POV 3rd
Minggu pagi, dengan memakai pakaian santai. Kaos berkerah berwarna Grey, celana jeans denim dan juga sepatu kets lengkap dengan topi yang juga berwarna hitam. Sebuah tas kecil yang ia letakkan di jok kiri sampingnya. Beberapa keperluan telah Reno bawah, untuk melancarkan aksinya pagi ini.
Sebelum meninggalkan hotel, dia masih melanjutkan menyewa kamar yang sudah beberapa hari ini ia pakai, dan belum berniat untuk melakukan check out. Dia pun berpesan ke resepsionis, untuk jangan membersihkan kamarnya. Tak lupa Reno meletakkan tag di depan pintu yang bertuliskan ‘Don’t Disturb!’. Sejak semalam ia telah menelfon kawannya yang selama ini menyewakan kendaraan untuk menjalankan aksinya. Sebetulnya kawannya ini cukup familiar dengan orang-orang Associated. Detailnya Reno tak begitu paham, apakah kawannya itu bagian dari Associated, atau hanya team support saja. Dan ia sengaja menyewa sebuah mobil sedan Toyota Corolla Altis, karena ia sengaja tak ingin menggunakan motor. Menurut Reno, waktunya selama seharian ini kebanyakan menunggu pergerakan. Dia tak ingin keluar dari mobil, jika di rasa belum saatnya ia bergerak. Dan Reno bertemu di parkiran bawah dengan kawannya ini, sesaat sebelum ia meninggalkan parkiran hotel.
Saat ini dimana tarlihat Reno baru saja menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah bangunan yang bentuknya seperti kos-kosan. Sesuai dengan alamat yang telah tercatat di agenda kecilnya. Reno membukanya kembali, memastikan alamatnya tak salah. Yap! Alamatnya memang benar. Maka Reno membuka sedikit kaca bagian depan, sambil matanya tak lepas memandang ke arah pintu masuk bangunan itu. Sekedar menemaninya dalam pengintaian saat ini, Reno membakar rokok garpit. Sesekali membuka ponsel dan melihat-lihat apakah ada update status di IG Siska maupun si Luna. Ternyata, sejak semalam mereka berdua tak update status. ‘Hmm! Mereka sepertinya sedang sibuk sejak semalam.’ Batin Reno sesaat.
Tangan kiri Reno bergerak, lalu mengambil sesuatu dari dalam tas. Sebuah alat kecil, berbentuk seperti stapler, namun ukurannya jauh lebih kecil. Dan di dalam stapler, terdapat sebuah besi yang fungsinya sebagai alat pelacak. Alat ini digunakan dari jarak dekat. Atau dengan kata lain, Reno harus bisa berada dekat dengan korban yang akan ia berikan alat pelacak ini ke dalam tubuhnya.
Cukup mudah bagi Reno, jika seperti itu. Maka ia pun kembali sabar menunggu hingga orang yang sedang ia tunggu, keluar dari kosan.
Sejam lebih lamanya Reno menunggu, akhirnya tampak sosok Siska baru saja berdiri di depan kos-kosan. Tak begitu lama sebuah mobil City Car berwarna merah berhenti tepat di depan Siska. Terjadi sedikit obrolan, hingga Siska berjalan menuju ke samping kiri mobil. Siska membuka pintu, lalu masuk ke dalam mobil.
Mobil tersebut, berputar. Lalu, kini saling berhadapan dengan mobil Reno. Reno berada di sisi kiri jalan dari posisinya saat ini, sedangkan city car tersebut berada di sisi kanan Reno.
Reno menjentikkan jarinya, melempar rokok keluar melalui jendela. Kemudian menarik tuas matik ke ‘D’ dan menjalankan mobil, sambil berputar arah setelah mobil city car tadi telah berlalu melewatinya.
Reno mengikuti mobil itu. Menjaga jarak, agar pemilik mobil tak mencurigai pergerakannya. Yang jelas, hal seperti ini sering Reno lakukan, jadi dia cukup terlatih dalam pengintaian. Bahkan, tak pernah terjadi dimana Reno ketahuan mengintai korbannya.
Hingga, mobil tersebut masuk ke dalam parkiran sebuah cafe. Reno sesaat memperlambat laju mobilnya, hingga merasa cukup ia pun mengikut masuk ke dalam parkiran.
Setelah memarkir mobilnya, ia tetap tak mematikan mesin mobil. Karena ia masih menunggu beberapa menit sebelum ia turun.
Akhirnya, Reno turun dari mobil...
Sebuah Cafe & Coffee. Tampak pengunjung cafe ini, lumayan. Namun beberapa meja tampak masih kosong. Reno yang melihat adanya meja kosong, yang juga berada tak jauh dari meja Siska dengan seorang pria. Maka Reno pun melanjutkan langkahnya menuju ke meja yang dimaksud. Lalu saat tiba di meja, Reno duduk dan sengaja tak melihat ke arah Siska terlebih dahulu. Seorang pelayan pun mendekati Reno, menawarkan buku menu kepadanya. Reno memesan secangkir ekspresso Kopi, sambil mengeluarkan sebatang rokok.
Posisi duduk Reno saat ini, membelakangi meja Siska. Dan ia melihat ke belakang, dengan menggunakan pantulan dari HP nya. Meski samar-samar, namun Reno mengetahui jika Siska dan pria pemilik City car sedang mengobrol santai. Untuk saat ini, Reno sengaja menunggu hingga beberapa menit lamanya. Ia tak ingin salah dalam bertindak. Karena Reno hanya punya kesempatan sekali, untuk menembakkan alat pelacak ke tubuh Siska.
Setengah jam lamanya Reno menunggu, Reno pun mengambil alat penembak pelacaknya dari dalam tas. Di genggamnya alat tersebut sambil menyempatkan untuk menyeruput kopi yang dibawakan oleh pelayan tadi. Maka, Reno beranjak dari duduknya untuk melancarkan aksinya dimana yang seolah-olah ingin ke toilet.
Reno berjalan ke arah toilet, yang pasti akan melewati meja Siska. Saat hampir tiba, Reno mengarahkan ujung alat penembak ke Siska. Tangan kiri Reno, sengaja melihat ke HP. Namun tangan kanannya telah siap-siap dalam beberapa detik kemudian.
And! Bugh!!! “Maaf!” Reno berkata, saat menabrak kursi Siska. Dan sempat, melesatkan alat yang begitu kecil, hingga masuk tepat di belakang leher gadis itu.
“Auuuuwwww!” bersamaan Siska yang terkejut, dan meringis di karenakan merasakan sedikit sakit di bagian leher belakangnya. Tangannya pun, telah mengusap bagian yang sakit. Rasanya seperti di gigit semut.
“Hati-hati kalo jalan bos!” kata pria di depan Siska. “Loe gak apa-apa Sis?” lanjutnya bertanya ke Siska.
“Gak apa-apa... liat-liat kalo jalan mas. Jangan main HP.” Kata Siska sambil menoleh dan menatap ke Reno, yang sengaja setelah menabrak Siska ia berhenti dan berdiri di belakang gadis itu.
“Iya maaf... Sekali lagi saya minta maaf! Mba.. Mas!”
“Ya sudah...”
“Lain kali hati-hati mas.” Kata si pria.
“Iya.”
Setelah mendapat izin, maka Reno pun berjalan menuju ke toilet. Seringaian tipis terlihat di wajahnya karena telah berhasil menanam alat pelacak dalam tubuh Siska. Dan tak lama, Reno kembali dari toilet, dan menyempatkan melempar senyum dengan anggukan kecil, saat berlalu melewati meja Siska. Siska dan pria di hadapannya, membalas anggukan Reno.
Mereka cukup ramah menurut Reno. Setelahnya, Reno kembali ke mejanya. Karena ia sengaja tak pergi dulu. Jika seperti itu, maka takutnya akan adanya kecurigaan dari Siska maupun si pria. Makanya, Reno membakar kembali rokok garpitnya.
Ia menghabiskan dua batang rokok. Menghabiskan kopi. Lalu, ia beranjak meninggalkan mejanya. Tak lupa membayar billnya di kasir sesaat sebelum akhirnya Reno berjalan menuju ke mobil.
Reno menjalankan mobilnya meninggalkan cafe. Saat merasa posisinya telah jauh dari cafe tadi, maka Reno menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Selanjutnya Reno membuka ponsel dan juga applikasi seperti ‘GPS Tracking’ untuk melacak titik alat pelacak yang berada dalam tubuh Siska tadi. Applikasi ini adalah applikasi yang telah di persiapkan oleh pihak Associated buat para Hitman dalam membantu menjalankan aksinya. Suatu sistem pemantauan jarak jauh yang menggunakan Satelit GPS sebagai penentu lokasi alat kecil dan menunjukkan pergerakan dengan tepat dan akurat dalam bentuk titik koordinat yang kemudian di implementasikan ke dalam bentuk Peta digital, sehingga dapat dimengerti dengan mudah bagi penggunanya.
Tik!!! Tik!!!
Bunyi lampu indikator, berbentuk titik berwarna merah yang sengaja Reno buat. Sebagai penanda bahwa titik itu adalah posisi Siska. Ini menggunakan serangkaian satelit yang memungkinkan Reno untuk menghitung posisi Siska dengan sangat akurat. Sebuah penerima GPS khas menghitung posisinya menggunakan sinyal-sinyal dari empat atau lebih satelit GPS. Nilai ini kemudian berubah menjadi bentuk yang lebih ramah pengguna, seperti lintang/bujur atau lokasi di peta, kemudian ditampilkan kepada pengguna. Jadi kemana saja dan di mana aja Siska berada, Reno akan mudah mengetahuinya secara langsung dan real time hanya lewat hp. Walaupun posisi Reno berada jauh dari posisi Siska.
Setelah merasa cukup. Reno kembali menjalankan mobilnya, menuju ke alamat ke dua. Alamat Luna, orang kedua yang diperkirakan akan menjadi target Hyena berikutnya.
Beberapa jam kemudian...
Malam ini, Reno telah berada di depan sebuah rumah bertype minimalis. Sesuai keterangan alamat yang Reno dapatkan. Dan dia melakukan hal yang sama seperti pagi tadi. Menunggu di posisi dalam mobil, menempatkan mobil beberapa meter dari rumah tersebut agar tak ada yang mencurigainya.
Setelah beberapa saat Reno menunggu, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah yang sejak tadi Reno pandangi. Ia mengernyit! Heran! Bukan karena ia salah orang, melainkan mobil yang mengantar Luna malam ini. Mobil yang sama, milik Adit.
Reno tampak terdiam...
Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. Memperhatikan gerak-gerik, dimana seorang gadis baru saja keluar dari pintu samping kiri mobil. Lampu stop, beserta lampu belakang mobil tiba-tiba mati. Yah! Reno tak salah orang. Adit, yang tampak baru saja turun dari mobil dan mengantar Luna masuk ke dalam rumah.
“Apa dia cewek si Adit?” Reno bertanya pada dirinya sendiri.
Reno sesaat tak memperdulikan akan hal itu. Dan juga, tak ingin beranjak dari posisinya saat ini. Yang Reno bisa lakukan, hanyalah menunggu dan menunggu. Bahkan saat Mobil Adit telah pergi, Reno masih saja menatap ke satu arah.
Reno melihat arloji di lengan kanannya. Waktu masih menunjukkan pukul 8 malam. Benaknya pun bertanya-tanya, kenapa keduanya cepat pulang? Ataukah Adit mempunyai acara lain dengan anak-anak?
Entahlah! Bukan urusan Reno saat ini.
Setelah sejam lamanya, ternyata Luna keluar lagi dengan baju yang berbeda. “Sepertinya... dia ingin pergi tidak dengan si Adit.”
Dua mata Reno tajam lurus ke arah Luna. Dimana gadis itu, membuka pagar rumahnya dan mengeluarkan Mobil dari garasi rumah. Luna menyetir sendiri, dan meninggalkan rumahnya. Reno pun menyusulnya dari belakang sambil menjaga jarak agar posisinya tidak terlalu berdekatan dengan posisi mobil Luna.
Wajah yang masih tetap tenang, tanpa ekspresi, masih serius dengan mengikuti mobil Luna tanpa sekali pun ia mencoba untuk menunda pekerjaan hari ini. Karena besok, masih ada hal penting yang Reno harus kerjakan. Minimal malam ini ia harus berhasil memasang alat pelacak ke dalam tubuh Luna.
Ternyata Luna pergi ke sebuah Club malam. Reno tampak menyeringai, karena jika ia berada di tempat ini. Maka dengan mudah tanpa perlu menabrak Luna seperti yang ia lakukan ke Siska tadi. Karena kondisi di dalam Club pastinya rame dan bakal desak-desakan.
Setelah merasa cukup, Reno pun ikut keluar dari dalam mobil. Ia tak ingin berlama-lama menunggu. Karena jika ia terlambat keluar, dan posisi Luna tak lagi berada dalam jangkauan penglihatannya. Maka pastinya Reno akan mencari dengan sekian banyak orang di dalam club. Bukan Reno tak bisa, tapi saat ini ia butuh kerja cepat. Maka dari itu, Reno sedikit mempercepat langkahnya, sambil mengambil alat penembak dari saku celananya. Kemudian ia selipkan di sela-sela jari tangannya antara jari telunjuk dan jari tengah. Dan saat proses pemeriksaan terjadi di depan pintu masuk, Reno mengangkat kedua tangannya ke atas, memberikan kesempatan para penjaga untuk memeriksa tubuhnya. Karena juga kondisi depan pintu sudah cukup ramai, maka penjaga tadi mempersilahkan Reno masuk.
Hingar bingar dan dentuman suara music menggelegar menyapa para pengunjung yang baru tiba di dalam. Reno berdiri, melirik ke sekitarannya. Ternyata Luna, pun ikutan berdiri tak jauh darinya saat ini. Tanpa pikir panjang, Reno memposisikan alatnya dengan sebaik mungkin, sambil berjalan ke arah Luna.
“Auuuuuwwww!” Terdengar suara Luna mengerang. Sambil memegang belakang lehernya. Matanya melihat ke sekeliling, dan tak mendapati apa-apa. “Duhhhh! Pake acara di gigit semut segala.” Lanjutntya berkata sendiri, sambil tangannya menggaruk-garuk belakang lehernya, yang tanpa ia sadari, Reno telah melancarkan aksinya dengan menembakkan alat pelacak tadi ke dalam tubuh Siska.
Reno pun telah berjalan keluar dari club, sambil dari ujung bibirnya, terlihat sebuah senyum tipis karena aksinya berhasil tanpa adanya hambatan.
~•○●○•~
POV Reno
Senin tiba. Dan aku sengaja tak ngampus hari ini. Ponsel yang biasanya aku gunakan untuk berkomunikasi dengan normal-normal saja, sengaja tak ku aktifkan. Tujuannya biar gak ada yang menganggu konsentrasiku saat ini. Pasti para kawanku, sudah beberapa kali menghubungi nomor tersebut. Gampanglah! Aku akan beralasan lagi, jika aku ada acara keluarga.
Semalam aku telah berhasil menanamkan dua alat pelacak. Baik ke tubuh Siska maupun ke tubuh Luna. Suatu hal yang sepertinya akan sedikit mengganggu kelancaran aksiku nanti, adalah keberadaan Adit. Dimana yang semalam juga ku ketahui jika Luna adalah orang terdekat Adit.
Jujur! Sempat terbersik di benak semalam, mencurigai si Adit adalah Hyena. Tapi, kecurigaanku berakhir setelah mempelajari profil Adit. Aditya Mahendra, sempat di penjara 2 tahun. Pelatih JFC (Jakarta Fighting Club). Dan, tidak memiliki catatan kesehatan yang mengarah ke sikap psycopat.
Aku saat ini menatap layar ponsel, dengan dua titik, berwarna biru dan merah, indikator yang menandakan posisi kedua alat pelacak yang berada di tubuh kedua gadis itu. Setelah sarapan pagi tadi, aku langsung keluar dari hotel. Dan sengaja menghentikan mobil di pinggir jalan. Titik GPS ku saat ini berada, adalah di posisi tengah-tengah antara posisi si Siska dan si Luna.
Tak lupa agenda dan sebuah pulpen ku keluarkan untuk mencatat beberapa informasi yang pastinya akan aku butuhkan nantinya. Sampai saat ini, aku masih fokus ke mereka berdua. Belum ada tanda-tanda sedikit pun, perbedaan dari keduanya. Semoga hari ini, aku bisa mendapatkan sebuah informasi baru, agar aku bisa fokuskan ke satu orang saja. Entah si Luna ataupun si Siska. Mengenai Luna, aku sama sekali gak memperdulikan jika ia sedang dekat dengan Adit. Jika saja Luna lah yang akan menjadi target Hyena berikutnya, maka yah! Aku tetap akan beraksi sesuai yang telah ku rencanakan sejak awal menerima misi Autumn ini dari Pak Edward.
Well! Pertama aku mencatat aktivitas Siska selama seharian ini hingga sampai jam 2 siang. Di mana sesuai dengan titik berwarna merah. Jika Siska sejak pagi, meninggalkan kosan menuju ke sebuah alamat. Dan aku tau, jika itu adalah sebuah kantor, dan tempat Siska bekerja saat ini. Tempat kedua yang Siska datangi, adalah sebuah Rumah Makan, yang terletak tak jauh dari kantornya. Setelahnya Siska kembali lagi ke kantor. Hmm! Siska, hari ini tak menampakkan banyak pergerakan.
Kedua, si Luna yang paling banyak mendatangi beberapa tempat. Sejak pagi Luna keluar dari rumah, mendatangi sebuah Coffee shop. Entah! Apa yang ia lakukan di sana, sejam kemudian titik Luna bergerak menuju ke suatu tempat. Jika menurut peta yang ada di ponsel, dimana keterangannya adalah sebuah kantor Ekspedisi pengiriman barang. Setelahnya Luna menuju ke sebuah Mall, yang terletak di wilayah selatan. Oke! Setelahnya, aku hanya tetap memasang ponsel di hadapanku. Aku menjalankan mobil, sambil sesekali melihat layar ponsel tersebut. Keduanya belum ada pergerakan, masih stay di posisi mereka sebelumnya.
Mungkin aku harus mengunjungi Coffee shop yang di kunjungi Luna tadi, setelahnya aku ke rumah makan. Semoga bisa menemukan suatu petunjuk nantinya.
Aku tiba di coffee shop, sambil membeli se-cup Ice Coffee. Mataku melirik ke sekeliling, sesuai instingku, tak ada kecurigaan terhadap keberadaan Hyena di tempat ini. Mungkin, Luna tadi bertemu dengan Adit, atau mungkin temannya. Entahlah! Yang harus aku lakukan saat ini, mengunjungi Rumah makan tempat Siska tadi.
Nihil! Hal sama yang ku rasakan ketika tiba di RM tersebut. Tak ada sama sekali tanda-tanda keberadaan Hyena di tempat ini. Aku akan merasakan sebuah ancaman berada di dekatku dengan cukup mudah, karena aku telah terlatih selama ini. Sedangkan saat in, aku hanya merasa biasa-biasa saja.
Maka ku tinggalkan tempat itu...
Saat tiba di mobil, aku melihat Siska bergerak. “Ok! Aku ikutin dia dulu.” Gumamku pada diri sendiri.
Aku tiba di sebuah perumahan, sesuai titik Siska berada. Aku melihat juga, Siska tadi masuk setelah seorang pria setengah baya membukakan pagar. Menurutku hanya sebuah rumah keluarga dengan beberapa penghuni.
Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda yang mengarahkanku ke Hyena. Mereka pasti belum dihubungi oleh si Hyena. Aku pun meninggalkan tempat itu, dan pergi ke posisi di tengah-tengah antara Luna dan Siska. Aku melakukan hal itu, agar mudah menggapai mereka jika memang ada pergerakan yang mencurigakan.
Tak ada lagi pergerakan, maka ku putuskan untuk kembali ke Hotel untuk sekedar mandi, dan akan kembali lagi ke jalan. Mandi, adalah upaya untuk menetralkan dan juga membuat fresh isi kepala karena penak dan kepul di penuhi berbagai pikiran sejak beraktivitas dari pagi hingga saat ini.
Malamnya...
Aku keluar lagi dari hotel. Tak lupa membawa perlengkapanku yang telah ku siapkan di dalam tas. Jangan sampai, hari ini lebih cepat dari prediksiku. Maka aku tak akan lagi menunda untuk mengeksekusi TO. Semoga saja!
Dari dua titik yang ada di layar ponsel, dimana justru titik si Luna yang mulai bergerak kembali. Sedangkan titik Siska, masih berada di kantor. Apalagi sesuai perkiraanku, dari terakhir posisi Siska, hingga saat ini posisinya makin menjauh. Ada kali 10 Kiloan, perbedaan titik satu ke titik sekarang. Ok! Karena si Luna yang paling banyak pergerakan dan menurutku telah mendatangi beberapa tempat. Yang mungkin, ia pun sempat bertemu dengan Hyena. Maka ku buntuti saja malam ini si Luna.
Sepertinya Luna ini, suka ke tempat hiburan malam. Semakin besar kecurigaanku, jika dialah target Hyena berikutnya. Namun balik lagi, aku belum bisa mengambil sebuah tindakan jika memang aku belum bertemu dengan ciri-ciri yang sedang aku pikirkan tentang Hyena selama ini. Memang abu-abu, tapi dengan pengalamanku selama ini, cukup mampu membedakan mana ciri-ciri orang normal, mana ciri-ciri seorang psycopat.
Aku memarkir mobil di samping mobil Luna. Di mana dia mendatangi tempat hiburan malam untuk kesekian kalinya. Yang harus aku lakukan saat ini, mengaktifkan ponselku yang umum ku gunakan buat berkomunikasi biasa.
Ku abaikan pesan-pesan yang masuk di beberapa applikasi messenger. Aku mencari contact si Adit. And! Aku menelfonnya.
“Adit.”
“Astagaaaa... Woi kemana aja loe? Sejak pagi HP loe gak aktif.” Adit langsung menyerangku dengan pertanyaan, saat ia menjawab panggilanku.
“Maaf! Makanya aku menghubungimu Dit.”
“Sialan loe... kenapa bro?”
“Gimana kabar kampus tadi?”
“Ya elah, tumben loe nanya kampus bro?”
“Gak! Cuma nanya aja. Sorry yah! Tadi ada urusan keluarga.”
“Iya udah biasa kok... paling alesan loe doank... Hehehe,”
“Ya begitulah!” jawabku ke Adit.
“Ke sini loe... gue lagi nongkrong nih ma Eko.” Good! Tanpa aku bertanya, dia yang menjawab terlebih dahulu. Pertanda dia tidak sedang janjian dengan Cindy.
“Di?”
“Gue ma Eko, lagi di TiiS Coffee... sini loe.” Jarak Tiis Coffee dengan tempat ini, cukup jauh. Minimal Adit akan membutuhkan waktu setengah jam menggunakan mobil, itupun jika kondisi jalan tidak begitu macet, agar bisa menggapai tempatku dan Luna berada.
“Hmm, nanti diliat.”
“Jiahhhhh... gak berharap deh.”
“Hehe! Oke yah”
“Sipp bro... berkabar aja, kalo loe mau merapat.”
“Oke.” Tut!!! Tut!!! Tut!!! Setelahnya, ku off kan kembali ponselku. Tujuanku memang menelfon Adit, untuk mengecheck keberadannya saat ini. Dan dia menjawab, sedang bersama Eko nongkrong berdua di cafe. Sipp! Pertanda, aku gak ada masalah lagi malam ini.
Satu hal yang aku ketahui, jika dimana si Luna sepertinya kerap kali membohongi si Adit. Tanpa bertanya, ke Adit. Aku pasti menebak, jika si Luna itu adalah kekasihnya. But, prinsipku cuman satu “Everything is fine to kill as long as mission completed”
~•○●○•~
Besoknya...
Hari ini, adalah hari ke lima. Dan waktu ku hanya tersisa 2 hari lagi untuk mengeksekusi TO bernama HYENA. Sejak semalam aku lebih banyak mengintai pergerakan si Luna. Aku pun sempat masuk ke dalam club malam. Dimana Siska bertemu dengan beberapa orang, baik perempuan maupun pria. Mereka menghabiskan malam bersama, dan mungkin sampai berpesta s*x karena sempat ku lihat, mereka dalam kondisi mabuk sambil beberapa pasang saling b******u. Bahkan Siska, bersama pria yang bukan Adit. Who is He? Yang jelas, dia bukan si HYENA.
Aku meninggalkan mereka, ketika mendapati adanya pergerakan dari si Siska. Aku membuntuti si Siska yang tampak sedang janjian dengan seorang pria di sebuah restoran. Namun ku pikir, hanya sebatas rekan kerja saja. Atau mereka sedang berpacaran. Entahlah! Karena tak ada petunjuk semalam, maka ku putuskan untuk kembali ke Hotel. Tapi aku jelas sudah sangat yakin, dimana si Luna lah yang akan menjadi target berikutnya. Namun, bagaimana aku harus benar-benar membuat Adit tak berada di sisi si Luna?
Karena jangan sampai hari ini, saat aku menjalankan rencana justru Adit tiba-tiba hadir.
Sejenak aku hanya diam dalam mobil. Menatap pergerakan dua titik di layar ponselku. Yang jelas, posisi Siska berada di kantor. Sedangkan Luna, sedang berada di sebuah Mall. Aku memarkir mobil, tak jauh dari mobil Luna saat ini.
Tak lama Luna berjalan keluar dari pintu masuk Mall, hanya sendiri. Berjalan menuju ke mobilnya. Instingku mengatakan, aku makin dekat dengan TO. Dan mungkin, aku harus melakukan suatu tindakan. Yaitu menyingkirkan si Adit.
Maka ku jalankan mobilku keluar dari parkiran Mall, dengan satu tujuan yaitu ke kampus. Tapi aku tak masuk ke kelas, yang hanya aku lakukan hanyalah mencari keberadaan si Lidya. Yap! Dialah orang yang paling tepat, untuk membantuku menyingkirkan Adit dari sisi Luna.
Lama aku hanya berdiam di parkiran, dan ku pandangi ke satu arah. Yaitu mobil Lidya, yang terparkir di deretan mobil-mobil mewah. Ku tau, sudah waktunya istirahat. Dan benar saja, aku melihat pergerakan Lidya saat ini. Dimana ia berjalan menuju ke mobilnya.
Setelah mobilnya berjalan, aku pun ikut menjalankan mobil mengikutinya dari belakang sambil tetap menjaga jarak tak terlalu dekat dengan mobilnya. Saat dari kejauhan, lampu sein dimobil Lidya menyala bagian kiri. Rupanya dia akan singgah di sebuah butik. Maka aku pun ikut menyalakan lampu sein, memarkir mobil di pinggir jalan tak jauh darinya. Aku menyeringai, lalu mengeluarkan secarik kertas. Dan mencatat jenis, Type dan nomor plat mobil Adit yang sudah ku hafalkan terlebih dahulu.
Mungkin cara ini adalah cara paling terlicik yang pernah aku lakukan. But! Gak ada cara lain lagi, karena keterbatasan waktu, dan juga cara ini lah yang paling tepat menurutku. Maka, aku keluar dari mobil untuk mencari seseorang dalam membantu rencanaku kali ini.
Dari posisiku berdiri, tak jauh ada seorang pengendara motor baru saja berhenti. Mungkin dia adalah supir Ojek yang sedang menunggu penumpang. Atau bahkan dia sedang mencari alamat. Maka ku putuskan mendekatinya.
“Mas...”
Dia menatapku sesaat. Aku melempar senyum kepadanya. “Iya ada apa?”
“Boleh ngobrol?” dari cara memandangnya, dia sepertinya mencurigaiku. Atau mungkin, dalam pikirannya bertanya-tanya kenapa ada orang asing yang menegurnya. Namun, aku tetap memasang senyuman kepadanya. Agar ia tak lagi mencurigaiku. “Boleh minta tolong?”
“Apa tuh?”
“Yuk! Kita ke mobilku bentar...” ujarku kepadanya. Dia sempat mengernyit, “Tenang mas... Hehehe, aku bukan begal kok!” ku jelaskan kepadanya, dan sontak ia melihat dari kepala hingga ke ujung kakiku. Dia lalu tersenyum, karena dapat ku tebak, jika setelah ia melihat penampilanku, mungkin dia berfikir jika aku bukanlah orang jahat.
“Ada apa yah mas?”
“Bentaran aja kok.” Jawabku. Maka ia pun mengangguk, sambil turun dari motornya.
Ia mengikuti langkahku menuju ke mobil.
Dalam mobil, aku mengatakan, jika ia bisa membantuku untuk tetap berada di dekat mobil itu. Sambil ku tunjuk ke arah Mobil Lidya tentunya, dan memberikan kertas kecil. Aku lalu menyuruhnya, mengatakan kepada pemilik mobil nanti, jika mobil dan plat mobil ini sesuai yang tertulis di secarik kertas, yang menabrak mobilnya.
Dia sempat heran...
Aku menjelaskan, jika akan aku tabrak karena dia adalah cewekku yang sudah selingkuh. Dia lalu tertawa, sambil melempar ucapan “Kamu tuh ada-ada aja mas...”.
“Namanya orang sakit hati mas... yang jelaskan, aku gak nyelakain dia.”
Awalnya ku tebak, dari raut wajahnya seakan ingin menolak permintaanku. Namun dengan cepat, ku sodorkan seikat uang sejumlah 1 juta. “Please yah mas.” Kataku kepada dia.
Maka ia pun tersenyum dan mengiyakan untuk membantuku. Aku hanya memintanya, setelah mobil itu aku tabrak bagian sisi kiri mobil, maka ia cukup menjelaskan saja ke pemilik mobil, jika yang menabrak ciri-ciri mobil seperti yang ku tuliskan di kertas yang saat ini sudah ia pegang.
Kemudian ku jelaskan lagi, jika sudah maka dia bisa pergi dan gak usah balik lagi. Cukup simple menurutnya.
YES!!! Dia sudah berada di dekat mobil Lidya, dan bersiap-siap setelah aku melancarkan aksiku.
Ku jalankan mobil secara perlahan-lahan, hingga saat sudah dekat dengan mobil Lidya. Maka ku tekan pedal gas agak sedikit kebawah, and! BRAKKK!!! Aku menabrak mobil Lidya bagian belakang lalu kembali menjalankan mobil.
Sengaja aku memutar jalan, dan kembali berada di posisi agak sedikit lebih jauh dari sebelumnya.
Dan Yes!!! Berhasil... Orang suruhanku, mendekati Lidya yang baru saja keluar dari butik. Sempat mereka mengobrol, dan pasti rencanaku berhasil 100%. Lidya murka, sambil terlihat ia kembali melihat kondisi mobilnya yang penyok. Setelahnya ia meraih ponsel dari dalam tasnya, dan jelas ia saat ini menelfon seseorang. Hmm! Pasti Oki yang di telfonnya.
Oke Wijaya! Jujur, aku gak begitu memahami sejauh mana, dan seperti apa orangnya. Yah! Setidaknya melihat cara Gerry menyerangku kemarin, maka aku menyimpulkan jika dua orang lainnya, Virghost dan Oki pasti mempunyai kemampuan bertarung jauh di atasnya. Cukuplah, jika Adit di keroyok oleh mereka. Karena Adit punya basic juga sebagai anggota dari JFC.
Aku lalu menjalankan mobilku, meninggalkan tempat ini menuju ke suatu tempat.
~•○●○•~
POV 3rd
Entah sial apa hari ini, seorang gadis memiliki wajah cantik namun kadang terkesan jutek. Dialah Lidya, dimana setelah mengetahui jika mobilnya yang baru saja tertabrak saat ia memarkirnya di depan butik. Ia merasa kesal yang teramat sangat. Selama perjalanan menuju ke kampus, ia tak henti-hentinya menggerutu. Apalagi sejak tadi pun ia menelfon nomor sang kakak, tak ada jawaban. Membuat mukanya tertekuk, cemberut, emosi dah! Pokoknya sedikit lagi bakal meledak. Apalagi setelah mengetahui mobil dan berplat apa dari seseorang yang sempat melihat kejadian tadi, maka Lidya merasa tak sabar untuk tiba di kampus.
Satu hal yang membuatnya seperti ini, karena jenis mobil yang menabrak mobilnya sepertinya Lidya pernah lihat. Maybe! Batin Lidya.
Dari pada menebak-nebak ada baiknya ia mencari sendiri di kampusnya. Cukup mudah sih, ia tinggal menyuruh antek-antek kakaknya untuk menggeledah semua parkiran di kampus nanti.
Jika memang benar, pengendara mobil itu penghuni di kampusnya, maka jangan sebut namanya Lidya jika ia tak membuat pengendara itu menyesal seumur hidupnya telah berurusan dengan keluarga Wijaya.
Lidya tiba di kampus, memarkir mobil di parkiran biasanya. Tergesa-gesa berjalan untuk mencari keberadaan sang kakak. Menurut Lidya, jam segini pasti anggota 4 Devils berkumpul di cafe tempat biasanya. Maka Lidya pun mempercepat langkahnya menuju ke cafe yang di maksud.
“Kak Oki mana?” tanya Lidya saat tiba di cafe.
Virghost dan Gerry, yang juga menyadari kedatangan Lidya menoleh bersamaan. Oki dan Deni tak ada di dalam cafe, membuat Lidya berjalan mendekat ke Virghost.
“Tumben... datang-datang langsung emosi gitu neng?” tanya Virghost.
“Mana kak Oki?”
“Tau tuh... dari tadi, keluar kampus belom balik-balik.” Ujar Virghost.
“Mungkin ada keperluan kali, nape emangnya Lid?” Gerry menimpali.
Lidya mendengus kesal, sambil mendaratkan pantatnya di kursi yang biasanya tempat Oki duduk. Virghost dan juga Gerry makin bingung dibuatnya, karena jika gadis ini merasa dongkol dan kesal seperti ini, pastinya ada hal sedang terjadi.
“Cerita gih... loe kenapa?”
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Lidya bercerita ke Virghost jika mobilnya baru saja di tabrak. Dan menurut informasi, dimana Lidya pernah melihat jenis dan plat mobil yang ia dengar dari saksi mata. Jika mobil tersebut, menabrak mobilnya.
BRAK!!! “b******k!” kata Gerry sambil menggebrak meja. Beberapa orang yang berada di dalam cafe, terkejut. “WOI... LOE PADE! BURUAN, NYARI SEMUA PARKIRAN DI KAMPUS INI... JENIS MOBIL BMW 320 taon 2009. Warna abu-abu, plat nomr B 401 T.” Lanjutnya memerintahkan kepada para antek-antek 4 Devils untuk mencari jenis kendaraan yang ia sebutin tadi.
“Loe tenang dulu Lid... pasti, kalo memang tuh mobil ada di kampus, bakal dengan mudah di temukan ma anak-anak kok!”
“Iya... hufhhh! BT banget sihhh. Gak tau, sial apa sih gue hari ini.” Gerutu Lidya membuat Virghost geleng-geleng kepala.
Tak butuh lama, beberapa orang telah kembali ke cafe. Mereka lalu menceritakan jika ia melihat mobil yang dimaksud terparkir di parkiran fakultas Ekonomi.
“Oke... Ger! Ini urusan gue.” Kata Virghost. “Lid... ayo!” maka mereka pun keluar menuju ke parkiran yang di maksud.
~•○●○•~
POV Adit
Gue bergegas berpamitan ma sahabat-sahabat gue setelah mendapatkan telfon dari Luna. Beuh! Nih anak, kalo ada maunya selalu saja maksa kek gini. Dan kebetulan juga jadwal kuliah gue hari ini agak lowong, makanya gue nyanggupin tadi pagi. Eh! Ini malah gak berhenti meneror gue. Hahaha! Lun... Lun!
Setelah melewati gerbang Fakultas, maka gue mempecepat langkah gue menuju ke parkiran mobil. BMW kesayangan gue, udah terlihat dari kejauhan.
Saat tiba, gue membuka pintu mobil, dan melempar begitu saja tas ke jok samping kemudi. Selanjutnya, gue bergeser dan saat ingin masuk ke dalam mobil...
BUGH!!! “ANJENGGGGGG!!! SAKITTTTT WOI!” Badan gue berbenturan keras dengan pintu mobil, bagian d**a hingga ke perut langsung terasa sakit. Hingga pintu mobil tertutup dengan sendirinya. Sakit banget, sepertinya ada yang baru saja menendang belakang gue. Ini fatal, jika orang yang gak punya keahlian menahan pukulan, bisa-bisa dibuat pingsan hanya sekali serangan. Serius, rasa-rasanya seperti baru saja terhantam oleh batu besar dibelakang gue.
Siapa yang nyerang gue yah! Batin gue sesaat. Dan saat gue baru ingin menoleh. “ARGHHHHH!!!” Rambut gue di jambak, dan muka gue di benturkan ke kap mobil. BAMM!!! Anjeng! Sakit uhhhhhh.
Parah! Sakit banget. Gue malah merasakan, hidung gue rasanya hampir patah. Sempat gue lihat ada bercak darah menempel di kap mobil, kemudian dari pantulan kap mobil, adanya pergerakan yang menyerang kembali. Refleks! Gue dengan cepat memutar badan, menghindari sebuah tendangan keras dari seseorang. BAM!!!
Beuh! Kap mobil gue, langsung peot ke dalam. Karena gue memaksa sambil membanting diri ini ke samping, membuat badan gue agak sedikit limbung. Namun, saat gue berhasil menghindari serangan tadi. Ternyata lawan gue cukup cepat pergerakannya, hingga sebuah lutut bersarang telak di wajah gue. BUGH!!!
Gue terdorong ke belakang, kepala gue pusing. Dan dengan dua lengan gue menahan agar punggung gue gak beradu dengan aspal. “VIRGHOST?” Anjeng. Kenapa gue bisa dihajar kek gini ma nih orang?
Dia berjalan maju, seringaian gue lihat di wajahnya. Ok... Ok! Gue akuin, pukulan Virghost sangat kuat, pergerakannya pun sangat cepat.
Tapi? Apa salah gue Hoi????
“Ba-bang! apa salah gue bang?” akhirnya gue bertanya ke dia.
“Masih nanya, apa salah loe?” balas si Virghost. Gue agak mundur kebelakang, menjaga jarak karena nih orang bukan orang sembarangan.
“Adiittttt...”
“Adittt napa loe?.” Gue menoleh ketika ada orang yang memanggil gue dari belakang. Ah! Itu sahabat-sahabat gue, namun sayang! Mereka tertahan oleh Gerry dan para antek-antek 4 Devils. Well! Sorry bray, ini tugas gue untuk mencoba keahlian Virghost seperti apa. Dan gue, sudah rasain gimana sakitnya terhantam oleh kaki dia.
“Jangan ada ikut campur, kalo gak mau... kena sasaran berikutnya,” ujar Virghost. Lalu, ia melepas baju berkerahnya menyisahkan kaos singlet berwarna putih yang memang biasanya ia gunakan.
“Ayo maju loe.” Lanjutnya, sambil memasang kuda-kuda.
Baiklah! Memang sudah saatnya gue memperlihatkan kemampuan gue ke mereka semua. Sambil memasang sikap waspada dengan menaikkan kedua tangan gue yang sudah terkepal.
Gue lalu langsung merangsek, melayangkan serangan jab kanan ke arah Virghost. Satu, lalu dua pukulan gue berhasil ia elakkan. Virghost menyerang balik dengan meninju d**a gue. BUGH!!! Nafas gue langsung sesak karena kerasnya pukulan.
Saat dia ingin menyelipkan satu lagi pukulan ke badan, gue menunduk dan sempat menarik kaos singlet bagian bawahnya, hingga tubuhnya agak terdorong ke bawah. Dan, gue hadiahkan upper cut di wajahnya. BUGH!!! Tak hanya di situ, gue berdiri dan dengan gerakan cepat memberikan elbow dengan siku menyerupai gaya smash di wajah bagian samping kanannya. BAM!!!
“Ughhhhh!” Giliran Virghost yang meringis kesakitan. Gue berhasil membuat darah keluar dari hidungnya.
Virghost menyeka darah itu, “Hohoho! Lumayan juga kemampuan loe, awalnya... gue gak mengira kalo loe bakal seperti ini. Ok! Loe dah siap?” tanya Virghost setelahnya.
“Sudah sejak loe nyerang gue dari belakang!” jawab gue.
Dia mengangkat dua tangannya dalam posisi Hands Up! Njir, Muay Thai style nih. Oke! Gue juga melakukan hal yang sama dengannya. Dia ma gue, sama-sama menguasai teknik bela diri muay thai. Tapi, sepertinya gue kalah di serangan awal.
Andai saja kondisi normal tanpa adanya penyerangan secara tiba-tiba di awal, mungkin gue bakal mampu mengimbangi dia. Karena jujur, kepala gue rada pusing sekarang akibat benturan keras dengan kap mobil tadi. Ditambah lagi hantaman lutut darinya, menambah kesialan gue.
Gue sama-sama berlari, saling menyerang. Serangan tangan kanan dari Virghost mampu gue elakkan dengan menggeser kepala ke samping. Dan gue membalas menyerangnya dengan elbow, namun Virghost menangkis dengan lengan. Ia melakukan serangan balasan, dan gue melakukan hal yang sama menangkis dengan lengan.
Kemudian saat gue melihat posisi dadanya kebuka, kaki kanan gue gerakin ke depan. BUGH!!!
“Ughhh!” Itu bukan erangan kesakitan Virghost doank, gue juga ke dorong ke belakang karena ternyata dia juga menendang d**a gue.
Dengan cepat, Virghost merengsek maju. Dia menyerang dengan jab kiri, gue tangkis dengan kedua lengan, memposisikan di depan wajah. Anjenggg!!! Gue tersadar jika gue salah gerakan atau salah perkiraan. Karena memang kepala gue masih pusing. Hingga! Anjir! Dari ekor mata gue, sebuah gerakan yang sangat cepat. Hook kanan dengan gerakan horizontal, mengarah ke samping wajah gue, dan gue kalah cepat darinya.
BAM!!! Sasaran pukulan Hook kanan dari Virghost berhasil menghantam telak wajah bagian samping gue. Bahkan telinga gue jadi mendengung. “SAAKIITTTT!! ARGGHHHHH!” Gue sampai terhuyung ke samping, hantaman dari Virghost membuat gue luar biasa pusing.
Belum juga gue menarik nafas, gue lihat Virghost memanfaatkan hal tersebut dengan menyerang gue kembali. Gue cuma bisa menangkis semampu gue, b*****t. Rasa pusing semakin menjadi, satu pukulan elboy Virghost akhirnya masuk mengenai hidung gue. Bugh!!! Hidung gue luar biasa perih, sepertinya ada darah mengucur. Untung gak patah hidung gue.
Jujur gue gak tau, apakah gue bakal bisa bertahan atau tidak. Pandangan gue agak mengabur, namun kedua telinga gue sempat mendengar teriakan-teriangan penyemangat dari para sahabat gue yang berdiri tak jauh dari posisi gue ma Virghost saat ini.
“Gimana... Masih kuat gak?” tanya Virghost. Gue pun menegakkan badan, dan mengangkat tangan kanan gue dalam posisi hand up. Sedangkan tangan kiri gue hanya gue posisikan setengah menekuk ke bawah.
Gue lalu bersiap, menunggu Virghost membuka serangan selanjutnya. “Sini loe... gue masih kuat.” Kata gue memanas-manasinnya.
Ia tersenyum sinis.
Gue melihat dan menghitung langkahnya saat berlari ke arah gue, dan dua kakinya telah melayang, satu bagian tertekuk. Gue buat dua lengan menyilang, saat sebuah serangan kaki kanan ingin menghantam wajah. Gue lalu menggerakkan tangan kanan gue, bergerak secara vertical saat dimana posisi kaki Virghost baru saja mendarat. Sukses! Serangan gue menghantam mukanya. Dia kuat! Yah... pukulan gue, hanya membuatnya tergeser sedikit.
“Cuih!” Virghost sempat meludah, mengeluarkan darah dari mulutnya. “Sakit juga pukulan loe.”
Gue tersenyum, lalu ia dengan cepat membalas serangan gue, jab. Hook! Dan upper cut, semua gue hindari, lalu saat dimana gue melihat ada secuil keputusasaan darinya karena serangannya gue patahkan, maka dengan gerakan menyilang, gue melompat, posisi kaki kiri baru saja terangkat berjarak 5 centi dari lantai. Dan kaki kanan, gue tekuk dan lebarkan dengan sekuat-kuatnya mengarahkan kaki gue, dan sukses menghantam telak wajah Virghost bagian depan. BAM!!! Dia terdorong, lalu saat kaki kanan gue yang baru saja menghantam wajahnya mendarat, gue meraih lengan kirinya, dan dengan kedua lengan. Gue memposisikan badan gue, membelakanginya, And! Gue tarik menggunakan bantuan pundak beserta punggung, hingga membuat Virghost terbanting ke depan. BAM!!! “Arghhhh!” teriak dia merasa sakit akibat benturan punggungnya dengan aspal. Itu pasti sakit banget.
Tanpa membuang kesempatan, gue berlari sambil melayangkan kombinasi pukulan dan tendangan yang tujuannya ingin menyasar ke d**a dan wajah Virghost. Ternyata, dia berdiri dan ikut maju ke arah gue. Dia memasang badan, dan mendorong gue sekuat tenaga. Sempat pukulan gue berhasil menghantam mukanya. Dan kini dimana posisi kaki gue yang masih tertekuk, dan bersandar di dadanya, sedangkan tangan gue, sudah di tahan oleh ke dua tangannya. Gue di dorong hingga terpental ke belakang! Bugh!!! Anjir sakit euy! Body ball Virghost lumayan kuat.
Saat gue baru saja berdiri, Virghost menyerang gue dengan style Low Kick. Tendangan kaki lurus ke depan setinggi pinggang. Ingin menyasar bagian pinggang gue, sempat gue tangkis. Dan ia meluruskan tangan kanan. Jab kanan ke arah depan, gue tangkis dengan lengan. Kepalan tangannya beradu dengan lengan bagian luar gue.
Cukup sakit sih! Tapi gue masih bisa menahan rasa sakitnya.
Di sisa tenaga, gue yang memang sengaja “bertahan” menangkis beberapa pukulannya. Saat mendapat peluang untuk memukul balik, gue memberikan pukulan hook kiri ke wajahnya. Bugh!!! Dia limbung. Saat gue menyerang dengan tangan kanan, ia menampik pukulan gue disertai dengan tinju yang mengenai ulu hati. Baru juga gue mau mengerang kesakitan, Virghost menendang kepala gue. “BAM!!!”
“ANJENG!!! k*****t! Sakittttt” Gue terhempas ke samping akibat tendangannya.
Gue mengerang kesakitan di bagian ulu hati dan kepala. Kuping gue berdengung, hal ini yang membuat gue pusing luar biasa. Di tengah perjuangan gue melawan rasa sakit, gue melihat Virghost berlari ke arah gue. Dari ayunan kaki kanannya, sepertinya ia ingin menyepak kepala gue laksana bola. Dengan melawan rasa sakit, gue berguling menghindar di momen yang tepat sehingga ia hanya menendang udara kosong.
Di posisi berada di lantai, gue memberikan serangan balasan dengan menendang keras betis kaki kanan Virghost, membuatnya terjungkal. Saat ia berada dibawah, gue bangkit lalu menerjang sambil mengayunkan lutut gue ke arah wajahnya.
Ini fatal! Dan gue akuin, kesalahan yang baru saja gue buat.
“ARGHHHHHH!” Itu suara teriakan gue, karena lutut gue beradu dengan lantai beraspal. Karena Virghost mengelak dengan menggulingkan badannya ke samping.
Dan disinilah kelemahan gue...
Gue berdiri, dan Virghost dengan cepat memegang kedua lengan gue. Ia lalu menarik kedua lengan gue ke depan, dan menekuk lutut kanannya. Membuat serangan dengan gaya vertikal dari bawah ke atas.
BLAMMMMMM!!! Sukses! Lutut beradu dengan kepala. Hingga penglihatan gue mulai mengabur.
Entah apa lagi yang terjadi setelahnya. Gue sayup-sayup mendengar teriakan sahabat-sahabat gue, dan juga suara Lidya yang berteriak menyuruh Virghost untuk berhenti.
Mungkin Virghost masih belum puas, dan ingin mengeksekusi gue...
Gue merasa udah gak kuat lagi...
Gue pejamin mata, hingga tak lama kesadaran gue mulai hilang.
~•○●○•~
POV 3rd
“Oke Adit akhirnya KO...” sebuah gumaman dari seseorang yang sejak tadi melihat dari jarak jauh pertarungan antara Adit dan Virghost.
Tanpa ada yang sadari juga, sepasang mata di tempat lain, baru saja menyeringai. Dan akhirnya pun pergi secara diam-diam.
Still Continued...