mendekat pada meja guru yang diletakkan di tengah papan tulis. Abaikan tisu yang mengerucut di salah satu hidungnya, karena sebenarnya hal itu yang membuatnya konyol. "Siapa kau?" tanya seseorang siswa. "Good question!" pujinya menunjuk ke arah siswa yang mengeluarkan suara. Dia lantas memperkenalkan diri dengan senyuman lebarnya. "Namaku Sherlock Giovanni. Kalian bisa memanggilku Sherly." Hening. Membuat senyuman Sherly bergetar. Dia tahu pasti apa yang dipikirkan teman sekelasnya itu. Sebelum ada yang bersuara, dia kembali berteriak. "Iya, aku tahu! Namaku sama dengan tokoh detektif di cerita novel itu! Orang tuaku dulu terlalu terobsesi dengan detektif akhirnya memberikan nama anaknya Sherlock." Tangan Sherly mengepal. Berkali-kali ia mendengar respon orang-orang yang mengira dia sedang berakting menjadi tokoh utama fiksi itu. Berkali-kali juga ia memprotes pada orang tuanya yang hanya ditanggapi dengan senyuman. "Tapi!" ucapnya lagi. "Berkat hal itu juga, aku jadi memiliki kemampuan yang tak jauh beda dengan detektif," lanjut Sherly menatap ke arah Ian dan ketiga gadis tadi. "Kalian sedang membicarakan Raja Kepanikan, bukan? Dan kau ingin tahu siapa pembunuh Kelvin." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN