POV Adit
Saat ini, Gue ma anak-anak sedang bersenda gurau di kantin. Sahabat-sahabat gue, yang menurut gue cukup tengil. Cukup mampu mengalihkan dari masalah yang baru saja kami hadapi tadi. Bukan kami, lebih tepatnya si Reno. Apalagi si Eko dan si Rizal, sesuai dengan penjelasan gue ke mereka, dimana untuk saat ini mereka jangan dulu bertanya ke Reno. Mungkin, setelah semua tenang, baru deh kita bertanya ulang. Eko beserta Rizal saat ini, malah makin menghibur kami dengan banyolan-banyolannya.
“Eh kalo gue yang di hajar tadi, mungkin langsung mimisan kali yah? Hahahahaha.” Canda Rizal. Dan sukses membuat Reno sedikit menoleh.
“Hahahahaha, jangankan elu Wo.”
“Njirrr loe, udah gue bilang... jangan manggil gue dengan sebutan ntuh. Fak!” protes Rizal dimana Eko masih sering keceplosan memanggilnya dengan sebutan Deqwo.
“Oopsss! Sorry sengaja cuk.”
“Sengaja Ndasmu...” balas Rizal. Lalu kami semua tertawa. Tak terkecuali, Cindy pun tertawa hingga sempat gue lirik, dua bukti kembar milik doi, bergoyang-goyang saking serunya dia tertawa. Ternyata, bukan gue doank yang tersadar. Eko juga melihat ke arah d**a Cindy yang berukuran agak gede’ dari gadis-gadis seumurannya.
“Eh... eh! Ka-kalian liatin apa sih?” tanya Cindy, yang kebiasaannya. Ketika di liat ma anak-anak, kek gitu tuh. Dia pun sedikit menunduk, mengikuti arah pandangan gue ma si Eko.
“Astaaaagaaa!”
“Kenapa Cin?” Gue bertanya ke Cindy.
“Ka-kalian liatin ini?” Njir! Si Cindy malah sengaja menelungkupkan kedua tangan di kedua payudaranya. Sontak, wajah mupeng Eko langsung terlihat oleh kami semua.
“Hahahahahaha, muke loe jauh Ntungz.” Timpal Rizal. Dan Eko pun melempar botol bekas minuman, dan sukses menimpa jidat si Rizal.
“Anjir, sakit WOI!” Teriak Rizal sambil mengusap-ngusap kepalanya.
“Hahahahaha, makanya. Botak loe dijaga tuh.” Kata Eko.
Yah! Begitulah keseruan mereka saat ini. Dan menurut gue, mereka berdua plus Cindy yang dengan keluguannya, cukup mampu menghibur. Setelah kejadian tadi di lapangan, dimana akhirnya gak terjadi hal yang selama ini gue takutkan. Reno dan Oki, hanya saling bertatap-tatapan hingga Oki meninggalkan Reno tanpa alasan.
Gue awalnya bingung. Bukan hanya gue doank, Eko dan Rizal pun ikut terkejut, ketika dengan mudahnya Oki melepaskan Reno. Padahal selama ini, yang gue tau. Oki tak pernah sama sekali melakukan hal yang seperti tadi ia lakukan. Jika ada orang berhadapan dengannya di tengah lapangan seperti tadi, maka sudah bisa di pastikan lawannya bakal babak belur dibuatnya.
Semua pertanyaan dalam benak gue akhirnya terbayarkan setelah kejadian Oki dan Reno. Dimana Reno selama ini diam, ternyata menyimpan sesuatu. Entah, background Reno seperti apa. Yang jelas, kemampuan bela dirinya sudah terbukti dengan menangkap kecepatan serangan dari Gerry tadi.
Terkejut iya...
Bangga iya juga, tertambah teman yang jago bela diri. Setidaknya hidup kami di kampus, bakalan agak aman ke depannya. Keberanian Eko dan Rizal, dan juga kemampuan gue, di tambah dengan Reno, yang pastinya gak bakal tinggal diam ketika para 4 Devils kembali mencari masalah ke kami.
Andai saja, Cindy pun menguasai bela diri. Mungkin, lengkaplah sudah kelompok kami. Bisa juga dibuat kelompok, Power Rangers. Hahahahaha! Ok just kidding.
Gue mengingat, saat kami meninggalkan lapangan tadi.
“Ren... bedehhh! Sadis juga loe ternyata.” Kata Eko, yang sempat bertanya ke Reno.
Reno hanya diam, sambil menolehkan kepalanya ke Eko. Setelahnya, dia hanya melempar senyum, membuat Eko kembali keki. Gue, Rizal ma Cindy hanya diam sambil melangkah bersama ke kantin.
Tak hanya sampai disitu, Eko kembali mengeluarkan pertanyaan lagi kepada Reno. “Seriusan Ren... Hoi!” Reno saat itu menoleh kembali ke Eko.
“Kenapa Ko?” tanya Reno.
“Kenapa loe bisa menahan kepalan tangan Gerry tadi? Padahal gue sendiri, sudah pernah berantem dengan dia. Dan pukulannya cukup cepat, dan juga keras.” Gue pun, menimpali pertanyaan Eko. Bertanya ke Reno, dan dia hanya menjawab. “Refleks aja.”
Gak mungkin! Itulah yang gue pikirkan, namun dasar Reno, yang sikapnya biasa saja. Tak ada ekspresi, tak ada senyuman, makin membuat gue sama dengan si Eko. Malah jadi keki.
Yang makin buat gue bertanya-tanya, orang sekelas Oki... Kenapa bisa melepaskan Reno?
Sebaiknya, gue cukup menunggu aja...
Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan Reno? Karena biar bagaimana, cepat atau lambat, kami akan kembali bermasalah dengan geng 4 Devils.
Ok! Reno...
wait and See...
Biar waktu yang akan menjawabnya.
Beberapa jam kemudian...
Karena hari ini hari jumat, maka Kampus pun hari ini, cepat pulang. Gue ma anak-anak. Janjian untuk sekedar nongkorng bareng. Dan entah mengapa, sejak tadi Reno semakin diam. Dan sesekali, gue liat dia hanya fokus dengan ponselnya saja. Tapi syukurnya, dia juga tidak menolak ajakan kami.
Awalnya gue menawarkan ke Reno agar bareng aja ke Mallnya. Secara hanya Reno doank yang tak mempunyai mobil. Namun, gue dah menebak sebelumnya, dimana Reno bakal menolak tawaran gue, dan lebih memilih untuk menggunakan motornya.
Dengan menggunakan mobil masing-masing, maka kami bersama-sama meninggalkan kampus. Mobil Rizal sepertinya berpisah dengan kami saat di perempatan jalan tadi. Karena menurutnya, dia ingin menjemput si Lusi baru menyusul ke Mall yang telah kami sepakati sebelumnya.
Saat tiba di Mall. Gue menyadari ada hal aneh saat ini. Hahahahaha, busyet hanya gue ma Reno aja yang gak ada gandengan. Tapi, catat loh yah, Gue normal! Reno? Entahlah. Dia cukup tertutup di antara kami semua.
Awalnya sih, gue mau ngajakin seseorang. Tapi, sungguh tak tega melihat jika hanya Reno saja yang tak mempunyai pasangan. Karena gue yakin, anak itu pastinya sangat susah untuk mendapat teman bergaul. Entahlah! Reno, gue jujur masih penasaran ma loe. Seriously.
Dan kami bersama-sama berjalan, dimana Rizal dengan Lusi kekasihnya. Sedangkan Eko, masih mencoba menggoda si Cindy. Gue rasa, Eko keknya dah berhasil mengambil hati si Cindy. Karena selama ini, yang gue ketahui, Cindy sama sekali tak memperlihatkan, jika ia menolak, dan juga tak menunjukkan dia menerima. Yang jelas, dua orang itu, cukup menghibur gue maupun Reno.
Apalagi sesekali, Eko melempar gombalan-gombalan m***m ke Cindy. Dan Cindy, lucunya pun tetap meladeni candaan Eko. Entah! Apakah Eko hanya bercanda, atau memang dia sudah kebelet ma si Cindy. Hahahaha!
“Napa loe liatin gue?” Eh! Eko nyadar kalo gue sejak tadi liatin dia.
“Hahaha, gak! PEDE amat loe.”
“Ya kali. Hahahaha!”
Kami memilih nongkrong di Starbuck. Sebuah coffee and cafe, dengan logo berwarna hijau. Kami memilih nongkrong di daerah smooking. Mengingat, kami para lelaki pada merokok.
Saat pesanan kami di bawain oleh Rizal dan Lusi, maka kami kembali mengobrol. Tak begitu lama, ponsel gue berdering. Semua kawanku, melirik ke gue. “Bentar yah.” Kata gue sambil beranjak dari duduk. Gue sekilas, melihat arah pandangan sahabat gue. Hanya Reno yang gak memandang ke arah gue. Dia hanya sibuk, menikmati rokoknya dan sesekali membuka ponsel.
“Halo kak Adit.” Suara merdu terdengar nyapa gue di seberang, setelah menjawab panggilan telfonnya.
“Kenapa Lun?” Yap! Namanya Luna, heheheh! Nanti bakal gue ceritain siapa dia. Dan apa hubungannya dengan gue. Yang jelas, Luna adalah gadis yang cukup berarti dalam hidup gue selama ini.
Cukup panjang yang Luna obrolin, dan akhirnya kami memutuskan sambungan telfon, karena gue juga beralasan jika saat ini gue lagi nongkrong ma anak-anak.
~•○●○•~
POV Reno
Sabtu pagi, setelah semalaman penuh menghabiskan waktu berjibaku dengan hipotesis-hipotesis tentang Hyena. Maka aku membutuhkan sedikit hiburan pagi ini, sebelum melakukan apa yang harus aku kerjakan selanjutnya. Minimal, mendiamkan sejenak otakku yang sempat mengepul dikarenakan banyaknya pikiran-pikiran yang memenuhi di dalamnya.
Setelah mendapat telfon dari Joe yang mengajakku untuk sekedar ngopi pagi ini, maka ku iyakan sebelumnya tawaran darinya. Dengan mengendarai motorku, aku pun menuju ke sebuah cafe yang telah di sebutkan oleh Joe tadi. 20 menit, aku tiba di cafe. Dan sempat ku lihat mobil SUV milik Joe terparkir di parkiran cafe.
Aku memarkir motor, melepas jaket dan juga helm. Kemudian berjalan masuk. Saat tiba di dalam Cafe, aku melihat Joe telah duduk di salah satu meja di bagian sudut ruangan. Sekilas ku lirik nomor mejanya ‘44’.
Joe pun melihat kedatanganku, langsung mengangkat tangan kanannya. “Ren!” Aku melempar senyum ke Joe.
“Joe!” kataku membalas sapaannya. Maka aku pun melangkah menuju ke meja tersebut. “Sorry telat!” kataku selanjutnya, ketika mengambil tempat dihadapan Joe.
Pagi ini, penampilan Joe tak beda denganku. Sama-sama memakai kaos oblong, dimana aku memakai kaos berwarna Grey. Sedangkan Joe, memakai kaos berwarna hitam. Sedangkan bawahan, sama-sama memakai jeans.
“Its ok! Gue juga baru nyampe kok.” Kata Joe menjawab perkataanku tadi. “Pesan kopi kan?”
“Ya!” jawabku. Lalu Joe memanggil pelayan cafe. Saat pelayan cafe tiba, aku pun menyebutkan pesananku. “Ekspresso coffee,”
“Baik.” Kata pelayan itu.
Tak begitu lama, pesananku pun di antarkan oleh pelayan yang sama. “Thanks mas!” dan menyempatkan berterima kasih kepadanya. Kami yang duduk berhadapan menikmati secangkir kopi, sambil tak lupa menghisap rokok Garpit kesayanganku.
“Semalam nginap di?” itulah yang pertamakali Joe tanyakan setelah kami selesai mengaduk kopi dengan sendok kecil, dan juga setelah selesai membakar rokok. Yang ku ketahui tentang Joe, dimana sejak dulu rokoknya Marlboro red.
“Hotel!” jawabku singkat.
“Gak pernah berubah juga loe yah... Hahahaha!” kata Joe sambil menyeruput kopinya.
“Ya! Kebetulan suka aja, dan-“
“Kenapa loe gak beli appartemen aja, Ren?” Joe memutus pembicaraanku, tatapannya masih gak berubah. Dimana, Joe akan selalu tak melepas pandangan ketika sedang berbiacara dengan seseorang.
“Gak berminat.” Jawabku, sambil menggidikkan kedua bahu. Ku alihkan pandanganku, kemudian menghisap filter garpit.
“Loe gak mau berinvestasi atau apa gitu?” tanya Joe. Aku hanya menggelengkan kepala. Ku raih cangkir dihadapanku, kemudian menyeruput kopi dalam cangkir tersebut. Srupppp!!!
Nikmat Kopinya! Batinku sesaat.
“Dasar aneh.” Gumam Joe, dan kini ia tak lagi menatapku.
“Emang kamu baru kenal aku?” gumamku.
“Hahahahaha... gak lah! Makanya gue nanya, masa iya loe gak pernah berubah.” Kata Joe sambil tertawa. “Btw... gimana kabar di kampus loe?” lanjut Joe, setelah tak mendapatkan respon dariku mengenai pembahasan tentang investasi. Maka, dia mengalihkan pembahasan mengenai seputar kampusku.
“Biasa aja, sejauh ini... gak ada yang menarik sih.” Kataku menjawab pertanyaannya.
“Ohh! Dengar-dengar, disana banyak b******n juga?” Tanya Joe. Sempat ku kernyitkan keningku, karena sedikit merasa aneh. Dimana tumben, Joe tertarik dengan hal seperti ini.
Ku lihat, Joe menaikkan alisnya satu. Seakan, menantikan jawaban atas pertanyaannya tadi.
Aku juga membalas tatapannya. “Ohh! mereka.”
“Loe gak pernah bermasalah dengan mereka?”
“Pernah. Dan! Aku malas sih, berurusan dengan mereka.” Seperti biasa, temanku yang satu ini. Paling mengerti setiap kali mulai membahas suatu hal, dan aku hanya meresponnya seperti itu. Maka, dia langsung merubah pembahasan ke hal yang lainnya. Seperti saat ini, dimana Joe malah membahas dirinya sendiri.
Kerjaan Joe. Kerjaan yang sebenarnya! Karena Joe, bekerja sebagai Supervisor Akunting di perusahaan yang cukup terkenal di ibu kota. Selanjutnya, Joe menceritakan jika dia mempunyai keinginan untuk menikah.
“Menikah?” gumamku dengan nada tanya.
“Hehehe... keinginan doank Ren! Gak tau deh, siapa calonnya nanti.” Ujar Joe, sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Karena rokok sebelumnya, telah ia letakkan di asbak. Joe ini, hanya menghisap setengah batang setelahnya ia akan membuang rokok tersebut.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Kemudian, aku pun merespon obrolannya.
“Yakin? Bukannya, kamu pernah bilang... kalo sebagai anggota Associated! Kita akan tetap seperti ini, dan jangan pernah berfikir mengenai urusan duniawi yang sebenarnya?” tanyaku sambil menatapnya.
“Yap! Itu memang benar... and! Selama kita menjaga kerahasiaan kita sebagai team, maka gue yakin. Pak Edward, gak akan permasalahkan jika kita menikah.”
“Ohh.” Kataku. Sebenarnya, aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah Joe serius dengan apa yang katakan tadi?
“Banyak kok, senior-senior kita yang sudah menikah. Dan tetap masih menjalankan profesinya hingga saat ini, tanpa diketahui oleh keluarganya.” Kata Joe, membuatku hanya ngangguk-ngangguk. Dalam hati pun membenarkan apa yang di katakan Joe barusan. Dimana, memang pendahulu kami, rata-rata sudah menikah. Dan, sejauh ini gak ada masalah dengan pernikahan mereka.
Tapi, ada hal yang sedikit membeban dalam benakku secara tiba-tiba. Maka aku lalu menatap Joe sesaat, “Bagaimana jika, keluarga mereka mengetahui dia sebagai anggota Associated?” Joe menyeringai, sebelum menjawab pertanyaanku barusan.
“BUFHHHHH” kata Joe, sambil kedua tangannya seakan memperagakan sebuah ledakan.
“Ohhh! Seperti dugaanku.” Gumamku pelan.
“Maka dari itu, tugas kita untuk menjaga kerahasiaan tentang profesi yang sedang kita lakonin... Bukan begitu Ren?”
“Entahlah! Aku belum memikirkan sejauh itu Joe.”
“Iya kan loe masih muda, sedangkan gue?”
Aku menggidikkan kedua bahu. Dan kini, pandangan ku alihkan ke samping. Beberapa meja, sudah terisi oleh beberapa pengunjung cafe yang baru saja tiba. “Cukup rame, tempat ini.” Gumamku. Yang sebetulnya, ingin mengalihkan topik obrolan. Dan Reno selalu mengerti dengan sikapku seperti ini.
Setelanya, kami hanya diam. Dan tak melanjutkan obrolan tentang hal di atas. Joe yang memang tak habis bahan diskusi, maka dia pun kembali membahas tentang hal yang sedikit berat.
Joe menceritakan, kondisi Assosiate saat ini seperti apa. Teman-teman seprofesi kami, sedang mendapat job apa?
“Dan loe tau?” tanya Joe tiba-tiba.
“Apa?”
“Dua hari lalu, agen Type DD 03... gagal dalam menjalankan misinya,”
“Ohh, pasti misinya berat.” Gumamku, sambil menghisap filter garpit.
“Gak juga Ren... tapi kebetulan, TO menyewa jasa Black Jack.” Jawab Joe, membuatku sedikit mengernyit. “Dan para Black Jack, berhasil menggagalkan misi teman kita... untung saja, mereka bisa selamat dan kabur dari TKP.”
“Ohh mereka lagi.” Gumamku. Aku tau karena beberapakali berhadapan dengan mafia, yang menamakan diri mereka ‘Black Jack’.
“Bukannya, loe juga sempat berhadapan dengan mereka kan?” tanya Joe.
“Kamu juga, pastinya.” Ku balikkan pertanyaan ke Joe. Dan dia, tampak nyengir. “Dan aku rasa, mereka bukan penghalang bagi kita.” Lanjutku bergumam ke Joe.
“Yah untuk DD 01, bukan masalah... tapi bagi teman-teman yang mendapat predikat 02 dan 03! Mungkin agak kewalahan Ren.”
“Makanya, suruh mereka belajar lagi...” jawabku singkat.
Setelahnya, tak adalagi pembahasan mengenai Associated. Hanya sekilas kami obrolin, namun cukup mampu aku mengetahui kondisi di perusahaan seperti apa. Kondisi para Hitman lainnya yang mempunyai predikat dibawah aku dan Joe. Mereka harusnya, di training kembali oleh Pak Edward. Biar mereka, bisa melumpuhkan para orang-orang yang mencoba menggagalkan eksekusi mereka.
“Oh iya, sampai dimana kabar Autumn yang saat ini loe jalankan?” Aku terdiam. Padahal awalnya aku sama sekali tak menyinggung akan hal itu ke Joe. Darimana dia mengetahuinya?
“Hehehe... santai bro! Gue tau loe sedang menjalankan misi Autumn yah dari Pak Edward. Dan dia sempat berpesan, kalo loe butuh bantuan. Maka gue jangan menolaknya.”
“Ohh!” aku hanya ngangguk-ngangguk. Terbersik di pikiranku, apakah Pak Edward mulai meragukan kemampuanku? Entahlah, aku juga sedang malas mengganggu konsentrasi dari misi yang ku jalankan saat ini. Tak ingin dulu memikirkan hal lain selain, TO dan beberapa metode cara untuk mengeluarkannya dari persembunyian.
“HYENA! Udah tau... siapa dia?”
“Sedikit!” jawabku.
“Ohh... hubungi gue, kalo loe butuh bantuan.”
“Sepertinya, belum Joe.” Jawabku ke Joe.
Saat kami sedang asyik-asyiknya mengobrol, dari arah pintu masuk. Dua orang, dan salah satunya tak asing bagiku. “Ssstttt Joe... kamu Keep Calm!” gumamku ke Joe.
Joe melihat ke arah pandanganku saat ini. Gerry! Yah dialah yang masuk bersama pria lain yang tak aku kenal. “Siapa dia, Ren?” sempat, Joe bertanya dengan suara pelan.
“Gerry... teman kampus.”
“Ohh!” Ternyata, Gerry juga menyadari keberadaanku di tempat ini. Aku dan Gerry, saling bertatapan. Agar gak terjadi masalah, maka ku anggukkan kepala ini biar terkesan sopan kepadanya.
“Sepertinya dia b******n di kampus loe yah?” Aku tak jawab. Dan Joe paham, ekspresi ku yang tetap tenang, berarti menandakan dia harus berhenti berbicara. Apalagi, saat Gerry mendekati meja kami.
“Sabar aja... Joe!” Aku berbisik ke Joe.
“Woles bro... kan, bukan kerjaan kita.” Balas Joe.
“Good!” gumamku.
Dan kini, Gerry telah berdiri di hadapanku, ia lalu menyeringai sesaat...
Aku melihat, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. DAMN!!!
Sebuah pistol, berukuran agak kecil dari yang biasa aku gunakan. Selanjutna, Dia mengarahkan ujung pistol tepat di wajahku. Dari ekor mataku, sempat melihat ekspresi Joe, yang juga masih biasa. Gak ada ekspresi terkejut, takut dan juga ingin melakukan sebuah tindakan. Jika dilihat dari bentuknya, sepertinya pistol yang sedang di todongkan kepadaku, cukup aneh. Jujur, aku baru melihatnya.
“Loe takut yah?” Itu kata Gerry. Aku menjawab, hanya mengangguk pelan.
“Hahahahaha! Padahal ini hanya macis doank! Dasar pengecut!” kata Gerry, sambil tertawa terbahak-bahak. Aku dan Joe, saling berpandangan sesaat, lalu kami memandang kembali ke Gerry. Memberikan senyuman ramah kepadanya, agar ia tak lagi mencari masalah kepada kami. Apalagi ada Joe disini, bisa-bisa nyawa Gerry bakal ilang.
Selanjutnya, aku lihat Gerry membakar rokoknya, lalu. “Cuihhh! Dasar pengecut...” kata Gerry sembari pergi meninggalkan aku dan Joe.
Setelah kepergian Gerry bersama temannya, Aku dan Joe, saling bertatapan...
Cukup tajam tatapan kami berdua, hingga di ujung bibir Joe, ku lihat senyuman kecil. Aku pun melakukan hal yang sama dengannya. “Ribuan senjata mematikan pun, pernah di todong ke wajah kita. Tapi, kita gak mundur!”
“Hmm...” aku hanya berdehem, lalu tersenyum lagi.
Setelahnya, Kami kembali nyantai. Menikmati sisa-sisa kopi. Sempat ku lirik ke meja Gerry, dia sedang mengobrol dengan kawannya. Lupakan dia. Aku kembali ngobrol dengan Joe.
Tak lama, aku berpamitan ke Joe. Dan dia cukup mengerti dan mengizinkan ku untuk pergi. Sempat Joe melempar perkataan, “Jika butuh bantuan tentang Hyena, call gue yah Ren!”
Aku hanya memberikan jempol kanan kepadanya. Tanpa menjawab dia cukup mengerti, jika aku saat ini belum memerlukan bantuannya.
~•○●○•~
Aku tiba di Hotel, membuka seluruh pakaian, dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku memilih untuk kembali mandi, padahal pagi tadi aku sudah mandi. Namun, aku rasakan sedikit gerah. Apalagi otakku masih agak full dengan pikiran-pikiran tentang banyak hal.
Setelahnya, aku hanya memakai kaos kutang dan bawahan celana pendek. Berjalan melewati ranjang, dan memilih langsung duduk di meja kerja. Karena sedang gak ada lagi yang akan ku kerjakan di luar sana. Maka aku lebih memilih untuk kembali fokus terhadap mencari tau lebih dalam lagi, informasi-informasi mengenai TO bernama Hyena. Jelas juga, aku hari ini sudah harus memastikan, apakah target benar si Antoni, atau malah yang lain yang akan aku eksekusi.
Setelah sejam lamanya, aku berjibaku di depan laptop. Maka, ku putuskan saja, jika tak ada lagi nama lain, yang bisa menggantikan pilihanku saat ini. Antoni Ancuker Jabrik, memiliki semua yang telah berada di catatanku. Aku sama sekali tak ragu, dan telah menargetkan Antoni sebagai TO dengan code name “HYENA”
Sejenak, ku seruput kopi, menghisap filter garpit, sambil tak lupa sesekali mencatat beberapa poin-poin penting di buku agendaku. Yang jelas, hingga saat ini TO, belum ku ketahui keberadaannya dimana. Beda dengan beberapa Misi yang sering aku dapatkan.
Dimana pesan yang masuk, lengkap dengan alamat, nama lengkap beserta foto si TO dengan jelas. Karena ini adalah misi Autumn, dengan tingkat kesulitan di angka 9,9 poin. Maka bayarannya tentunya, sesuai dengan tingkat kesulitan sebuah Misi. Dan itu juga yang membuatku tertantang untuk mengambil misi tersebut. Di tambah lagi, aku memang menyukai sebuah tantangan.
Dalam diamku, aku mencoba menebak-nebak dalam benak, apa tujuan TO hingga melenyapkan ke 4 selebgram. Dan bagaimana cara dia, bisa mempengaruhi targetnya agar bisa datang ke tempat yang ia tunjuk? Setelah kejadian kematian mereka, tentu saja para Selebgram lainnya makin ketakutan. Dan aku memprediksi, jika mereka dalam waktu dekat ini, berhenti menerima tawaran job prostitusi. Pastinya mereka akan mengantisipasi agar diri mereka tak jadi korban berikutnya.
Apakah Hyena akan diam saja? Tentu saja tidak. Dia akan merubah caranya dan mekanismenya untuk menggaet korbannya.
Setelah berfikir panjang, aku kembali menyibukkan diri dengan laptop, agenda dan sebuah pulpen yang sejak dua hari yang lalu menemaniku untuk memecahkan case ini. Case siapa TO, dan apa motif pembunuhannya, dan juga kenapa memilih ke 4 selebgram itu menjadi targetnya. Ku kumpulkan beberapa informasi, dan mulai ku pecahkan sedikit demi sedikit.
Pertama, informasi persamaan dari ke-empat korban, hingga mereka berempat menjadi target Hyena. Aku harus mencari tau hal itu, untuk bisa memancing TO keluar dari persembunyiannya.
Aku membuka foto ke empat korban sebelumnya. Ke empat foto telah berada di layar laptopku saat ini. Satu persatu ku zoom, dan mencari tau apakah dari foto ini, bisa membantuku dalam memecahkan apa yang menjadi pertanyaan dalam benakku sejak kemarin.
Setengah jam lamanya, aku memperhatikan satu persatu foto dari ke empat korban. Bahkan hingga aku jejerkan keempat foto terakhir para korban yang mereka posting di i********: masing-masing dalam 1 layar. 3 dari 4 foto pose foto memiliki kesamaan. Foto close-up dengan ekspresi tersenyum lebar. Sementara pose foto Rinjani paling berbeda, ia menghadap ke pantai dan membelakangi kamera dengan caption. “Lelah….”
Well, Dua hari kemudian Rinjani ditemukan tewas di hotel kelas melati dengan kondisi yang yah! cukup mengerikan bagi orang pada umumnya.
“Kenapa kalian di pilih oleh HYENA, hmm?” Aku bertanya kepada diriku sendiri. Pasti ada hal lain, selain status kalian sebagai selebgram. Ketenaran kalian di dunia maya bukanlah satu-satunya sebab. Serandom-randomnya seorang psikopat memilih korban, pasti setiap korban memiliki sesuatu yang men-trigger si psiko untuk bertindak jauh. Kalau kasus HYENA, ciri fisik menurutku yang paling mudah bagi HYENA untuk menentukan korban.
Selebgram…
Prostitusi online…
Ciri fisik…
Yap! Ciri fisik. Tepat saat aku menatap foto Rinjani, aku seperti tersentak. Lalu aku melihat kembali foto ketiga korban setelah Rinjani. Ketiganya memiliki kesamaan!! Aku lalu membuka i********: milik Rinjani dan mencari foto-foto Rinjani dengan pose tertentu. Sialan, pose foto yang aku cari tidak ada. Semua foto yang sudah ku lihat, cara pengambilan gambarnya terlalu jauh, tidak akan mudah terlihat.
Close-up!!! aku harus mencari foto close-up Rinjani!
Jari di mouse, masih mengskroll hingga ke bawah-bawah. Akhirnya di foto pertama Rinjani saat memulai i********:, aku menemukan foto yang aku cari. Foto close-up Rinjani yang tengah tersenyum lebar dengn caption “Hello World!! Please be kind to me!”.
Meskipun hitam-putih tetapi foto ini sudah memperkuat dugaanku. Keempat korban memiliki kesamaan fisik yang menarik HYENA untuk memilih mereka sebagai korban. Yaitu bergigi ginsul. Sepertinya HYENA memang memiliki Fetish atau ketertarikan lebih kepada para cewek bergigi gingsul.
Namun menemukan fakta kesamaan fisik para korban hanyalah langkah awal, Langkah berikutnya yang jauh lebih susah. Mencari dan meneliti para Selebgram yang terlibat dalam prostitusi online dan memiliki gigi ginsul sama seperti ke empat korban sebelumnya.
Mencari tau hal ini, memang cukup sulit bagiku. Dimana aku harus, membuka satu persatu nama-nama selebgram yang cukup terkenal saat ini. Cukup banyak nama yang ku dapatkan, jumlahnya ratusan. Maka ku lihat satu persatu akun mereka.
Ada yang punya lesung pipi, ada yang punya senyuman aneh. Pokoknya, setelah melihat sejumlah akun, mungkin 50-an ada kali. Maka ku putuskan untuk mengistirahatkan kedua mataku. Aku beranjak, dan berjalan ke westafel untuk membasuh wajah. Setelahnya, aku pun meneguk sebotol air mineral untuk menyegarkan tenggorokanku.
Merasa cukup, aku kembali menuju ke meja kerja. Aku mulai membuka akun lainnya, sesuai daftar yang ku dapatkan dari berbagai informasi.
Setelah sekian banyak yang aku liat, ternyata aku hanya mendapatkan 5 orang saja yang mempunyai kesamaan ciri-ciri dari ke empat korban sebelumnya. Butiran keringan di kening, menandakan aku cukup lelah sejak tadi menatap layar laptop. Tugas selanjutnya, aku mulai mengkrucutkan lagi, karena gak mungkin dalam sisa waktu yang hanya 5 hari ini, gak bakal bisa menemukan ke lima orang itu, dalam jangkauanku saat ini.
Kesamaan selanjutnya adalah, memiliki mata yang sipit dengan kata lain, turunan Panlok. Dan aku menemukan 2 orang. Bernama Siska dan Luna. Ku catat kedua nama gadis yang akan menjadi target berikutnya. Tak lupa, aku pun mencatat alamat lengkap keduanya.
Setelah kembali melihat dengan seksama, kedua foto antara Siska dan Luna. Dari keduanya, hanya si Siska lah yang paling memungkinkan, untuk menjadi target Hyena berikutnya. Yang harus ku pecahkan saat ini, seperti apa, motif Hyena berikutnya. Karena gak mungkin lagi, ia memakai cara seperti sebelumnya.
Yang jelas, malam ini aku harus bisa menemukan keberadaan si Siska. Karena besok, aku akan menemui si Luna. Minimal menemukan sesuatu, dan berharap bisa memancing Hyena keluar dari persembunyiannya.
Still Continued...