Di Titik Terendah

1042 Kata
Hening. Hanya terdengar lagu Flashlight milik Jessi J. di Cafe Choco Toast. Maklum saja, ini baru pukul setengah sepuluh pagi. Masih belum ada pelanggan yang datang meski hanya untuk sekedar menikmati hot chocolate. Sebuah mobil putih terparkir di depan cafe. Tak berselang lama, turun dua wanita cantik yang langsung dikenali oleh salah satu waitress adalah selebgram terkenal dengan satu juta lebih pengikut. "Eh, itu beneran Mona Jovinka, bukan?" tanya waitress bernama Tari pada rekan kerjanya. "Mana?" "Itu, yang rambut sebahu pake sweater oren. Liat, cewek di sebelahnya pegang kamera. Mau review kali ya?" "Masa'? Tapi keren kalo beneran." Mereka segera menghentikan obrolan karena pengunjung pertama itu sudah memasuki pintu kaca. Tari maju, mempersilahkan mereka duduk di spot favorit pelanggan kebanyakan, di samping aquarium besar berisi sembilan ekor ikan mas koki berwarna emas. "Apa menu andalan di cafe ini?" tanya wanita cantik yang bernama Mona sembari membolak-balik buku berisi daftar menu. "Menu andalan kami Roti Panggang Mozarella, Kak. Kami juga ada menu baru yang gak kalah enak, Roti Kenangan." "Ya udah, dua menu itu masing-masing satu. Minumnya, Frappe Cappucino dan Ocean Blast." "Baik, Kak. Silahkan ditunggu ..." Tari memberi pesanan dengan riang pada bagian dapur. Tidak ada yang aneh awalnya, namun sesuatu yang tak diharapkan terjadi ditengah aktifitas makan dua orang konsumen tersebut. "Mbak, sini," panggil Mona pada Tari yang berdiri tak jauh di meja mereka. "Iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" "Ini roti kapan sih? Gak diperiksa apa gimana? Jamur di sana sini. Kalo aku sakit perut, Mbak mau tanggungjawab?!" sergahnya kasar. "Tapi kami selalu menjual roti yang dibuat di hari yang sama, Kak. Saya yakin itu bukan jamur." Tari masih berusaha bersikap sopan meski perasaan kesal mulai tumbuh. "Bisa aja ngelesnya. Udah Mon, viralin aja. Mumpung gue bawa kamera ini," timpal temannya dengan raut wajah tak kalah menyebalkan. "Udah nyala belum?" tanya si selebgram pada wanita di sampingnya. "Udah, lo tinggal ngomong aja." "Oke Guys, aku baru nyobain dua menu andalan di cafe yang lagi hits nih. Saatnya review jujur ya. Ehm, agak mengecewakan sih. Roti panggangnya banyak jamurnya. Duh, gak tau deh gimana nasib perutku. Do'ain aku sehat ya temen-temen ..." Tari ternganga di tempat. Ditambah kenyataan jika dua orang itu langsung melenggang pergi tanpa membayar sepeser pun setelah mengambil video. Dua waitress lainnya saling bisik, sementara Tari berinisiatif melapor pada Vika, manger cafe karena hingga sekarang Meyra belum juga datang. Namun hanya dengan satu sentuhan ringan, video review itu sudah di-upload. Dalam hitungan detik, para pengikut Mona dengan cepat memberi like, love dan komentar pada kolom. Dan reputasi cafe yang selalu ramai itu jatuh di titik terendah. ** Meyra memijit keningnya. Sejak tadi ia merasakan pening, ditambah laporan keuangan yang kini berada di tangannya. Sejak kedatangan si selebgram seminggu lalu, pemasukan di cafe menurun drastis. Hingga malam tiba, total hanya ada dua konsumen yang datang. Bahkan tak sebanding dengan uang makan siang para karyawan. Pukul sembilan malam, Meyra bersiap untuk pulang karena ini saatnya cafe tutup. Namun ketika keluar dari ruangannya, semua karyawan masih berada di tempatnya masing-masing. Tidak ada aktifitas tutup cafe seperti mengangkat kursi, menyapu, mengepel, dan membersihkan dapur. "Kok kalian belum pulang? Saya gak bisa bayar kalo kalian mau lembur ya ..." seloroh Meyra dengan tawa khasnya. "Kami akan tunggu satu jam lagi, Kak. Mungkin sebentar lagi ada konsumen yang datang," jawab salah satu karyawan. "Gak perlu. Simpan tenaga kalian untuk besok. Ayo, semua siap-siap untuk pulang. Saya gak akan pulang kalo kalian belum pulang." Meyra duduk di salah satu kursi konsumen yang menghadap ke jalan raya. Karyawan saling pandang sebelum akhirnya mendapat anggukan dari Fika, sang manager. Fika hanya memandang Meyra yang menerawang. Tanpa bertanya, ia paham bagaimana perasaan bosnya sekarang. Ini pertama kalinya, seminggu penuh cafe mereka sepi. Usai semua karyawan cek lock, barulah Meyra keluar dari cafe. Ia memasuki mobil Nathan yang telah menunggunya sejak lima belas menit lalu. "Maaf, anak-anak terlalu bersemangat sampe gak pengen pulang," ujar Meyra sebelum Nathan sempat bertanya. "Bagus kalo kamu punya karyawan yang loyal. Tapi kenapa wajahmu sedih?" Nathan menyentuh dagu tunangannya yang tertunduk. "Aku capek, By ..." sahut Meyra pendek. Ia tak ingin menambah beban pikiran Nathan yang kini diberi amanah besar oleh orang tuanya untuk mengelola pabrik. "Aku rasa kamu butuh refreshing. Gimana kalo weekend kita jalan-jalan? Pantai?" tawar Nathan. Ia hafal jika tempat favorit Meyra adalah pantai dan laut. "Memangnya kamu gak sibuk?" "Itu bisa diatur. Lagipula kita udah lama gak jalan-jalan." Meyra duduk diam setelah Nathan membantunya memasang sabuk pengaman. Mobil melaju menuju tempat tinggal Meyra. Nathan tersenyum melihat wanita itu hampir menutup mata. Dalam keadaan apapun, Meyra selalu terlihat cantik dan menggemaskan. Nathan menggandeng tangan Meyra hingga mereka memasuki ruang tamu. Entah sudah berapa kali Meyra menguap. Ia memang tidak tidur sama sekali sejak bangun sebelum subuh tadi. "Princess, tidur ya. Aku langsung pulang. Besok aku jemput seperti biasa." Nathan menepuk lembut pucuk kepala Meyra yang sudah duduk di sofa dengan mata terpejam. "Iya, hati-hati di jalan," lirih Meyra tanpa membuka mata. "Pasti. Love you." "Love you too." Meyra merebahkan diri setelah Nathan keluar dan menutup pintu. Kedua matanya terasa sangat berat. Tampaknya ini efek dari obat yang baru dokternya resepkan sejak kemarin. Karena sakit pada kepalanya makin sering terasa, maka dosisnya menjadi lebih kuat. Percuma saja dokter membujuknya untuk operasi, Meyra masih keukeuh pada pendiriannya. Wanda yang kehausan keluar dari kamar larut malam. Ia berhenti saat melihat Meyra tertidur di sofa dengan pulasnya. Wanita itu pergi ke kamar guna mengambil selimut untuk Meyra. Drrt. Drrt. Drrt. Getar terasa beberapa kali dari dalam tas sepupunya itu. Awalnya Wanda tak menghiraukan namun tak lama kemudian, ponsel itu kembali bergetar. Bahkan durasinya lebih lama. Wanda tahu jika ini tidak sopan, namun juga penasaran akan siapa yang menghubungi menghubungi Meyra nyaris tengah malam begini. [Apa kau tak mengerti perkataanku?! Tinggalkan dia sendiri. Jangan menemuinya! Dia milikku!!] [Mungkin hari ini cafe kesayanganmu bisa bertahan. Tapi sampai berapa lama??] Wanda tertegun membaca pesan-pesan dari satu nomor asing itu. Terdapat beberapa pesan lain yang berisi u*****n dan kalimat tak pantas. Ia tak tahu bagaimana perasaan Meyra jika membaca ini. Namun setelah Wanda telusuri dari tanggal, Meyra telah menerima pesan-pesan spam itu sejak sepuluh hari yang lalu. Bahkan pesan dimalam datangnya pizza juga masih Meyra simpan. 'Nathan. Pasti ada hubungannya dengan Nathan!' gusar Wanda dalam hati. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN