Semua murid murid Padepokan Sentinel telah pulang ke rumahnya masing-masing, saat itu waktu menunjukkan pukul empat sore namun langit terlihat mendung. rona gelapnya menyamai seperti gelapnya waktu maghrib.
Di teras rumah Prayoga tengah membuka sebuah buku yang ukurannya tidak terlalu tebal, dan sepertinya buku itu ditulis tangan dan bukan sebuah buku yang dicetak di percetakan. Ukurannya cukup besar seperti ukuran kertas folio, di sampulnya di sana tertulis Kitab Pukulan Sakti Cahaya Matahari, dan kitab itu adalah sebuah ilmu pukulan sakti yang ditulis langsung oleh gurunya sendiri dan Prayoga mendapatkan kehormatan untuk mewarisi Kitab Pukulan Sakti Cahaya Matahari.
Tiap kali dia membuka lembar demi lembar dari kitab itu membuatnya terbayang kembali masa-masa saat dulu dia belajar pukulan sakti itu dari gurunya, Prayoga adalah termasuk murid yang paling pandai di antara murid-murid gurunya.
Dan untuk pertama kali di padepokan gurunya tersebut Prayogalah yang ditunjuk oleh sang guru untuk belajar langsung ilmu Pukulan Sakti Cahaya Matahari kepadanya.
Saat Prayoga lulus Kitab Pukulan Sakit Cahaya Matahari diberikan oleh sang guru pada Prayoga sebagai berbentuk kenang - kenangan.
Dan kini tak terasa kalau air matanya pun kembali menetes di saat Prayoga membuka - buka kembali lembaran demi lembaran dari kitab itu.
Maka terbayanglah kembali wajah gurunya yang teduh penuh kasih dan sayang dalam mendidik dirinya hingga membentuk karakternya menjadi seperti yang sekarang ini.
Sifat pengasih yang dimiliki oleh gurunya itulah yang kini ikut pula berpengaruh dalam diri Prayoga sehingga dia begitu mengasihi murid-muridnya, bahkan termasuk Bagas. Bahas adalah muridnya yang paling sering kali malas dalam berlatih akan tetapi mempunyai temperamen yanh mudah marah dan suka mencari - cari masalah dengan orang lain.
"Panjang umur kamu, Nak. Baru saja aku tadi memikirkanmu, tiba-tiba saja kamu sudah berada di depan gerbang. Kemarilah, masuk lah." Panggil Prayoga kepada muridnya yang tiba - tiba terlihat berdiri dindepan pintu pagat Padepokan Sentinel.
Bagas sebenarnya berdiri di depan pintu gerbang padepokan sentinel sejak tadi namun kedatangannya itu batu di sadari oleh Prayoga. Begitu Prayoga melihat Bagas yang berdiri di sana maka Prayoga pun segera memanggilnya.
Bagas tersenyum kemudian dia menghampiri sang guru dan mencium punggung tangannya.
'Tumben, nggak biasanya anak ini bertingkah begini' membatin Prayoga ketika melihat tingkah laku Bagas saat itu yang dinilainya tidak seperti biasanya.
Bagas mencium punggung tangannya dan menyunggingkan senyuman, bukanlah hal biasa yang dilakukannya.
Akan tetapi sebagai orang yang tak terbiasa untuk berburuk sangka kepada siapapun, Prayoga justru melihat dari sikap Bagas itu sebagai sebuah perkembangan baik, dia berharap sikap Bagas yang sekarang itu akan terus bertahan selamanya.
Prayoga kemudian mempersilakan muridnya untuk duduk di sebelahnya. Lantas Prayoga menutup kitab yang sedang dibacanya, kemudian bertanya kepada Bagas, "Sudah lama kamu tidak mengikuti latihan, Kamu kemana saja?"
"Maafkan aku, Eyang, untuk seminggu ini aku sedang berduka karena tunanganku meninggal dunia." Terlihat wajah Bagas sedikit suram saat mengatakan hal itu.
"Ya. Ya. Aku tahu tentang kematian Annisa tunanganmu itu, akan tetapi selama seminggu ini aku tidak melihatmu berada di sana. Apakah kamu juga menghadiri tahlilan dari malam pertama sampai malam terakhir?" Prayoga bertanya menyelidik.
"Tidak Eyang, aku tidak ikut menghadirinya, karena jujur saja setiap kali aku melihat rumah Annisa, bayangan wajah Annisa kembali melintas di pikiranku. membangkitkan rasa sedihku karena kehilangan dirinya.
Semuanya seakan kembali terasa mencabik-cabik di dalam batinku, hal itulah swbabnya maka pada malam pertama sampai malam ketujuh aku tidak bisa ikut hadir dalam acara tahlilan untuk Annisa." Bagas pun menuturkan alasannya untuk ketidak hadiran dirinya dalam acara tahlilan di rumah Annisa.
"Ya sudahlah, yang penting dirimu sekarang dalam keadaan sehat - sehat saja tanpa kekurangan satu apa pun. Kapan rencana kamu akan kembali berlatih?" tanya Prayoga kepada Bagas yang Saat itu posisinya menunduk, seakan tak berani menatap mata gurunya.
Bagas pun menjawab, "Besok aku akan kembali untuk latihan. kalau kunjunganku sekarang niatnya hanya untuk silaturahmi saja, Eyang. Karena lebih dari seminggu ini aku tidak dapat ikut hadir dalam latihan rutin di Perguruan Sentinel ini."
"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan. Setiap orang pasti ada alasannya ketika dia tidak bisa ikut hadir dalam latihan. Aku tidak pernah mau menanyakan apa alasan ketidak hadiran murid - muridku, karena aku yakin kalau dia mengerti betapa pentingnya ikut latihan bela diri untuk pertahanan dirinya, niscaya dia akan berusaha semaksimal mungkin hadir dalam setiap jadwal latihan berlangsung."
Eyang sejak tadi duduk di sini?" tanya Bagas kepada Prayoga gurunya.
"Sejak anak-anak yang berlatih pulang, aku disini saja . Menikmati sejuknya udara sore, karena seperti kau lihat sendiri bahwa di langit saat ini cuacanya mendung, aku suka setiap kali cuaca mendung seperti ini. Selain udaranya menjadi tidak panas juga angin yang berhembus sepoi itu sangat menyegarkan ketika tubuh terkena tiupannya." Prayoga menjawab pertanyaa Bagas.
"Apakah Eyang mau kubuatkan kopi?" tanya Bagas kepada gurunya secara tiba - tiba.
"Memangnya kamu bisa membuatkan kopi untukku? tanya Prayoga ragu, karena kenyataannya selama ini Bagas tidak pernah membuatkan dia Secangkir Kopi pun selama Bagas mengabdi menjadi murid di Padepokan Sentinel tersebut.
"Kalau sekedar membuatkan kopi aku bisa, Eyang. Kalau Eyang mau akan aku buatkan sekarang," kata Bagas kembali menawarkan dirinya untuk membuatkan secangkir kopi kesukaan Prayoga.
Memang biasanya kalau sore begini apalagi cuacanya mendung biasanya di teras Prayoga akan menikmati hembusan dinginnya angin, sesekali melihat kilatan cahaya petir di langit. Dia biasanya ditemani dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek kesukaannya, namun kali ini karena dia terlalu fokus untuk membaca kembali Kitab Pukulan Sakti Cahaya Matahari maka dia terlupa untuk membuatkan kopi bagi dirinya sendiri.
Akhirnya Prayoga pun memberikan izinnya kepada Bagas untuk masuk ke dalam rumah dan membuatkan Secangkir kopi, malah dia sendiri menawarkan kepada Bagas untuk membuat 2 gelas sekalian. Selain satu untuk dirinya, satu lagi memang untuk Bagas, jika memang dia mau ikut pula menikmati secangkir kopi di sore yang teduh itu.
Bagas merasa senang telah diizinkan membuatkan secangkir kopi bagi gurunya, dan karena gurunya juga memang kebetulan menawarinya untuk membuat kopi juga dengan senang hati akhirnya dia membuat segelas kopi lagi untuk dirinya.
Akan tetapi yang Prayoga tidak tahu adalah bahwa Bagas sudah menyiapkan obat tidur yang di belinya di pasar untuk dituangkan ke dalam gelas kopi gurunya.
Itulah sebagian rencana busuk yang dipikirkan oleh Bagas untuk mendapatkan Ajian Pukulan Sakti sebagaimana yang diceritakan oleh Mbah Wongso yang ditemuinya di sungai Saat dirinya dalam pelarian setelah membunuh tiga orang preman.
Dituangkannya botol kecil yang berisi butiran - butiran pil yang akan membuat gurunya tertidur, Bahas mengaduknya kembali.
Obat tidur itu akhirnya larut dalam kopi sehingga gurunya gakkan menyangka kalau di dalam gelas kopi yang dibuatnya kini mengandung maut yang menhincar nyawanya.
Dengan berhati-hati Bagas kemudian menaruh dua gelas berisi kopi itu ke atas nampan, lalu Bagas pun berjalan menuju teras rumah.
Sangat hati-hati Bagas meletakkan kopi yang dibuatnya tadi ke meja. diletakkannya gelas yang sudah betcampur obat tidut itu lebih dekat kepada gurunya, dan dia meletakkan satu gelas lagi di atas meja dan di letakkan di dekat dengan kursi tempatnya duduk tadi.
"Kalau boleh saya bertanya, Buku apa yang sedang Eyang baca?" Bagas pura-pura bertanya, padahal sebelumnya tadi dia juga sudah sempat melihat sampul buku tersebut. Tebakannya pastilah biku itu yang diceritakan oleh Mbah Wongo, pada judulnya terbaca kalau buku itu tentang sebuah ajian Pukulan Sakti yang diberi nama Cahaya Matahari.
"Buka ini adalah berisi tentang sebuah ilmu Pukulan Sakti yang diberi nama Cahaya Matahari. Aku menerima kitab ini dari Guruku, yang dia bilang katanya agar aku menyimpannya sebagai kenang - kenangan setelah dulu aku tamat belajar ilmu itu darinya." Prayoga dengan senang hati menjelaskan tentang bukubyang tadi dibacanya yang kini diletakkannya di mejam
Apakah itu semacam ilmu yang menggunakan tenaga dalam, Eyang?" Bagas terus bertanya, tampak jelas kalau dia ingin tahu lebih dalam tentang Pukulan Sakti Cahaya Matahari.
"Ya, kamu benar. Ini bukanlah sebuah pukulan biasa, memang melibatkan tenaga dalam. Dan untuk menguasai Ajian tersebut adalah melalui laku tirakat berat yang harus dijalani.
tetapi jika seseorang bisa lolos melakukan tirakat sebagaimana yang tertulis dalam buku ini dia akan memiliki kesaktian yang begitu luar biasa, karena siapa pun terkena Pukulan Cahaya Matahari ini maka tubuhnya akan menjadi hangus seperti habis dibakar."
Mendengar penuturan gurunya Bagas jadi merinding juga, begitu mendengar kesaktian dari ilmu Pukulan Sakti Cahayq Matahari
Di dalam pikiran Bagas di sudah bisa menebak kalau sebenarnya gurunya sudah memiliki ilmu tersebut, maka kalau dia meminta sendiri untuk diajari pasti langsung di tolak oleh sang guru, itulah sebabnya maka dia menggunakan cara licik buah dari rencana busuknya untuk menyingkirkan gurunya sendiri hanya demi mendapatkan Pukulan Sakti yang nanti akan digunakannya untuk membunuh saingannya sekaligus musuh bebuyutannya, yaitu Faqih.
Dengan sabar Bagas menunggu gurunya untuk meminum kopi yang tadi dia buatkan. Dan benar saja setelah dirasa kopinya mulai hangat maka sang guru pun meraih gelas kopi tersebut kemudian meneguknya dan minum sampai setengahnya.
Bagas memperhatikan dengan seksama perubahan apa yang akan terjadi dengan sang guru setelah meminum kopi hangat yang dibuatnya yang telah ditambahkan pil obat tidur dalam kopi tersebut.
"Apakah murid-murid Eyang juga nantinya akan diajarkan pukulan sakit tersebut?" tanya Bagas ingin mendengar langsung pernyataan dari gurunya tentang Ajian tersebut apakah akan diajarkan kepada murid-murid perguruan Sentinel.
"Tentu saja aku pasti akan menurunkan ajian pukulan tersebut, namun tidak kepada setiap murid - muridku akan mendapatkan ajian tersebut. Akan tetapi siapa-siapa saja yang berhak untuk kuturunkan Ajian Pukulan Sakti Cahaya Matahari ini maka aku pasti menurunkannya."
Ketika menjelaskan terlihat kalau dia sekarang sudah mulai menguap beberapa kali merasakan kantuk sebagai efek dari obat yang diberikan oleh Bagas yang tercampur di dalam kopinya mulai bereaksi di dalam tubuh sang guru.
"Tak terkecuali dirimu, Bagas. Jujur saja aku tadi sempat kaget melihat perubahan sikapmu kini dibandingkan kamu yang dulu sebelum datang ke sini untuk silaturahmi, jangankan untuk datang bersilaturahmi seperti ini sekedar untuk menghadiri latihan saja kamu jarang-jarang masuk.
Kamu selalu datang paling akhir yang paling terlambat, namun kedatanganmu kali ini bagiku terasa berbeda, maka kenapa tidak ilmu ini pun akan kuturunkan kepadamu, karena aku takkan mengajarkan ajian pukulan ini karena dikhawatirkan akan jatuh ke tangan orang yang salah.
Maka itu akan jadi bencana besar, akan banyak pembunuhan, mayat bergeletakan dan orang-orang tak berdosa harus kehilangan orang-orang yang dicintainya, bahkan nyawanya sendiri. itulah akibat penyalahgunaan dari ilmu Pukulan Sakti Cahaya Matahari ini.
Setelah Sang Guru mengucapkan kalimat terakhir tersebut tiba-tiba buku yang ada di tangannya langsung terjatuh dan kepalanya langsung bersandar di kursi, rupanya efek dari obat itu sudah sepenuhnya bekerja dan sekarang gurunya dalam pengaruh obat yang diberikannya tadi dalam gelas kopi.
Bagas menyeringai senang karena apa yang dia harapkan akhirnya tercapai, dia mengambil kitab yang terjatuh tadi dan membukanya.
Awalnya Bagas mengerutkan kening karena tak menyangka kalau ternyata buku tersebut adalah berisi tulisan tangan biasa dan bukan sebuah buku yang dicetak di sebuah percetakan.
Bagas kemudian melipat dan memasukkan buku tersebut ke saku celananya di bagian belakang.
Dia mengangkat tubuh gurunya itu dan memapahnya hingga masuk ke dalam kamar sang guru lalu gurunya dibaringkan di atas ranjang.
Bagas kemudian mengambil pisau yang dibawanya dari rumah. Kemudian lintasan-lintasan ketika dia menghabisi para preman di rumah makan itu pun kembali terlihat jelas di kepalanya, bayangan wajah Faqih pun tampak menari - nari di pelupuk matanya, dan terakhir seakan-akan dia melihat wajah kekasihnya yang tengah tersenyum kepadanya.
Kemudian dengan sangat kuat Bagas menikamkan pisau itu ke perut gurunya, gurunya hanya mengeluh sebentar dan kepalanya langsung lunglai.
Ditinggalkannya rumah Prayoga, Bagas berjalan menjauh dari perguruan Sentinel.
Dia berjalan terus sendiri dengan tersenyum penuh kepuasan. Siapa pun yang melihat pasti akan tahu kalau Bagas seperti orang yang sedang senang hatinya.
Dan memang itu benar karena dia berhasil memiliki kitab dari ilmu Pukulan Sakti Cahaya Matahari yang diinginkannya.
Kalau memang Mbah Wongso sanggup menebak semua tentang dirinya sekalipun yak mengenal Bagas, dengan sepenuh yakinan Bagas pun percaya kalau dia sampai bisa menguasai isi dari Kitab Pukulan Sakti Cahaya Matahari itu dia pasti akan menang saat melawan Faqih yang sangat dibencinya.