POV 3rd
Di dalam sebuah appartemen mewah, seorang gadis, berwajah oriental baru saja selesai mandi. Ia melangkah keluar dari kamar mandi, melepas handuk sambil menyeka keseluruhan tubuh telanjangnya sambil berjalan menuju ke kamar. Saat tiba dia menyeka kedua kakinya bergantian. satu kaki, di seka sambil naik ke atas sebuah kursi kecil. Kemudian bergantian dengan kaki satunya lagi.
Setelahnya, handuk menyeka naik bagian b****g, berputar ke depan. Perut dan juga selangkangannya tak luput ia seka agar butiran-butiran air yang sempat tersisa bisa kering. Handuk melewati perut yang dimana terdapat beberapa lukisan di bagian perut, pinggang dan juga paha.
Dua lengan memegang kedua sisi handuk. Kemudian ia menaruh ke punggungnya, tak luput juga sekaannya hingga mengering. Setelah itu, handuk ia gunakan menyeka di bagian payudaranya. Dua p****g p******a berwarna merah muda, yang sangat jarang tersentuh oleh pria sudah mengacung akibat udara dingin dalam kamar. Bulu-bulu tipis di lengan dan juga di beberapa bagian tubuhnya, berdiri karena merasakan sedikit merinding karena udara. Dan juga ada sedikit rasa h***y di sana. Saat handuk beserta kulit lengannya, menyentuh salah satu p****g. Terdengar desahan lembut darinya. “Sttttt!” rupanya ia merasakan geli dan sedikit nikmat. Namun, ia sedang tak berselera untuk ‘Self Service’ dulu.
Setelah selesai, ia menggantung handuk di tempat biasanya. Kemudian ia membiarkan begitu saja tubuh telanjangnya untuk beraktivitas di dalam kamar. Sang gadis adalah bagian dari Associated. Yang di kenal selama ini dengan Code Name ‘Death Scout - 01’ baru saja duduk di meja kerja. Ia lalu membuka laptop. Memeriksa beberapa email yang masuk.
Beberapa email yang gak penting hanya ia klik, hingga bold hitam berganti menjadi warna semestinya, yang menandakan email tersebut telah di read. Lalu satu-satunya email, yang masih tampak Unread, menjadi perhatian gadis itu sekarang. Sebuah email dari seseorang tentunya.
Ia menyeringai saat baru saja membuka email tersebut, lalu membaca pesan yang tertulis. ‘The Second Mission – Execution Mixing to Situation’. Lalu, gadis itu mengunduh lampiran sebuah foto.
Ia terdiam sesaat...
Seringaian kembali terlukis di wajahnya, saat memikirkan hal apa yang akan ia lakukan nanti. Setelah membaca dan melihat beberapa detik foto seseorang yang telah berada di layar laptop. Ia lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke meja kecil dalam kamar.
Gadis itu mengambil sebuah kotak kecil, yang berisi alat make Up!
Ia membukanya...
Awalnya mengambil benda berbentuk bulat dengan bagian atasnya, terbuat dari mika yang tembus dan isi dalamnya dapat di lihat olehnya. Beberapa warna, yang jelas itu adalah bedak dari merk terkenal. Gadis itu pun mengambil kuas kecil, dan yang ia lakukan selayaknya wanita-wanita lain lakukan. Memoles tipis wajahnya dengan bedak tersebut. Kemudian, ia mengambil lipstik dan memberikan secara tipis di bibirnya.
Setelah mengembalikan semuanya ke dalam kotak kecil, ia lalu mengambil sebuah benda berukuran sangatlah kecil, terbuat dari emas. Adalah tanda pengenal, yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berada di Associated. Benda berukuran sangat kecil itu, di tengah-tengahnya bertuliskan ‘DS-01’ yang mengartikan adalah gadis ini yang terbaik di bidang pengintaian, mata-mata, atau penyamaran dalam sebuah kelompok yang menjadi target dari Associated.
~•○●○•~
POV Reno
Akhirnya rencanaku untuk menyingkirkan Adit dari sisi Luna berhasil. Sempat ku lihat Eko, Rizal dan Cindy beserta teman kelasku yang lain membawa Adit ke rumah sakit. Pokoknya aku datang ke tempat Adit saat anak-anak telah bubar. Ternyata hanya ada Cindy yang masih menjaga Adit di kamar VIP. Aku pun mendekatinya, dan Cindy tak banyak bercerita denganku. Dia syok! Tentu saja, karena melihat kondisi Adit seperti ini, dan juga dimana Adit menjadi bulan-bulanan oleh si Virghost, pastinya Cindy makin merasa khawatir yang berlebih.
Aku hanya bertanya seolah-olah aku baru mengetahui kabar ini, sambil berjalan dan mendekati ranjang Adit, di samping ranjang terdapat meja kecil dan juga beberapa peralatan kedokteran. Aku melirik sesaat, dimana terdapat ponsel Adit yang entah siapa yang meletakkannya di atas meja samping ranjang. Tanpa membuat gerakan mencurigakan, dimana juga Cindy masih tertunduk, tanganku meraih dengan cepat ponsel Adit. Untung saja, aku pernah meminjam ponselnya dan ia sendiri yang menyebutkan 4 angka untuk membuka kuncil ponsel. Setelah mendapat apa yang aku cari, ku letakkan kembali ponsel Adit ke tempat semula.
Karena aku hanya mempunyai sisa waktu yang sedikit untuk mengeksekusi TO si Hyena. Setelahnya, lalu berpamitan kepada Cindy dengan alasan masih ada urusan dan berjanji akan kembali ke RS kalo urusanku cepat selesai.
Saat berada di parkiran RS, aku membuka ponsel dan melihat adanya pergerakan Luna menuju ke suatu tempat. Maka tanpa pikir panjang, aku menuju ke titik berwarna biru sesuai yang di tunjukkan oleh layar GPS Tracking.
Jika sesuai dengan titik, maka aku sudah cukup dekat dengan mobil yang di kendarai oleh Luna. Tapi aku masih belum menemukan mobil yang biasanya ia pakai. Apakah, ia memakai mobil lain? Dari pada banyak mikir, yang bisa ku lakukan mengikuti titik itu saja hingga dimana akan berhenti.
10 menit setelah berjibaku dengan kemacetan, maka sesuai titik yang mulai bergerak masuk ke sebuah Hotel. Maka aku pun melakukan yang sama, sambil tak lupa menyalakan lampu sein betujuan meminta jalan kepada pengendara lain untuk berbelok masuk ke dalam parkiran hotel.
Yah! Itu Hotel berbintang. Aku pikir sepertinya si Luna akan di eksekusi di losmen atau di tempat yang jauh akan keramaian, namun tebakanku salah. Ia ke Hotel yang menurutku di sepanjang atau sekitar hotel ini, tak pernah sepi. Aku abaikan sesaat hipotesis yang memenuhi isi pikiranku. Aku zoom applikasi dan memperlihatkan agak detail dimana posisi titik itu berada. Maka akupun memarkir mobil di dekat titik tersebut, yang jika menurut informasi berjarak 5 meter dariku.
Sengaja juga ku abaikan si Siska. Karena sejak tadi, posisinya belum bergerak. Jujur aku pun pasti akan kesulitan untuk mencapai posisi Siska, andai saja aku salah sasaran. Karena jika sesuai GPS, jarak ku dengan Siska cukup jauh. Tapi sudahlah! Aku pikir, Siska malam ini tak akan melakukan aktivitas yang mencurigakan. Terbukti ia sampai sekarang masih di kosannya saja.
Aku fokuskan pandangan ke sekeliling parkiran, dan sengaja masih berdiam diri di dalam mobil. Tampak sayup-sayup, seorang perempuan berjalan dengan menggunakan gaun seperti orang yang mau kondangan. Bentar! Mukanya, itu mirip Luna.
Itu benar Luna. Pertanyaan berikutnya, kenapa ia memakai gaun pesta? Apakah ia ke hotel ini ingin menghadiri sebuah pesta pernikahan? Dan tanpa sadar ku alihkan pandanganku, lurus ke depan. Lebih tepatnya ke arah pintu lobby hotel. “s**t!” beberapa ucapan selamat dengan rangkaian bunga, aku lupa memperhatikan hal itu tadi karena fokusku, mencari posisi parkir Luna sesuai titik di applikasi. Dan juga ku lihat sebuah x banner, dengan foto kedua mempelai, yang mungkin acara pernikahan mereka akan di hadiri oleh Luna.
Maka aku kembali memandang ke Luna, mengikuti pergerakannya yang menuju ke pintu lobby. Gak salah lagi, Luna pasti ingin menghadiri pesta pernikahan. Tapi, untuk memastikan, aku keluar dari mobil dengan sikap biasa melangkah menuju ke pintu lobby.
Luna ku lihat telah tiba, dan ia saat ini sedang di periksa oleh security di pintu masuk. Aku perlambat langkahku, hingga setelah pemeriksaan Luna selesai, dan ia di persilahkan masuk. Maka aku pun menyusul. Langkahku terhenti, dan aku pun di periksa oleh security yang sama. Perkiraanku salah, Dan Yap! Ternyata memang benar, di hotel ini sebuah pernikahan cukup besar sedang di adakan. Dan jika melihat pergerakan Luna, dia berjalan menuju ke pintu ballroom dimana terlihat beberapa orang berdiri di depan pintu, sepertinya mereka bagian penjemput tamu.
Luna masih berdiri...
Aku pun mengalihkan pandanganku, ketika Luna melihat ke arahku. Untung aku memakai topi, dan dari ekor mata, ku ketahui jika Luna masih saja melihat ke arahku. Agar tak terjadi kecurigaan, maka aku memutuskan untuk keluar dari lobby menuju ke parkiran.
Mungkin aku memang telah salah sasaran...
Untuk lebih jelasnya, maka ku percepat langkahku menuju ke mobil. Dan saat tiba, aku membuka kembali applikasi GPS Tracking, dan seketika melihat titik Siska telah bergerak. Aku lalu menyalakan mesin mobil, dan keluar dari parkiran dengan cepat saat titik Luna mulai bergerak. Bahkan pergerakannya cukup cepat, apakah ia mengemudi kendaraan dengan cara ngebut? Satu jawaban aku dapatkan. Jika melihat dari pergerakan Siska, dimana ia sedang tergesa-gesa hingga cara mengendarai mobilnya bisa sekencang ini. Maka, aku pun menyusul menuju ke posisi Siska berada.
Meletakkan ponsel di tempat biasanya. Dan menampakkan layar GPS dimana menunjukkan titik Luna berada, maka ku tekan pedal gas makin kebawa, membuat laju mobilku makin cepat.
Aku menyalip kiri, dan menyalip kanan. Berusaha untuk menghindari beberapa pengendara yang agak lelet di jalan. Aku harus tiba sebelum terlambat. Sudah jelas, Siska lah yang akan menjadi target Hyena malam ini.
Setelah posisi jalan mulai agar renggang, maka ku tancap laju kendaraanku makin cepat. Harus cepat sebelum si Hyena kabur. Setelah melihat aku sudah mendekati posisi Siska maka ku perlambat laju kendaraanku. Dan aku tersadar, jika saat ini aku sedang berada di jalan menuju keluar kota.
Daerah sepi...
Aku memasuki daerah yang sepi penduduk. Dan dari kejauhan, aku melihat mobil sedan berhenti di pinggir jalan. Maka aku mematikan lampu mobil, dan juga ikut memarkir mobil di pinggir jalan. Karena jalannya lurus, maka aku mengambil posisi cukup jauh dari posisi Siska.
Tak begitu lama, sebuah mobil MPV melewati mobilku. Dan tersadar ketika mobil tersebut mengambil jalan agak ke kiri. Benar! Dia pasti Hyena, karena mobil itu berhenti tepat di belakang mobil Siska. Aku lalu keluar dari mobil, tak lupa meraih tas dari jok samping. Dan menutup mobil, sambil mengambil posisi yang aman agar mereka tak menyadari jika aku sedang mengintai.
Aku membuka tas, lalu mengambil sebuah ‘Telescope Night Vision’ berwarna hitam. Dan ku genggam sambil menaruh tas di belakangku kembali.
Aku berjalan menuju ke sebuah pohon yang cukup besar. Dimana aku bersembunyi di batang pohon, sambil mengarahkan ujung telescope ku ke mereka. Siska ternyata sedang bertemu dengan seorang pria, yang dari penglihatanku melalui alat telescope, perkiraan pria yang di temuinya berumur 40-an tahun.
Mereka sedang berbincang di samping mobil si pria. Dan selanjutnya, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Lampu mobil menyala, dan mobil pun berjalan. Aku yang ingin berlari ke arah mobilku, menghentikan langkah saat mobil mereka malah memasuki area yang benar-benar sepi. Aku sadari, jika saat ini aku berada di sebuah hutan yang berbatasan antara ibu kota dan wilayah pinggiran bagian barat. Agak ke pinggir lagi.
Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk tidak ke mobil. Melainkan tetap mengikuti dari belakang, karena mobil berjalan pun cukup lambat. Aku berlari, berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Karena aku memakai pakaian serba hitam, maka keberadaanku yang juga berposisi beberapa puluh meter di belakang, gak akan mudah di ketahui oleh mereka.
Mobil berhenti...
Aku memutar bagian depan telescope. Hingga terzoom dua kali, dan dengan mudah aku bisa melihat apa yang akan mereka lakukan dari posisiku saat ini. Aku hanya menunggu saat yang tepat, untuk mengeksekusi pria itu.
Pasti, dia adalah si Hyena.
Aku mengernyit, saat mobil itu bergerak-gerak. Dari mulai bergerak lambat, hingga mulai agak kencang gerakannya. “Mereka sepertinya sedang berhubungan sex.” Gumamku pada diri sendiri.
Sebetulnya aku dengan mudah langsung mengeksekusi mereka, tapi entah mengapa aku agak curiga akan suatu hal. Aku menunggu saja, karena jika si Siska di eksekusi. Aku gak masalah, malah lebih bagus lagi. Berarti aku gak salah sasaran.
Aku hanya tetap di posisi diam. Sambil fokus melihat dengan menggunakan telescope ke mobil milik si pria. Dan aku mengernyit kembali, ketika pintu mobil terbuka. Aku pun menggeleng-geleng kepala ketika mendapati, si Siska sudah dalam posisi telanjang, keluar dari mobil. Di susul oleh si pria, yang hanya menyisahkan bajunya. Sedangkan bawahnya, sudah tidak memakai apa-apa lagi.
Tubuh Siska di tarik, dan di bungkukkan menghadap ke mobil. Kedua tangan Siska berpegangan di kap depan. Ia menungging, dan si pria mengarahkan batang k*********a menembus kelamin Siska. And yeah! Mereka n*****t lagi. Aku sama sekali gak terpengaruh dengan kelakuan mereka. Bisa saja aku langsung mendatangi mereka, namun aku belum tertarik untuk melakukannya.
Tubuh pria bergoyang maju mundur, dan aku lihat ia mulai menarik rambut Siska memposisikan kepalanya menoleh ke samping. Pria itu kini mencium bibir Siska dengan rakus, tanpa menghentikan genjotan kelaminnya di kelamin Siska.
Aku juga melihat sesekali p****t Siska di tepuk. Hmm! Tapi yang bikin aku heran, belum adanya tanda-tanda si pria ingin melakukan hubungan s*x dengan cara b**m. Aku pindahkan penglihatannku di sekitar mereka. Aku zoom lagi, dan aku gak melihat adanya sebuah alat untuk di pakai melakukan hubungan s*x dengan cara yang menjijikkan itu.
Setengah jam lamanya, mereka melakukan hubungan s*x dengan berbagai gaya. Kadang tubuh Siska di masukkan setengah ke dalam mobil, menyisahkan tubuh bagian bawah dimana kedua kaki bertumpu di tanah. Si pria tetap melakukan dengan gaya menembus Siska dari belakang. Setelahnya, mereka mengganti gaya lagi, dengan cara membalikkan tubuh Siska, sambil menyandarkan ke mobil. Di angkatnya satu kaki si Sika, dan si pria menghajarnya dari posisi depan. Begitu seterusnya, hingga aku melihat tubuh keduanya kejang-kejang menandakan mereka sudah o*****e bersama-sama. Si pria mencabut batang k*********a, dan dengan cepat Siska berjongkok di hadapannya. Mengoral batang si pria hingga tampak kepala si pria mendongak.
Well! Sejauh ini, aku membiarkan mereka melakukan sampai tuntas...
Dan saatnya aku mengeksekusi si Hyena. Jujur! Awalnya aku agak sedikit heran, karena mereka melakukan s*x dengan cara yang biasa saja. Tak ada b**m. Tak ada benda-benda yang mencurigakan sesuai yang aku katakan sebelumnya.
Dan ketika aku mengambil Glock Silencer dari dalam tas...
Tik!!! Tik!!! Tik!!!
Suara indikator ponselku berbunyi. Dan aku mengambil ponsel, sambil menggeser tubuhku agar terhalang sepenuhnya dengan batang pohon yang besar. Pasti mereka tetap tidak menyadari ada sedikit cahaya di balik pohon.
Setelah melihat layar ponsel yang menampakkan aplikasi GPS Tracking. Aku mengernyit saat titik GPS posisi Luna masih berada di Hotel. Maka aku tak memperdulikannya sesaat. Aku kembali melihat ke Siska dengan alat telescope.
FAK!!!
Aku baru sadar, setelah mereka selesai. Mobil berjalan, berputar dan kembali keluar dari hutan. Aku berlari, dan melakukan hal yang sama tadi, berpindah satu pohon ke pohon lainnya. Dan ketika mereka tiba di depan, Siska turun dari mobil sudah berpakaian lengkap, lalu berjalan menuju ke mobilnya. “s**t!” mereka berpisah begitu saja, dimana mobil Siska berbelok arah, dan mobil si pria berjalan lurus ke depan.
Aku salah sasaran. Itu sudah pasti!!! Atau bahkan, malam ini tak terjadi apa-apa.
Maka aku kembali membuka ponsel! And...
Titik si Luna masih tetap berada di Hotel! Ini gak mungkin...
