Meyra terkejut ketika menyadari Nathan telah berada di dekatnya. Pria itu mengusap lembut pipinya yang justru membuatnya makin ingin menangis.
"Sayang, kenapa nangis?" tanya Nathan lalu duduk di depannya.
"Meyra kenapa?" Yunia ikut bertanya dengan tatapan khawatir bercampur bingung.
"Gak apa-apa Kak, tiba-tiba keinget sesuatu," jawab Meyra. Ia memaksakan diri untuk tertawa meski jelas masih terlihat murung.
"Than, Meyra keliatan lagi sedih." Kini Yunia beralih pada adiknya.
Sesuai saran kakaknya, pria itu pun mengajak Meyra untuk ke ruangan lain agar pikirannya lebih tenang. Mereka berpapasan dengan Tasya yang memandang tak mengerti.
"Lho, Kak Meyra kenapa ..."
Nathan meletakkan telunjuk di bibir sebagai isyarat agar gadis itu diam. Dua orang itu pun berjalan keluar menuju teras belakang.
"Ada apa? Hm?" Nathan bertanya ketika mereka sudah duduk di kursi teras. Ia menatap netra cantik sang calon istri, berharap menemukan apa yang membuatnya bersedih.
"Bukan apa-apa, beneran ..." Meyra menghela nafas.
"Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan kita saat di apartemen tadi?" tanya Nathan lagi.
Deg. Meyra menelan saliva. Kali ini ia benar-benar tidak siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi mampukah ia menghindar?
"Itu, aku ..."
Nathan mengangkat alis dan tersenyum dengan sabar. Meyra melihat sekeliling, berharap menemukan sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan. Mendadak sebuah vas di meja menarik perhatiannya. Bunga mawar merah artifisial menbuat otaknya menghasilkan ide.
"Ehm, aku mau jujur kalo selain lily putih, aku juga suka mawar merah," ujar Meyra akhirnya.
"Hm? Apa ini kode? Kamu ingin sebuket mawar merah?" tanya Nathan gemas.
"Yaa, yang besar. Boleh?" timpal Meyra seraya tergelak. Lega dan merasa bersalah berpadu dalam hatinya sekarang.
"Anything you want, Princess." Seperti biasa, Nathan akan mengusap punggung tangannya lembut. Satu hal yang selalu membuat hati Meyra hangat.
"Lain kali, tinggal bilang kalo ingin sesuatu. Sikapmu tadi membuatku khawatir."
"Maaf ...."
"Jangan minta maaf. Aku hanya ingin memastikan jika hubungan kita akan tetap baik-baik aja."
Dua sejoli itu mulai berbincang santai. Tak menghiraukan asisten rumah tangga yang sedari tadi sibuk menyiapkan acara untuk esok hari.
Hingga langkah kaki pria sebaya dengan Nathan mendekat. Meyra yang melihatnya terlebih dahulu. Si pria tersenyum dan langsung di balas oleh Meyra dengan sikap yang sama.
"Than ..."
"Hei. Kapan dateng? Sama Kio?" respon Nathan setelah bertatap muka dengan Lodi, teman dekatnya selain Kio.
"Barusan. Kio lagi maen sama Miko di gazebo depan. Lo ada pemantik?"
"Ada. Buat apa?" Nathan bertanya walau sebenarnya ia tahu. Lodi adalah perokok sedang.
"Biasalah."
"Awas aja kalo ngrokok dalam rumah. Diomelin mama baru tau rasa lo." Meski menggerutu, tangan Nathan merogoh kantong lalu mengulurkan pemantik yang bisa diisi ulang berbentuk antik.
"Lo masih nyimpen aja barang ini," ucap Lodi.
"Ck. Udah sana, ganggu aja lo!" usir Nathan yang hanya disambut Lodi dengan memutar bola mata.
Beberapa menit kemudian Meyra sudah duduk sendiri. Nathan harus menjemput kerabatnya di bandara. Rasa bosan mendadak muncul. Meyra memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di taman belakang. Yang ia ingat, ada kolam buatan yang dihiasi bunga-bunga cantik di sana.
Ingatannya tidak meleset. Tetapi ada sesuatu yang membuat langkahnya mendadak berhenti. Area itu tidaklah kosong. Terlihat Kio, Lodi, Miko dan satu lagi anak kecil yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Awalnya semua tampak normal. Mereka berbincang, sesekali Kio menggoda dua anak kecil itu hingga mereka tertawa. Hingga tiba saatnya Lodi berdiri dan menyerahkan benda kecil berwarna biru tua pada Kio. Setelah itu, Lodi berlalu meninggalkan tempat itu.
Meyra masih berdiri terpaku, memicingkan mata. Kejadian di detik berikutnya membuat jantung Meyra berdetak lebih cepat. Kio terlihat mengeluarkan benda kecil, putih dan panjang lalu menyelipkan pada bibirnya. Meyra bergegas menghampiri sahabat Nathan itu.
'Dia mau merokok di depan anak-anak itu?! Ya ampun, apa yang ada di kepala orang itu sekarang ....' Meyra sudah bersiap untuk mengomel.
Ia makin dekat dan sempat memberi senyum pada Miko yang bermain bola dengan ceria. Mulut kecilnya penuh dengan lolipop. Tangan Meyra langsung terulur nyaris menyentuh wajah Kio jika bukan karena ia menyadari sesuatu di detik terakhir.
"Meyra? Kamu mau permen?" Kio mengeluarkan lolipop dari kantongnya.
"Ohh. Maaf, aku kira kamu mau merokok di depan mereka," lirih Meyra tertunduk. Tentu ia malu atas sikapnya baru saja.
Kio tertawa dan masih mengulurkan lolipop rasa strawberry. Meyra menerimanya tak lupa mengucapkan terima kasih. Wanita itu duduk, di kursi lain yang berjarak hampir dua meter dari Kio.
"Aku baru saja berhenti merokok. Jadi membutuhkan sesuatu yang manis. Aku tak akan membahayakan anak-anak ini, lagipula mereka sudah seperti keponakanku sendiri," terang Kio tanpa diminta.
Meyra mengangguk paham. Ia hanya menatap lolipop ditangannya. Sebenarnya ia kurang suka permen, namun entah mengapa ia tak bisa menolak pemberian Kio.
"Di mana Nathan? Aku tak melihatnya sejak tadi."
"Lagi ke bandara, jemput Tante Siwi."
"Tante Siwi ... Oh, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Dia sangat suka mengobrol. Tipikal orang yang mudah memuji tapi diwaktu yang sama akan membuatmu kesal." Kio tergelak.
"Iyakah?" Meyra mengangkat sebelas alisnya. Ia memang belum pernah bertemu saudara Nathan yang ini.
"Lihat saja nanti."
**
Sorenya Meyra sudah akan pamit pulang. Nathan juga sudah siap untuk mengantarnya. Tetapi sepertinya ucapan Kio terbukti. Tante Siwi yang sedari tadi mengajaknya bicara tak ingin membiarkannya pergi dengan mudah.
"Tante, maaf Meyra masih ada kepentingan. Besok pagi pasti datang lagi."
"Nanti dulu, Sayang."
"Tapi, Tante ..."
"Kamu cantik Meyra, tapi terlalu kurus. Besok tante kasih resep ya supaya berat badnanya ideal. Nathannya gagak dan ganteng gitu, kamu harus ngimbangi dong. Biar Nathan gak malu ..."
Meyra tak memiliki pilihan selain tersenyum sopan meski jujur saja kata-kata itu cukup menyentil jantungnya. Untung saja Nathan segera mengambil alih situasi. Ia merangkul bahu Meyra.
"Tante, Meyra selalu terlihat cantik. Mau kurus atau gimana, bagi Nathan dia terlihat sempurna. Udah dulu ya Tan, Meyra harus ngecek karyawan di cafe."
"Mari, Tante ..." ujar Meyra sebelum mereka keluar dari rumah berlantai tiga itu.
Selama perjalanan ke cafe. Meyra hanya merenung, menatap pemandangan melalui kaca samping mobil. Kata-kata keluarga Nathan cukup membuatnya murung berkepanjangan.
"Sayang, jangan dipikirin kata-kata Tante Siwi ya. Dia memang begitu orangnya. Kamu sempurna."
Meyra hanya tersenyum tipis. Tidak ada yang bisa menghiburnya sekarang. Semua seolah memintanya untuk mundur.
'Nathan, apa sikapmu akan terus seperti ini?'