Nathan sedang bersantai di balkon saat menerima panggilan dari Prita. Awalnya ia tak peduli, bahkan ia tak tahu kemana wanita itu pergi. Namun setelah panggilan ke tiga, baru Nathan mau mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo Baby, aku udah mau pulang. Jemput ya, Tata juga udah nyariin kamu ..." Suara Prita dibuat manja, Nathan yang mendengar merasa jijik dan merinding dalam satu waktu.
"Tadi kamu bisa berangkat sendiri, jadi pulang aja sendiri. Aku sibuk." Pria itu sudah ingin menutup telepon ketika mendadak istrinya itu berbisik, nadanya pun lebih serius.
"Datang ke mall GG sekarang dan say hello pada mantan dan juga sahabatmu."
Tak menunggu dikomando dua kali, pria tampan dengan kaos abu-abu itu menyambar jaket dan juga kunci mobil. Ia tak menjawab sapaan Tasya saat mereka berpapasan di tangga.
"Kak, mau ke mana ih?" tanya Tasya untuk kedua kali, suaranya lebih lantang dari sebelumnya.
Nathan terus turun dengan dua anak tangga sekaligus dalam satu langkah. Di pikirannya, ia hanya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang tadi Prita beritakan.
Satpam bergegas membuka pagar tatkala melihat Nathan menjalankan mobil dengan alis bertaut. Ia tak tahu apa yang terjadi namun pria bernama Yadi itu yakin mood si tuan muda sedang tidak baik.
"Hati-hati di jalan, Den."
Nathan hanya mengangguk singkat dan langsung menaikkan kaca mobilnya. Dalam sekejap, mobil mewah hitamnya telah membaur dengan hiruk pikuk keramaian lalu lintas di Kota Surabaya.
Mall GG berjarak tiga belas kilometer dari rumahnya, tapi dalam keadaan marah seperti sekarang, ia akan sampai hanya dalam waktu sepuluh menit.
Setelah memakirkan mobil, ia masuk dan langsung menuju ekskalator. Cafe yang Prita sebutkan berada di lantai dua. Benar saja, belum sempat masuk, ia telah disuguhi pemandangan tak mengenakkan.
**
Meyra duduk di depan Prita dan di sampinnnya tampak Kio dengan outfit hitam. Prita terlihat duduk dengan santai, tangan dan netranya masih asyik dengan layar ponsel yang menampilkan akun sosial media dengan ratusan ribu pengikut.
"Nathan mana?" tanya Kio, mulai tidak sabar.
"Sabar dulu bisa? Dia pasti lagi di jalan," sahut wanita itu tanpa menoleh.
"Terus Lucas?"
"Dari tadi Lucas aja yang dicari. Aku gak paham deh."
Meyra menatap Prita tajam sementara tangannya yang berada dalam pangkuan mengepal. Wanita di depannya ini benar-benar tak bisa di ajak berbicara.
Tak lama berselang, Meyra merasa ia harus ke toilet. Wanita itu beranjak tanpa aba-aba hingga membuat Kio heran.
"Mau ke mana?"
"Toilet," jawabnya singkat.
Baru dua langkah, tidak disangka Kio menarik Meyra ke arahnya. Ternyata dari arah belakang terdapat waiter yang berjalan tergesa sambil membawa nampan berisi piring dan mangkuk kotor dari meja lain.
Melihat pemandangan di depannya, alis Prita terangkat. Sangat terlihat jika Kio begitu perhatian pada wanita itu.
"Makasih," ucap Meyra sambil melepaskan lengannya yang masih Kio genggam.
Kali ini Meyra mengira tidak ada hambatan lain menuju toilet namun justru sebaliknya. Netra wanita itu memandang lurus pada satu arah bersamaan dengan langkah kakinya yang lagi-lagi terhenti.
Nathan muncul, dan berjalan menghampiri meja mereka dengan senyum kecut. Prita yang semula tak mengetahui jika suaminya datang, memandang dua orang lainnnya dengan heran.
"Jadi benar kalian keluar bersama?" Suara Nathan akhirnya membuat Prita tersadar. Ia menoleh dan senyum licik terbit di bibir penuh polesan lipmatte merah maroon.
"Baby, dicari lho sama mereka." Akting Prita dimulai, ia menatap Meyra yang juga menatapnya tajam.
"Kenapa? Mau pamer? Kamu bisa semudah itu jalan sama Kio? Kamu lupa dia temen aku?" Nathan menatap Meyra sekilas lalu menggeleng.
"Ini gak seperti yang lo kira, Than." Kio tak ingin Nathan salah paham.
"Diem, lo!! Bisa-bisanya ngajak Meyra jalan. Lo sahabat gue bukan?"
"Makanya lo dengerin kita dulu!" Kio mulai terpancing.
"Apa?"
"Asal lo tau kalo Prita itu sebenarnya-"
"Stop Kio!! Cukup!! Jangan diulangi lagi. Ini bukan salah Tata." Tangisan drama ala Prita mulai terdengar.
Kio dan Meyra saling pandang tak mengerti. Kenapa Prita menyebut Tata?
"Apa yang lo bilang soal Tata?" Kini Nathan makin terlihat marah. Bahkan jarak di antara alisnya berkerut.
"Dia bilang Tata anak haram. Mereka juga bilang aku jadiin Tata alat untuk deketin kamu ..." isaknya.
Meyra ternganga. Prita sangat jago berakting. Andai bisa, ia ingin memberi wanita itu tropi award.
"Gue gak pernah bicara seperti itu. Meyra saksinya." Kio membela diri. Namun cemburu dan emosi Nathan telah mencapai batas dan tak bisa terbendung. Pria itu maju lalu melayangkan pukulan pada wajah Kio.
Bugh! Kio terhuyung. Ujung bibirnya mengeluarkan darah, menandakan Nathan tidak main-main.
"Nathan!!" Meyra memekik. Ia segera menempatkan diri di antara dua pria itu. Menghadapi pandangan Nathan yang tajam, seakan siap memukul untuk kedua kalinya.
Mendengar keributan, Tata terbangun. Ia memandang sekitar namun dengan sigap Prita menenangkan.
"It's okey Sayang. Tidur ya ..." ucapnya.
"Kamu melindungi Kio? Serius?" Nathan kembali mengepal tetapi di detik berikutnya membuang muka.
"Terserah kamu mau mandang aku gimana, tapi aku mau bicara sesuatu. Jadi tolong dengerin dulu," ucap Meyra sembari maju.
"Sayangnya aku datang bukan untuk mengobrol, Meyra. Prita, ayo kita pulang ..." Nathan berucap dingin, menarik troli dengan Tata masih berada di dalamnya, duduk manis dan tak mengetahui perseteruan orang-orang dewasa di sekelilingnya.
"Yess, Baby." Prita bangkit tak lupa terseyum penuh kemenangan. Ia merengkuh lengan Nathan yang sudah ingin membalikkan datang.
"Lo harus ati-ati sama perempuan yang sekarang ada di samping lo." Kio berkata dengan nada datar. Ia menyeka bibirnya yang terasa perih dan asin.
"Gue gak butuh saran dari lo. Dan asal lo tau, Prita istri gue. Lo harus jaga omongan lo. Sekali lagi gue denger lo jelek-jelekin Prita atau Tata, abis lo!" Pria itu melanjutkan langkahnya. Mengabaikan Meyra yang masih ingin berkata-kata.
"Awas aja kalo nanti lo nyesel," lanjut Kio lagi.
"Satu-satunya hal yang gue sesali, pernah anggep lo sebagai saudara gue sendiri."
Itu adalah kalimat penutup. Karena setelahnya, Nathan dan Prita benar-benar menghilang. Meyra menggigit bibir, Kio yang melihatnya segera tahu jika wanita itu bersedih.
"Meyra, kamu-"
"Aku ke toilet dulu ya." Meyra melesat dengan cepat. Ia tak ingin berbicara dengan Kio ketika kondisi hatinya sedang kacau. Keadaan makin tak terkendali, ia sungguh tak menyangka Nathan akan mudah terprovokasi hingga memukul Kio.
Saat di depan westafel, Meyra merapikan rambut dan dressnya. Tak berselang lama, ia merogoh tas untuk mengambil ponsel yang berdering. Ia mengira itu adalah panggilan dari Wanda yang sedang mencarinya namun yang terpampang nomor Prita. Meyra mengangkat namun enggan bicara.
"Lets play the game. Try me, B****!! One zero."
Klik.
Meyra menutup panggilan itu. Bagi Prita ini adalah sebuah permainan. Tapi wanita itu tak tahu jika Meyra menanggapi dengan serius. Ia akan mengungkap siapa Prita sebenarnya di depan Nathan, apapun resikonya.
***
Bersambung.