Untuk memastikan, maka aku pun berlari kembali ke mobil. Gak mungkin aku salah sasaran. Benakku sesaat. Lalu saat tiba di mobil, segera ku jalankan mobil menuju ke hotel tempat Luna berada. Aku melihat applikasi, dan posisi si Luna masih tetap berada di Hotel. Sama sekali tak ada pergerakan. Aku melihat arloji, dimana waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Apakah acara pernikahan di Hotel bisa se larut ini? Atau mungkin Siska memilih menginap di hotel malam ini?
“Shit...” Menginap! Yah... Luna pasti menginap, dan mungkin saja ia menginap dengan Hyena. Mobil ku pun kini melaju dengan kecepatan tinggi.
Setengah jam lebih, aku tiba di hotel. Aku segera berlari menuju ke pintu lobby. Sengaja aku gak membawa tas, dan sengaja ku simpan begitu saja di dalam mobil. Setelah melakukan proses pemeriksaan, aku berjalan menuju ke ballroom. Tampak sudah mulai sepi, dan juga beberapa penjemput tamu pun sedang beres-beres akan meninggalkan tempat itu.
Aku mendekati salah satunya, yang sedang memegang sebuah benda seperti album foto. Yang ku ketahui adalah daftar tamu undangan yang hadir. Aku pun meminta izin kepadanya, karena aku sedang mencari seseorang. Itulah alasanku, dan ia pun memberikan daftar tamu tersebut kepadaku. Satu persatu k*****a daftar tamu, yang sudah melakukan pendaftaran sebelum mereka masuk, menulis nama, alamat beserta tanda tangan. Setelah nama terakhir, aku mengernyit karena tak menemukan nama Luna sebagai daftar tamu di acara ini.
Aku pun melangkah meninggalkan tempat itu sesaat setelah aku berterima kasih kepada orang yang meminjamkan buku daftar tamunya tadi kepadaku.
Tanpa pikir panjang, aku berjalan menuju ke ruang Monitoring CCTV hotel ini. Yang pastinya tak beda letaknya dengan hotel-hotel lainnya. Aku berjalan dengan sikap biasa, agar tak ada yang curiga. Sambil menghindari titik-titik yang ada CCTV nya. Saat aku tiba di depan ruangan yang aku tuju, aku lalu membuka pintunya tanpa permisi.
Aku bergerak cepat, dimana ada tiga orang di dalam ruangan menoleh bersamaan ke arahku. Namun sayang, orang pertama telah mendapat hantaman telak kepalan tanganku di wajahnya sebelum ia bertanya. Lalu, ku benturkan kepalanya ke meja. BAM!!! Ia pingsan.
Setelahnya, dengan gerakan cepat aku melompat mengarahkan tendangan ku ke orang ke dua. Yang juga sempat ingin menyerangku. BUGH!!! Wajahnya terkena sepak kaki kananku. Ia terjatuh, dan saat ia ingin berdiri, aku berjongkok dan menghantam keras wajahnya. Bukan hanya wajahnya yang terkena pukulanku, kepala belakangnya pun ikut berbenturan dengan lantai dibawah. Orang ke dua KO!
Aku melirik ke orang ke tiga...
Ia mundur ke belakang. Dan tanganku bergerak, meraih kursi di samping. Saat ia bergerak maju, aku melempar kursi ke arahnya. Kursi melayang, seperti gerakan slow motion, aku pun ikut melompat dan melayangkan serangan ke orang itu.
Lebih dulu kursi menghantam tubuhnya, membuatnya terjatuh. Bersamaan aku pun ikut mendarat, sambil menghantamnya dengan kombinasi pukulan dan juga tendangan. Terakhir, ku jambak rambutnya kemudian menarik kepalanya kedepan, tujuannya untuk mengadu lututku dengan wajahnya. BLAM!!! Sukses, orang ketiga pun ikut KO. Aku bergerak cepat! Harus cepat, karena waktu hanya tersisa sedikit lagi. Lama aku mengutak-ngatik beberapa monitor, dan aku pun menemukan footage rekaman si Luna berjalan keluar dari sebuah kamar yang berada di lantai 5. Ia berjalan sama seorang pria, berambut gondrong.
Dan itu... Ada tatto di lehernya. Pasti! Dialah Hyena.
Aku sejenak menarik nafas. Kemudian membuka ponselku. Aku sedikit mengernyit, saat mendapati titik GPS Luna sudah hilang. “s**t!” pasti sengaja di hancurkan. Aku lalu memeriksa footage rekaman kedua. Aku memutar dibagian CCTV lobby. Di mana mereka jelas, sudah keluar meninggalkan hotel melalui pintu lobby. Aku lalu membuka footage yang berada di parkiran. Ternyata, aku hanya melihat jenis kendaraan yang mereka pakai. Namun sayang platnya, agak buram.
Aku gak punya waktu lagi, karena kejadian sudah 15 menit yang lalu. Maka aku memutuskan kembali ke parkiran.
Saat tiba di mobil, aku berfikir sejenak. Joe! Yah. Saatnya aku menagih janjinya yang ingin membantu misiku kali ini. Maka tanpa fikir panjang, aku menelfon joe, karena hanya dialah yang bisa membantuku malam ini.
Yang jelas, benakku menebak dimana sebetulnya Luna ke hotel itu sebenarnya memang sudah berniat untuk bertemu dengan Hyena. Pernikahan di hotel hanya pengalihan semata.
Dan satu hal lagi. Alat pelacak di dalam tubuh Luna, pasti sudah di keluarkan paksa oleh seseorang yang pasti bukan Luna. Kesimpulan yang ada, Hyena, mengetahui pergerakanku juga. FAK!!!
~•○●○•~
POV 3rd
Flash Back
Gadis bernama Luna, berwajah cantik. Senyum yang ketika terkembang, menampakkan gigi gingsul yang menambah kecantikannya saat ini. Memakai gaun berwarna hijau muda, dengan motif sedikit aksen bunga. Berjalan memasuki lobby Hotel. Ia terhenti setelah adanya pemeriksaan di depan. Setelahnya, Luna di persilahkan masuk.
Luna berjalan menuju ke ballroom hotel sesuai pesan yang ia terima dari seseorang. Yap! Luna sedang janjian dengan seorang pria, yang baru saja menyewa jasanya sebagai bagian dari prostitusi ibu kota. Bayaran untuk jasa Luna, se-slot cukup mahal. Harus mengeluarkan dana sebesar 40 Juta. Bukan Luna namanya, jika awalnya ia tidak menolak. Karena beredar kabar dan juga berita jika 4 orang Selebgram, dan di duga berprofesi yang sama dengannya di temukan tewas secara mengenaskan.
Akan tetapi, pria yang belum sempat bertemu dengannya ini adalah kenalan dari kawannya. Sangat dekat dengannya, maka dari itu ia percaya dan sama sekali tak menaruh curiga kepada si pria yang ia ketahui bernama ‘Mario Hanz’. Tanpa ia sadari, ternyata nama itu adalah nama samaran.
Si Mario tak ingin bertemu di kamar, sengaja ia ingin mengajak Luna untuk menemaninya menghadiri acara undangan pernikahan seorang kawannya yang di adakan di hotel yang sama. Yap! Makanya, Luna menunggu di depan ballroom tempat pernikahan di adakan.
Beberapa saat Luna menunggu, ia sempat menyadari seseorang memakai topi hitam berlambang ‘Volcom’. Menggunakan kaos putih berkerah, jeans hitam berdiri tak jauh darinya, dan sesekali melihat ke arahnya.
Cakep! Itulah benak Luna saat ini.
Apakah dia si Mario?
Bukan! Luna menjawab pertanyaannya sendiri dalam hati. Karena menurut informasi dari temannya, pria bernama Mario itu berumur agak tua dari sosok yang berdiri tak jauh darinya itu.
Namun bagi Luna, ada ketertarikan tersendiri ketika ia menatap lama sosok itu. Entahlah! Gumam Luna sambil menggidikkan bahunya. Karena ia tak ingin mencintai seseorang terlebih dahulu sebelum ia mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Sempat juga, ada seorang pria yang menyatakan cinta kepadanya. Bahkan bukan hanya sekali. Tapi bagi Luna belum saatnya ia menjawab perasaan pria itu. Pria bernama lengkap Aditya Mahendra. Keluarga Adit, mempunyai hubungan cukup dekat dengan keluarga Luna. Dimana memang sejak lama, Luna di jodoh-jodohkan dengan Adit. Yah balik lagi. Luna mempunyai prinsip jika ia tak ingin berpacaran saat ini.
Adit! Mengingat nama itu, terbersik rasa rindu di diri Luna. Merasa telah banyak berbuat kesalahan kepadanya. Selalu berbohong kepada Adit, bahkan seperti malam ini. Dimana Luna beralasan saat Adit mengajaknya ngumpul bersama teman-teman kampus Adit, jika Luna ingin menghadiri pesta pernikahan salah satu sahabatnya. Yap memang benar sih, Luna akan menghadiri acara pengantin, tapi itu. Hahahaha! Dia datang bersama pria yang akan menyewa jasa nya untuk menuntaskan birahi si pria. Yang jelas, Luna selama ini, hanya memanfaatkan Adit saja. Di antar kesana kemari. Jika ada masalah, maka Adit tanpa menunda langsung mendatanginya. Bahkan tak jarang, ia membantu Luna dengan materi.
“Maaf yah Dit! Tapi gue janji. Ini adalah yang terakhir kalinya!... Sudah cukup. Kesabaran dan perhatian loe selama ini, jujur makin buat gue semakin gak nyaman menjalani profesi terselubung ini. Masa-masa kesenangan dan juga kegilaan materi terasa hambar. Dan gue berniat, setelah malam ini, gue ingin selalu bersama loe sampai gue berangkat ke USA. I Promise, Aditya Mahendra.” gumamnya pada diri sendiri. Ada penyesalan tersirat di wajahnya.
Namun, yah! Balik lagi. Dia telah janji. Dan ini adalah terakhir kalinya ia melakukan pekerjaan seperti ini.
Luna masih berdiri, sambil tetap sabar menunggu kedatangan pria bernama Mario Hanz. Luna menyadari saat pria bertopi pun telah meninggalkan hotel, dan tak lama seorang pria mendekatinya.
“Luna?” Luna menoleh. Ia mengernyit sesaat.
“Iya... Kamu Mario?”
“Iya... Sorry, nunggu lama.” Mereka saling bersalaman. Menurut Luna, Mario ini cukup ramah. Ganteng Iya, bahkan wajahnya blesteran. Membuat Luna, merasa malam ini bakal menjadi malam panjang baginya. Karena dia akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin, jika penyewa jasanya pun memiliki wajah tampan, ramah dan juga tentunya berduit. Seperti penampakan pria yang saat ini berdiri dihadapannya.
Meski rambutnya agak panjang, dan terikat. Menggunakan jas hitam, jeans denim, tak mengurangi penampilannya sebagai seorang dari kalangan berduit.
Mereka mengobrol sebentar, dan Mario beralasan ingin mengambil sesuatu di kamar. Maka, setelah mencoba merayu Luna. Mereka akhirnya berjalan menuju ke lift. Tanpa Luna sadari, dimana situasi saat ini, dialah akan menjadi target Hyena berikutnya. Saat Luna mengalihkan pandangan ke samping, pria itu menyeringai. Wajahnya berubah mengerikan. Namun hanya sebentar saja, saat Luna kembali menoleh kepadanya. Ia menampakkan ekspresi yang begitu ramah. Senyum bersahaja, membuat Luna pun membalas senyuman itu dengan sikap manja.
Tiba di kamar...
Pria itu mengajak Luna ngobrol sesaat. Dan akhirnya sebuah ancaman di berikan oleh si pria. Mengatakan akan menyebarkan aib nya sebagai prostitut. Jika Luna menolak keinginan si pria untuk pergi ke suatu tempat. Luna awalnya menolak, namun si pria hanya mengatakan dia akan mengadakan orgy bersama kawan lainnya.
Pesta orgy! Tentu saja, bagi Luna adalah hal yang memuakkan. Tubuh Luna bergidik, ketika berfikir apa yang terjadi jika ia mengikuti keinginan Mario. Dimana ia pastinya akan merasakan banyaknya p***s yang akan menikmati vaginanya malam ini. Padahal dia inginnya menghabiskan malam bersama pria ini.
Ancaman kembali dibuat oleh Mario. Luna yang telah terpojok, dan juga merasa takut karena dia salah satu mahasiswi berprestasi yang hendak pergi ke USA untuk pertukaran mahasiswi. Maka mau gak mau, Luna pun mengikuti keinginan Mario untuk membawanya ke suatu tempat.
Dengan perasaan dongkol, kesal, dan emosi. Luna mengikuti langkah Mario keluar dari kamar. Saat tiba di Lobby, mereka berjalan keluar hotel, tanpa adanya sedikit pergerakan yang mencurigakan. Mereka masuk ke mobil.
Dan...
Seketika, pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kain yang telah ia persiapkan sebelumnya, dengan membubuhi obat bius berbentuk liduid, di tempelkannya ke mulut dan hidung Luna dengan cara di paksa.
Setelah Luna pingsan, pria itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah alat berbentuk kotak sebesar ponsel Sungsang keluaran terbaru. Alat itu adalah Hand Detector portable, dan ia mendekatkannya ke tubuh Luna. Menyisir di beberapa bagian, hingga terdengar suara, Tik!!! Tik!!! Tik!!! Itu dia! Gumam si pria, hingga ia mengambil sebuah pisau kecil.
Ujung pisau, mulai bekerja. Merobek tipis belakang leher Luna. And! Klik! Alat sangat kecil itu yang baru saja ia keluarkan, di hancurkan.
Tanpa membuat gerakan mencurigakan, pria itu menjalankan mobil keluar dari parkiran hotel. Tujuannya hanya satu, yaitu membawa Luna. Adalah target berikutnya, menuju ke sebuah pondokan tua di hutan.
~•○●○•~
POV Reno
“Hallo Joe. I need your help. Hyena.” Tanpa basa-basi aku langsung to the point kepada Joe saat ia mengangkat teleponku.
“Wait! 10 sec.”
Aku menunggu 10 detik sesuai perkataanya.
“Sory gue lagi cuci piring. Oke, I'm on my gear now. What can i do for you?!” Joe, kamu memang paling bisa aku andelin! Pujiku dalam hati. Meskipun basic ilmu dia di dunia nyata adalah Ekonomi Akuntasi, tetapi dia juga penggila IT alias Geek Techno. Selain menyandang Code Name/Titel DD-01 alias pekerja lapangan, beberapa kali Joe di minta untuk membantu tim IT Association karena keahliannya dalam bidang IT.
“Tolong tracking nomor ponsel 08123123123. Itu nomor calon target Hyena selanjutnya. Feelingku dia sedang di bawa pergi oleh Hyena sekarang. Footage CCTV terakhir mereka 15 menit yang lalu dari parkiran Hotel AB YZ." Aku mendengar suara ketikan cepat Joe di super komputer miliknya, saat aku mulai berbicara.
“Her phone is off. Last on-line 17 menit yang lalu. Di Hotel AB YZ.”
“s**t!” Aku mengumpat karena ponsel Luna sudah dimatikan sebelumnya, entah Luna yang mematikan sendiri ponselnya atau Hyena yang melakukannya. Setelah GPS yang aku tanamkan di tubuh Luna juga dilepas paksa oleh Hyena, kini aku kehilangan satu-satu cara untuk melacak Luna.
“Ren. Loe masih ingat nomor plat dan tipe mobil Hyena?”
“Mercedez Benz E-Class Black. No plat kurang jelas karena posisi pencahayaan.” Jawabku.
“Loe lagi dimana?”
“Aku masih di parkiran Hotel AB YZ.”
“Lo bisa cari ruang server Hotel?” Aku ingat di sebelah ruang CCTV ada ruang Server.
“Bisa... 3 menit.”
Aku langsung kembali naik ke lantai 7 menaiki lift. Sambil membawa ponsel, yang masih tersambung dengan Joe. Yang jelas di awal, aku gak melewati pintu depan Lobby. Aku menggunakan tangga darurat, karena saat ini aku sudah memegang Glock Silencerku. Tujuannya untuk berjaga, jika ketiga Security yang sudah aku lumpuhkan ternyata ada yang siuman. Dalam hal ini aku akan melenyapkan nyawa mereka jika ada yang sudah siuman, karena akan menghambat pergerakanku.
Aku lega, karena ternyata ketiganya masih pingsan. Namun aku tidak boleh bersantai karena tak lama setelah aku masuk ke sini, telepon ‘Intercomm’ berbunyi. Jelas tidak ada yang menjawab. Jadi aku segera masuk ke ruang server.
“Joe... I'm in position.” Kataku ke Joe.
“Great. Loe bawa 'Butterfly'?” Aku merogoh tas kecil yang terselip di sabuk. Aku lega karena sejak Joe memberikan 'Butterfly' tempo hari, benda tersebut selalu saja aku bawa.
“Bawa.”
“Pasang 'Butterfly' ke port USB komputer server. And let's the magic begin.”
'Butterfly' adalah nama virus komputer yang dikembangkan oleh tim IT Association. Joe adalah salah satu orang di tim IT yang mengembangkan virus tersebut. 'Butterfly' pada dasarnya semacam bug yang memiliki Artificial Intelligence yang disimpan dalam flashdisk. 'Butterfly' akan melakukan dua pekerjaan dalam hitungan menit. Baik proses Reco naissance dan scanning. 'Butterfly' akan mencari lubang-lubang kerawanan tempat serangan masuk. Biasanya, yang akan di-scan pertama kali adalah port dalam sistem komputer (Port Scanning), atau melalui pemetaan jaringan (Network Mapping), atau melalui pencarian kerawanan/kerapuhan (Vulnerability Scanning), dan lain sebagainya. Satu kelebihan utama 'Butterfly' adalah 99% dia akan mampu menerobos berbagai macam firewall atau anti-virus.
“Kenapa 99%? Bukan 100%?” Aku pernah bertanya kepada Joe setelah dia menjelaskan tentang 'Butterfly' kepadaku.
“Karena yang 1% tersebut adalah kami. 'Butterfly' tidak akan pernah bisa melawan para penciptanya. Para perusahan software anti-virus pada dasarnya mereka juga yang secara diam-diam membuat virus tersebut. Kalau gak gitu, mana laku produk mereka.” Terang Joe menjawab pertanyaanku dengan tuntas.
BIP!!!
Screen komputer berkedip. Aku bisa membayangkan Joe tengah tersenyum saat ini.
“System is down. Gaining acces completed, hehe.” kata Joe sambil terkekeh senang. Ada kalanya dalam satu misi, kami harus meretas sistem lawan untuk mencari informasi A1. Kehadiran 'Butterfly' ini mempermudah pekerjaan semacam ini.
“Ren. Gue udah masuk server mereka dan mengakses CCTV. Berikan waktu 5 menit. Eh gak! 4 menit! Gue akan me-render footage dari CCTV ke mode night vision agar plat mobil Hyena terbaca. Setelah plat mobil terbaca, gue akan meng-convert nomor plat menjadi kode QR. Dan ini akan menjadi percobaan yang tepat untuk projek terbaru gue.”
“Projek baru?” Gumamku bernada tanya.
“Sauron Project. Intinya, gue akan ngehack semua CCTV milik NTMC POLRI yang terpasang di persimpangan strategis di seluruh kota-kota besar Indonesia. CCTV tersebut akan berubah menjadi alat scanner masif yang akan memberikan alert jika mendeteksi satu plat mobil yang sudah gue ubah jadi kode QR. Hasilnya? Jalur mobil tersebut bisa di ketahui dan setelah QR terkunci. Kemana pun mobil tersebut pergi, gue bisa tahu keberadaan lokasinya.”
“Goddamn Joe. You're such a bloody genius!”
“Hehe. Makanya loe jaga-jaga disana. Wait ya!”
Tek! Tek! Tek! Tek! Tek! Tek! Tek! Tek! Tek!
Bunyi jari jemari Joe yang menari di atas keyboard sekali lagi bekerja. Sambil menunggu Joe selesai, aku memasang sikap waspada.
“DONE!!!” Joe bersuara agak keras di seberang. “Lokasi mobil tersebut sudah gue dapatkan. Gue kirim koordinatnya sekarang. Tetapi karena ini percobaan pertama gue pake Sauron, tingkat akurasinya masih belum 100%. Ada kemungkinan koordinat aslinya bergeser 200-300 meter. Gue akan perbaiki secepatnya. Namun loe beruntung. Koordinat tersebut merujuk ke kawasan Hutan. Bisa jadi Hyena punya satu pondokan disana.”
“Jangan khawatir. Untuk urusan IT kamu memang yang terbaik di antara kami semua. Tetapi untuk urusan tracking di alam bebas, kamu sedang berbicara dengan pakarnya, Joe!”
“That my boy! Reno, 10 detik lagi gue akan keluar dari jaringan Server hotel. Lalu 'Butterfly' akan menghapus semua jejak kita di sistem mereka termasuk footage CCTV loe, Hyena dan targetnya. Kalian bertiga bersih. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa selama 5 menit, 'Butterfly' sudah menyusup. Setelah lo cabut flashdiskny, jangan lupa loe buang.”
“Oke.”
10 detik kemudian Joe memberitahuku bahwa ia sudah selesai dan sebelum menutup telepon, dia cuma berpesan singkat. “Selamat berburu Hyena. Have fun! Bro!”
Klik!!! Sambungan terputus.
lalu aku membuka SMS dari Joe yang berisi angka koordinat keberadaan Hyena. Ku salin kode tersebut ke Google Maps dan voila! Tempat yang aku tuju memang berada di kawasan Hutan Linggarjati. 30 menit dari sini. Aku segera bergegas turun ke parkiran. Setelah aku keluar dari hotel. Aku butuh kendaraan untuk pergi ke kawasan Hutan Linggarjati. Lebih tepatnya motor trail. Kemudian aku menelepon kawan lama untuk meminta motor trail.
“Oke beres. 6 menit lagi motor akan tersedia di parkiran depan Bank BRI, 75 meter ke Utara dari posisi loe sekarang. Transfer ke norek biasa. Bye.”
Ho Ho Ho. Mari berburu Hyena!!!
~•○●○•~
POV 3rd
Beberapa saat kemudian...
Di sebuah Pondok tua di tengah hutan, daerah yang memang cukup dikenal sebagai daerah cukup angker. Di dalam ruangan, terdapat serangkaian pipa besi berwarna hitam yang disusun sedemikian rupa hingga berbentuk bujur sangkar. 4 tiang kecil namun terlihat kokoh yang menyangga tubuh gadis itu. Ujung pipanya menjulang hingga nyaris menyentuh langit-langit ruangan. Setiap ujungnya saling terhubung oleh semacam pipa besi sambungan dan ujung yang saling berhadapan juga dihubungkan oleh sambungan besi yang saling menyilang membentuk huruf X. Pipa yang saling menyilang tersebut, bagian bawahnya memiliki semacam gantungan besi yang berderet sepanjang pipa. Rangkaian pipa ini tampak begitu mengerikan. Di tengah ruangan, masih ada koper kecil yang diletakkan di lantai dalam keadaan masih telah terbuka. Beberapa senjata tajam pun, masih berada di dalam tas tersebut.
Pria bernama Antoni Ancukeer Jabrik. Yang dikenal dengan sebutan HYENA, menyadari jika seorang gadis yang tubuhnya dalam kondisi mengerikan, baru saja tersadar.
Sayup-sayup, gadis itu memang baru saja tersadar dari pingsannya. Tubuhnya terasa sangat sakit. Ia membuka mata, dan mendapati kenyataan yang begitu memilukan. Mulutnya menganga ketika melihat kondisinya saat ini
“Udah bangun rupanya. Hohoho!” kata Hyena.
“GUE DIMANA.... ARGHHHHHH! SAKIT BANGET” teriak Luna yang menyadari kondisi tubuhnya telah bertelanjang. Sebuah tali khusus yang juga sudah di sesuaikan dengan tinggi tubuh Luna sebelumnya. Tali tersebut terlilit di tubuh Luna, mengikat dirinya dengan cukup kuat. Dimana juga tubuh Luna dalam posisi tergantung sekitar 10 cm dari lantai. Mata kail pancing yang berukuran besar, besar sekali. Dimana ujungnya yang sangat tajam dan runcing telah menembus punggung belakangnya.
Penyesalan menghampirinya. Dia tersadar, jika dia ternyata telah termakan umpan dari pria itu. Tubuhnya makin merasakan kesakitan yang teramat sangat, ketika ia menggerakkan badan. “ARGHHHHHHH!” dimana tubuhnya yang tertembus hook logam yang tajam itu langsung bereaksi dengan hebat. Jaringan syaraf di pungggungnya yang tertembus mengirimkan sinyal ke otak bersamaan kesakitan. Darah pun hanya sedikit saja yang keluar, berbeda saat awal si pira menusukkan beberapa benda tajam itu ke punggung Luna. Darah yang keluar langsung berhenti ketika ujung lancip hook, sudah sempurna menembus daging dan kulitnya.
“Mending... Anda diam, nikmatin saja permainan kita... Luna Manis!” gumam si Hyena. Dia berjalan mendekati Luna.
“LEPASIN GUE ANJEEEEENGGGGGGG!”
“TERIAKLAH... HOHOHOHO! GAK AKAN ADA YANG MENDENGAR!”
“ARGHHHHHHHHH!” Luna teriak saat tangan pria itu mulai menggerayangi pinggul, tangan kirinya masuk ke sela-sela v****a Luna yang mulus yang tidak adanya sedikitpun bulu kemaluan. Tangan kanan Hyena meremasi dengan pelan p******a bergantian dari kiri lalu kanan, sesekali dipuntirnya kedua p****g kecoklatan itu. Bibir dan lidah Hyena juga tidak tinggal diam. Diciuminya leher samping Luna yang mulai bereaksi.
“LEPASINNN LEPASINNN... ARGHHHHH!” Tapi sayang, semakin ia bergerak. Maka semakin ia merasakan kesakitan yang teramat sangat. Ia hanya bisa berdoa, semoga saja ada yang datang membantunya.
Dia tak ingin mati...
Dia masih mempunyai mimpi, bisa bersama Adit.
Adit! Please... Tolong Luna! Hikz...Hikz... Begitulah, kata hati Luna saat ini.
Tubuh Luna agak bergerak tipis, saat menerima rangsangan di titik sensitifnya, membuat Luna tanpa sadar mengeliat sehingga hanya bisa mendesah. Entah apa yang Luna rasakan, yang jelas sentuhan dari Hyena sedikit banyaknya meredakan sakit tergantikan adanya rasa nikmat disana.
“Oke cukup!” kata Hyena. Lalu ia menghentikan aktivitasnya sesaat. Di ambilnya dua buah kursi lalu menaruh sejajar tepat di bawah sebuah rigging.
“MAU APA LAGI... TOLONG LEPASIN GUE!” hardik Luna.
“Jangan teriak... Manis! Jujur aku sudah tidak sabar mengentot mu. Hahahahahah!” Hyena naik berpijak di dua kursi itu. Melepaskan baju serta celananya. Yang ternyata sudah tak memakai CD. Mengacung menghadap ke s**********n Luna, yang saat ini dua lengan Hyena sedang memegang kedua paha gadis itu. Tepat di hitungan ketiga, Hyena menekan penisnya hingga menancap ke dalam liang senggama Luna.
