Tentang Teman Lama

1049 Kata
Meyra senang karena ia telah berhasil membuat janji dengan Nyonya Anggun. Sorenya ia memesan taksi karena Nathan tak juga muncul untuk menjemputnya. Nomornya pun tak bisa dihubungi. "Sudah sampai, Mbak," ujar supir taksi berusia muda. Meyra menatap rumah elite itu dari dalam mobil sebelum turun. Begitu akan memasuki pagar, ia disapa security berbadan tinggi besar namun memberinya senyum ramah. "Silahkan masuk, Non." "Terima kasih, Pak," balas Meyra lalu melangkah masuk. Meyra berjalan lambat, mengagumi tatanan taman yang cantik. Berbagai tanaman hias dengan harga tak biasa membingkai di kanan kiri jalan menuju teras. Sebuah mobil memasuki pagar sebelum Meyra sampai di teras. Namun ia yang sudah tidak sabar untuk bertemu sang nyonya besar tak menoleh sedikit pun. Pintu depan tertutup, Meyra sudah ingin memencet bel tetapi sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Refleks Meyra membalikkan badan. "Kio? Kok kamu di sini?" Meyra mengerutkan kening. "Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu ada di rumahku?" Kio memencet bel. "Aku udah ada janji untuk menemui Bu Anggun. Tunggu, jangan bilang kalo kamu ..." "Ohh, mau ketemu bunda. Ayo masuk," ujar Kio mempersilahkan sementara Meyra masih terbengong. Meyra memasuki ruang tamu bernuansa emas dan maroon. Tak perlu menunggu waktu lama, orang yang ia ingin temui muncul dari arah dalam. Wanita paruh baya yang cantik, bahkan kulitnya terlihat bercahaya. Di belakang, mengekor asisten rumah tangga berseragam pink soft yang membawa baki berisi dua cangkir minuman hangat dan dua piring cake. "Selamat sore, Bu Anggun. Saya-" Belum selesai kalimat yang keluar dari bibir Meyra, Nyonya Besar Adhyaksa itu memotong dengan memberinya pelukan. "Bagaimana kabar ibumu? Apa dia sehat?" tanya Nyonya Anggun setelah melepas pelukannya yang hangat. "Ibu mengenal mama saya?" Meyra menatap wanita di depannya. "Sini Sayang, duduklah dulu. Ceritanya panjang," ujar Nyonya Anggun sembari menuntunnya menuju sofa berwarna maroon. Wanita itu mulai berkisah. Puluhan tahun lalu, ia dan Yanti adalah sahabat karib di bangku SMA. Saking dekatnya, orang-orang sekitar bahkan mengira mereka adalah saudara kembar. Keduanya bahkan sama-sama memiliki hobi membuat kue. "Suatu saat, aku ingin membuat roti yang akan selalu diingat oleh setiap orang yang pernah mencobanya. Roti yang membuat seseorang merasa bernostalgia," ucap Yanti muda ketika mereka berbaring di teras rumah Anggun di suatu sore. "Memangnya ada roti seperti itu?" Anggun merespon dengan tawa kecil. "Ada, tapi bukan cuma aku yang akan membuatnya." "Lalu?" "Kita." Yanti menjawab dengan mantap. Sejak saat itu mereka mulai bereksperimen. Kegagalan demi kegagalan mereka lalui. Anggun sempat beberapa kali ingin menyerah namun Yanti selalu berhasil menaikkan semangatnya kembali. Setelah puluhan kali mencoba, akhirnya dua remaja itu berhasil. Aroma jahe dan mentega menjadi ciri khas roti buatan mereka. "Apa kamu udah siapkan nama untuk roti ini?" Anggun bertanya dengan netra fokus pada roti yang masih baru keluar dari open itu. "Ya. Roti Kenangan." Nyonya Anggun mengakhiri ceritanya dengan mata berkaca-kaca. Meyra mengusap lembut punggung tangan wanita itu. "Tapi kenapa Ibu terlihat sedih?" "Karena resep itu, persahabatan kami makin dekat. Tetapi karena hal yang sama, ibumu menjadi marah padaku. Mungkin sampai sekarang." "Maksud Ibu?" Wanita itu mulai bersuara. Sebelum kelulusan, sekolah mereka maengadakan kompetisi di bidang kuliner. Anggun mengusulkan untuk mendaftarkan menu Roti Kenangan. Tapi Yanti tak setuju. Ketika Yanti ijin karena urusan keluarga, Anggun mendaftarkan menu tersebut dengan nama Yanti. Hingga waktu kompetisi tiba, Yanti tak kunjung masuk sekolah. Dan terpaksa Anggun yang maju demi kepentingan kelas. Seperti yang bisa ditebak, Yanti marah besar. Perayaan kelulusan adalah pertemuan terakhir mereka. "Sampai sekarang, aku ingin meminta maaf. Di mana ibumu berada, Sayang?" Nyonya Anggun terlihat sedih. "Mama pasti sudah memaafkan Ibu. Tolong jangan merasa bersalah," ujar Meyra menenangkan. "Apa aku bisa menemuinya?" "Saya tentu tak keberatan jika memang bisa. Tetapi mama sudah meninggal dua tahun lalu ..." Meyra tertunduk. Sudah dua tahun, tapi ia selalu sedih tatkala mengatakan hal itu. Nyonya Anggun terdiam. Kali ini bulir bening benar-benar jatuh dari mata dengan garis-garis halus. Sejak kemarin, Meyra harus melihat raut wajah seperti ini dari teman-temannya mendiang ibunya. Beberapa saat mereka hanyut dalam suasana sendu. Tanpa ada yang menyadari jika Kio sedari tadi berdiri bersandar pada pembatas lantai dua. Ia tak menyangka jika bundanya dan ibu Meyra memiliki hubungan erat. "Aku senang kamu datang ke sini, Meyra. Apa ada yang bisa kulakukan?" "Ehm, mungkin suasana kurang baik. Tapi saya ingin tahu resep Roti Kenangan, Bu." Nyonya Anggun tersenyum, diam-diam memperhatikan betapa cantik putri dari sahabatnya itu. Mendadak ia teringat akan Kio. Sekilas, terbesit keinginan agar mereka berjodoh. "Bu Anggun?" Meyra memanggil pelan untuk mengembalikannya ke keadaan sekarang. "Pertama, panggil aku tante. Kedua, aku akan mengajarimu asalkan kamu mau datang ke sini setiap hari selama seminggu penuh. Bagaimana?" Tanpa ragu, Meyra mengangguk. Nyonya Anggun tersenyum senang. Mereka kembali larut dalam obrolan namun kini lebih santai. Tidak terasa, senja pun tiba. Meyra mengecek ponsel yang ternyata kehabisan daya dan mati. "Tante, Meyra pamit pulang ya. Udah hampir malam ..." "Nanti dulu. Tante masih belum puas ngobrol." "Besok Meyra datang lagi," ucap Meyra seraya mengembangkan senyum. "Benar ya. Besok biar anak tante yang jemput. Oh ya, Meyra udah kenal sama anak tante, Kio?" "Kita udah saling kenal, Nda ..." Kio turun melewati anak tangga dan bergabung di sofa. "Bagus kalau begitu. Kio udah siap? Anter Meyra pulang." Nyonya Anggun berujar pada putra semata wayangnya yang telah mengganti suitnya dengan sweater hijau. "Gak usah, Tante. Meyra bisa pesan taksi," tolak wanita muda itu dengan halus. "Langit udah gelap. Bahaya, lebih baik diantar Kio. Tante gak mau dengar penolakan ya." Kio memperhatikan sikap sang bunda yang terlihat lebih ceria. Ia menghela nafas berat, berharap prasangkanya tidak benar. "Ayo ...." ajak Kio setelah mengambil kunci mobil. Langit sudah gelap. Lampu-lampu jalan juga sudah dinyalakan. Meyra hanya diam menatap pemandangan di luar mobil. Kio sendiri tak tahu apa yang harus dibicarakan. "Nathan ke mana? Sibuk?" tanya Kio tiba-tiba. "Tadi siang ngecek peralatan baru di pabrik. Mungkin sekarang udah pulang. Ponselku mati, jadi gak bisa minta jemput." Meyra tersenyum simpul. Mobil Kio sampai di depan bangunan apartemen tempat Meyra tinggal setengah jam kemudian. Wanita itu turun setelah mengucapkan terima kasih. Kio mengangguk dan hendak menjalankan mobil saat melihat Nathan berjalan mendekati Meyra dengan raut wajah tidak menyenangkan. "Nathan? Udah lama? Maaf, ponselku-" "Sini ikut." Nathan menarik tangan Meyra memasuki lobi tanpa membiarkan wanita itu menyelesaikan kata-katanya. Kio tak suka pemandangan itu tapi ia sadar jika ia bukanlah siapa-siapa. Sesaat setelah dua orang itu menghilang, Kio memacu mobil dengan kecepatan penuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN