Faqih vs Bagas

1934 Kata
***  Keesokan paginya tampak beberapa orang warga desa berkunjung untuk sekedar bersilaturahmi ke rumah Faqih, rupanya kedatangan kembali Faqih di desa itu menyebar dengan cepat dan tentu saja kedatangan Faqih jelas disambut baik oleh warga Desa Jengkol, karena Faqih sejak dulu dikenal sebagai orang yang suka menolong, tanpa pamrih kepada siapapun yang memang sedang membutuhkan pertolongan.  Maka dengan senang hati Faqih pun menemui para warga yang sudah berkumpul di depan rumahnya. Mulanya dia maupun ibunya hendak siap-siap menyiapkan hidangan untuk menyambut tamu-tamunya itu, namun ternyata justru terbalik, malah orang-orang itulah yang berduyun-duyun membawakan berbagai macam makanan, baik yang sudah dalam bentuk matang maupun yang masih berbahan mentah.  “Lama juga ya Nak Faqih ini merantau, apa karena sekarang sudah jadi orang sukses sehingga seperti melupakan desanya sendiri? Kok ya sampai lama? Kalau bapak tidak salah hitung Nak Faqih ini sudah meninggalkan Desa Jengkol selama lebih kurangnya sekitar lima tahunan, bukan begitu, Pak?”  “Ya benar, memang sudah lebih kurangnya sekitar lima tahunan,” kata penduduk yang lain membenarkan ucapan Bapak tersebut.  Faqih hanya tertawa mendengar kata-kata warga Desa Jengkol yang mengira dirinya telah menjadi orang sukses di rantau orang.  Karena Faqih yang menjalani sendiri maka dia tahu betul apa yang terjadi dengan dirinya, tetapi Faqih mengaminkan saja apa yang mereka katakan, karena baginya kata adalah doa. Memang dalam hatinya Faqih berharap sekembalinya nanti dia ke Kalimantan tidak lagi menemui hal-hal yang pahit seperti yang dialaminya dalam lima tahun terakhir ini, selama dia berada di perantauan. Selanjutnya obrolan yang terjadi di antara mereka saat itu hanya berkisar obrolan biasa warga desa yang membahas tentang hasil panen, bagi yang berkebun membicarakan tentang hasil kebun dan yang pedagang pun membicarakan tentang perniagaan.  Hal inilah yang selama ini dirindukan oleh Faqih, dia merindukan keramah tamahan penduduk desanya yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri. Dan hal sebaliknya pun ternyata berlaku juga bagi para warga Desa Jengkol, ternyata mereka pun sudah menganggap Faqih layaknya seperti anak mereka sendiri.  Dan di sela-sela obrolan itu juga beberapa orang ada yang menyinggung tentang Annisa mantan kekasihnya yang meninggal karena rumahnya di serang oleh puluhan ekor monyet. Rupanya warga desa pun dapat merasakan kejadian meninggalnya Annisa mantan pacarnya Faqih itu adalah sebuah kematian yang tidak wajar, mereka sebagai orang lama yang tinggal di desa itu tentu saja tahu bahwa di desa mereka maupun desa-desa sekitar yang ada di tempat mereka tidak ada yang namanya monyet-monyet liar yang berkeliaran di kebun - kebun maupun di hutan - hutan.  Maka kalau secara tiba-tiba ada rombongan puluhan monyet yang datang ke rumah salah seorang warganya kemudian monyet - monyet liar tersebut membunuh pemilik rumah, lalu diambilnya hati dan jantungnya kemudian dibawa lari, pasti ini ada hubungannya dengan yang namanya hal-hal berbau gaib. Akan tetapi sekali pun ada warga yang mulai meyakini bahwa memang kejadian meninggalnya Annisa itu terkait erat dengan hal-hal gaib, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena selain Annisa itu bukankah keluarga mereka sendiri juka mereka tidak tahu harus mendatangi dukun mana yang bisa membantu memecahkan persoalan kedatangan monyet - monyet liar yang misterius itu.  Ada keresahan di dalam hati para warga desa, keresahan yang sebenarnya lumrah bila timbul di antara para penduduk ketika mengetahui kalau ada warga sekitarnya yang meninggal secara tidak wajar.  Sebagian besar penduduk pun sudah meyakini kalau meninggalnya Annisa adalah merupakan bagian dari tumbal seseorang yang sedang belajar untuk menguasai ilmu hitam.  Namun yang menjadi pemikiran warga desa adalah, siapakah orang yang telah mempelajari ilmu hitam sehingga menjadikan Annisa sebagai tumbalnya?”  Semua pertanyaan - pertanyaan para penduduk itu hanya bisa mereka pendam di dalam hati dan sekedar hanya menjadi obrolan saat mereka sedang menikmati minum kopi di warung, atau ketika sedang berkumpul di sawah dan di ladang.  Kira-kira ketika hari mulai beranjak siang para warga yang saat itu berkumpul di rumah Faqih pun lantas berpamitan karena mereka harus kembali bekerja seperti biasa, ada yang ke ladang, ada yang ke sawah dan ada juga yang berdagang ke pasar.  Faqih secara pribadi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian warga Desa Jengkol kepada dirinya, yang sampai menyempatkan waktunya untuk datang mengunjunginya pagi itu.  Setelah satu persatu para penduduk yang berkumpul di rumah Faqih mulai pergi meninggalkan rumah Faqih dan tak ada seorang pun tamu lagi maka duduklah Kyai Rahman mendekat kepada Faqih.  Di depan teras itu mereka berdua berbincang-bincang, sementara ibunya Faqih menyiapkan kopi dan singkong rebus sekedar untuk sarapan pagi hari.  “Aku tak menyangka kalau ternyata di desamu ini kamu termasuk orang yang dikenal oleh banyak warga dan memiliki nama baik, sehingga kedatanganmu merupakan bagian dari kebahagiaan mereka,” kata Kyai Rahman memulai percakapan.  “Aku rasa itu bukan karena kebaikanku, namun karena memang warga di sini sejak dulu sudah dikenal orangnya memang ramah – ramah dan tidak suka dengan pertikaian, sehingga bisa dibilang jarang sekali terjadi keributan antara para pemuda di desa ini mau pun antar warganya.  Terkadang kalau ada acara yang melibatkan warga mereka berduyun - duyun tanpa perlu diminta dan tanpa mengharapkan balasan apa pun bersedia untuk membantu, semisal sedang ada acara membangun rumah, acara perkawinan, sunatan, atau pada acara panen desa di mana saat itu seluruh warga bergembira dan akan mengadakan acara syukuran bersama, yang bisa memakan waktu hingga beberapa hari.  Di adadakan pula pesta yang meriah dengan mengundang hiburan dari luar desa, semisal wayang kulit atau kuda lumping. Intinya pada hari itu di hari pesta panen tak akan berhenti suka cita bersama.” Dengan senang hati Faqih menceritakan bagaimana karakter dari warga desanya selama ini.  “Kamu beruntung kalau begitu, terlahir di desa ini, karena belum tentu kerukunan warga seperti itu terjadi di desa-desa yang lain.” Kyai Rahman mengungkapkan kekagumannya.  “Kalau dari segi kerukunan iya, benar apa yang dikatakan oleh Kyai, semua ada benarnya. Namun sebagaimana kita tahu bahwa tentu saja tidak mungkin semua orang itu baik dalam sebuah kampung, pasti ada saja satu dua orang yang bisa dikatakan ingin merusak atau mengajarkan kedamaian yang ada di desa.” Faqih menerangkan lebih jauh.  “Salah satunya adalah Pranajaya yang kamu maksud?” tanya Kyai Rahman memperjelas.  Faqih tidak menjawab dan hanya sekedar menyunggingkan senyuman, dan itu pun sudah cukup bagi Kyai Rahman untuk paham akan maknanya, Faqih mengamini perkataannya.  “Tentang Bagas sendiri, bagaimana? Apakah tadi dia ada di antara orang-orang yang datang ke sini?” tanya Kyai Rahman mencoba mengorek keterangan tentang Bagas yang selama ini menjadi orang yang selalu menjegal Faqih dalam segala hal, termasuk hal terakhir adalah merebut kekasihnya sendiri setelah Faqih berangkat ke Kalimantan, ternyata kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Bagas untuk mendekati Annisa dan ternyata itu berhasil.  “Tidak ada, Kyai. Aku sama sekali tidak melihat sosok Bagas di antara para penduduk tadi. Tapi ada yang membuatku heran juga, aku tidak melihat teman-temanku yang satu perguruan di Padepokan Emperyan, tempat dulu bersama – sama belajar ilmu bela diri.  Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah mereka benar-benar saat ini sudah terpengaruh oleh muslihat Eyang Pranajaya, sehingga mereka juga akhirnya diberikan ramuan seperti yang waktu itu? Entahlah, tapi yang pasti siang ini juga sebaiknya kita mulai menyelidikinya karena waktuku di desa ini tidak banyak.”  Maka menjelang siang Faqih dan Kyai Rahman pun berpamitan kepada ibunya Faqih untuk keluar dengan alasan sekedar berjalan-jalan berkeliling desa, namun pada kenyataannya mereka berdua memiliki misi yang lebih besar dan harus segera diselesaikan, yaitu untuk menemui Pranajaya.  Tetapi yang disayangkan adalah ketika Faqih dan Kyai Rahman sampai di Padepokan Emperyan ternyata mereka tidak menemukan Pranajaya berada di sana. Mungkin sekali dia sedang keluar dari Padepokan atau keluar dari desa.  Dan ketika murid - muridnya di tanya mereka tidak ada yang tahu ke mana, di antara murid - murid itu ada beberapa yang masih mengenali Faqih. Memang ternyata murid - murid yang saat itu berlatih sudah bukan lagi murid-murid yang selevel dengan Faqih dulu ketika dia belajar kepada Eyang Pranajaya, rupanya dalam waktu lima tahun berlalu semua teman-temannya sudah tidak lagi menjadi murid dari Padepokan Emperyan yang nyatanya kini sudah terjadi pergantian generasi.  Kalau pun ada yang mengenali Faqih saat itu tentu saja mereka adalah murid - murid awal yang masuk ke Padepokan Emperyan sebelum Faqih keluar dari padepokan itu karena dinyatakan lulus oleh Gurunya, Pranajaya.  Akhirnya Faqih dan Kyai Rahman pun meninggalkan padepokan Emperyan, mereka tak tahu hendak melangkah ke mana lagi saai itu, namun di jalan itu keduanya berhenti karena dari jauh Faqih melihat sosok Bagas berada di ujung jalan yang sepertinya memang sengaja ingin menghadangnya.  Melihat Faqih yang terdiam tidak melanjutkan perjalanan, rupanya membuat Bagas kemudian mengambil inisiatif untuk lebih dahulu mendekati Faqih.  Sesampainya di hadapan Faqih dia menyunggingkan senyum, namun senyuman itu dirasakan oleh Faqih lebih mirip sebuah senyuman sinis, terasa sekali aura kebencian dalam senyuman itu yang memang khusus  ditujukan kepada Faqih seorang.  “Apa kabarmu, Faqih? Kupikir kamu sudah lupa dengan desamu sendiri, tak di sangka kita pada akhirnya bisa berjumpa lagi di sini, dan aku tidak mau berbasa – basi.  Sengaja memang aku menghadang kamu di sini, di tempat ini. Aku tahu bawa kamu pasti akan lewat jalan sini.  Sebelumnya aku tadi datang ke rumahmu dan yang kutemui adalah ibumu, lalu aku menduga ketika ibumu mengatakan bahwa kamu dan Kyai Rahman keluar maka yang kalian tuju tak salah lagi adalah Padepokan Emperyan, makanya di jalan sini aku sengaja menunggu.”  “Memangnya ada urusan apa kamu sengaja menungguku?” tanya Faqih.  “Kamu tak perlu berlagak tidak tahu, sejak dulu kamu adalah perintang terbesarku, termasuk soal Annisa.”  “Annisa? Apa maksudmu? Bukankah dia sudah meninggal? Buat apa lagi kamu ungkit – ungkit lagi?”  “Justru aku harus mengungkitnya, Faqih! Andaikata dulu kamu tidak berpacaran dengannya dan aku yang berhasil mendapatkan cinta Annisa, mungkin Annisa tidak akan mati seperti sekarang.”  “Maksud kamu apa sih? Kamu ingin menyalahkan kematian Annisa kepadaku yang baru saja datang ke desa ini?” tanya Faqih bingung dan sedikitnya emosinya pun sudah mulai terpancing.  “Sudahlah! Langsung saja ke intinya! Aku menantang kamu berkelahi, tetapi tidak di sini. Aku tidak ingin membuat keributan di desa ini, aku tak mau pertarungan kita nantinya bisa disaksikan oleh banyak orang!” Kelihatannya Bagas pun sudah mulai naik amarahnya, nada suaranya mulai meninggi dan bergetar.  “Ada urusan apa kita bertarung, Bagas?”  “Tak perlu banyak tanya, sekarang saja kita berangkat, aku sudah punya tempat yang bagus untuk kita berkelahi, letaknya di pinggiran hutan dan keluar dari desa ini. Kamu jangan memberikan alasan untuk lari dari pertarungan ini kecuali kalau kamu ingin di bilang sebagai seorang pengecut dan pecundang!” kata Bagas.  “Baik. Kalau memang itu kemauanmu, aku tidak akan lari karena aku bukan salah seorang pengecut dan juga seorang pecundang. Dan kalau memang dengan perkelahian itu akan membuatmu senang maka aku akan meladeninya.” Dengan tegas Faqih menjaqab dan menyetujui ajakan Bagas.  Kyai Rahman yang sejak tadi memperhatikan perdebatan itu memilih untuk diam saja, ia pun bersiap siaga, kalau – kalau ternyata nanti terjadi sesuatu yang membahayakan Faqih.  Bagas memandang Kyai Rahman dan berkata, “Sejak tadi aku memperhatikan sampeyan sepertinya ber siaga, aku hanya mengingatkan untuk tidak ikut campur. Karena ini adalah urusanku dengan Faqih saja tanpa melibatkan orang luar.”  Kyai Rahman hanya diam saja dan tidak mau menanggapi.  Kemudian Bagas berjalan di ikuti oleh Faqih dan Kyai Rahman di belakangnya, mereka bertiga menuju ke area pinggiran hutan yang di katakan oleh Bagas.  “Nah Faqih, sebelum berkelahi ada hal yang ingin aku beritahukan kepadamu agar kamu tidak mati dalam keadaan penasaran.”  “Apa yang ingin kamu katakan? Katakan saja tidak usah ber tele – tele.”  “Baiklah, aku pun tak sudi berlama – lama berbincang denganmu, ketahuilah bahwasanya Annisa telah menjadi tumbal ilmu yang kupelajari dan aku miliki sekarang.”  “Apa katamu?!” teriak Faqih.  *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN