Masih dengan tawa kecilnya Nyai Pamitri berkata kepada Bagas, "Bukan kata-katamu yang kutertawakan, tetapi sikapmu yang lucu. Padahal belum sehari kau mengenalku, tapi bisa-bisanya memintaku menjadi gurumu. Hahahaha ...." "Justru Nyai yang aneh. Melarangku membalas dendam tapi menertawakanku saat aku memintamu menjadi guruku." Baga memberanikan diri menjawab kata-kata Nyai Pamitri. "Hei, dengar ya anak muda. Luka-lukamu saja baru kuobati. Kamu masih harus beristirahat sampai kamu sembuh total dulu, setelah itu baru kita bicarakan lagi soal menjadi guru dan murid." kata Nyai Pamitri setelah tawanya mereda. "Jadi Nyai bersedia menerimaku sebagai murid?" kata Bagas dengan mata berbinar-binar. "Heh siapa bilang aku mau menjadi gurumu? Sudah. Jangan ngomongin lagi tentang itu. Kamu pasti