“Agggggrghhhhhhhhhhhhhhhhh” Luna teriak. Namun sia-sia. Dia merasa vaginanya full oleh p***s Hyena.
Yang hanya bisa ia lakukan. Menangis dan menangis sambil menanti sebuah muhjizat, ada orang lain yang datang menolongnya.
Beberapa saat kemudian...
Hyena yang tengah menggenjot v****a Luna, baru saja mendengar sayup-sayup suara motor dari kejauhan. Seringaian di wajahnya menandakan, jika ia tak berniat untuk kabur. Ia bukanlah orang sembarangan, dimana ia mengetahui jika orang yang selama ini mencari tau keberadaannya sepertinya nekad ke tempat ini. Ok! Batin Hyena. Dia harus menuntaskan terlebih dahulu orgasmenya. Lalu melenyapkan si Luna, kemudian dia akan melawan orang itu yang datang ke tempatnya.
Plok!!! Plok!!! Plok!!!
“ARGHHHH!”
“Ohhhh”
Croot! Croot! Croot!
~•○●○•~
Sebelumnya...
Reno mengendarai motor trail menggunakan Jaket kulit berwarna hitam dan juga jeans slim berwarna hitam, baju yang sama yang ia gunakan sejak tadi. Tas punggun berada di belakang, dan juga sebuah tas kecil yang ia lingkarkan di pinggangnya. Reno melajukan motor Trail dengan kecepatan tinggi, menembus kemacetan sambil nyalip kiri dan kanan. Reno cukup tangkas melakukan hal ini.
Beberapa pengguna jalan, juga melakukan hal yang sama dengannya. Saling mengejar waktu, melewati beberapa pengguna jalan lainnya yang tampak sangat lelet mengendarai kendaraannya. Saat dari arah depan, Reno melihat dua buah mobil saling kebut-kebutkan. Ia mengambil bagian tengah, lalu dengan gesit ia berbelok saat sebuah truck hampir saja menghalangi jalannya di depan.
BRUUUUUUMMMMM!!! Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga kemacetan pun mulai ia tinggalkan. Reno makin mempercepat laju kendaraannya.
Daerah sepi...
Kejadian yang sama, sebelumnya. Dimana ia membuntuti Siska pergi bersama seorang pria. Dan kini Reno mulai memasuki daerah yang sepi penduduk. Dari kejauhan Reno melihat adanya cahaya lampu, dan menurut tebakannya itu mungkin mobil yang digunakan oleh Hyena. Maka ia mematikan lampu motornya, mengambil alat telescope dari tas, sambil menghentikan motor sejenak.
Reno mulai melihat mobil yang dimaksud. Dan ternyata ia salah, dimana jenis kendaraan sangat berbeda dengan kendaraan yang dipakai oleh Hyena. Maka, Reno kembali menjalankan motornya. Dan sempat berpapasan dengan mobil yang di maksud sebelumnya.
Saat ia melewati sebuah tanda, yaitu dua batang bambu panjang dimana lengkap dengan kain di atasnya, bertuliskan ‘Hutan Terlarang’ maka Reno menghentikan motornya sesaat.
Ini adalah gerbang masuk hutan. Batin Reno. Dan Ia sengaja turun dari motor, lalu berjalan mendekati tempat itu. Satu hal yang langsung Reno periksa, yaitu jejak ban mobil. Meski kondisi cukup gelap, namun Reno mampu menebak mana jejak yang baru, mana jejak yang lama. Seperti saat ini, dimana saat Reno menunduk dan meraba jejak ban mobil yang cukup panjang, bahkan jika Reno bisa tebak, mobil itu mengarah masuk ke dalam hutan. Well! Ini pasti Hyena. Batin Reno sesaat. Maka ia segera bergegas kembali ke motor.
Ia mengeluarkan Glock Silencer beserta Black Kerambit dan menyelipkan di pinggangnya. Dia tak lagi ingin memakai cara atau system pengintai secara sembunyi-sembunyi. Dia akan masuk, dan langsung membantai Hyena yang sudah jelas penampakannya tadi melalui CCTV Hotel. Dia tak akan lagi salah sasaran saat ini.
Reno menjalankan motornya, masuk kedalam hutan.
Satu tangan, memegang stir untuk tetap mengendalikan laju motor. Satu tangan, bagian kiri ia gunakan untuk memegang telescope. Motor tetap berjalan melewati beberapa pepohonan dan juga daerah dengan tanah yang bergunduk. Reno memperlambat motornya ketika tiba di dalam hutan, sengaja juga sejak tadi ia tak menyalakan lampu motor. Dengan telescopenya ia cukup mudah melihat kondisi hutan di malam hati.
Reno memutar bagian depan telescope. Hingga terzoom dua kali, dan dengan mudah pandangannya semakin jauh. Akan tetapi ia belum menemukan sesuatu di tempat ini, kemudian ia melihat jejak mobil yang sama. Maka ia pun kembali menjalankan motor mengikuti jejak mobil tersebut.
Kini lintasan yang Reno lalui mulai menanjak. “Bau apa ini?” Reno menghentikan motornya ketika mencium bau tak sedap. Sepertinya, bau bangkai busuk. Tebakannya, adalah mungkin beberapa korban Hyena yang tak terlacak di kuburkan di daerah sini. Bau tak sedap itu makin jelas terhirup oleh Reno. Hingga Reno pun menghentikan motornya. “Udah dekat dengan TO!” Ujar Reno pada dirinya sendiri ketika instingnya mulai berjalan. Dengan pengalamannya selama ini, ia dengan mudah merasakan jika posisi TO sudah sangat dekat darinya.
Dimana juga Reno menemukan sebuah danau.
Ia melihat kembali memakai telescope... And! “Itu dia!” gumam Reno kembali saat menemukan sebuah pondok kecil tak jauh darinya saat ini. Pondok itu, cukup terang. Pertanda adanya aktivitas di tempat itu. Maka tanpa pikir panjang, Reno berlari mengambil motornya dan menjalankan mendekati pondok tersebut.
Saat tiba, Reno langsung melompat dari motornya. Dia biarkan motor itu terjatuh begitu saja, kemudian ia berjalan menuju tangga dan behenti tepat di pojok ujung tangga. Sejenak ia mengeluarkan Glock Silencernya, dimana bersamaan terdengar suara lolongan panjang seorang pria di dalam pondok. Hingga di iringi, suara teriakan penuh ketakutan dari seorang gadis. Itu suara Luna.
Tanpa menunggu lama, Reno pun menendang pintu.
BRAAAAAKK!
“Lama banget loe, Njinggg!” kata Hyena saat pintu terbuka.
Reno mendapati Hyena sedang mengangkat gergaji dan ingin memotong kaki si Luna. SWUIIIINGGGG!!! Gergaji itu langsung di lempar ke arah Reno. PLETAK!!! Untuk saja Reno dengan cepat menghindar hingga gergaji itu menghantam daun pintu. Setelahnya, dengan gesit Reno melepas isi Glock Silencernya ke arah Hyena.
TFFTTT! TFFTTT!
Hyena yang sempat bergerak, namun satu peluru mengena di lengannya. Tapi, tak berefek baginya. Hyena hanya terduduk di awal, sambil memegang lengannya. “HAHAHAHAHAHA.... HAHAHAHAHA!” Terdengar ketawa yang terbahak-bahak dari Hyena yang seolah menunjukkan jika dirinya memang benar-benar menanti kedatangan Reno. Tak ada ketakutan di dirinya. Menurut Hyena, ia akan mendapat dua korban malam ini.
“TOLONG! TOLONG! Hikz...Hikz,” Reno sempat melirik ke Luna yang kondisinya sangat mengenaskan. Namun ia tak perduli, dan kembali melancarkan serangan ke Hyena yang baru saja berdiri.
Berbeda dengan Luna, dimana ia bersyukur akhirnya doanya terkabulkan juga. Ada orang yang menyelamatkannya. Dan ia langsung terkejut, saat menyadari wajah pria itu. “Kamu?”
Reno tak jawab!
“HAHAHAHAHA! Akhirnya Loe datang juga. Njinggg!” TFFTT! TFFTT! Reno yang tak terpengaruh oleh perkataan Hyena, langsung menembak isi Glock silencernya kembali. Namun, Hyena sudah menduganya. Ia melompat ke samping meja yang terbuat dari kayu. “Eit gak kena! Hahahahaha!” kata Hyena yang berhasil menghindari peluru dari Reno dengan gerakan yang cukup cepat.
Merasa jika Hyena cukup cepat, maka Reno pun langsung menerjangnya. Hyena ikut menerjang. Hingga saat Reno ingin melepaskan satu peluru ke arahnya, dengan gerakan cepat Hyena melempar beberapa pisau ke arah Reno.
Wush! Wush! PRANK! Untung Reno langsung menunduk, dua pisau ia elakkan. Dan, satu pisau lagi, hampir saja melukai wajahnya. Dimana Reno bergeser ke samping. Kemudian, ia kembali maju mendekati Hyena. Dalam hati, Reno menghitung, dimana ia telah memakai 4 dari jumlah 9 peluru yang ada dalam senjata Glocknya.
