Menuju Pulau Jawa

1864 Kata
***  Perjalanan yang ditempuh oleh Kyai Rahman dan Faqih memakan waktu sampai sehari semalam dari Samarinda menuju Pelabuhan Sampit setelah melewati Kota Balikpapan.  Untung bagi Kyai Rahman dan Faqih yang mendapatkan tumpangan dari seorang temannya Kyai Rahman, yang kebetulan memang akan berangkat ke Surabaya untuk satu urusan. Maka mereka berdua bisa ikut sampai ke Surabaya, menumpang dari Samarinda menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak.  Dari Sampit mereka naik kapal Feri untuk sampai ke Pelabuhan Tanjung Perak. Akhirnya keberangkatan mereka dari Tanjung Perak menuju ke Blitar mobil travel lain yang memakan waktu sampai lima jam, sementara dari kota Blitar yang menuju ke desanya Faqih membutuhkan waktu hanya sekitar setengah jam.  Sebelum mereka berangkat menuju desanya Faqih, Kyai Rahman berkata, "Kebetulan aku punya seorang teman, dia juga seorang Kyai yang namanya Gunadi, tak ada salahnya mampir ke sana siapa tahu kita bisa dapatkan informasi tentang perkembangan yang terjadi selama kamu tidak berada di desamu, karena Kyai Gunadi itu juga terkenal sebagai seorang ahli ilmu Hikmah dan memiliki kemampuan spiritual dalam melihat hal-hal yang berkaitan dengan fenomena gaib.  "Baiklah, Kyai. Aku tidak keberatan, aku senang banyak kenalan apalagi Kyai Gunadi tinggalnya tidak jauh dari desaku, mungkin aku pun akan sering silaturahmi ke rumah Beliau.   Maka mereka berdua naik ojek untuk menuju ke rumah Kyai Gunadi.   Kyai Gunadi di Blitar lebih dikenal dengan nama Gus Nadi yang memiliki nama lengkap Gunadi Abdus Salam.   Rumah Kyai terbilang kecil dan sederhana namun siapa yang akan menyangka kalau ternyata tak jauh dari rumahnya Beliau ini memiliki sebuah Pondok Pesantren yang cukup luas dan memiliki murid puluhan dari berbagai kota di pulau Jawa ada beberapa yang datang juga dari luar pulau Jawa.  Setelah mengucap salam terdengar ada suara jawaban seorang perempuan dari dalam rumah.  Ketika pintu dibuka maka muncullah seorang perempuan yang mengenakan jilbab sedang menggendong anaknya yang masih bayi.  Dengan ramah Kyai Rahman bertanya kepada perempuan tersebut tentang keberadaan Gus Nadi, sekaligus memperkenalkan dirinya dan Faqih.  "Kyai sedang ada di pondok, kalau memang penting saya akan suruh anak perempuan saya untuk menyampaikan ke Bapaknya." Perempuan berjilbab itu menjawab.  "Sampeyan ini istrinya Gus Nadi?" tanya Kyai Rahman.  "Ya, saya istrinya. Istri keduanya."  Agak sedikit terkejut Kyai Rahman mendengar tuturan perempuan itu yang ternyata adalah istri kedua dari temannya, Gus Nadi.  Mereka berdua kemudian dipersilakan untuk menunggu dengan duduk di teras rumah yang terkesan asri karena banyak tanaman hias dan bunga, sementara itu anak perempuannya yang usianya sekitar 10 tahun segera berlari keluar rumah untuk menyusul Gus Nadi atau yang biasa dipanggil dengan Kyai Gunadi.  "Ada angin apa ini, Rahman? Sampai  jauh-jauh kamu datang dari Samarinda untuk mengunjungiku. Kalian berdua naik pesawat?" Dari sikapnya yang santun itu Faqih bisa menilai kalau Gus Nadi orangnya supel dan rendah hati.  "Tidak, Gus. Hanya secara kebetulan ada seorang teman yang ada urusan ke Surabaya, maka kami pun ikut dengan dia dari Kota Samarinda Sampai ke Pelabuhan Sampit, lalu dari Pelabuhan Sampit sampai ke tanjung perak kami naik kapal Feri.  