Meyra menyusuri rak buku pada area novel romance terjemahan. Ia melangkah sendiri meski ada wanita lebih muda yang tampak memiliki selera yang sama dengannya. Kio melihat-lihat pada area seni dan juga bisnis namun tetap saja netranya tak bisa lepas dari sosok Meyra.
Saat kemudian, Meyra membayar dua novelnya, Kio sudah berada di sampingnya. Dengan tangan kosong.
"Aku kalah cepat ya?" ucapnya.
"Hm? Apanya?"
"Harusnya aku yang bayar, karena aku yang mengajakmu ke sini," jelas Kio.
"Gaklah. Nanti aku malah punya hutang kalo kamu bayarin. Buku yang kamu cari gak ada?" Meyra menyadari pria itu tak memegang buku apapun.
"Gak ada. Sekarang kita ke mana?"
"Kali beneran terserah." Meyra tertawa kecil.
Kio menunduk, meredakan jantung yang tiba-tiba bertalu saat melihat tawa Meyra. Mereka keluar dari toko buku yang tidak terlalu ramai dan menaiki ekskalator menuju lantai dua.
Tidak ada tujuan pasti, dua orang itu hanya berjalan dan melihat sekitar. Sesekali Kio berhenti saat Meyra ingin menyentuh boneka atau dress yang menurutnya lucu. Tanpa Meyra ketahui, Kio memindai barang-barang itu. Ia berencana akan membelikannya tak lama lagi.
Langkah mereka mendekati foodcourt, namun Kio justru menariknya menuju restoran yang khusus menjual makanan Jepang.
"Aku dengar sashimi di restoran ini enak. Kamu mau mencobanya?"
Meyra mengangguk kecil meski sebenarnya belum lapar. Ia tak tega untuk menolak karena melihat ekspresi Kio yang tampak bersemangat.
Restoran yang ditata simple namun apik itu memiliki suasana Jepang yang kental, lengkap dengan bonsai dan pohon sakura artifisial yang tampak nyata. Tempat duduk diatur saling menempel pada bagian sandaran.
"Kamu mau pesen apa?" Kio memberikan buku menu yang waitress sodorkan.
"Hmm ..." Meyra menerimanya dan membuka halaman pertama. Semua menu terlihat menggiurkan jika saja ia tidak merasa kenyang. Ia membuka halaman selanjutnya yang menampilkan menu minuman.
Wanitu itu baru menentukan pilihan saat tak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya memasuki restoran yang sama. Prita dan pria yang sama ketika di hotel, tangannya mendorong kereta bayi. Itu tandanya Tata ada bersama mereka.
"Prita ..." sebutnya tanpa sadar.
"Hm? Kamu mau tambah makanan lain? Memangnya ada nama makanan seperti itu?" Kio melihat buku menu yang masih Meyra pegang.
"Ada Prita, Kio." Kini wanita itu berbisik.
"Mana?" Kio menoleh ke sana kemari. Meyra yang tahu jika Prita sedang berjalan ke arah kursi di belakang mereka, langsung menarik Kio agar menunduk.
"Sssstt. Mereka berjalan ke arah sini," bisik Meyra lagi.
Meyra fokus mendengarkan dan tak menyadari jika kepala mereka saling bersentuhan. Kio nyaris tersenyum, ia sangat mengagumi lekuk wajah Meyra yang tampak sempurna.
Entah ini kebetulan ataukah keberuntungan. Prita dan pria itu duduk tepat di belakang mereka. Meyra dan Kio bisa mendengar percakapan dua orang itu tanpa harus bersusah payah.
"Udah sore, setelah makan aku dan Tata harus pulang." Itu suara Prita.
"Buru-buru sekali. Aku belum puas bertemu Tata," sahut si pria.
"Lucas, kamu tahu sekarang posisiku. Aku udah nikah."
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Pasti."
"Dia sayang pada Tata?" tanya Lucas lagi.
"Tentu aja. Dia mengira Tata adalah anaknya. Mertua dan adik iparku juga. Mereka semua sayang sama Tata. Jadi kamu gak perlu repot-repot khawatir sama kami."
"Meski kamu bicara begitu, tetap cuma aku ayah terbaik untuk Tata. Dia putri kandungku."
"Iya, kamu memang ayah biologis Tata. Tapi sekarang situasinya beda. Siapa suruh kamu main-main sama investasi dan sekarang bangkrut. Kamu tau aku gak bisa hidup miskin." Nada bicara Prita terdengar merendahkan.
"Ya, ya. Tapi ingat kalau pernikahanmu dan Nathan cuma sementara. Kamu ingat apa konsekuensi jika berbohong padaku?"
"Jangan mulai mengancamku. Sejak dulu kamu tahu kalo aku akan selalu milih kamu dibanding Nathan. Hanya soal waktu, Tuan Tyo akan menjadikan Tata sebagai ahli waris."
Deg. Meyra dan Kio saling pandang. Percakapan dua orang yang punya niat jahat itu bisa mereka dengar sepenuhnya.
"Selain cantik, kamu juga pintar, Sweetie." Lucas menanggapi dengan suara berat dan seraknya.
Meyra dan Kio membetulkan posisi duduk ketika waitress datang membawa pesanan mereka. Satu set sashimi yang awalnya terlihat lezat mendadak hambar. Meyra mengambil sumpit, sementara pasangan lain di belakang mulai membicarakan hal random yang tak ia ketahui.
Tak sampai satu jam kemudian, Meyra menoleh saat menyadari Lucas bangkit. Tampaknya mereka sudah selesai makan dan kini pria itu akan membayar di kasir.
Meyra menggunakan kesempatan ini untuk menemui Prita, tetapi Kio menarik tangannya dan menggeleng.
"Kio, lepasin tanganku. Aku harus ngomong sama Prita sekarang juga."
"Percuma. Aku tau gimana dia," balas pria tampan itu.
"Kita gak akan tau hasilnya kalo belum mencoba." Meyra melepaskan tangan Kio dan menghampiri wanita dengan dress mustard yang sedang asyik dengan ponselnya. Sementara Tata tertidur di troli.
"Keras kepala. As always." Kio menggeleng dan ikut berdiri.
Tepat seperti dugaan, Prita terkejut dengan kemunculan Meyra dan Kio yang tiba-tiba. Tapi dengan mudah ia bisa mengontrol diri. Ia tersenyum seakan tak memiliki masalah ataupun dosa.
"Meyra? Kamu dan Kio makan di sini juga?"
"Iya. Dan aku mau kita bicara." Tanpa ragu meyra duduk di depan ibu muda itu.
"Serius banget. Mau ngomong apa?" Prita bersikap santai. Tapi hanya sebentar karena saat mendengar apa yang Meyra katakan selanjutnya, ia tak bisa berkutik.
"Aku udah denger semuanya," ujar Meyra, ia memberi penekanan pada kata terakhir.
"Huh? Apa maksudmu?"
"Lucas ayah kandung Tata 'kan? Jadi hasil tes darah itu palsu? Kenapa kamu tega?"
"Apa sih? Kok aku gak ngerti." Prita berlagak sok polos. Tapi jelas tak mempan di depan Meyra dan Kio.
"Prita, jangan pura-pura lagi. Kita udah tau," tambah Kio.
"Oh. Jadi kalian mau main keroyokan? Really? Aku telepon Nathan sekarang." Prita menggertak dan mengangkat ponsel.
"Bagus. Kalo perlu minta dia datang ke sini supaya ketemu sama Lucas. Berani?" tantang Kio.
"Lucas. Lucas. Siapa Lucas?"
Wanita manipulatif itu masih tak jera berakting. Diam-diam dia mengirim pesan Lucas agar segera pergi dari tempat itu selepas membayar.
"Kenapa? Gak jadi telepon Nathan?" Meyra masih mengawasi Prita yang tak kunjung menghubungi sang suami.
"Santai aja kali. Kamu kangen sama Nathan? Kita liat ya, dia bakal percaya sama aku atau sama kalian." Prita mengeluarkan tawa yang mampu membuat Meyra makin kesal.
Tata menggeliat dan kembali tertidur. Perhatian Kio teralihkan pada gadis kecil yang ternyata memang mirip dengan Salsa, anak yang fotonya terpampang di panti asuhan Pelita Bunda. Ia jadi tahu kenapa Meyra mempunyai kecurigaan yang besar pada Prita.
Cukup lama Prita mencoba memanggil Nathan. Hingga ia mendengar suara khas pria itu.
***
Bersambung.