Roti Kenangan

1135 Kata
Seperti biasa Meyra berada di cafe sore itu. Ia sedang mengamati data yang menunjukkan persentase penghasilan minggu ini. Sayup-sayup, terdengar ketukan di pintu ruangannya. "Masuk," tuturnya. "Maaf mengganggu waktunya, Kak." Salah satu kasirnya yang bernama Dinar berucap setelah sampai di depan meja Meyra. "Ada apa, Din?" Meyra menutup buku dan memandang wanita yang lebih muda setahun darinya itu. "Anu, kita kedatangan konsumen ..." Dinar terlihat bingung. "Bukannya itu bagus?" "Iya Kak, tapi saya rasa konsumen ini baru datang pertama kali." "Layani dengan baik. Tawarkan menu andalan kita, siapa tau nantinya akan jadi pelanggan tetap," Meyra tersenyum meski dalam hati merasa aneh. "Beliau mencari Bu Yanti, Kak." Sontak saja Meyra terkejut. Baru kali ini ada yang datang ke cafe dan menanyakan tentang ibunya sejak dua tahun lalu. Meyra bangkit dan berjalan keluar guna menemui si customer misterius itu. Wanita yang Dinar maksud tak lagi muda. Usianya berkisar lima puluh hingga lima puluh lima tahun. Penampilannya anggun dengan setelan soft tosca dan warna tas senada. Ketika Meyra sampai di dekatnya, wanita itu asyik melihat sekitar dengan penuh perhatian. Meyra menyapanya seramah mungkin, namun wanita itu justru menatapnya heran. "Tempat ini sudah banyak berubah. Kamu siapa? Di mana Yanti?" "Maaf sebelumnya, apa Anda sudah lama mengenal Ibu Yanti?" Meyra balik bertanya. "Kami berteman cukup akrab sejak kecil. Tapi setelah menikah aku harus pindah ke luar provinsi. Beruntung aku masih mengingat alamat cafe ini." "Anda adalah ..." "Oh, aku Farah. Siapa namamu, Nak? Jika kuperhatikan kau sangat mirip dengan Yanti." "Saya Meyra, Tante. Putri dari Ibu Yanti." "Astaga, kamu sudah sebesar ini?" Wanita paruh baya itu berubah ceria. Tangannya merangkul Meyra, seakan mereka telah mengenal sebelumnya. "Lalu di mana ibumu sekarang?" lanjutnya. "Mama meninggal dua tahun lalu ..." Mendengar kabar duka itu, Farah seketika shock. Ia kehilangan kata-kata dan jatuh terduduk di kursi belakangnya. Netranya mulai basah. Meyra memberi kode pada salah satu waiter untuk segera mengambil minum untuk wanita itu. "Yanti sudah meninggal?" "Benar, Tante. Mama meninggal karena penyakit jantung." "Hidup memang penuh kejutan. Harusnya aku datang lebih awal. Sudah sebulan aku selalu bermimpi tentangnya. Mungkin dia memang ingin aku datang untuk menepati janji. Tapi sepertinya sudah terlambat," ujar wanita itu lirih. "Apa mama punya janji pada Tante? Tante bisa katakan pada saya. Saya akan berusaha menepati janji itu supaya mama tenang di sana." Meyra menyentuh punggung tangan Farah yang sedikit berkeriput. "Entah ini bisa disebut janji ataukah hanya angan-angan. Ibumu sudah menyukai dunia kue sejak duduk di bangku sekolah. Pernah suatu hari, dia mengatakan ingin membuat cafe dengan menu andalan roti kenangan." Farah menerawang. "Roti kenangan?" Meyra mengulang nama menu yang rasanya pernah ia baca. "Benar. Tapi kami kehilangan kontak justru ketika ia baru merintis usaha ini. Takdir terkadang suka bercanda. Apa kamu bisa membuatnya, Nak?" Farah menatap Meyra. "Sejujurnya saya belum pernah membuatnya, tapi tolong Tante beri saya waktu satu minggu. Saya akan berusaha menepati janji mama," ucap Meyra dengan tekad. "Kamu dan Yanti sangat mirip. Tak hanya fisik, tetapi juga dalam hal semangat. Baiklah, ini kartu namaku. Lain kali aku akan mampir lagi." Farah mengulurkan kartu nama yang baru ia keluarkan dari tas tangannya. Meyra langsung menerimanya. Farah sempat memberinya pelukan hangat sebelum berlalu menuju mobil merah yang terparkir tepat di depan cafe berlantai dua itu. "Kak, ibu yang tadi ke mana?" Waitress yang membawa baki berisi teh lemon mencari sosok Farah ke sana kemari. "Udah pulang. Teh lemonnya untuk kamu aja." Meyra mengedipkan mata pada waitress masih berdiri kebingungan. Memasuki ruangannya, Meyra segera mencari buku jurnal milik ibunya. Buku usang bersampul coklat itu berisi resep-resep kue dan roti yang pernah ibunya buat semasa hidup. Tetapi masalahnya ia tak ingat di mana terakhir meletakkannya. "Duh, Meyra kenapa ingatanmu gak bisa diajak kompromi ..." rutuknya pada diri sendiri sembari tangannya terus mencari. Menit demi menit terlewati, Meyra masih belum menemukan buku penting itu. Laci-laci dan lemari telah ia buka. Kepalanya juga mulai berdenyut. Ia duduk sejenak, memijat jarak di antara kedua alisnya. Cukup lama Meyra hanya duduk dan merenung, hingga ia mengingat jika jurnal itu tersimpan rapi di kamarnya. Merasa kesal pada diri sendiri, wanita itu meletakkan kepala di meja. "Kenapa baru inget sih." ** Selepas menikmati makan malam, Meyra langsung masuk ke kamar. Kebetulan hari ini hingga besok Wanda pulang ke rumah orang tuanya. Praktis ia bisa beraktifitas semaunya tanpa harus mendengar Wanda yang mengomel agar ia beristirahat. Tepat seperti dugaannya, jurnal itu berada di laci, di samping tempat tidurnya. Sebagian sampulnya telah mengelupas namun lembar demi lembar isinya masih tetap utuh. "Roti Kenangan ..." Meyra menyebut sambil membolak-balikan isi jurnal yang cukup tebal. Nihil. Hingga halaman terakhir, tidak ada resep bertuliskan Roti Kenangan. Meyra mengusap wajahnya. Gemas namun tak ingin menyerah. "Pasti mama menyimpan resep itu di suatu tempat." Meyra menguap, malam semakin larut. Ia memutuskan untuk tidur dan akan mencari kembali esok hari. Ketika akan meletakkan buku di tempat semula, ia menemukan kotak antik. "Sejak kapan aku punya kotak ini?" Wanita itu membuka kotak berukuran sepuluh kali dua puluh sentimeter dengan hati-hati. Isi di dalamnya mampu membuat Meyra tersenyum. Foto-foto dirinya ketika bayi dan balita tertumpuk rapi di sana. Ia tak pernah tahu jika ibunya menyimpan semua ini. Di bagian paling bawah, terdapat selembar kertas yang terlipat. Tulisan pada kertas itu membuat Meyra terhenyak. Roti Kenangan/Anggun Mirantika Priyadi. Meyra menyambar laptopnya yang masih menyala di atas meja dan mulai mengetik nama itu pada kolom pencarian. Nama itu dimiliki oleh putri seorang dokter bedah. Usianya kurang lebih sama dengan usia mendiang ibunya jika sekarang masih hidup. Tetapi setelah menikah, wanita itu menggunakan nama suami pada bagian belakang namanya. Ia juga menemukan sebuah artikel jika wanita itu pernah memenangkan kompetisi membuat kue yang diberi nama Roti Kenangan. "Sekarang namanya jadi Anggun Adhyaksa? Hm, ada nomor teleponnya juga. Tapi ini jam berapa ...." Meyra melirik jam dinding kamar yang telah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. "Seenggaknya udah ada petunjuk." Ada kelegaan yang menyelinap di hati Meyra. ** Pagi hari, pukul delapan. Nyonya Anggun tengah bersiap untuk menghadiri acara penting yang diadakan oleh salah seorang istri pejabat. Sebagai wanita kalangan kelas atas, ia memang berkawan dengan beberapa istri menteri dan juga sosialita ternama. Setelan broken white seharga lima puluh juta membalut tubuh rampingnya dengan sangat pas. Wanita itu sudah akan memasuki mobil ketika ponsel mahalnya berdering. "Iya?" "Bu, ada yang ingin membuat janji untuk bertemu sore ini." Kikan, asisten berusia dua puluh empat tahun menjawab dari seberang. "Sore ini aku ada pertemuan penting. Memangnya siapa?" tanya si nyonya besar seraya memasuki mobil sedan hitam mengkilat. "Namanya Meyra. Putri dari Ibu Yanti." Nyonya Anggun terdiam. Angannya melayang pada belasan tahun silam. Namun suara si asisten segera membuatnya tersadar. "Bu Anggun?" "Baiklah, batalkan semua agenda sore ini. Minta dia datang kemari pukul empat tepat," titahnya. "Baik, Bu." Selaras dengan roda mobil yang mulai berputar, wanita itu menerawang. Mendadak ia teringat teman lama yang telah menghilang jauh dari hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN