POV Reno
Setelah menyelesaikan misi, secara otomatis jumlah rekeningku bertambah. Sehari setelahnya, belum ada kabar tentang kematian Hyena maupun Luna di berita TV maupun media cetak. Masih silent! Karena mungkin belum ada yang menyadari kejadian tersebut, atau bahkan karena kondisi tempatnya yang agak susah di jangkau. Aku juga gak terlalu memperdulikan akan hal itu. Yang jelas setelah proses eksekusi TO, team sapu bersih dari Associated yang akan bergerak cepat sesuai titik GPS yang aku berikan setelah mengirim pesan dan juga foto TO ke Pak Edward.
Yang hanya aku lakukan adalah tidak meninggalkan jejak seperti sidik jari (Aku memakai Kaos tangan berbahan karet, setiap bekerja.), membuat/mengalihkan pemegang Glock Silencer ke posisi Hyena. Agar praduga yang akan terjadi nantinya, kematian Luna di karenakan tembakan dari Hyena. Sedangkan Hyena sendiri, mayatnya dibiarkan tetap berada di kamar! Karena akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa Hyena telah tewas. Aku gak kenal siapa yang memberi pekerjaan dengan biaya yang tinggi kepada kami. Tapi aku mengerti dengan tujuannya, yaitu melenyapkan Hyena yang liar, yang bisa saja membuat dunia bawah tanah akan sedikit keganggu dengan kehadiran Hyena yang selalu meresahkan masyarakat.
Mungkin 2 atau 3 hari lagi, mayat keduanya akan ditemukan oleh pihak yang berwajib! Aku tunggu saja, seperti apa kabar beritanya, dan tentu saja seperti apa pekerjaan pihak team Sapu Bersih.
Dan hari ini adalah hari kedua setelahnya aku memutuskan untuk kembali ke kampus seperti biasanya. Sambil mengendarai si Black, aku melewati beberapa perempatan hingga tiba di depan gerbang kampus. Tak ada kejadian aneh, atau menggangguku di pagi hari. Aku lalu melewati pos security menuju ke gedung Fakultas Ekonomi. Setelah memarkir motor, aku berjalan menuju ke kelas.
Suasana kelas seperti biasanya, rame suara-suara obrolan dari beberapa bangku. Ada yang bergosip, ada yang masih fokus membaca, ada yang posisi duduk di bangku, ada yang berdiri. Adit yang pertamakali menyadari kedatanganku, ia lalu menoleh. “Hoii! Akhirnya loe datang juga.” Teriak dia. Membuat beberapa orang di dalam kelas, langsung menolehkan pandangan ke arah pintu masuk. Aku mengangguk biasa, lalu berjalan menuju ke bangku.
“Pagi.” Sapa ku.
“Pagi.” Beberapa orang menjawab sapaanku.
Ku rasakan beberapa pandangan masih mengikuti pergerakanku. Tapi aku tetap bersikap biasa tanpa membalas pandangan mereka. Namun sekilas aku merasa jika ada seseorang yang masih saja memandang ke arahku.
Begitu tiba di bangku, Adit mendekat, lalu di susul Rizal.
“Dari mana aje loe?” Eko yang memang duduk di samping bangku ku, langsung menepuk di pundak.
“Ada urusan di kampung.”
“Alasannya gitu mulu. Hahahaha! Kreatif dikit nape.” Timpal Rizal yang baru saja tiba, berdiri di samping kiriku. Sambil menepuk punggungku sesaat.
“Gak seru loe ah! Dua hari loe gak ada jadi sepi di kampus.” Ujar Adit, sempat ku lirik ke dia. Wajahnya masih meninggalkan sedikit bekas, akibat adu jotos dengan salah satu anggota 4 Devils.
Aku melirik ke Cindy yang mendekati. “Mas Reno... dari mana aja?” Cindy juga ikut bertanya.
“Maaf! Cin... Dit, Ko dan Zal! Hehehe. Ada urusan di kampung. Udah aku ulang jawabannya.” Gumamku membuat mereka mendengus.
“Beuh... mulai deh nih anak, cool nya dah keluar.” Kata Adit.
“Yah kayak baru kenal aja Di. Hahahahaha,” kata Eko.
Aku membalas candaan mereka, dengan tersenyum tipis. Begitulah mereka, setiap aku gak ngampus. Mereka akan menyerang dengan berbagai pertanyaan. Jawabanku tak pernah berubah, ada urusan keluarga di kampung.
“Andai loe ada, gak bakal Adit babak belur kek gini Ren” kata Eko.
“Ta-tapi, Mas Reno sempat datang ke RS juga kok!” Degh! Aku lupa, jika ada Cindy di tenga-tengah kami saat ini.
Eko dan Adit saling menatap, dan mereka kembali menatapku. “Kok gue gak tau!” Adit bersuara.
“Iya sorry!” kataku.
Adit kembali menepuk-nepuk pundak kananku. Ia tersenyum, “Thanks Bro kalo gitu, sorry! Gue gak tau kalo loe datang juga.”
“Iya. Gak apa-apa Dit.”
“Hufhh! Kirain loe beneran gak tau Ren.” Timpal Eko. “Loe tau kan siapa yang buat muka Adit babak belur gini?” Eko melanjutkan, bertanya ke aku.
“Gak!” ku jawab sambil menggelengkan kepala.
“Tuh si Virghost! Tapi dia sih, nyerang Adit di awal... kalo gak! Bedehhhh. Pertarungan keknya bakalan imbang.” Tukas Eko selanjutnya, menjelaskan kondisi kejadian antara Adit dan Virghost. Yah! Meski aku tau dengan detail kejadiannya, tapi seolah ku buat ekpsresi wajahku di hadapan mereka, seakan ikut kaget!.
“Virghost?” gumamku sengaja.
“Iya...”
“Ohh!”
Oh iya! Adit hanya 3 hari saja di rawat di RS, dan kemarin aku sempat menjenguknya lagi. Namun, ia sudah tertidur dan anak-anak lainnya juga udah pada pulang. Virghost! Sepertinya memang dia cukup kuat, terlihat dengan kondisi Adit seperti ini, hasil dari perkelahian yang sengaja ku buat agar Adit menjauh dari Luna. Setelah kejadian kemarin, aku sih berharap, semoga saja para berandalan dari 4 Devils dalam waktu dekat tak mencari gara-gara kepadaku. Kalo mereka tak ingin berakhir di kuburan.
Aku mengingat semalam mendapat telfon dari Pak Edward. Dimana ia menyuruhku untuk fokus kembali ke misi lamaku, saat aku di awal-awal kuliah. Yaitu mencari tau, siapa gerbong narkoba di Kampus ini. Dan hari ini pula, rencana aku akan memulai mencari tau beberapa informasi.
Sehabis jam kuliah, aku sengaja menunggu yang lain pulang. Aku berjalan ke parkiran motor seolah-olah ingin ikutan pulang saat kami berpisah di gerbang fakultas. Sesaat aku menoleh ke belakang, dan beberapa temanku pun menyapaku saat mobil mereka berlalu.
“Ren gue duluan ya!”
“Mas Reno... Cindy duluan.” Ku jawab dengan mengangguk sambil berkata ‘Iya’ ke mereka.
Mobil Adit yang terakhir berlalu di sampingku. Tak lupa juga ia berpamitan seperti yang lainnya. “Ren gue duluan yah...”
“Oke.” Dan kini aku sudah sendiri di parkiran motor. Pertama, aku harus mencari tau, dimana tempat para mahasiswa disini berpesta Narkotika atau sejenisnya.
Aku sengaja tak menggunakan motor. Ku biarkan motorku terparkir di parkian. Aku memilih berjalan kaki, untuk mengelilingi kampus ini. Mulai dari fakultas Ekonomi hingga ke ujung gedung fakultas. Sengaja aku tak membuat gesture yang mencurigakan. Misal menoleh ke kiri dan kanan, atau sengaja memperlambat langkah.
Yang aku lakukan hanya memandang ke depan. Tapi tetap memasang kewaspadaan jika saja ada hal yang mencurigakan, bahkan hal yang akan menyerangku. Dan saat ini, Sudah dua gedung fakultas aku kelilingi tapi tak ada kecurigaan yang ku tangkap. Kondisi kampus juga sudah mulai agak sepi. Banyak kendaraan yang berjalan menuju keluar kampus.
Setelahnya, aku kembali berjalan ke arah sebelah yang berlawanan. Menuju ke fakultas teknik. Beberapa mahasiswa/i ada yang masih bercengkrama di taman fakultas. Ada juga yang sudah bersiap-siap untuk pulang. Aku hanya sesekali mengangguk ketika bertemu/berpapasan dengan yang lain.
Aku yakin jam segini para pentolan 4 Devils sudah bubaran. Bahkan mereka akan bubaran lebih cepat dari waktu biasanya. Hingga akhirnya aku sadari hampir tiba di ujung paling belakang kampus ini. Banyak pepohonan rindang yang mengelilingi bagian belakang. Ada juga beberapa bangunan kecil, yang tampak usang sangat jarang di datangi oleh mahasiswa lain.
Rumput-rumput daerah sini terlupakan, terlihat mulai tinggi-tinggi hingga menutup jalan untuk mengakses beberapa bangunan tua di tempat ini. Tapi instingku menangkap adanya keanehan dari tempat ini. Bukan pergerakan, tapi aku cukup mampu dengan melihat ke sekeliling.
Jawabannya Cuma satu...
Beberapa motor terlihat memarkir di belakang salah satu gedung. Di salah satu bangunan berbentuk rumah tapi berukuran cukup kecil. Mungkin 3 x 4 meter. Juga samar-sama ku lihat banyak asap yang keluar dari beberapa celah. Aku sama sekali gak melihat mobil terparkir. Aku tak perlu bercapek-capek mendatangi gedung itu. Cukup menghirup udara sekitar sudah mampu mengetahui jika udara di sekitar sini sudah tercemar dengan asap dari sabu-sabu. Yah, meski pun hanya sebatas para cecurut penikmat Sabu-sabu di belakang Kampus. Tapi setidaknya sudah ada petunjuk, jika di kampus ini sudah beredar barang tersebut. Oke! Saatnya mencari tau, step kedua.
Asal muasal, barang tersebut.
Aku lalu berjalan meninggalkan tempat itu, kembali ke gedung fakultas Ekonomi. Dan ketika aku ingin berjalan ke parkiran motor. Dari arah kejauhan, sebuah sedan Audi dengan kecepatan penuh, mengarah kepadaku.
Aku tetap berjalan tanpa bergeser ke samping. Karena aku tau, siapa pemilik mobil itu. Dan saat posisi mobil itu sudah dekat, aku menyeringai sesaat. Memandang ke arah pengemudi itu. Jika membaca dari kecepatan dan juga perhitungan kilometer berbanding dengan jarak posisiku berada, sepertinya dia tetap gak ingin memperlambat laju mobilnya.
lalu...
WUSH!!! Aku menghindar ke samping bersamaan mobil itu melewatiku.
Saat aku membalikkan badan, terdengar suara ban mobil yang terselip.
CIIITTTTTT!!!! Mobil itu berhenti, kaca mobil bagian kanan terbuka.
Dia Lidya!
Yah! Gadis itu menoleh ke belakang tanpa keluar dari mobilnya. Aku hanya mengangguk pelan, dan ia tertawa meremehkan.
Setelahnya, gadis itu kembali menutup kaca mobil, berjalan meninggalkanku yang masih berdiri menatap dari belakang kepergian mobil itu.
~•○●○•~
Besoknya...
Setelah class pertama usai, kami sengaja nongkrong di kantin. Kini kami sedang bersenda gurau sambil menunggu dosen berikutnya masuk ke kelas. Sejam lagi paling. Di antara kami, hanya Adit yang terlihat murung, dimana ia baru saja bercerita jika seseorang yang ia sayangi, sudah 2 hari ini menghilang.
Eko yang paling banyak bertanya, siapa dan kemana. Adit menjawab seadanya saja, karena sesuai pengakuannya, ia sendiri juga belum mendapat kabar lebih lanjut seperti apa. Sedangkan aku hanya diam! Padahal aku mengetahui cerita yang sebenarnya. Meski Adit tak menjelaskan ke kami secara detail! Namun pasti yang ia maksud adalah Luna.
“Loe sabar Dit... positif thinking dulu lah!” kata Eko.
“Iya bro...” kata Adit mencoba memaksa senyumannya.