Aku kemari sebenarnya memang sengaja, Gus. Aku hanya menemani anak muda ini untuk sampai ke rumahnya yang katanya tidak jauh dari sini yaitu di kampung jengkol. Namanya Faqih, dia merantau ke tanah kalimantan sudah sekitar lima tahunan.  Dan sekarang dia pulang ke kampungnya gini dan paling lama ya sekitar semingguan lah.  Faqih sendiri sudah menjadi Mandor di salah satu proyek yang ada di Kota Samarinda.  Aku kebetulan mampir ke rumahmu untuk bertanya, siapa tahu kamu mendengar informasinya." Kyai Rahman menjelaskan secara detail kepada Gus Nadi.  "Apa mau kamu tanyakan, Rahman?"  "Apa sampeyan pernah dengar seorang yang bernama Pranajaya dari Perguruan Silat Emperyan?" tanya Kyai Rahman dengan nada serius.  "Pranajaya dari Padepokan Silat Emperyan? Rasanya aku pernah mendengar namanya, karena sudah sering kali aku menyaksikan beberapa pertandingan bela diri, dan Padepokan Silat Emperyan seringkali memenangkan pertandingan demi pertandingannya. Memangnya ada apa dengan Pranajaya, ya?" Gus Nadi mulai penasaran.  "Pemuda ini adalah muridnya, tapi ada yang sebenarnya patut dicurigai kalau Pranajaya ini memiliki suatu tujuan yang sepertinya tidak baik."  "Halaah ... Kebiasaan kamu ini, Rahman. Kalau cerita nggak pernah to the point. lekas langsung saja ceritakan kisahnya dan kenapa?"  Kyai Rahman memandang kepada Faqih seakan meminta izinnya untuk menceritakan semua yang diketahuinya, Faqih mengangguk sebagai isyarat tanda mengizinkan. Kemudian Kyai Rahman memulai kisahnya Faqih dan menuturkan kisah tersebut serinci yang diketahuinya. dia menceritakan sejak awal apa yang dialami oleh Faqih selama dia berada di Kota Samarinda hingga keberangkatan mereka berdua kembali ke tanah Jawa.  "Gendeng iki, jadi gurunya Faqih ini ingin menjadi penguasa tanah Jawa, dan jadi yang paling sakti di tanah Jawa? Lagipula memangnya sekarang ini jaman pendekar? Bukannya tinggal anteng saja di padepokan mengurusi murid-muridnya yang ada malah punya cinta aneh-aneh seperti itu, ada - ada saja manusia satu itu.  Memang yang namanya juga manusia, ada-ada saja yang punya pikiran seperti itu. Tapi memang akhir-akhir ini aku sering mendengar berita di televisi kalau banyak para ketua perguruan - perguruan silat di kota-kota di sekitar sini yang dibunuh secara keji oleh orang tak dikenal. Aku tak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan Pranajaya, ya? Atau tidak?Tapi yang pasti kalau mendengar ceritamu kok ya rasanya malah nyambung. Logikanya kalau orang ingin menjadi penguasa pastinya dia butuh pasukan, atau jangan-jangan dia merekrut seluruh murid murid dari padepokan yang diserangnya itu untuk menjadi pasukannya?"  "Jujur saja apa yang kamu sampaikan rasanya kok masuk akal juga, Gus. Dan Faqih ini adalah salah seorang muridnya yang ingin dijadikan pasukannya, tapi berkat pertolongan seorang teman di Samarinda yang bernama Fendy dia berhasil melepaskan Ajian Khodam Harimau Hitam dari dalam tubuhnya.  "Sangat - sangat tidak masuk akal memang. Dulu pernah aku juga mendengar tentang ilmu Ajian Khodam Harimau Hitam itu, tapi ilmu itu sudah punah lama dan aku belum pernah mendengar lagi ada orang yang memilikinya."  "Kalau begitu apakah Gus Nadi punya usulan atau saran untukku?" tanya Faqih.  Faqih semakin yakin bahwa Pranajaya Gurunya sudah menganut ilmu hitam yang sesat dan punya cita-cita gendeng seperti itu.  "Memang sebagai muridnya wajib juga untuk meluruskan, tapi ya nggak harus sampai membunuh."  "Seandainya benar apa yang kamu ceritakan ini, aku tidak keberatan untuk membantu.  Sekiranya nanti aku dibutuhkan untuk membantu maka aku siap,impian gendeng begitu memang harus ditumpas sebelum menyebar.  Gegernya berita tentang kematian guru-guru padepokan silat yang ada di sekitar kota ini, saat ini pelakunya pun sedang dicari - cari oleh kepolisian."  Kyai Rahman kemudian berterima kasih kepada Gus Nadi yang telah bersedia untuk menemuinya dan berbincang-bincang dengan mereka di sela-sela kesibukan Gus Nadi yang padat untuk mengajar murid - muridnya maupun menghadiri undangan - undangan pengajian di beberapa daerah di sekitarnya.  Akhirnya Kyai Rahman dan Faqih berpamitan pada Gus Nadi, mereka berdua kemudian berangkat menuju Desa Jengkol.  "Kyai, Gus Nadi itu ternyata orangnya supel juga dan cukup terkenal namun tetap rendah hati."  "Ya, selain mengajar di Pondok dan menghadiri undangan - undangan mengisi pengajian - pengajian di beberapa tempat, Beliau seringkali dipanggil untuk urusan yang sifatnya gaib untuk menjadi seorang Mediator, sama seperti dirimu sekarang.  Akupun dulu mengenal Gus Nadi memang bukan dari pengajiannya, tapi karena kebetulan aku dan Beliau itu terlibat dalam suatu masalah dengan makhluk gaib, dari masalah itu akhirnya aku dekat dengan Beliau, namun sayangnya karena tempat tinggalku yang jauh di sana di Kota Samarinda sementara dia di Blitar apakah jarang sekali terjadi kontak lagi paling sesekali aku yang menelponnya, tapi untuk bertemu secara langsung ya baru tadi juga."  Baik Kyai Rahman mau pun Faqih memikirkan kembali apa yang disampaikan oleh Gus Nadi. Berita tentang kematian guru - guru silat dalam minggu - minggu ini telah menjadi berita yang meresahkan para pesilat, semntara Faqih sendiri jadi menyimpulkan berdasarkan analisanya sendiri bahwa pembunuhan itu tak lain adalah pekerjaan dari gurunya, walaupun saat ini dia belum punya bukti-bukti konkrit namun mengingat tujuan gila yang ingin dicapai gurunya dan terkait dengan ilmu yang saat ini dimilikinya untuk merekrut banyak orang sebagai pasukan, benar-benar semuanya mengarah kepada satu orang, dan itu adalah gurunya, Pranajaya.  Akhirnya Kyai Rahman dan Faqih pun sampai di desa jengkol melewati sebuah gapura desa yang terbuat dari kayu, dan kedatangan Faqih kembali di desanya disambut senang oleh orang-orang, mereka mengenal Faqih sebagai orang yang ramah dan baik, juga seringkali menolong siapa pun jadi saya membutuhkan pertolongan tanpa adanya pamrih untuk meminta balasan.  "Rumahku ada di ujung desa ini, aku hanya punya seorang ibu dan sebidang tanah berupa kebun, hasil dari berkebun itu cukuplah untuk sekedar makan sehari-hari."  Dan pertemuan Faqih dengan ibunya menjadi pertemuan yang paling mengharukan, setelah 5 tahun kepergiannya.  Faqih pun tak sadar meneteskan air mata dari lubuk hatinya dia pun merasa bersalah karena telah meninggalkan ibunya yang sudah sepuh itu untuk merantau, namun nyatanya selama 5 tahun dia berada di tanah kalimantan tidak menghasilkan apa-apa.  Namun yang membuat Faqih sangat terkejut saat itu adalah ketika ibunya bercerita bahwa Annisa kekasihnya sudah meninggal dunia sejak sebulan yang lalu dan yang paling menyakitkan adalah mendapati kenyataan kalau bahwa satu tahun setelah kepergiannya Annisa pun berpaling dan menjadi tunangan dari seorang pemuda yang bernama Bagas.  Mendengar nama Bagas jelas tidak asing bagi Faqih karena Bagas adalah orang yang selama ini yang seringkali mencari-cari masalah dengannya.  Namun dalam pikiran Faqih dia malah menjadi bingung ketika ibunya menceritakan kematian Annisa disebabkan oleh serangan monyet-monyet liar yang mana tubuhnya sampai dibuat bobol kemudian hati dan jantungnya diambil dan dibawa lari. Ini jelas hal yang tidak biasa, karena Faqih tahu betul kalau di desanya maupun di desa di sekitarnya itu tidak ada monyet-monyet liar.  "Apakah kematian Annisa ini juga termasuk sebuah kebetulan? Dan apakah ada kaitannya dengan Eyang Pranajaya?" tanya Faqih kepada Kyai Rahman, walau terdengar nada suaranya seperti orang yang bergumam.  "Kalau untuk langsung dikaitkan rasanya kok nggak nyambung, tapi kalau dibilang kematiannya tidak wajar aku setuju, karena kematian seperti itu menurutku lebih mirip seperti orang yang di tumbalkan."  Terkejutlah Faqih mendengar apa yang baru saja disimpulkan oleh Kyai Rahman.  "Ditumbalkan? Ditumbalkan bagaimana maksud Kyai?"  "Maksudku Annisa adalah tumbal dari seseorang yang menganut ilmu hitam yang ada hubungannya dengan monyet-monyet tersebut. Jadi kedatangan monyet-monyet itu mengambil hati dan jantung Annisa tidak lain adalah sebagai bentuk tumbal yang akan menjadi penyempurna ilmu hitam yang sedang di jalani oleh orang tersebut" Kyai Rahman menjelaskan.  "Tapi siapa orangnya yang menjalani ilmu hitam dan menjadikan Annisa sebagai tumbal? Kalau guruku rasanya jelas tidak mungkin."  "Untuk itulah tugasmu kini menyelidikinya karena dikhawatirkan ini bukanlah menjadi yang terakhir. Jangan - jangan ada tumbal - tumbal lainnya setelah itu. sebelum semua terjadi maka harus bisa dicegah dan ditemukan siapa sumber masalahnya.  Faqih terdiam dengan mengerutkan kening, dia berpikir keras untuk mencoba menemukan orang yang diduga bertanggung jawab atas kematian Annisa.  "Sekalipun sebenarnya pahit untuk menyimak kenyataan kalau sebelum meninggalnya Annisa sudah menjalin pertunangan dengan Bagas namun sebagai orang yang pernah mencintai dan dicintai oleh Annisa jiwa Faqih terpanggil untuk menyelidiki penyebab kematian Annisa.  Namun jika berkaitan dengan hal gaib tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, akan tetapi mengingat kini Faqih memiliki ilmu pandangan gaib yang didapatnya dari Kanjeng Ratu Pantai Selatan maka bukan mustahil dirinya akan lebih cepat dan mudah mencari tahu siapa dalang dibalik kematian itu.  Namun untuk melacak hal ini secara langsung saat sekarang jelas hal itu tidak mungkin, Faqih tidak ingin ibunya mengetahui dan kalau bisa kemampuannya sebagai Sang Mediator yang dimilikinya saat ini pun jangan sampai ada yang mengetahuinya  baik itu keluarganya sendiri maupun para  penduduk Desa jengkol.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN