POV Virghost
Lebam-lebam di muka dan beberapa di pergelangan tangan, akibat berantem dengan junior gue di kampus udah rada baikan. Cukup lah empat hari ini gue dibuat malu ma tuh anak untuk tidak keluar-keluar dari rumah. Tapi jujur gue akuin junior gue bernama Adit lumayan tangguh menjadi lawan gue. Adit ma gue, sama-sama menguasai Muay Thai. Beberapa jurus serangan dari Adit, serupa dengan style bertarung gue. Untung saja gue udah serang di awal, jadi membuat posisi gue menang di beberapa poin.
Awalnya sih gue sempat meremehkan kemampuannya, namun ia membuktikan sendiri jika ia mampu membuat gue terkena pukulan balasan darinya. Maka dari itu, gue pikir Adit akan menjadi salah satu lawan tangguh gue ke depannya.
“Yuk dah...” Gerry, salah satu sahabat gue ngajakin keluar kelas. “Vir... Ki!” Gue menoleh ke Oki, dia gak memberi respon. Gue noleh ke Deni, dia ngikut aja.
“Loe mau keluar gak?” tanya gue ke Oki.
Dia hanya mengangguk. Hufhh! “Yuk Ger.” Kata gue karena orang yang duduk di samping gue ini, masih saja bersikap seperti biasanya. Siapa lagi kalo bukan si Oki. Pimpinan gue, sahabat gue, dan juga orang yang selalu menjadi motivator gue dalam berbagai hal. Mengenai Oki, nanti bakal gue ceritain lebih detailnya, gimana sih orangnya. Oh iya sampai lupa, gue saat ini sudah berada di kampus selama 2 tahunan. Jadi sekarang gue ma anak-anak sudah berada di semester 5.
Setelahnya kami beranjak dan berjalan bersama keluar dari kelas. Saat tiba di depan, gue berdiri di samping Oki, sedangkan Gerry dan Deni seperti biasanya langsung menggoda beberapa junior yang baru saja ingin melewati kami. Bukannya dapat perhatian, malah tuh junior-junior pada takut. Ck...ck...ck Ger! Ger! Gimana loe mau di suka ma awewe di kampus kalo cara loe godain mereka nyeramin banget. Kalo mereka gak mau balasain uluran tangan Gerry, bakal kena omel atau gertakan. Yaiyalah, loe mah pake cara otoriter. Hahahahaah! Oke skip. Gerry ma Deni, rada sama orangnya kalo bercerita mengenai awewe.
Oki? Gue aja yang paling dekat ma dia, baru sekali gue lihat dia jalan ma cewek. Itupun kejadiannya waktu kami masih sama-sama di SMA dulu. Oki orangnya cukup tertutup. Sangat susah di tebak, dan juga sangat jarang bercerita mengenai kepribadian dia ke kami.
Mungkin karena didikan dari bokapnya. Lagian Oki juga sejak SMA sudah mulai diberikan kepercayaan oleh bokapnya untuk membantu menghandle beberapa bagian bisnis bokapnya.
Oki juga punya adik cewek! Hehehe, yah cewek yang selama ini membuat status gue masih jomblo. Oops! Benar jika kalian mikir gue suka ma Lidya. Tapi yah! Meski gue suka, gue gak berani berbuat apa-apa. Gue bakal mikir ratusan kali, kalo mau deketin Lidya. Hahahaha! Jadi yah, kudu di pendam aja nih perasaan ke tuh anak.
“Oeee Vir... Oki, ngapain loe berdua masih berdiri di situ? Yuk ah!” teriak Gerry membuat gue menoleh ke Oki.
“Kalian duluan.” Gumam Oki.
“Hufhhh! Loe duluan aja Ger... Den!” kata gue ke Gerry dan Deni. Dan Sekilas gue melirik lagi ke Oki! Pandangannya lurus ke depan.
Kemudian gue mengikuti arah pandangan dia. Benak gue bertanya-tanya, Siapa yang ia lihat? Bukan hal baru sih, kalo gue mendapati sikap Oki seperti ini. Diam, gak ada suara sedikitpun ia keluarkan. Pandangan tajam ke depan, namun gue sekilas menangkap sesuatu dari pandangan dia.
Karena penasaran, gue akhirnya coba bertanya. “Bro, loe liatin siapa?” Oki hanya menoleh. Ia menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang datar. Hufhhhh! Mengerikan banget. Meski datar, tapi cukup membuat gue kadang merasa keki sendiri. Bingung ma rada gimana gitu, kalo liat sikap Oki kek gini. Jujur, sejak dulu sampai sekarang gue itu sangat segan ma dia. Takut? Dikit Hehehehe. Sudahlah nanti juga kalian bakal paham, seperti apa Oki.
“Yuk dah! Kalo loe berdua masih pen liatin awewe... gue ma Deni duluan aja yah! Dah lapar.” Kata Gerry mengajak kami ke Cafe.
Mereka kek gini, lempar batu sembunyi tangan. Mereka yang godain awewe, malah nuduh ke gue ma si Oki. “Loe duluan aja.” Kata gue ke mereka berdua. Sambil mendengus, akhirnya Gerry dan Deni, berjalan duluan.
Gue? Menunggu Oki, dan masih belum berani untuk menegurnya. Karena dengan sikap dia seperti ini, berarti ada hal yang menarik yang sedang ia lihat. Gue kembali mencoba melihat ke arah pandangannya...
Nih anak liatin siapa sih? Batin gue. Karena seputaran arah pandangan Oki, Gak ada sesuatu yang special menurut gue. Gue lalu menajamkan pandangan gue kembali. Yang gue lihat, hanya beberapa mahasiswa/i yang berlalu lalang.
Saat gue masih sibuk mencari tau, apa yang sebenarnya Oki lihat. Tiba-tiba, Oki berucap “Yuk!” Lah? Nih anak... Arhhhh! Gue nungguin dia, eh dia malah gak ngomong apa-apa maen pergi gitu aja. Yah! Oki udah berjalan ninggalin gue yang masih bengong. Saat baru ingin menyebrang jalan, Oki kembali menoleh ke samping. Tapi kali ini, sepertinya perhatian Oki agak beda. Pandangannya saat ini seperti sedang mencurigai sesuatu. Lebih tepatnya ke arah parkiran mobil. Benak gue bertanya-tanya, apa sebenarnya yang Oki lihat sih? Mana nih anak gak akan pernah jujur ke kami.
“Loe liatin apa sih?” tanya gue ke Oki mulai kepo.
“Panggil Deni dan Gerry kesini.” Balasnya singkat. Namun dari nada suaranya, ada penekanan menunjukkan kali ini ia sedang serius.
“Oke!” kata gue, lalu mengirim SMS ke Gerry dan Deni. “Done.” Kata gue setelah mengirim pesan kepada dua sahabat gue. Oki hanya melirik sesaat, sempat menangkap ada senyum tipis di wajahnya. Yah! Begitulah dia, meski gak bisa ngucapin kata ‘Terima Kasih’ tapi dengan membuat senyuman tipis seperti itu, kami khususnya gue, mengetahui jika dua kata tadi, telah ia sampaikan.
Oki kembali berjalan, dan gue ngikuti di sampingnya. Bukannya berjalan melewati gedung pembatas antara lapangan dengan cafe, Oki malah berlalu menyusuri depan gedung menuju ke parkiran yang sejak tadi ia lihat. Pasti ada sesuatu yang Oki curigai.
Kebetulan Gerry dan Deni udah tiba juga. “Ngapain loe berdua disini?” tanya Gerry.
“Gak tau, ni Oki.” Kata gue. Gerry dan Deni ikut melihat ke arah parkiran. Kemudian mereka berdua ikut mengernyit. Dan kalo gue bisa nebak, mereka sama herannya kayak gue. Hehehe!
Dan setelahnya...
Oki menoleh, “Ada yang mau bantuin saya, untuk ngabisin dua mobil itu... beserta orang-orang yang berada di dalamnya?” gumam Oki. Gue, Gerry dan Deni saling berpandangan. Meski gue gak paham apa maksud Oki, tapi gue ma dua sahabat gue langsung bergerak.
Gue bertiga berjalan mendekat ke parkiran. Yang kebetulan saat ini, hanya ada dua mobil terparkir. Dan kedua mobil itulah yang akan kami datangi sesuai perintah dari Oki tadi. Eh bukan perintah deng! Lebih tepatnya, minta tolong.
Saat kami udah dekat, salah satu mobil baru ingin jalan. Gue langsung berlari ke arah samping kanan mobil. “WOI BERHENTI!” Teriak gue sambil menggedor-gedor kaca mobil. Jika ia tak berhenti, maka gue bakal ngelakuin cara yang ekstrim. Kebetulan batu krikil yang cukup besar saat ini berada dekat kaki gue.
Gerry dan Deni mendatangi mobil satunya.
And!
Empat orang keluar dari mobil. Di tangan mereka memegang stick baseball. Tanpa banyak tanya, mereka langsung menyerang Gerry dan Deni. Gue gak sempat lagi melihat apa yang mereka lakukan, karena gue pun sudah mendapat lawan dari orang-orang yang baru saja keluar dari mobil yang saat ini gue tahan. Jumlah mereka tiga orang. Namun yang maju untuk ngelawan gue, hanya dua orang saja. Orang satunya sepertinya dialah orang yang memberi perintah ke mereka semua.
Ok! Waktunya beraksi. Dan tanpa memberikan mereka kesempatan. Gue menyerang di awal. Tapi perkiraan gue salah, dimana mereka berdua sepertinya bukan lawan yang patut di remehkan. Mereka bergerak bersamaan, dan saat gue baru ingin melepas pukulan ke arah mereka, sebuah hantaman stick base ball dari samping sepertinya harus lebih dulu gue hindari. Gue menunduk, memutar badan gue sedikit. Dan berhasil gue elakkan. Gue balas serangannya dengan menghantam di pinggang.
Bugh! Tubuh orang pertama tergeser ke samping.
Melihat kawannya gue pukul. Orang kedua melayangkan stick base ball ke arah gue. Hampir saja gue terkena di kepala, namun segera gue block serangannya dengan mengangkat tangan kanan, menekuk dan meletakkan di samping kepala gue. BUGH!!! Perih njir! Tangan gue nyut-nyut setelah berhasil menangkis pukulan stick baseball orang kedua. Selang sedetik gue lalu memutar tubuh gue, menyentakkan tangan kiri gue agar bisa mendorong tubuhnya sedikit, memberikan gue ruang untuk memberikan serangan balasan. Gue melompat lebih dulu, kemudian menekuk tangan kanan gue, mengarahkan siku ke wajahnya.
BAMM!!! Berhasil, dengan gerakan cepat gue memberikan Flying smashing elbow.
Orang pertama balik lagi! Dia menyerang gue dengan cara membabi buta. Gue hanya bisa mengelak dan berusaha mencari cara agar stick base ball di tangannya bisa terlepas. Saat gue baru ingin mikirin eh! Orang kedua melakukan hal yang sama. Sukses, membuat gue harus mundur ke belakang.
Gue di serang bersamaan. Gue lalu menghindar dengan menggerakkan badan gue ke samping kanan. Dan saat orang pertama telah berhasil gue elakkan serangannya, orang kedua menyerang gue dengan serangan kombinasi. Pukulan stick base ball di atas, gue menunduk. Serangan tendangan, gue block dengan menyilangkan dua tangan.
Bersamaan gue melakukan dorongan kaki atau jab kaki bertujuan untuk mendorong tubuh orang kedua agar sedikit ke belakang. Ini salah satu hal yang harus gue lakukan untuk defensif, dan juga dapat mengontrol jarak dengan lawan. Sontak, orang pertama balik lagi nyerang gue. Gue mengelak, memutar tubuh gue, dan memegang di pundak. Gue lalu menarik tubuh orang pertama, gue jadiin tumpuan dengan memegang punggungnya. Gue dorong ke bawah, kemudian memutar tubuh dan tenaga pun gue pusatkan pada area lutut atau dengkul. Ketika tenaga sudah berkumpul di bagian lutut, maka selanjutnya gue tekuk kaki kanan gue dan menyerang bagian tubuh samping orang kedua. Sukses, Circle knee dari gue menyerang di bagian rusuknya.
“ARGHHHHHHH!” Itu pasti sakit cug! orang kedua mengerang ke sakitan sambil tangannya memegang bagian yang baru saja gue hajar.
Gue lalu mendorong tubuh orang pertama ke samping. Dia sempat ingin melayangkan pukulan stick base ballnya ke arah gue. Dan bersamaan gue menendang ke arah yang sama. Sukses! Kaki gue menghantam tangannya yang memegang stick base ball tersebut. Plannggg!!! Stikcnya terlepas dari tangan orang pertama. Maka dengan cepat gue mengambil stick base ball tersebut.
Gue ayun-ayunkan stick base ball tersebut, dan juga memutar-mutar di hadapan lawan gue. Haha! Ternyata loe orang takut juga. Terlihat orang pertama agak mundur. “Sini loe njingg!” kata gue sambil mengangkat tangan kanan gue yang memegang stick base ballnya. Ujungnya gue arahin ke dia. Sambil berjalan mendekatinya. Gue menyeringai sesaat, dan dia akhirnya terpancing dimana ia berlari ke arah gue. Berlompat, dan dengan santai gue layangkan stick base ball sekeras mungkin ke udara bertujuan untuk menghantamnya.
BAMM!!! Telak, gue menghantam di d**a, dan lengan kiri, gue jadikan tangkisan saat kaki kanannya juga ikut mendarat dan akan mengenai wajah gue.
Orang pertama terkapar. Gue menatap orang kedua yang memasang ekspresi lucu. Pastinya dia udah takut, tapi itu sangat menyenangkan bagi gue. “Sini loe.” Kata gue.
“Arghhhhhhhh! Hiaaaatttt” dia teriak sekencang-kencangnya. Kemudian berlari ke arah gue sambil memberikan serangan membabi buta memakai stick base ballnya. Gue menangkis beberapa kali, dengan stick serupa. Stick base ball kami beberapa kali beradu.
Gue menunduk saat serangan dari atas, kemudian gue hantam di perut. Tapi karena posisi gue gak memungkinkan, maka serangan gue gak begitu keras. Tapi, saat gue berdiri. Disinilah letak kesalahan lawan gue. Dia ingin memusatkan serangannya dari kaki, karena mengira gue masih menunduk. Gue berputar, lalu menggerakkan stick base ball gue sekeras-kerasnya dari arah bawah lalu ke atas.
BLAMMM!!!
Telak! Darah pun muncrat dari hidung beserta mulutnya, saat stcik base ball menghantam keras di wajah. Jika di ambil dari kamera pake gerakan slow motion. Beuh, ini keren cug! Karena orang kedua yang gue hantam barusan, terjungkal ke belakang. Dan gue berlari, lalu menginjak di tangan saat ia ingin menggerakkan tangannya yang masih memegang stick base ball. “Arghhhhh!” erang dia, bersamaan stick baseball terlepas dari tangannya.
Meski gue gak paham, kenapa kami harus menyerang mereka. Tapi dengan mengetahui jika mereka membawa senjata, maka sudah di pastikan mereka memang ingin mencari ribut di kampus.
Gue menoleh! “Eh!” tersadar saat ini, ternyata kami sudah di kelilingi oleh banyak orang. Gue juga melihat posisi Deni lagi tersudutkan. “Gak! Gue gak bakal biarin loe orang! Mukulin Deni” Gue berlari ke arah lawan Deni. Gue hantam satu persatu dengan stick base ball. Mengayun dari atas ke bawah. Lalu, mengayunkan dengan gerakan horizontal untuk menghantam yang lainnya.
Deni ikut membantu. Dan akhirnya! Bam! Bugh! Bam! Kami berdua berhasil membuat ketiga orang itu terkapar dalam hitungan tak lebih dari 2 menit.
Gerry pun, gue lihat sudah berhasil membuat lawannya terkapar.
“Loe gak apa-apa Den?” tanya gue.
“Gak lah!”
“Ohh syukur deh...”
Gue lalu menoleh, dan menatap ke Oki yang masih berdiri di tempatnya tadi. Ia tersenyum, lalu seakan ia menggerakkan wajahnya.
“Kenapa?” gue bertanya. Meski dia gak bisa mendengar, tapi gerakan bibir gue pastinya mampu di tebak oleh Oki. Mata Oki bergerak ke arah lain. bersamaan gue dan kedua sahabat gue, menoleh ke arah yang sama.
“FAK!” gue lupa, kalo masih ada satu orang yang tersisa.
Orang itu baru saja berlari sambil meraih stick baseballnya yang tergeletak di lantai. Yang t***l-nya, nih mahasiswa/i yang berkumpul melihat kejadian tadi, malah gak ada yang berani menahan kepergian orang itu. Gue gak sempat untuk mengejarnya, karena jangkauan gue darinya cukup jauh. Biarkan saja dia kabur, toh juga kawan lainnya udah gak berdaya kami buat.
Gue menoleh ke Oki.
Eh! Kemana tuh anak. Karena Oki tak lagi berada di tempatnya tadi. Gue alihkan pandangan gue.
And...
Apa yang gue pikirkan ternyata salah. Oki bergerak cepat lalu telah berdiri di hadapan pria itu. Menghalangi jalannya untuk meninggalkan tempat ini. Gue lihat pria itu memegang stick base ballnya dengan kedua tangan. Bersiap-siap memberikan serangan ke Oki.
Sedangkan seperti biasanya, Oki tampak masih tenang. Ekspresi biasa yang ia tampakkan di wajahnya saat ini. Sikap kedua tangannya juga sedang tergantung begitu saja sejajar dengan tubuhnya dengan posisi sedang tidak terkepal. Kedua kakinya tak ada sikap untuk mengambil kuda-kuda. Beuh! Gue paham bagaimana teknik yang akan di gunakan oleh Oki. Karena biar bagaimana, lawan Oki saat ini sangatlah jauh, antara bumi dan langit. Oke! Udah lama juga gue gak liat Oki mukul orang. Hahahahah!
Gue menyeringai. Meremehkan orang itu, yang ternyata tanpa menunggu lama, karena merasa dirinya sudah terdesak. Pria itu menyerang Oki duluan. Dia mengarahkan stick baseball ke arah Oki. Menyerang dari atas ke bawah, dengan sangat cepat. Wush! Oki mengelak, menggerakkan tubuh dari kepala hingga ke pinggang agak menyamping, dua kaki agak tertekuk untuk mengambil gerakan yang cepat.
Lalu pria itu, saat posisi stick baseballnya kembali ke atas, ia ayunkan kembali ke arah bawah dengan gerakan Vertical. Gerakan agak menyerong ke arah berlawanan dari sebelumnya. Wushhh!!! Cukup mudah bagi Oki mengelak serangan kedua dari pria itu, dengan melakukan gerakan yang sama sebelumnya. Bedanya, posisinya yang di awal mengelak ke samping kiri, sekarang ke samping kanan.
Kemudian saat pria itu ingin menyerang dari arah Horizontal dari kanan ke kiri, Oki menggerakkan tangannya dengan cepat dan berhasil menangkap salah satu pergelangan tangan pria itu. Namun, pria itu menarik paksa tangannya ke belakang. Dan Stick baseballnya, ia arahkan kembali ke depan. Oki menundukkan kepalanya sedikit ke bawah, untuk mengelak serangan yang baru saja ingin menghantam kepalanya.
Cool man! Batin gue melihat style Oki saat ini. Dia sangatlah santai untuk meladeni lawannya.
Melihat situasi itu, lawan Oki langsung menggerakkan kakinya seakan ingin menendang di d**a Oki. Namun, bukan Oki namanya kalau ia gak bisa menangkisnya dengan santai serangan tersebut. Dimana Oki hanya menahan lutut orang itu, sebelum kakinya terbuka dengan menggunakan telapak tangan kanan. Kemudian, pria itu menyerang lagi menggunakan stick base ball dengan gerakan dari atas ke bawah, namun Oki mengelak ke samping lagi. Sambil dengan cepat memberikan serangan balasan dengan Hook samping kanan, mengarah tepat di wajah pria itu.
Bugh!!! Sepertinya Oki hanya memukul pria itu, setengah tenaga doank. Tapi, biar bagaimana pria itu tetap terdorong ke belakang. Lalu saat Oki memberikan Jab tangan kanannya lurus ke depan, pria itu menangkis dengan lengan serangan dari oki. Namun, Oki langsung menekuk lengannya dan bergerak dengan cepat memepet tubuh lawannya itu. Oki berhasil memberikan serangan siku yang keras di dagu pria itu. Dengan gerakan menyamping.
Bugh!!! Lalu. Jika orang lain mungkin tak mampu melihat gerakan Oki, berbeda dengan gue. Dimana Oki sudah meletakkan sikunya di d**a pria itu. Lagi. Oki, memberikan sedikit pelajaran dengan menghantam d**a bagian samping kiri pria itu dengan gerakan siku tertekuk dari arah atas ke bawah. Bugh! Bugh! Bugh! Tiga kali, siku Oki menghantam d**a kiri pria itu.
Bisa saja Oki menghabisinya sekarang. Seperti menepuk nyamuk saja. Tapi, yah Beginilah gaya bertarung Oki. Sangat santai dan tak ingin buru-buru untuk membuat lawannya terkapar. Dan juga Oki sangat jarang menyerang dengan menggunakan kaki. Kecuali mungkin sudah terdesak.
Kemudian gue lihat Oki yang masih bersikap biasa saja, mendorong tubuh pria itu agak ke belakang. Dan menghadiahkan dua serangan kombinasi. Hook kanan, menghantam wajah bagian kiri lawan, dan Jab kiri lurus menghantam di d**a. Bugh! “Arghhhhh!” baru saja pria itu ingin menarik nafas. Oki sedikit berlompat, dan menghadiahkan pukulan terakhir. Gerakan menyentakkan tangan dengan kepalan tangan mengarah lurus, telak bersarang tepat di wajah pria itu.
BAMM!!!
Sukses! Pria itu sudah mau terjatuh. Namun Oki yang tampak belum puas. Ia lalu memberikan Upper Cut yang begitu keras, menghantam di dagu.
BAMM!!!
Sukses lagi. Pria itu terjungkal ke belakang dengan darah yang memuncrat dari mulut dan juga hidungnya. Dan stick baseball di tangannya pun terlepas, membuat stick baseballnya tergeletak tepat di sampingnya.
Oki menepuk-nepukkan tangannya sendiri, ia lalu mendekati lawannya itu. “Terakhir saya ingatkan ke kalian semua! Jika ada yang berani menyebarkan lagi barang di dalam kampus! Akan berakibat yang sama seperti kalian.” Setelahnya Oki berjalan dengan santai meninggalkan lawannya yang sudah terkapar tak sadarkan diri.
Ohhhhh paham gue sekarang. Berarti Oki langsung menebak, jika orang-orang ini adalah bagian dari pengedar Narkoba di daerah sini.
Oki mendekati kami. Dia lalu menatap ke Deni. “Deni! Saya gak akan menegurmu untuk kedua kalinya... Sama dengan mereka.” Lanjut Oki menunjuk wajah Deni. Grrrr! Gue merinding. Begitu pula Deni mengangguk pelan. “Selain di kampus, terserah...” Kata Oki selanjutnya, lalu ia berjalan meninggalkan tempat ini.
~•○●○•~
POV 3rd
Di tempat berbeda...
Di sebuah pergudangan di daerah kawasan gudang dan industry. Seorang pria bernama ‘Huis Van Kiaki’ baru saja tiba. Di dampingi 4 orang berjas hitam, berjalan menghampiri seorang pria menggunakan seragam putih lengkap dengan masker menutup mulut dan hidungnya beserta sarung tangan karet yang menutup kedua tangannya dari jari sampai ke setengah lengannya.
“Bagaimana produksi anda hari ini Dokter?” tanya Huis kepada pria yang baru saja ia temui.
Pria berseragam dokter itu menoleh. Seringaian tipis di wajahnya seakan menjawab pertanyaan Huis.
“Lumayan bagus.” Jawab Dokter itu. Ia lalu berjalan untuk mengecheck beberapa stock persediaan di gudang penyimpanan. “Mau ikutan cek, Pak Huis?”
“Boleh!” ujar Huis lalu mereka berjalan bersama-sama menuju ke ruangan lainnya.
Begitu tiba di ruangan tersebut. Dimana didalamnya terlihat beberapa orang yang berseragam putih sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Akhirnya mereka menghampiri salah satu sudut ruangan dimana terdapat beberapa tabung gelas berukuran 50 Liter dengan masing-masing tabung dibawahnya terdapat mesin pemanas otomatis dengan suhu 75°. Suhu yang tidak bisa kurang ataupun lebih. Sedangkan di ujung tabung terdapat selang infus terbuat dari karet yang tersambung di beberapa tabung gelas yang berukuran lebih kecil.
Kemudian dia memperhatikan tabung yang ukurannya lebih kecil, memastikan proses distilasi sudah berjalan sesuai yang dia inginkan.
“Mantap hasilnya.” Kata Dokter itu.
“Saya percayakan denganmu. Kapan bisa di Ditribusikan kembali produk yang baru?”
“Secepatnya Pak!”
Lalu mereka kembali berjalan menuju ke bagian ruangan lainnya, dan mendekati sebuah mesin pengering dimana terdapat beberapa kristal putih setengah jadi di sebuah wadah besar, masing-masing kristal berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa.
“Hemmmm.... Not bad, i like it... he.. he” ucap Dokter itu sambil tersenyum penuh arti.
~•○●○•~
POV 3rd
Dalam kelas, setelah kejadian tadi di parkiran. Para mahasiswa/i akhirnya di bubarkan oleh salah satu pentolan 4 Devils. Dimana juga, Reno beserta kawannya sempat melihat kejadian tersebut. Tak lama dosen tiba. Semua cukup diam, bukan karena takut. Melainkan semua mahasiswa/i menghargai para dosen di kampus ini. Karena itulah peraturan yang dibuat oleh para 4 Devils!
Yang berani berbuat macam-macam kepada para dosen, maka mereka akan berhadapan dengan 4 Devils. Begitu juga yang terjadi bagi Lidya! Ia sengaja memperhatikan dengan seksama materi yang dibawakan oleh dosen di atas.
Berselang beberapa menit, dosen pun melempar pertanyaan kepada mereka. Selalu saja, Reno yang mendapat bagian ke dua atau bahkan ketiga saat yang lainnya tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Dan Reno? Semua pertanyaan yang diberikan, selalu saja Reno berhasil menjawabnya.
Karena itulah, menjadi perhatian seorang Lidya. Ia sesekali menoleh ke Reno, saat pria itu menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan oleh sang dosen. Kadang juga, dua mahasiswi ikut menimpali bergantian. Dua gadis yang selalu menjadi saingan Reno di kelas. Yaitu Cindy dan Aisyah!. Yah! Otak kedua gadis itu sama encernya dengan otak Reno. Bedanya, mereka tak pernah mendapat pertanyaan yang sama. Jika Reno tak mendapatkan pertanyaan, baru mereka yang akan mendapatkan dari sang dosen. Begitu seterusnya, mereka saling bergantian.
Tanpa sadar, Lidya kembali menoleh ke Reno. Keningnya mengernyit, dan benaknya pun berkata. Pengakuan atas diri Reno. Dimana pria itu memang cerdas. Tapi, tetap tak mengurangi rasa dendam dan kesalnya kepada Reno. Ia sendiri bingung, kenapa ia bisa seperti ini.
Entahlah! Mungkin Lidya masih belum bisa melupakan kejadian tabrakan di jalan itu. “Hmm, maybe!” gumam Lidya pada dirinya sendiri.
Reno menyadari jika ia sedang di tatap oleh Lidya, ikut membalas tatapannya. Saat mata mereka berpandangan, Lidya mengalihkan pandangannya ke samping. Namun dalam hati, bertanya satu hal! Apa emang, Reno itu sama sekali tak punya rasa apapun? Rasa takutkah? Rasa heran kah, atau rasa terkejut? Karena tiap kali ia melihat Reno, ekspresinya masih tetap sama. Saat Lidya kembali menoleh, mata mereka kembali berpandangan.
Ada rasa aneh di sana. Untuk menyembunyikannya, Lidya mengangkat kepalan tangannya ke arah Reno. “Apa?”
Reno menggelengkan kepalanya pelan.
“Hufhh! Tuh muka. Bikin kesel aja!” gumam Lidya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, dan memilih untuk kembali fokus ke depan.
.
.
Class selesai. Beberapa orang keluar dari kelas. Dan Reno beserta sahabatnya, pun ikut berjalan keluar. Bersamaan Lidya yang baru selesai membereskan perlengkapannya. Berjalan keluar.
Saat baru ingin melewati Reno dan kawannya, Lidya menghentikan langkahnya tepat di samping Reno. “Kenapa lihat-lihat dari tadi? Mau nyari ribut loe yah?” Reno menoleh dan hanya mengernyit. Selanjutnya, Reno mengangguk sopan kepada gadis itu.
Batin Lidya bergejolak. Antara mau marah, kesal ataupun bingung. Ya iya, karena sikap Reno masih saja seperti biasanya. Bagaimana cara agar nih cowok, bisa merubah sikapnya sih? Benak Lidya bertanya-tanya dalam hati. Tanpa sadar, ia menggembungkan pipi yang masih berdiri di samping Reno. Kawan Reno, pun ikutan menatap ke Lidya.
“Ada apa lagi sih Lid?” kini Adit yang melempar pertanyaan.
“Eh! Gak... gak kenapa-kenapa.” Kata Lidya yang tersadar dari lamunannya.
“Ya sudah! Tolong, jangan lagi nyari masalah ma kami... Capek loh Lid. Kami pengen belajar bukan pengen nyari ribut di kampus.”
“Terus kenapa?” tanya Lidya sinis.
“Loe itu orang berpendidikan, harusnya bisa mengerti dengan kata-kata gue tadi.” Balas Adit membuat Lidya mendengus.
Bedanya! Reno malah langsung berjalan tanpa berucap apapun kepada mereka. “Eh nih anak malah maen pergi gitu aja.” Celetuk Eko yang mengetahui tingkah Reno. Adit geleng-geleng kepala sesaat.
“Ya dah Lid. Gue ma anak-anak, mau ke kantin.”
“Ya sudah, pergi sono! Kenapa loe malah lapor ke gue.”
“Kali aja loe mau ikut.” Gumam Adit membuat Lidya mengernyit. “Sorry kalo gue salah ngomong.” Lanjut Adit yang mencoba untuk tetap tenang, dan tak terpancing oleh gadis itu.
Karena tak mampu berbuat apa-apa lagi, maka Lidya pun memilih untuk berjalan meninggalkan mereka. Sempat, ia menoleh ke Reno yang sudah menyebrang. Dan kini Reno berdiri menatap ke para kawannya.
“Yuk!” terdengar suara Adit sepertinya mengajak yang lainnya untuk menyusul ke Reno.
Lidya, pun baru saja memalingkan pandangannya ke depan. Dan saat ia ingin melanjutkan langkahnya, sempat Reno yang kini memandang ke arahnya. Memandang kepergian Lidya yang sudah berjalan makin menjauh dari posisi sebelumnya.
Saat kawan Reno udah sampai, si Eko yang di awal langsung melempar bullyan. “Ren... keknya si Lidya suka deh ma loe. Hahahahah! Nih anak, bener-bener... dengan sikap coolnya kek gini, malah bikin si ratu jutek jadi makin penasaran.”
“Bener juga tuh Ren.” Timpal Rizal.
Reno? Hanya memandang ke mereka sesaat. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala, lalu ia lanjut berjalan. Mau gak mau, temannya pun mengikuti langkahnya. Reno yang berjalan di depan, sempat mendengar obrolan Eko dan Adit yang berjalan di belakangnya.
“Dit. Loe gak ngajakin Aisyah nongkrong bareng di kantin?” tanya Eko.
“Eh lupa. Hahaha!” jawab Adit.
“Ya udah loe telfon aje gih. Suruh nyusul aja.”
“Emang dia mau?” tanya Adit lagi.
“Yah pasti maulah... secara, dia kan suka ma elu.” Kata Eko menjawabnya.
“Ya udah gue coba.” Maka Adit pun mengirim pesan WA ke nomor Aisyah, yang pernah ia dapatkan dari Aisyah sendiri.
Tak ada balasan! Hanya di baca doank. Maka Adit pun tak lagi membahas masalah Aisyah bersama Eko. Mereka berjalan bersama-sama menuju ke kantin.
~•○●○•~
POV 3rd
Di sebuah kamar hotel bertype Suite. Kebiasaan Reno yang selalu memilih menginap di Hotel, ketimbang di rumah kontrakannya. Seharian ia berada di kampus, cukup membuat dirinya terhibur. Apalagi ke konyolan para kawannya, terkhusus Eko dan Rizal mampu membuat suasana makin ceria.
Malam ini, Reno yang sedang tertidur di atas ranjang. Tampak beberapa butiran keringat di wajah dan juga beberapa bagian tubuhnya. Ia sedang bermimpi. Tak jelas apa mimpinya itu. Pastinya mimpi buruk, karena terlihat dari keningnya yang mengernyit. Entahlah! Yang jelas, setelah bermimpi. Tiba-tiba Reno terbangun, dan terduduk di atas ranjangnya.
“Hash! Hash!” ia mencoba mengatur nafas yang tersengal. Mimpinya sangatlah aneh, dimana ia bermimpi, se sosok gadis sedang di todongkan pistol di bagian kening. Bukan Reno, melainkan orang lain. Justru, Reno melihat dengan jelas kejadian tersebut.
“Siapa dia?” Suara berat keluar dari mulutnya. Maka setelah mengusap wajah, Reno beranjak dari ranjangnya.
Bukan hal pertama kalinya, Reno mendapatkan mimpi buruk seperti ini. Bahkan beberapa mimpinya seakan seperti puing-puing yang mulai menyatu antara satu sama lainnya. Namun, sampai sekarang Reno masih belum ingin memikirkan akan mimpinya tersebut. Jika memang ada hal yang akan terjadi di masa akan datang, maka Reno tak akan memperdulikannya, jika saja itu mengancam nyawanya sendiri.
Suasana yang sejuk di dalam kamar, terdengar tetesan air dalam kamar mandi yang baru saja keluar dari keran westafel. Reno baru saja membasuh wajahnya. Di pandangi cermin di depannya, menatap pantulan wajahnya sendiri.
Beberapa menit kemudian...
Reno duduk menghadap depan laptopnya. Mencoba untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menghiburnya selama ia berada di kamar. Ia sengaja tak ingin keluar dari kamarnya. Bahkan, untuk makan saja ia hanya memesan di Hotel dan meminta untuk di antarkan ke kamarnya.
Saat ia sedang sibuk menonton sesuatu di laptopnya, terdengar dering notifikasi pesan masuk, bukan hanya di ponsel jadulnya. Melainkan adanya pesan masuk lainnya di ponsel terbarunya, yang biasa ia gunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dengan kawannya di kampus.
Sejenak, Reno membakar rokok garpitnya. Sambil matanya melihat kedua ponsel yang ia letakkan begitu saja di samping laptopnya.
Ponsel jadul? Pasti dari Pak Edward. Batin Reno.
Ponsel terbarunya? Entahlah. Paling juga pesan dari kawannya.
Reno meraih ponsel jadulnya itu di awal, lalu membuka pesannya.
Pak Edward :
“SUMMER”
Kemudian, ponsel lainnya pun berdering tanda adanya pesan baru yang masuk. TING!!!
Pak Edward :
Picture TO : -JPG File-
Name : HUIS VAN KIAKI
Asal : Belanda
Location : -
Time : 7 Days
Accept or ignore?
“Hmm, waktunya sama dengan misi ‘Hyena’” gumam Reno sesaat.
Reno kembali membaca pesan tersebut, yang semua keterangan cukup jelas. Berbeda dengan misi ‘Autumn’ yang minggu lalu ia jalankan. Misi yang abu-abu. Hanya foto target yang buram. Dan juga, nama TO yang disebut HYENA. Jika dimana, TO adalah pelaku pembunuhan dan keberadaannya pun tak diketahui. But! Bukan hal yang cukup sulit bagi Reno. Buktinya ia sukses, menjalankan misi tersebut. Apalagi Misi Summer kali ini, semua terlihat jelas. Nama dan foto, cukup bagi Reno meskipun lokasi TO berada, tak ada keterangan di pesan tersebut. Seringaian tipis di wajah Reno, sambil menghisap dalam-dalam filter garpitnya. Lalu segera membalas pesan Pak Edward, jika dia akan menerima Case tersebut. “Accepted!”
Selama semingguan lebih ia nganggur, akhirnya dapat pekerjaan lagi. Reno segera menyibukkan diri di depan laptopnya. Di awal Reno jelas mencari tau, informasi profil TO. Beberapa informasi telah tampak di beberapa page ‘Deep Web’ dimana semuanya menjelaskan siapa ‘Huis Van Kiaki’ itu.
Reno mendapat sebuah informasi, dimana ia mulai mencatatnya. TO adalah salah satu buronan di negeri ini. Bandar Narkoba terbesar, dan keberadaannya sangat sulit di ketahui oleh pihak yang berwajib. Tapi, tidak berlaku bagi Reno.
Intinya, gak mungkin TO bisa berkeliaran di jalan jika gak ada koneksi orang-orang kuat di pemerintahan. Yap! Benak Reno memikirkan hal itu, setelah menangkap satu informasi, dimana sempat TO di tangkap dan di jebolkan ke penjara. Namun, saat akan mengikuti proses persidangan, TO melarikan diri.
“Death Protokol!” gumam Reno. Death Protokol, adalah kejadian dimana tersangka/terdakwa melarikan diri di jalan dengan menggunakan alat transportasi. Dan kode DP hanya di ketahui oleh orang-orang di bagian keamanaan negeri ini. Karena jelas gak akan mungkin tersangka/terdakwa melarikan diri jika tak adanya bantuan dari pihak lain. Bahkan, biasanya kejadian Death Protokol adanya campur tangan dari pihak di dalam.
Tak ada tambahan informasi lagi mengenai TO. Semuanya hanya sebatas informasi formal, mulai dari bisnis, asal muasal, beserta berita yang cukup heboh, karena TO melarikan diri dari penjara. Reno hanya menyeringai, karena berita tersebut adalah sebuah kebohongan semata yang dilakukan oleh pihak pemerintahan untuk menutupi kelemahan mereka di mata publik.