Eko, Rizal dan Cindy sampai saat ini masih mencoba menghiburnya. Obrolan terjadi, semua mengarah ke Adit. Dimana, berusaha untuk membujuk Adit agar tetap tenang.
Saat masih ngobrol santai, tiba-tiba ponsel Adit berdering.
Adit ku lihat mengernyit saat menatap ke layar ponselnya. “Wait ya!” kata Adit.
Kami mengangguk bersamaan, dan Adit menjawab panggilan di ponselnya.
“Halo tan...” Hmm Tan! Tante...
“Di kampus Tan... ada apa gitu?
Saat Adit masih berbicara di telfon, bersamaan siaran di TV swasta menampilkan berita
“Di temukan dua mayat di sebuah pondok hutan Linggarjati, dalam kondisi Bla-Bla!”
BRAK! Adit menggebrak meja. “Gak... ini gak mungkin Tan.”
Eko, Rizal, Cindy dan juga penghuni kantin terkejut atas sikap Adit barusan. Dari ujung mata Adit, terlihat ia mulai meneteskan air mata. Eko berusaha untuk menenangkan Adit dengan mengusap di punggung. Sambil menunggu penjelasan dari Adit setelah selesai berbicara di telfon.
“Ba-baik tan. Adit segera ke sana...” Setelah menugakhiri obrolannya di telfon, Adit menatap kami satu persatu. Ekspresi kesedihan dan kesakitan tak mampu lagi ia sembunyikan. Kami masih menunggu Adit yang bercerita langsung, apa masalah dan kejadian apa yang baru saja ia dengar di telfon.
Ia mulai bercerita sambil sesekali mengusap wajahnya. Dimana salah satu korban pembunuhan, yang juga baru saja diberitakan di TV tadi, adalah gadis yang selama ini Adit sayangi. Yang selama ini ingin Adit jaga. Namun nasib berkata lain, Adit harus kehilangan gadis itu dengan cara yang tragis.
Benar-benar Adit berduka.
Ia beranjak sambil mengatakan akan balik lebih awal. Eko menawarkan diri, untuk ikut, sambil memaksa ke kami juga harus ikutan. Karena aku kebetulan lagi gak ada kesibukan, maka aku pun menyetujui saran dari Eko.
Sejam lamanya, akhirnya kami tiba di TPU daerah wilayah barat. Beberapa mobil dan motor yang sempat mengiringi kepergian jenasah hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya terlihat terparkir di depan gerbang TPU. Kami keluar dari mobil, dimana aku ikut dengan mobil Adit. Eko, cindy dan Rizal pun mereka satu mobil. Ratusan orang yang terdiri dari keluarga dan kerabat, ikut mengantarkan jenazah Luna.
Isak tangis yang tak henti terlihat dari wajah seorang wanita dan pria setengah baya. Yang aku tebak, mereka adalah orang tua Luna, beberapa perempuan pun ikut menangis. Adit, segera berjalan cepat meninggalkan kami yang masih berdiri berjarak beberapa meter dari tempat penguburan jenazah.
Proses pemakaman mulai berlangsung. Beberapa orang pun telah meletakkan jenazah Luna di liang kubur. Cindy aku lihat, bersandar ke bahu Eko. Mungkin dia ikut merasa haru akan kematian orang yang Adit sayangi.
Setelah semua proses selesai, satu persatu orang mulai membubarkan diri. Aku lihat Adit masih menangis memegang batu nisan Luna. Ada keluarga Luna disitu juga, dan Eko mulai mengajak kami mendekati Adit.
Kami berjalan mendekat ke kubur Luna.
Eko saat ini telah berdiri di belakang Adit yang masih berjongkok. “Dit... loe yang sabar yah.” Kata Eko.
Adit hanya mengangguk tanpa menjawab, aku tau jika ia benar-benar terpukul atas kematian Luna. But! Aku sejujurnya gak perduli akan hal ini. Tapi sebisa mungkin aku tetap bersikap seakan ikut merasa kehilangan seperti kawanku yang lain.
Hingga Adit pun berdiri. Sempat memeluk kedua orang tua Luna, lalu mengajak kami untuk pergi dari tempat ini. Kami ikut berpamitan kepada pihak keluarga Luna. Kemudian berjalan bersama-sama keluar menuju ke parkiran mobil.
Saat kami berpisah, sempat Eko berkata pelan. “Ren. Gue percaya ma loe, dampingi Reno yah! Loe bareng dia balik ke kampus.”
“Oke.” Kataku.
“Sipp... ketemuan di kampus aja.”
Dalam mobil, aku yang sengaja tetap ikut di mobil Adit. Masih belum bersuara. Karena Adit pun enggan mengeluarkan suara. Hingga tak lama, ia mulai bercerita siapa Luna, dan apa hubungannya selama ini.
Aku hanya ngangguk-ngangguk mendengar cerita si Adit. Meski demikian, Adit tak bisa menutupi dariku, ekspresi wajahnya. Ada dendam dan amarah di situ. Lalu, tiba-tiba Adit menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memandang ke depan, aku dengar juga nafasnya cukup berat. “Ren... Gue tau, yang ngebunuh Luna... adalah si Psikopat itu. Tapi, gue masih dendam ma tuh orang yang ngebunuh si psikopat! Gue bakal cari tau, siapa dia...”
Aku mengangguk dan tetap bersikap seperti biasanya. “Thanks! Kalian sudah ada di saat-saat gue kek gini.” Kata Adit selanjutnya.
~•○●○•~
Seminggu lamanya setelah kejadian kematian Hyena. Kejadian yang membuat Adit merasakan duka dan juga penyesalan yang cukup berat. Kehilangan Luna, pastinya cukup terpukul buat Adit.
Aku menebak dari beberapa kali mendapati, ada siratan ekspresi dendam yang tertahan. Aku akan siap, kapanpun jika apa yang ia katakan kala itu, dalam mobil kepadaku. Dia ingin menuntut balas, kepada orang yang telah membunuh Hyena. Karena menurut Adit. Dialah yang seharusnya melenyapkan nyawa orang yang sudah membunuh Luna. Yap! Sesuai dengan berita yang beredar. Dimana, di sebutkan jika Luna tewas mengerikan di tangan Psikopat. Mayat Psikopat yang awalnya di duga adalah tubuh orang lain, namun setelah hasil otopsi, menyebutkan jika mayat pria yang berada dalam kamar yang sama dengan mayat Luna ternyata adalah mayat si Psikopat. Maka beredar kabar, psikopat tewas di tangan para mafia yang memang sudah muak melihat kelakuan Antoni dengan kejahatan yang selama ini ia lakukan.
Dan dalam hati! Aku telah sukses membuat seperti ini.
Kami saat ini sedang ngobrol, bercanda saat menunggu kehadiran dosen. Sesekali saling bully. Jujur, aku mulai terbiasa, dan kadang kala menimpali candaan mereka.
“Stttt... Ren! Kasihan yah si Adit.” Kata Eko saat menyadari Adit masih kebanyakan diam. Eko berbisik, membuatku melirik ke Adit.
“Kasihan!” gumamku.
“Iya kasihan banget.” Balas Eko.
Suasana yang awalnya cukup berisik di dalam kelas. Seketika langsung hening, bersamaan dari arah pintu masuk, Lidya, si gadis sok dan ceroboh itu masuk ke dalam kelas. Aku dan Eko, beserta lainnya ikut menatap ke arah yang sama. Lidya! Langsung pandangannya ke arahku, seringaian dan pandangan meremehkan yang ia lempar kepadaku.
Adit menyadari saat aku masih melawan tatapan gadis itu. “Kenapa loe Ren?” Mendengar Adit menegurku. Aku hanya menggidikkan bahu, lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain. Dari ekor mataku, Adit ternyata menatap ke Lidya.
“Coba aja sekarang! Gue udah lebih siap dari sebelumnya.” Gumam Adit, dan ku tau ucapannya itu di tujukan ke Lidya dan juga kumpulan 4 Devils. Saat aku menoleh ke samping. Ternyata Eko ikutan memandang ke Lidya.
Tampak gadis itu menyeringai sesaat, kemudian berjalan menuju ke bangkunya. Sesekali ia menoleh ke samping. Lalu ke belakang, dan mendapati pandangannya kembali ke arahku. Aku mengetahuinya, dari ekor mata kiriku, karena aku masih memandang ke kawanku yang lain. Aku yang masih duduk di bangku, akhirnya teralihkan karena semua pandangan kawanku tak lagi ke arahku. Melainkan kembali ke Lidya. Ini kalian! Kenapa malah, ikut bertatapan ma tuh orang? Batinku. Yang akhirnya ikut melirik kembali ke Lidya.
Karena mendapat pandangan dari beberapa orang, Lidya segera berdiri dari duduknya. Aku menatapnya seperti biasa. Dia pun membalas tatapanku. Kepalan tangan kanannya, ia tunjukkan ke arah kami. Lebih tepatnya ke arahku. Jujur, aku gak peduli.
Ia menyeringai, “Awas loe! Tungguin pembalasan gue.” Kata Lidya, ia jelas tersinggung di tatap seperti itu.
“Loe pikir gue takut?” Gumam Eko, dan sepertinya Lidya tidak dengar. Dia hanya fokus dengan kekesalannya ke satu arah. Aku heran ma nih anak! Apa yang buat dia jadi begitu emosi setiap kali aku bertemu pandang dengannya? Apakah karena kejadian aku menggores mobilnya? Lagian, KTP ma SIM ku juga masih ia pegang.
Entahlah! Aku hanya menggidikkan bahuku. Lalu sengaja tak lagi memandang ke arahnya. Aku memutar pandangan ke arah samping kiri hingga ke belakang. Dan kembali memandang ke arah pintu masuk kelas. Dari bagian kiri mataku, sempat menangkap sosok gadis yang baru saja ingin beranjak dari duduknya. BRAKKKKK!!! Bersamaan terdengar suara gebrakan meja. Tapi aku gak mengalihkan pandanganku ke arah suara gebrakan itu. Aku mengetahui, siapa lagi kalo bukan Lidya yang melakukannya.
Semua orang dalam kelas tentunya terkejut, kecuali aku. Mungkin juga Adit dan Eko. Aku gak sempat melihat ekspresi mereka. Karena pandanganku, masih terarah ke pintu masuk kelas. Aku juga gak melihat ke Lidya. Karena dengan memandang ke arah pintu luar, dari ekor mata aku bisa mengikuti pergerakan yang dilakukan oleh sosok berhijab itu.
Dia...
Aisyah! Yang sangat jarang aku lihat keluar dari kelas. Cukup misterius menurutku. Tapi aku gak merasakan adanya ancaman dari nya.
Saat Aisyah ingin meninggalkan mejanya, ia bertabrakan dengan Lidya yang juga ingin berjalan ke luar. Bugh!!!
“WOI... DASAR BEGOO! KALO JALAN ITU LIAT-LIAT!” Lidya menghardik dengan kalimat kasar ke Aisyah.
“Ma-maaf Lid... Aku gak sengaja,” Aisyah menunduk, dan meminta maaf kepada Lidya. Karena itu, aku pun memandang ke arah Lidya, berganti ke Aisyah. Dan dari ekor mata kananku, sepertinya Adit beranjak dari duduknya. Benar tebakanku, Adit berjalan melewatiku dengan tujuan mendekati mereka.
“Dit... kemana loe?” Eko sempat menegurnya.
“Bentar doank!” balas Adit sambil melanjutkan langkahnya ke depan.
Saat tiba, Adit langsung berada ditengah-tengah antara Lidya dan Aisyah. Salah satu lengan Adit berusaha menggeser Lidya yang ingin maju memepet ke Aisyah. “Sudah... Sudah! Kalian jangan berantem di kelas. Malu ma yang lain.” Kata Adit, membuat Lidya malah makin emosi.
“APA LOE?” Hardik Lidya. “GAK KAPOK LOE MA GUE?”
Adit menoleh. Tatapannya cukup tajam menurutku. Ada emosi tersirat dari ekspresi wajahnya. Ia menyeringai kembali, “Lid! Cukup yah... Gue dah eneg liat gaya loe yang sok berkuasa.” Kata Adit membuat Lidya makin emosi.
Tak menerima perlakuan Adit, Lidya mengangkat tangan kanannya. Di arahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Adit. “Sudahlah Lid.” Adit segera menepisnya.
“AWAS LOE YAH!” Lidya berjalan meninggalkan Adit. Dan aku sempat melihat dimana Lidya menghentak-hentakkan kakinya meninggalkan kelas.
Sepeninggalan Lidya, tampak Adit mengajak Aisyah mengobrol. Aku gak mendengar lagi apa obrolan mereka. Lagian juga, aku saat ini sudah menatap ke pintu masuk. Menunggu kedatangan 4 Devils yang pastinya akan mendapat laporan dari Lidya. Dit! Kamu siap-siap aja. Batinku sesaat. Dan sepersekian detik, kesadaranku akan suatu hal. Dimana, aku mendapati Aisyah memandang ke arahku.
Aku tetap tak melihat ke arahnya. Hanya dari ekor mata saja, sudah mampu mengetahui jika Aisyah masih saja mencuri pandangan ke arahku. Aku hanya membuat sikap, seakan tak menyadari pandangannya itu.
“Ya udah Syah! Gue balik ke bangku dulu... Loe gak usah khawatir ma tuh cewek galak! Kami semua gak bakal tinggal diam, kalo dia bersikap kasar ma salah satu anak-anak di kelas ini.” Ujar Adit karena aku sempat mendengar percakapan terakhir. Nada suara Adit seperti sengaja di kerasin dikit, biar teman lainnya mendengarnya kali. Maybe! Aku gak gitu perduli sih.
Setelahnya Aisyah pun kembali duduk di bangkunya. Dan Adit berjalan kembali ke tempat kami.
“Beneran tuh Lidya yah! Kebangetan banget...” kata Rizal yang membuka suara di awal.
“Yah! Gue juga pen balas ke Virghost... cemen banget, maen nyerang dari belakang.” Adit menjawab, dan seringaian tersirat di wajahnya.
“Eh...Eh Dit. Aisyah ternyata cakep juga yah.” Eko tiba-tiba menyela. Dan sejak tadi, kami sadari nih anak, memperhatikan gerak-gerik Aisyah. Aku dan Adit hanya geleng-geleng kepala.
“Ntung! Loe dah punya Cindy Hoi.” Teriak Rizal.
“Eko woi... E Ka O Ko... EKO! Ngerti kagak loe?” kata Eko kesal karena Rizal baru saja memanggilnya Ntung. Yang artinya Cintungz. Nama yang Adit berikan kala itu, masih saja mereka pakai. Tujuannya sih, hanya untuk bully-bully an semata. Dan itu sukses, sering mereka berdua gunakan.
“Hahahahaha iye iye.” Rizal tertawa. Lalu, menoleh ke Cindy. “Cin... mas Eko loe dah selingkuh tuh.”
“Ihh apaan sih Mas Rizal!” kata Cindy malu.
“Hahahaha, kalo Mas Eko dah gak mau, sini ma gue aja.”
“Monyong loe, Wo!” kata Eko membuat kami kembali tertawa. Kemudian, Eko menatap ke Adit. “Dit! Cocok loe ma si Aisyah tuh.”
“Eh!” Adit mengernyit.
“Udah, ajakin aja doi kencan nanti. Hehehehe,” kata Eko.
“Gak segampang itu, Ko!”
“Hahahaha Wait.” Eko lalu berdiri membuat Adit jadi ikutan terkejut.
“Eh! Mau kemana loe?”
“Udah wait aja.” Gumam Eko. Lalu berjarak semeter dari kami. “AISYAH!” Eko berteriak.
“Njir nih Eko!” gumam Adit.
“AISYAH... DAPAT SALAM TUH, DARI ADIT.”
“FAK! WOI KO... Sopan loe ye!” teriak Adit kesal. Tapi aku lihat hari ini Adit sudah mulai berubah. Ada harapan baru mungkin, dan aku berharap Adit bisa melupakan Luna secepatnya. Karena Luna bukan terbaik buatnya. I know! Karena aku mengetahui dengan jelas apa yang Luna lakukan dibelakang Adit.
“Hahahahahahaha...”
“Mampus loe Dit.” Celetuk Rizal. Dan suasana kelas langsung riuh, senang dan ceria karena juga tak adanya Lidya si nenek sihir.
Di akhir candaan. Aisyah kembali menoleh ke belakang, bukan menatap ke Adit. Melainkan ke arahku, meski aku hanya mengetahuinya dari ekor mataku.
Timbul pertanyaan...
Kenapa dia sering melihat ke arahku? Hanya itu. Benakku langsung mencoba menganalisa, dimana dari sikap Aisyah, sepertinya agak mencurigakan.
.
.
Waktunya istirahat. Aku membereskan perlengkapan ke dalam tas. Kawanku juga melakukan hal yang sama. Eko berdiri dari bangku, lalu mendekati meja Rizal. Adit, aku lihat masih diam di bangkunya.
Cindy ikutan mendekat. “Mas Reno... kantin yuk!”
“Iya Cin. Bareng aja.” Jawabku ke Cindy.
“Dit... masih pengen di kelas loe?” teriak Eko menegur ke Adit.
Adit menoleh. “Yuk!” katanya, dan ia mencoba untuk melempar senyum ke kami.
Setelahnya kami berjalan ke depan kelas. Dan sempat aku menoleh, dimana Aisyah masih duduk di bangkunya.
“Eh tuh Aisyah. Ajakin juga Dit.” Kata Eko yang juga melihat ke Aisyah.
“Terserah aja, kalo dia mau.” Jawab Adit.
Eko lalu mendekati bangku gadis itu.
Aku masih memasang sikap biasa, saat Aisyah sempat memandang ke kami yang masih berdiri di depan kelas.
Sempat gadis itu mengangguk, lalu Eko pun berjalan kembali ke kami. “Yes Berhasil!” gumam Eko saat ia melewatiku.
“Mau dia ikut bareng kita?” tanya Adit.
“Eko gitu loh. Hahahaha, ya mau pastinya.”
“Dit. Kali aja, loe bisa deket ma dia.” Rizal menimpali.
“Hufhh! Kalian itu.”
Saat mereka masih mengobrol, aku merasakan kehadiran Aisyah berdiri di sampingku. Tapi sengaja aku gak menoleh ke samping.
“Jadi ke kantinnya, Ko?” suara Aisyah baru saja menegur ke Eko. Semua mata langsung menoleh ke Aisyah. Aku sengaja berjalan melewati Aisyah, tanpa sedikitpun menoleh ke samping.
“Jadi donk Syah!” Aku yang udah berdiri membelakangi mereka, sempat mendengar suara Eko. “Eh loe maen jalan aje, woi.” Lanjut Eko, dan sepertinya ia menegurku.
Aku menoleh...
“Yuk!” kata Adit. Maka mereka pun melangkah bersama, dan aku sengaja menunggu mereka melewatiku.
Saat di akhir, Aisyah melewatiku. Ia menoleh kembali, tersirat senyuman tipis di wajahnya saat tanpa sengaja aku ikut menoleh.
“Woi napa masih diam loe?” Eko lagi-lagi menegurku.
“Jalan aja.” Kataku sambil ikutan jalan dibelakang mereka.
Entah apa maksudnya, Aisyah seperti memperlambat langkahnya. Seakan menunggu langkahku bisa sejajar dengannya. Aku yang menyadari ada secuil sikap yang aneh darinya, malah mempercepat langkah mengejar Adit yang berjalan paling depan. Saat melewati Aisyah, “Eh!” Ia sempat bergumam pelan, dan dari ekor mata kiriku. Mengetahui jika ia baru saja menatapku.
~•○●○•~
POV 3rd
Reno dan kawannya berjalan melewati lapangan basket, tempat para anggota 4 Devils selalu ngumpul. Namun jarak mereka berjalan, dengan tempat ngumpul tersebut masih berseberangan sih.
Dari kebiasaan mereka berjalan, bersama-sama ke kantin. Ada yang baru hari ini, yaitu keberadaan seorang gadis di tengah-tengah mereka. Terlihat Adit yang berjalan di depan, sedang ngobrol dengan Reno yang ada di sampingnya. Sedangkan Eko, berjalan di himpit oleh dua orang gadis, yaitu Cindy dan Aisyah. Rizal sendiri berjalan paling belakang, karena ia sibuk ber chat ria dengan kekasihnya si Lusi.
Dan tanpa mereka sadari, dari jarak puluhan meter. Sepasang mata sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka.
Sepasang mata itu, akhirnya tak lagi memandang ke arah mereka, ketika Reno menoleh ke arahnya. Dan memilih untuk pergi dari tempat ia berdiri sebelumnya.
Still Continued...