Aku menarik napas panjang mengingat peristiwa itu. Lamunanku teralih oleh panggilan telepon. Pada layarnya tertera nama Tante Silvi. Wanita royal nomor dua yang sanggup memberikanku apa saja.
"Ya, Tante?"
"Andra ... kamu bisa ke sini, Sayang?" Suara Tante Silvi lirih dan mendesah.
Kulirik jam di tangan. "Tante di mana?"
"Di Rumah Kebun. Kamu ke sini, ya. Cepetan, Sayang."
"Oke." Panggilan mati. Aku bergegas ke tempat parkir. Untungnya aku selalu menyelipkan kunci mobil di saku celana. Sebab situasi yang mendadak seperti barusan, akan membuatku lelah jika harus kembali ke apartemen hanya untuk mengambil kunci yang tertinggal.
Kulajukan mobil sport putih. Membelah jalan tol yang lenggang. Rumah Kebun yang dimaksud Tante Silvi adalah rumah peristirahatan dengan halaman luas yang terletak di pinggir Kota Bekasi.
Wanita kaya itu membeli satu hektar tanah dan membangun sebuah rumah asri di sana. Rumah yang dikelilingi tetumbuhan, pohon buah-buahan dan bunga yang terawat rapi. Jika Tante Silvi menyebutnya Rumah Kebun, aku menyebutnya villa. Ya. Bagiku malah lebih mirip villa-villa di puncak dengan udara yang menyejukkan.
Satu jam berkendara mobilku berhenti di depan pagar tinggi bercat hitam. Security-nya bergegas membuka. Kebetulan kami sering bertemu. Tante Silvi pernah memperkenalkanku pada pria asli daerah itu sebagai 'tamu istimewa'.
Ponselku berdering lagi. Kuangkat cepat. "Ini udah di depan, Tante."
"Buruan. Langsung ke kamar tante, ya."
Aku turun dari mobil. Mengangguk pada Pak Udin—security—lalu melangkah cepat melewati tangga menuju lantai dua.
Kuketuk pintu bercat putih berpadu gold sebelum mendorongnya terbuka. Di atas ranjang ukir besi, Tante Silvi telentang. Matanya merem melek memainkan sebuah alat berbentuk 'milik pria' yang terbuat dari plastik jelly berwarna kuning.
Sadar akan kehadiranku, Tante Silvy tetap tak mengentikan kegiatannya. Tangannya yang lain, terjulur padaku. "Andra, bantuin Tante. Tante on berat."
"Tante abis minum apa, sih?" Aku menggoda. Namun, tetap kudekati dia.
"Jangan nakal. Ayo, bantuin." Dia merengek lagi.
Tangannya meraih tanganku. Mengarahkan ke area miliknya. "Kamu yang mainin. Cepetan. Ayo."
Aku nurut. Tak mau membikin Tante Silvi berubah mood. Kubelai tonjolan kecil yang mencuat itu. Tante Silvi mendesah. "Cium, Ndra. Please ...."
Aku mendekatkan bibir. Aroma khas menguar di seputaran hidung. Dengan ujung lidah, kumainkan tonjolan itu. Sesekali mengulumnya. Tante Silvi bergerak dan meracau tak karuan. Tangannya berusaha mendorong mainan tadi agar melesak lebih dalam. Aku menepisnya. Kusambar benda itu. Kulesakkan keluar masuk dan kugoyang cepat dengan lidah masih bergerak nakal.
Tante Silvi semakin menggila. Di satu kesempatan, dia melenguh panjang. Menegang lalu berhenti bergerak.
"Udah?" Aku tersenyum.
"Gila, yak. Kalo gak kamu bantuin, tante gak sampe-sampe dari tadi." Bibir tebal hasil operasi yang dia jalani setahun lalu, tersungging senyum.
"Berarti aku gak dibutuhin lagi, nih? Aku pulang, ya?"
"Eits ... jangan dulu. Kamu, kan, tau sebelum lima ronde, tante gak bisa tidur nyenyak." Wanita hiperseks itu menarik dan mendorong tubuhku hingga telentang.
Jemarinya yang berhias kutek berwarna hitam, mengendurkan tali pinggangku. Membuka resleting lalu membelai milikku yang terlapisi celana dalam saja.
Seperti biasa, bersamanya aku tidak perlu menguras habis tenaga. Bak bayi dia memperlakukanku. Aku hanya baring telentang dan pasrah pada semua keinginannya.
"Hari ini kamu gak ketemu Siska, Ndra?"
Aku menggeleng. "Belum, Tante."
"Berarti hari ini kamu punyaku, ya?"
Aku terkekeh. Mataku berubah meredup saat Tante Silvy memasukkan milikku ke mulutnya. Menjilat ujung kepalaku yang lain dan milikku yang bergelantung.
Aku harus pandai mengontrol diri. Aku tidak boleh keluar sebelum mendapat izin dari wanita itu.
"Akhhh ...." Kuraih kepala wanita itu. Kusibak rambutnya yang bergelombang. Kutekan sedikit agar milikku bisa sepenuhnya berada dalam kuluman. Tante Silvy hendak menyudahi, tapi aku menahannya sebentar.
Berkat tak tahan, aku kelepasan. Aku keluar dalam mulut wanita itu. Dia tak marah. Malah meneguk dan menjilati cairanku tanpa sisa.
"Sorry, Tante. Aku udah gak tahan. Abis Tante menggairahkan, sih." Aku nyengir.
"Nakal kamu, ya." Dia menepuk pelan pipiku. "Tapi kamu masih sanggup, kan?"
"Tentu dong. Tuh, lihat. Si o***g udah bangun lagi." Aku menunjuk ke arah dia yang sudah kembali perkasa.
Tante Silvy duduk di atas perutku. Sekali lesakan, milikku sudah menusuk area sensitifnya. Kurasakan rapet dan legit. Selain operasi hidung dan bibir, Tante Silvy juga mengoperasi miliknya.
"Akhhh ...." Sensani nikmat sekali lagi aku rasakan saat Tante Silvy mulai bergerak naik turun. Semakin lama semakin cepat tempo yang dia buat. Di detik berikutnya, dia mengejang dan berhenti. Kurasakan cairan hangat menyelubungi benda milikku.
Tante Silvy bukanlah wanita egois. Tau bahwa aku belum kelar dia kembali bergerak. Kedua tanganku menangkap gunung kembarnya yang kenyal. Desahan dan erangannya memancing libidoku. "Aku mau keluar, Tante."
"Di dalam aja. Gak apa-apa, kok." Dia bersuara di sela napas yang memburu.
Tubuhku menegang. Dua sama. Setelah itu Tante Silvy memberikan waktu istirahat hanya sepuluh menit. Hingga adu raga kami terjadi lagi hingga lima ronde.
***
Hari sudah gelap. Aku merebahkan diri dengan Tante Silvy di sebelahku dalam balutan selimut.
Ponselku berdering. Tanpa melihat aku tau bahwa itu panggilan dari Tante Siska.
"Pergilah. Habis ini tante mau kumpul dengan teman-teman tante yang lain." Tante Silvy meraih ponselnya. Berkutat dengan layar, lalu dia perlihatkan padaku. "Tante sudah transfer kamu 20 juta."
Aku mengecup pucuk kepalanya. "Makasih, Tante." Bergegas aku bangkit. Meraih baju dan celana yang bertebaran di atas lantai. Mengenakannya kembali secara terburu-buru.
"Tante yang makasih. Kamu mau ke sini jauh-jauh dari Jakarta." Tante Silvy bertopang dagu. Memperhatikan setiap gerak-gerikku.
Aku melambai padanya lalu menuju pintu. Hari sudah gelap tentu saja. Kukendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tak ingin membuat Tante Siska menunggu.
Di jalanan yang sepi, kuraih tutup dasbord lalu membukanya. Mengambil sebotol minuman penambah stamina dan menegaknya sampai habis.
Aku sangat membutuhkan minuman itu untuk menghadapi kedua wanita ini.
Di depan sebuah rumah besar bernuansa putih, aku menghentikan kendaraan. Rumah itu tanpa penjaga. Namun, semua fasilitas yang terpasang sangat canggih. Pagar yang terbuka sendiri dan juga pintu.
Seperti biasa aku melenggang masuk ke dalam kamar besar di sisi kolam renang. Tak ada sesiapapun. Namun, telingaku menangkap gemericik air dari kamar mandi.
Aku melepas semua pakaian. Melangkah saja ke sana. Sebentuk badan sintal sedang membelakangi. Kupeluk saja dari belakang, ikut bergabung di bawah curahan air shower.
Tanganku bergerak nakal. Mendekap sepasang gunung Tante Siska dan meremasnya gemas. Wanita itu melentingkan tubuhnya. Menungging. Bersiap menerima milikku yang sudah mengeras.
***