Menurut Reno, ia harus turun ke jalan lagi untuk mencari informasi keseluruhan. Satu hal yang terbersik di pikiran Reno, dimana ia harus menyisir tempat-tempat yang mungkin jadi tempat ngumpul para pengedar narkoba. Mungkin saja Reno akan mendapat informasi tambahan nantinya.
Apakah ia harus memaksa salah satu pemakai narkoba dikampusnya? Gak! Reno menggelengkan kepalanya sesaat. Berikir jika ia akan mengeksekusi TO dengan cara Silent.
Reno mulai bermain dengan pikirannya sendiri.
Mengedarkan narkoba di negeri ini, jika harus mengimport produknya dari negara lain, maka cukup mudah terbaca oleh pihak Bandara. Yah! Kejadiannya memang seperti itu. Banyak sekali penyelundup barang tersebut di tangkap oleh pihak Bandara maupun pihak pelabuhan.
Jadi jawabannya hanya satu! Berarti mereka memproduksi produk tersebut di negara ini. Yang Reno harus pikirkan saat ini, mencari tau apa bahan baku untuk membuat produk tersebut. Dan cukup mudah bagi Reno untuk mendapatkan informasi tersebut. Karena sedikit banyaknya ia cukup menguasai berbagai bahan kimia.
Dan! Untuk memproduksi barang tersebut, membutuhkan keahlian yang cukup hebat, agar produk yang dihasilkan bisa di terima oleh masyarakat banyak. Artinya pasti ada orang-orang ahli di bidang kimia yang terlibat di sini. Yap! Catatan tambahan bagi Reno. Orang-orang ahli kimia tersebut, harus Reno cari infonya. Terutama yang memiliki keahlian di bidang Kimia Industry. Tapi bukan hal yang mudah juga bagi Reno, karena ada banyak orang-orang yang memiliki kemampuan tersebut di negara ini.
Mungkin info tambahan yang harus Reno pikirkan saat ini. Ephedrin! Bahan baku utama produk tersebut. Apakah di negara ini, bisa membuat bahan baku tersebut?
[quote]Efedrina (En: Ephedrine; EPH) adalah sympathomimetic amine yang umumnya dipakai sebagai stimulan, penekan nafsu makan, obat pembantu berkonsentrasi, pereda hidung tersumbat dan untuk merawat hypotensi yang berhubungan dengan anaesthesia. Efedrina mempunyai struktur yang sama dengan turunan sintetis Amphetamine dan Methamphetamine. Secara kimia, senyawa ini adalah alkaloid yang diturunkan dari berbagai tumbuhan bergenus Ephedra (keluarga Ephedraceae). Bahan ini secara umum dipasarkan dalam bentuk hidroclorida dan sulfat.
Di dalam obat-obatan traditionil Tionghoa, tanaman obat má huáng (**, Ephedra sinica) mengandung bahan utama efedrina dan pseudoefedrina. Hal serupa juga terdapat di semua product obat-obatan tanaman yang mengandung sari (extracts) dari species Efedra. Efedrina diisolasi pertama kalinya oleh Nagayoshi Nagai dari tanaman Ephedra distachya (syn. Ephedra vulgaris) pada tahun 1885. Bahan yang bernama soma dari buku hindu kuno seperti Rig Veda, kemungkinan adalah sari ephedra, tetapi hal ini masih diperdebatkan. Produksi ephedrine di cina telah menjadi industri ekspor yang bernilai jutaan dolar. Berbagai perusahaan secara keseluruhan memproduksi ekstrak untuk diekspor senilai USD$ 13 juta setiap tahunnya yang meliputi 30,000 ton efedra, 10 kali jumlah yang dipergunakan dalam obat-obatan traditionil Tionghoa.[/quote]
Reno baru saja membaca Wiki, dan mendapat informasi yang cukup detail. Ini hanya opini Reno, setelah menganalisa keseluruhan informasi dan tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang menurutnya sedikit masuk akal.
Kalau mereka ini termasuk dalam sindikat mafia, mereka pasti memiliki tim khusus sendiri yang mampu memproduksi produk. Dan pastinya orang-orang tersebut, gak begitu terekspose di muka publik. Untuk itu, mereka pasti memiliki satu tempat pribadi. Satu tempat yang jauh dari perhatian orang-orang. Tidak mungkin di gedung-gedung atau ruko. Apalagi di rumahan. Tempat yang di pikirkan oleh Reno, adalah sebuah pergudangan. Sebuah tempat yang tidak terekspos, apalagi ketika malam hari.
Setelah memikirkan hal itu, seringaian penuh arti tertampak di wajah Reno.
Timbul pertanyaan! Lokasi pergudangan itu sangat banyak sekali. Bagaimana Reno memulai pencarian? Karena gak mungkin ia harus mencari satu per satu. “Ada dua jawaban!” gumam Reno sendiri. “Obat yang mengandung kadar Ephedrin yang banyak, dan juga pembelian peralatan untuk memproduksi produk Meth tersebut.”
Reno menyandarkan tubuhnya, kemudian tersenyum karena ia telah mendapatkan banyak jawaban atas pertanyaan dalam benaknya sendiri. Dan Yah! Tinggal beraksi. Kemudian, Reno melirik ke ponsel yang satu-satunya belum ia sentuh sejak adanya pesan masuk tadi.
Reno iseng membukanya...
Sebuah pesan di applikasi WA, dengan nomor yang belum ia save.
Reno mengernyit membaca pesan itu.
089911****
“Assalamualaikum,”
Kening Reno mengerut. Untuk pertama kalinya, sebuah pesan masuk hanya ucapan salam seperti itu. Selanjutnya, di bagian sudut kanan atas ponselnya, bertuliskan ........ Is Typing
Still Continued...