Jika melihat kondisi saat ini. Hyena yang masih cukup kuat, mungkin 5 peluru yang tersisa akan terbuang sia-sia saja. Apalagi dalam kondisi sempit seperti ini, mampu ditebak oleh Reno, dia akan kesulitan untuk menembak ke sasaran. Maka ia pun langsung menaruh kembali Glock ke pinggang sambil mencabut black kerambitnya, bersamaan sang Hyena berguling meraih koper kecil miliknya. Ia mengambil sebuah golok. “Hahahahaha! Kita lihat mana yang lebih kuat.”
Reno yang sama sekali tak membalas perkataannya. Dengan cepat melompat melepaskan tendangan tepat mengenai kepala Hyena. Disusul beberapa pukulan pada d**a dan perut, dan diakhiri dengan tendangan keras yang mengenai d**a Hyena. Pria itu terpelanting ke belakang dan tersungkur. “Hahahahahaah... Hahahahahahaha, Asyik...Asyikkkk Dapat lawan tangguh nih. Hahahaha!” Mendapat serangan yang tiba-tiba, ia malah senang. Dia pun berdiri dan menatap tajam ke arah Reno. Dengan gerakan cepat ia mulai menebas dengan berbagai arah. Membabi buta membuat Reno akhirnya memutuskan untuk menghindar.
Saat sebuah sabetan mengarah ke sisi kanan Reno, dengan cara horizontal. Reno menghindar dengan menggerakkan tubuhnya ke samping kanan, kemudian dengan cepat ia menangkap lengan dan menghadiahkan sabetan Kerambit ke lengan yang sama. ZEB! “Arghhhh!”
Namun karena tenaga Hyena yang cukup besar, dimana ia mendorong dengan kuat tubuh Reno ke belakang. Reno menyentakkan kakinya, lalu melanjutkan serangan dengan menendang ke arah perut. Bugh!
BAMM!!! Tapi bersamaan, Hyena sempat menyelipkan tendangan juga ke wajah Reno saat ia terjatuh. Sukses membuat tubuh Reno ikut terdorong ke belakang.
Hyena berdiri kembali. Lalu menyabetkan goloknya. “AWASSS!” Luna sempat teriak, namun Reno hanya menyeringai, sambil mengelak sabetan itu. Namun, ia lupa. Dimana kondisi dadanya sedang terbuka. Satu serangan tendangan bersarang di dadanya. BUGH!!! Reno merasa tendangan itu, cukup sakit. Namun, ia masih bisa berdiri kembali.
Melihat Reno yang sudah berdiri, dengan gerakan cepat. Hyena menyerangnya. Berlari, dan menyabet-nyabet goloknya di udara dengan gerakan silang. Reno berdiri, dan ia telah menghitung beberapa langkah lagi, Hyena tiba di dekatnya. Maka ia cukup bersiap-siap saja.
Wushhhhhh!!! Hingga ketika sabetan golok Hyena sudah ke arahnya, Reno menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dan kaki kanannya, ia gunakan untuk menendang sekuat tenaga, betis pria itu. Tubuh Hyena terjatuh, dan golok di tangannya terlepas. JLEB! Hampir saja menembus kepala Reno, jika Reno tak cepat menggerakkan kepalanya ke samping. Hingga ujung golok itu menancap di lantai yang terbuat dari kayu.
Hyena yang terjatuh, berupaya berdiri. Reno pun demikian, dan bersamaan melakukan serangan, Reno melihat serangan dari kaki Hyena. Memperlambat gerakannya, dan berhasil menangkap di kaki. Memanfaatkan tenaganya yang besar, Hyena mendorong Reno dengan kakinya hingga ia terpojok ke dinding. Hyena meraih tubuh Reno, mengangkatnya, lalu membanting pria itu ke meja rias.
PRAAAANG!
BRAAAK!
ZEBBB! Tapi Reno sempat menyerangnya di sepersekian detik, membuat sobekan di perut Hyena menggunakan kerambitnya. “Hahahahaha... Hahahahaha, gak sakit njing!”
Serpihan pecahan cermin menggoreskan luka di tangan Reno. Rasa sakit akibat sobekan di perut akibat Kerambit Reno tadi. Membuat sisi psikopat Hyena makin menjadi-jadi. Dia mengambil goloknya, dan menebaskan secara vertikal ke tubuh Reno. Untung Reno dengan gerakan cepat langsung berguling menghindarinya. Namun, karena posisi Hyena berdiri maka ia lebih cepat memberikan kembali serangan ke Reno. BAMMMM!!! Kepala Reno berbenturan dengan kaki Hyena.
Tubuh Reno berguling di lantai...
Dan ia mencoba untuk berdiri, namun serangan lanjutan mengarah kepadanya. Reno berjungkir kebelakang, dan saat mendarat dari arah depan, sabetan golok Hyena hampir saja menebas kepalanya. WUSHHHH!!!! Sabetan itu mengudara di atas kepala Reno, dan Reno sempat menendang perut Hyena.
Hyena terdorong ke belakang. Lalu, Hyena meraih kursi di sampingnya dan melempar ke arah Reno. Dengan dua lengan, Reno menangkis kursi itu. Namun, ternyata Hyena ikut melompat menyerang ke tubuh Reno. BAMMM!!! Tubuh Reno terkena kombinasi pukulan, dan juga tendangan. Hingga membuat tubuhnya terhantam dinding.
Darah segar keluar dari mulut Reno...
Dan saat ia ingin berdiri kembali, Hyena lagi-lagi berlari dan melompat ke arahnya. Reno mengelak sabetan horizontal. Berjungkir kebelakang, mengelak sabetan Vertikal. Hingga, saat Hyena ingin menendangnya, Reno sengaja menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Dan, BUGH!!! Reno kembali menendang kaki Hyena.
Tubuh Hyena terjatuh ke lantai...
“HAHAHAHAHAH! SAKIT NJING!” Reno yang mendengarnya, cukup menyeringai tipis. Ia bangkit dengan cepat, dan memberikan serangan balasan ke Hyena. Namun, serangannya hanya terkena di wajah. Dan ia pun, mendapat goresan yang cukup sakit di lengan dari golok Hyena.
Jaket Reno sobek, dan ada rembesan darah di sana.
Hyena lagi-lagi seperti tak kenal lelah. Menerjang tubuh Reno.
Reno melompat, dan menendang ke lengan Hyena saat golok yang dipegangnya ingin menebas. Bughh!!! PLANKKKK!!! Golok terlepas dari tangan Hyena. Di dorongnya tubuh Reno yang baru saja mendarat, dengan kekuatannya yang masih full. Dan kondisi Reno yang terjepit, tak mampu menghindari pukulan bertubi-tubi di perutnya. Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!! “Hahahahahahaah... Hahahahahaha...” Bugh! Bugh! Lagi. d**a Reno terkena pukulan. Di akhiri dengan hook kanan, di wajah. BAMMM!!! Reno terjungkal ke samping.
Hingga saat ini, Reno tampak kewalahan meladeni gaya bertarung Hyena yang brutal. Maka, ia memutuskan tak lagi memakai tangan kosong. Reno tersenyum tipis, membuat Hyena mengernyit. “APA LOE? HAHAHAHA HAHAHAHAH! LOE PIKIR GUE TAKUT? HAHAHAHA GUE JUGA BISA SENYUM GITU” Teriak Hyena dengan tawa yang menggelegar. “HIATTTTT!” Dan dia melompat menerjang kembali tubuh Reno.
Saat ini lah...
Dimana tubuh Reno yang baru saja terdorong, hingga ia terjatuh. Sempat mengambil Glock Silencer dari pinggangnya. Seperti gerakan slow motion, sebelum terjatuh ke lantai, TFFTTT! Reno mengeluarkan peluru menembus di pundak lain si Hyena. Hingga Hyena pun terjatuh. Bersamaan, Reno ikut terjatuh ke lantai. BUGH!!!
Dua pundak terasa sakit, karena masih ada peluru yang bersarang di dalamnya. “ARGGGHHHHH... HAHAHAHAH...HAHAHAHA!” Hyena mengerang sekuat-kuatnya.
Reno yang mengarahkan Glocknya ke Hyena, akhirnya batal menarik pelatuknya.
“KEJAR GUE NJINGGGG!” Dengan cepat Hyena melompat ke arah dinding. BRAKK!!! Saking kerasnya, dinding yang terbuat dari kayu itu lubang, dan membuat Hyena melompat keluar pondok.
“s**t!” Reno berdiri, dan berlari ke dinding yang berlubang itu. Ia mengarahkan Glock Silencernya ke Hyena yang sudah berlari menjauh dari pondok. Reno mengurungkan niatnya untuk melepaskan satu peluru lagi.
Ia berlari keluar, dan ketika tiba di pintu. Ia sempat mendengar suara tangisan Luna. “HIKZ...HIKZ...TOLONGIN GUE MAS! LEPASIN GUE!” Reno tak perduli. Ia segera berlari keluar pondok. Dan melompati tangga untuk meraih motornya.
BRUMMM!!! Reno mengebyer gas motornya, hingga ia pun mengejar langkah Hyena yang makin menjauh.
Melewati pohon, nyalip kiri nyalip kanan. Menyentakkan stir motor hingga membuat motor terangkat dengan posisi melayang di udara berjarak semeter dari tanah, saat sebuah jalan bergunduk baru saja ia lalui.
Saat mendarat di tanah, kondisi motor sempat agak miring, namun dengan kaki kiri, Reno menyentakkan di tanah, hingga membuat posisi motor kembali berdiri. Ia lalu menarik gas motor, dan kembali menjalankan motornya mengejar si Hyena.
Reno melihat Hyena yang berlari tertatih-tatih. Makin percepat laju kendarannya, kemudian ia berlompat dari motor menerjang punggung Hyena. WUSHHHH! ZEB! Satu sabetan Kerambit menggores di punggung Hyena. Membuat tubuh Hyena terjatuh, dan berguling ke depan.
Hoho! Reno gak ingin membunuhnya dengan Glock Silencer, saat ia melihat kondisi Hyena yang sudah cukup memprihatinkan. Sambil memegang pundak yang terkena tembakan, Hyena berusaha berdiri menatap Reno dengan tajam.
Tak ada ketakutan terpancar di wajahnya.
Ia lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “HAHAHAHA... HAHAHAHA.”
Reno berdiri membalas tatapannya...
“GUE GAK BAKAL KALAH MA LOE, NJING... HAHAHAHA...HAHAHAHA,” Teriak Hyena.
“Masih bisa ketawa gak! Setelah hari ini.” Gumam Reno.
“HAHAHAHA...HAHAHAHAH!”
Reno mengeluarkan rokok garpit dari saku. Ia membakarnya, sambil menghisap filter, membiarkan Hyena puas-puas ketawa.
“KALO BERANI... JANGAN PAKE SENJATA NJING! HAHAHAHAHA... BERANI KAGAK LOE? HAHAHAHA.... BENCONG! KALO BERANI SINI, BERANTEM DENGAN TANGAN KOSONG?” Teriak Hyena membuat Reno menyeringai.
Ia lalu menghisap dalam-dalam filter garpitnya. Kemudian ia hembuskan di udara bebas, asap dari mulutnya. Dan bersamaan, dengan gerakan cepat, ia menjentikkan jarinya, membuat rokok yang masih terbakar itu terlempar ke arah Hyena. Sukses! Wajah Hyena terkena rokok itu.
“BANGSAAAATTTTT!” Teriak Hyena.
Reno, menoleh...
Ia lalu memilih untuk meladeni si Hyena dengan tangan kosong. Maka ia mengembalikan kerambit ke pinggang. Kemudian, dengan hitungan ke dua. Ia berlari ke arah Hyena yang belum siap.
Hyena yang terkejut, hanya bisa melompat ke samping menghindari serangan tendangan dari Reno yang cukup cepat. Wush! Membuat tendangan Reno menghantam udara kosong.
“Hahahahaha! Gak kena... Hahahahah!” Hyena berlari, tertawa seperti orang gila. Lalu berlompat menerjang balik tubuh Reno. BUGH!!! Reno terjatuh, karena dorongan Hyena cukup kuat. Mereka berguling-guling di tanah, yang kebetulan posisi tanah agak miring.
Tapi Reno lalu memberikan beberapa pukulan elboy atau sikuan kanan ke wajah Hyena. Dimana Hyena tak mampu menahannya. Saat mereka terhenti, Reno memutar tubuhnya, dan berada di atas, menduduki tubuh Hyena. “HAHAHAH!”
Saat Reno ingin memberikan pukulan ke wajah, dari belakang, ternyata Hyena mengahantam belakang Reno dengan lutut, sambil menyentakkan tubuhnya ke atas. Hingga membuat Reno terjungkal ke depan. “HAHAHAHAHA! RASAIN LOE NJING! Uhhhh!”
Reno berdiri, dan berjalan ke arah Hyena.
Hyena menggeser tubuhnya ke belakang, dalam posisi ia masih terduduk di tanah. “Takut ya?” tanya Reno saat sudah berdiri di depan Hyena.
“HAHAHAHA... LOE PIKIR GUE TAKUT? CUIH!” Teriak Hyena, sambil meludah ke samping.
Reno tak jawab...
Dia melompat hingga kedua kakinya, melayang 10 centian di atas tanah. Lalu memutar tubuhnya, dan mengangkat kaki kanannya saat posisi tubuhnya kembali ke arah sebelumnya, dan menghantam kuat-kuat wajah Hyena laksana bola. BAMM!!!
Tubuh Hyena terjungkal ke samping. Tak hanya itu, Reno pun mendekatinya lagi. Dan menghantam bertubi-tubi di wajah membuat remuk wajah Hyena.
Lalu menyepak di d**a. BUGH! Tubuh Hyena terdorong ke belakang.
“Hhahaha...Hahahah!” Masih ada juga sisa tawa dari nih orang. Dia menatap wajah Reno, menyeringai.
Reno berjalan mendekatinya lagi. Hyena pun ikut mundur kebelakang. Dan begitu seterusnya, hingga tubuh belakangnya pun telah bersandar di batang pohon yang cukup besar. “OOPSSS Hahahahaha mentok yah... Hahahaha!” Tawa Hyena masih saja terdengar.
Tapi, Ia tak mampu menghindar jika Reno menghantamnya lagi. Tapi seperti itulah Reno, tak akan berhenti sebelum TO nya tewas. Reno menjambak rambutnya. Dan memaksa Hyena untuk terduduk. “HAHAHAHAHAHAHAHA! LOE NJING! GUE GAK TAKU NJINGGGG! HAHAHAHAHAHAHA! BAMM!!! Tanpa berucap, Reno menghadiahkan kepalan tangan kanan di wajah Hyena.
Sontak, mata Hyena tertutup. Dan seluruh wajahnya, sudah benar-benar remuk. Namun, sepertinya Reno belum puas untuk memberikan pelajaran buat Hyena. Maka ia menyeringai tipis. “Oke sudah cukup!” Kata Reno sesaat.
Hyena mencoba membuka matanya, menatap Reno dengan pandangan memuakkan menurut Reno. Lalu Hyena terbatuk-batuk, mengeluarkan darah dari mulut. “Uhuk! Uhuk! Hahahahahaha... Gue gak takut darah. Uhuk! Uhuk! Hahahahaha.”
Reno tak memperdulikan hal itu.
Namun...
Sedetik, Hyena mengernyit saat mendapati Reno malah berbailk. “Uhuk! Uhuk! Hahahahaha Woi kemana loe... Jangan kabur. Hahaha!” teriak Hyena saat mendapati Reno malah berjalan menjauh menuju ke motornya.
“Cuihhhh! Main kabur aja loe. Asuuuuuu!” Teriak Hyena, namun tawanya sempat terhenti, ketika lampu motor Reno menyorot ke wajahnya. BRUMMM!!! BRUMMMMM!!! Suara knalpot motor begitu nyaring.
Hingga! BRUUUUUUUMMMMMMMM! Motor melaju dengan kecepatan kencang ke arah Hyena.
Dan dua detik selanjutnya, Reno yang mengendarai motor melihat jelas wajah Hyena yang tersorot oleh lampu motornya. Wajah yang masih saja tertawa. “Ha Ha Ha!” Kemudian, Reno menyentak stir motor hingga membuat posisi ban motor bagian depan terangkat, dan dengan sangat cepat menghantam tepat sasaran. BLAMMMMM!!! BRENYEKKKKKKK!!! CREKKKKK!!!
Kepala Hyena pecah terhantam oleh roda motor Reno.
Menghentikan ketawanya yang sejak tadi terdengar sangat berisik.
Reno menarik motornya, dan melihat kondisi Hyena sudah tewas dengan kondisi kepala pecah dan mengeluarkan isi dalamnya. Reno hanya menyeringai, kemudian ia membawah tubuh Hyena ke atas motor. Ia pun meninggalkan tempat itu kembali ke pondok.
Ia membawa tubuh Hyena ke dalam pondok. Luna yang melihatnya, langsung teriak. Namun, ada kebahagiaan yang menderanya saat ini. Sudah pasti, pria ini datang menolongnya. “Terima kasih... Hikz...Hikz...Terima kasih mas, sudah ngolongin gue.!” Suara Luna yang menangis.
Dan Reno menjatuhkan tubuh Hyena ke lantai! Lalu ia menyeringai tanpa Luna sadari.
Reno meraih Glock Silencernya, dan berjalan mendekati Luna. “Hikz...Hikz...Hikz... makasih mas... makasih!”
“Eh... Ma-mas!” Hanya sesaat rasa itu mendera Luna. Ia kembali membelalakkan kedua matanya, ketika sebuah Pistol, sudah berada tepat di keningnya.
“Maaf... Gak ada saksi mata!”
TFFTTT!
Sebuah peluru bersarang di kepala Luna...
Luna tewas, dan Reno pun berjalan kembali ke Hyena. Di letakkannya Glock Silencernya, di tangan pria itu. Kemudian, Reno melepas kaos tangannya, dan menaruhnya ke dalam tas. “Beres!” gumamnya sesaat.
Kemudian ia membuka ponsel, dan mengambil foto Hyena. Klik! Klik! Dua gambar cukup menurut Reno.
Lalu, ia mengirimkan ke nomor Pak Edward. “Mission Completed!”
Send-
Still Continued...