Lodi Beraksi

1365 Kata
Pagi yang dingin, sedikit mendung. Langit tampak bak kembang gula berwarna putih yang siap jatuh. Wanda masih menyembunyikan diri di balik selimut motif polkadot. Andai bisa, ia ingin tidur lebih lama. Namun tentu itu tidaklah mungkin. Bunyi alarm pada nakas membuatnya membuka mata. Sudah pukul enam. Dua jam lagi ia harus sampai di tempatnya bekerja, sebuah kantor penerbitan di mana ia menjadi editor. Masih dengan muka bantal dan mata sesekali terpejam, Wanda keluar dari kamar. Ia merasa hari ini ada yang berbeda. Setiap hari Meyra selalu membangunkannya dan ketika ia keluar kamar, akan tercium aroma pancake pisang favoritnya. Namun pagi ini suasana di apartemen begitu sunyi. Saat ia melihat di sofa ruang tamu, Meyra tak terlihat. Wanda mengira sepupunya itu sudah pindah ke kamarnya. Ia berniat ke dapur untuk membuat coklat panas tetapi sebuah suara menuntunnya ke arah kamar Meyra yang tertutup. Tok. Tok. Dua ketukan, namun tidak ada jawaban. "Meyra?" Wanda menurunkan knop pintu yang ternyata tidak terkunci. Kamar bernuansa biru laut itu tampak rapi. Tapi Meyra tidak ada di sana. Wanda menyusuri lantai berlapiskan karpet berwarna biru tua, tanpa sengaja ia menemukan bercak merah pada karpet itu. Mendadak Wanda panik, ia takut terjadi sesuatu pada Meyra. Mendapati pintu kamar mandi yang tertutup rapat, ia segera bangkit dan mengetuk dengan kuat. Tok. Tok. Tok. "Meyra? Buka!" "Sebentar ..." sahut sepupunya dari dalam. Sejenak Wanda menghela nafas lega. Tak lama kemudian Meyra keluar. Sudah memakai handuk kimono berwarna putih. Rambut sedikit basah dan wajah segar. "Kenapa mukanya gitu?" tanya Meyra seraya berjalan ke arah cermin di sudut kamar. Raut wajah Wanda memang jelas terlihat cemas. "Gak apa-apa. Aku kira kamu keluar." Wanda masih melirik noda gelap itu, berharap prasangkanya jika itu darah adalah salah. "Aku gerah, makanya mandi. Hari ini mau sarapan apa? Pisang di kulkas abis." Meyra memulai ritual pagi untuk wajahnya dengan toner. "Bubur ayam?" Wanda menjawab asal seraya terus mengamati wajah Meyra melalui pantulan cermin. Wajah cantik yang selalu dihiasi senyum teduh. Ia heran kenapa Meyra tak membahas tentang si peneror itu. "Bubur? Tumben banget ..." kekeh Meyra. Wanita itu hafal jika Wanda tak pernah menyukai bubur dan sejenisnya. "Lagi pengen aja." "Oke, give me ten minutes," ucap Meyra sambil memainkan alis. Satu jam kemudian mereka sudah duduk bersama di meja makan. Meyra makan dengan tenang, tanpa bersuara. Tangannya yang lain membuka jurnal milik ibunya. Wanda hanya memakan satu suap, sisa bubur di mangkuk ia aduk hingga toppingnya tak berbentuk. "Meyra ..." panggil Wanda tiba-tiba. "Iya?" Wanita yang dipanggil sedikit menoleh seraya mengangkat alis. "Kamu gak pengen cerita? Tentang apa gitu?" "Apa ya? Gak ada ..." Meyra tersenyum. Mereka kembali makan. Wanda mencoba menyuap satu sendok lagi, tapi ternyata memang bubur bukanlah seleranya. Tes. Tak disangka cairan darah menetes pada lembaran jurnal yang berisi resep rollcake keju. Meyra menutup lubang hidungnya dan mendongakkan kepala ke atas. Ini sudah kedua kalinya sejak dini hari tadi. "Kita ke rumah sakit sekarang. Ayo," ajak Wanda panik. Seperti biasa, Meyra hanya akan menggeleng dan justru berjalan cepat menuju kamar mandinya. Wanda yang cemas mengikuti, dan ia harus secepatnya menangkap tubuh Meyra yang mendadak limbung. "Meyra!!" Usai membersihkan noda merah di hidungnya, Wanda memapah Meyra menuju ranjang. Wajah sepupunya begitu pucat. Wanda bukanlah wanita cengeng tapi ia selalu ingin menangis tiap kali membayangkan jika hal buruk terjadi pada Meyra. "Bisa gak sih berhenti sok kuat?! Kamu justru buat aku makin khawatir." "Aku baik-baik aja. Tenang," ujarnya. "Gimana aku bisa tenang? Bercak di karpet itu juga darah 'kan? Kamu juga gak mau cerita tentang orang yang lagi jahat sama kamu. Bikin kamu bayar sepuluh box pizza dan sekarang dia pengen ngancurin cafe. Kenapa kamu selalu simpan semuanya sendiri?" Akhirnya Wanda benar-benar menangis. Meyra menghela nafas. Ia tak tahu dari mana Wanda bisa mengetahui semua itu. Tapi ia tak suka membuat orang lain khawatir. "Maaf, Wanda. Tapi ini bukan masalah besar. Aku yakin bisa atasi ini sendiri." Wanita dengan setelan rumah berwarna mocca itu mengusap tangan sepupunya. Ini membuat Wanda makin menangis. Ia tahu yang harus ditenangkan adalah Meyra namun yang terjadi justru sebaliknya. Wanda mengusap air matanya. Sekarang bukan saatnya menangis. Ia harus membantu sepupunya itu. "Aku udah baca semua chat dari nomor asing itu. Aku tau ini gak sopan tapi tadi malam ponselmu bergetar terus. Karena penasaran jadi aku buka. Sorry untuk itu. Tapi apa kamu gak merasa aneh?" "Maksudnya?" "Aku yakin si peneror itu cewek. Dia minta kamu untuk lepasin 'dia'. Aku rasa ini ada hubungannya dengan Nathan." "Aku juga sempat punya pikiran begitu. Tapi aku gak mau ada pikiran buruk tentang Nathan." Meyra menunduk. "Kamu gak akan tau jawabannya sebelum kamu tanya langsung sama Nathan. Toh niatnya tanya, bukan menuduh," tambah Wanda. "Lagipula akhir-akhir ini Nathan sibuk. Kita cuma ketemu sebentar waktu dia antar atau jemput. Aku susah cari waktu untuk bicara hal serius." Wanda terdiam. Bagaimana pun caranya, ia harus membantu Meyra. Wanita itu menatap Meyra yang kini mulai tertidur setelah mengatakan kepalanya pusing. ** Wanda menyantap makan siangnya dengan wajah tak berselera. Padahal yang tersaji adalah chicken strips di bistro langganannya. Pikirannya penuh tentang pesan-pesan jahat yang masuk dalam ponsel Meyra. "Wanda?" panggil rekan kerja yang duduk di depannya. "Apa?" responnya datar. "Kenapa? Lagi diet?" tebak wanita bernama Hanna tanpa berhenti mengunyah. Belum sempat Wanda menjawab, ia melihat sekelebat bayangan seseorang yang sangat dikenalnya sedang makan di tempat yang sama. Jarak mereka hanya dua meja menyamping. "Nathan?" Ia memicingkan mata. "Siapa?" Hanna mengikuti arah pandang temannya itu. Yang Wanda lihat memang benar tunangan Meyra. Tetapi pria itu tidak sendirian. Ada Kio dan satu pria lagi yang tak ia kenal. "Han, jagain makananku. Aku mau ke sana sebentar aja." Wanda bangkit dan langsung menuju meja tempat Nathan dan teman-temannya menikmati makan siang mereka. "Than, sorry gue ganggu gak?" Wanda menatap Nathan yang sedikit terkejut. "Gaklah, sini duduk." Nathan mempersilahkannya duduk, tepat di samping Lodi. Wanda duduk dan dua pria lainnya memberinya senyum. Ia ingin berbicara tentang Meyra, namun bingung harus memulai dari mana. Kio sesekali melirik dan menyadari jika gelagat Wanda tak biasa. "Kamu pengen kita pergi dulu?" tawar Kio. "Hm, gak usah. Aku cuma mau ngomong sebentar tentang Meyra." Mendengar nama itu disebut, tak hanya Nathan yang langsung fokus, melainkan Kio juga. Sedangkan Lodi dengan santai menyeruput coffee latte-nya. "Meyra kenapa? Hari ini dia gak ke cafe 'kan?" tanya Nathan memastikan. "Iya, dia ada di apartemen. Mungkin nanti sore baru ke cafe. Tapi bukan itu yang mau aku bahas. Kamu tau nomor ini?" Wanda hasil screenshot ponsel Meyra yang kemarin sempat ia kirim ke ponselnya. Nathan meraih ponsel berwarna putih itu dan membaca pesan-pesan dari si peneror. Keningnya berkerut. Ia belum memahami apa maksud pertanyaan Wanda. "Gak tau. Tapi yang kirim jelas psyco. Gila." Nathan meletakkan ponsel Wanda kembali. "Ya, kalo gak gila ngapain ngirim kata-kata jahat untuk Meyra? Apa salah Meyra coba?" Seketika alis Nathan terangkat. Kio dan Lodi yang penasaran akhirnya melihat layar ponsel secara bergantian. Kio terhenyak. Ia mengenal nomor itu. Satu nomor yang juga menerornya sejak dua minggu lalu. "Meyra? Jadi nomor ini neror Meyra? Tapi kenapa dia gak bilang apa-apa tiap kami bertemu?" Nathan meletakkan sendoknya. Nafsu makannya hilang sudah. "Itu gak penting. Yang penting sekarang, kita harus cari tau siapa orangnya. Jangan-jangan mantanmu," tuduh Wanda pada Nathan. "Aku udah gak berhubungan sama mantanku. Aku berani bersumpah," ucap Nathan kesal. "Chill. Mumpung gue bawa laptop, serahin masalah ini sama gue." Dengan enteng Lodi mengeluarkan laptop dari tasnya. Tiga orang yang lain hanya diam memperhatikan. Nathan dan Kio telah tahu jika dalam beberapa bulan terakhir, kawan dekat mereka itu sedang berminat pada dunia hacker. "Dia mau ngapain?" tanya Wanda setengah berbisik. "Tunggu aja hasilnya," jawab Nathan. Kio juga sudah meninggalkan nasi goreng seafoodnya yang tinggal setengah. Selama beberapa saat, Lodi tampak serius. Ia menggunakan aplikasi khusus dan memasukkan kode-kode yang tak banyak orang ketahui. "Oke. Udah ketemu. Itu nomor palsu." "Palsu?" Kio bersuara dengan tatapan lurus pada sahabatnya. "Iya. Pesan-pesan itu dikirim dari komputer rumah dan diubah menjadi pesan untuk ponsel." "Lo tau di mana lokasi si pengirim?" Kio menanyakan hal yang ingin Nathan tanyakan hingga Wanda menatapnya sekilas. "Hmm, itu yang aneh. Tapi alamatnya ada di samping rumah lo," sahut Lodi dengan netra masih tertuju pada layar laptop. "Bianca ..." Tanpa sadar Kio menyebut satu nama. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN