Aku sedikit merendahkan kaki. Sekali lesak, kewanitaan Tante Siska sudah kubobol. Wanita itu mendesah. Kali ini aku yang menggempur. Kuhentak-hentakkan milikku menembus kemaluan yang sudah basah.
Tak membutuhkan waktu lama. Tante Siska menegang. Kucabut milikku. Kubalikkan tubuh wanita itu. "Isap, Tante. Please ...."
Dia berjongkok. Lidahnya yang lembut memainkan milikku. Tante Siska memang terbaik jika mengenai urusan ini. Dia pintar menerbangkanku hingga ke awang-awang.
Aku menggerakkan pinggul. Bergoyang seirama gerakan kepala wanita itu. Namun, aku belum mau menyerah. Aku menyambar bahu wanita itu dan membuatnya kembali berdiri. Lehernya yang sekal dan wangi, kuciumi bertubi-tubi. Turun ke bawah, aku menghisap putingnya yang keras. Kubenamkan wajah di antara payudaranya. Wangi. Aku suka aroma tubuh Tante Siska.
"Sekalian kocokin, Tante."
Tangan wanita itu mengurut milikku. Dari ujung hingga pangkal. Jika dengan Tante Siska, aku bisa berlama-lama menikmatinya.
Kuangkat sebelah pahanya. Kulesakkan lagi rudal ke sana. Tante Siska merem melek. Menikmati tiap gerakanku. Untuk kedua kalinya dia mencapai puncak keenakan.
"Kamu malah belum, Ndra. Tante bantu, ya."
Dia mendudukkanku ke atas penutup toilet duduk. Sambil membelakangi, dia mengambil posisi. Akhh ... sungguh nikmat. Aku merasakan kehangatan b****g montok wanita itu.
Dia bergerak. Naik turun. Aku sembari memeluk dari belakang. Menciumi leher dan meremas gunung kembarnya. Ahkk ... sungguh nikmat tiada tara.
"Aku keluar sekarang, Tante."
Seakan tak peduli, Tante Siska semakin memompa. Di saat puncaknya, aku menahan gerakan. Membiarkan milikku terbenam sempurna dan berkedut di dalam k*************a itu dengan kedua telapak tanganku masih meremas p******a dan mengecup belakang lehernya.
***
Kami berdua makan malam di sisi kolam renang. Tidak ada pembantu atau pun tukang kebun. Tante Siska meminta para asisten rumah tangga untuk pergi jika aku datang mengunjunginya.
Jadi hanya ada kami berdua saja sekarang. Sambil mendengarkan beberapa keluhan Tante Siska, aku menikmati steak perlahan-lahan.
"Tadi kenapa teleponku gak diangkat, Ndra?" Tante Siska memasukkan potongan besar daging ke mulutnya. Secara sensual menjilati saus yang menempel pada bibir. Aku menikmati pemandangan itu, tak segera menjawab tanyanya.
"Ndra?" Dia mengulang. Heran menatapku.
"Bibir Tante seksi." Aku nyengir.
"Kamu pinter, ya mengalihkan pembicaraan."
Kuraih segelas air putih. Meneguk setengah isinya. "Tadi aku ganti ban dulu, Tante. Bocor pas di jalan tol."
"Kok, bisa?"
Aku mengedik bahu. "Ya ... mungkin pas lagi apes."
Itu hanya alasanku saja. Hubunganku dengan Tante Silvy terjadi di belakang Tante Siska. Dia sama sekali tidak ingin berbagi tubuhku dengan wanita lain, sedangkan Tante Silvy sendiri tau akan hal itu. Dia memaklumi jika dirinya hanya sebagai ban serep saja.
Tante Siska menyelesaikan makanannya. Mendorong piring ke tengah meja. Berdiri lalu melepaskan baju handuk yang dia kenakan. Tubuhnya kini menggoda dengan bikini hitam. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih.
"Tante mau berenang."
Byur! Dia melompat ke dalam air. Mataku tak pernah lepas dari body-nya yang bagai gitar Spanyol.
Dia berenang ke ujung dengan gaya bebas. Berbalik arah dengan gaya telentang. Payudaranya yang padat berisi, menyembul di balik bikini. Mengapung mengkilat tertimpa sinar lampu sisi kolam renang.
Libidoku naik kembali. Tanpa ragu, aku melepaskan boxer. Kini badanku bugil. Sekali lompat, aku berada di sebelah Tante Siska.
"Hei, kamu tumben mau ikutan?" Dia terperangah.
"Aku gak tahan dengan ini." Sekali rengkuh, kutarik tubuh Tante Siska. Memepetkan tubuhnya ke tepian kolam. Satu kali tarikan tali, bikininya terlepas. Sepasang gunung sintal, mengapung bebas. Sekali lahap, aku menyambarnya dengan mulut. Meremas dan menggigit pelan p****g dengan bibir.
Wanita itu melenguh. Menikmati setiap sentuhan bibirku. Aku memang menggila jika bersama dengannya. Tak ayal waktu yang kuhabiskan, hanya bercinta saja dengan wanita itu.
***
Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam. Aku pamit pulang meski Tante Siska mati-matian menahan. Percuma saja aku menginap. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak di sebelah wanita seksi itu.
Mobil yang kukendarai tetap melaju perlahan, meski di simpang empat lampu merah tak ada kendaraan sama sekali.
Menoleh ke arah kanan, aku menatap seorang ibu dan dua orang anaknya saling peluk dalam dinginnya cuaca malam. Kuedarkan mata ke sekitar. Tak ada lagi warung makan atau toko yang buka.
Aku selalu merasa kasihan jika melihat kondisi seseorang yang terlunta-lunta di jalanan. Rasa dingin yang menusuk kulit, rasa lapar yang menyiksa serta sakit karena cemoohan orang, dulu pernah kurasakan waktu memutuskan pergi dari rumah orang tua asuhku.
Untungnya ada beberapa pengemis yang menawariku makanan. Meski hanya nasi putih dan tempe sepotong, perlakuan mereka terus melekat dalam ingatan.
Itu sebabnya, aku tidak perhitungan pada kaum papa di jalanan. Seringkali aku memberi uang atau langsung mengajak mereka makan di warung.
Namun, kali ini aku tidak bisa berbuat banyak. Aku mengetuk-ngetuk setir mobil sambil mencari akal. Ah ... aku teringat rumah makan cepat saji yang buka selama 24 jam di depan apartemenku. Jaraknya dari lampu merah ini tidak jauh lagi.
Kuinjak gas setelah lampu hijau menyala. Kulajukan mobil secara cepat. Memasuki jalur drive thru, aku memesan empat paket porsi besar ayam goreng beserta nasi, kentang dan juga minuman soda.
Tak menunggu lama, bingkisan berisi makanan tersebut sudah berada di jok sebelahku. Kukendarai lagi mobil ke arah tadi. Lalu sengaja kuhentikan di depan ketiga orang berbaju lusuh yang tidur beralaskan kardus bekas.
Suara mesin mobilku, ternyata membangunkan sang ibu. Sehabis mengucek mata dia bangkit duduk. Aku berjongkok di depannya, dengan tangan terjulur menyodorkan tiga bingkisan tadi.
"Makan bareng aku, yok, Bu? Bangunkan anak-anak Ibu. Lebih seru kalo kita makan rame-rame."
Wanita berkulit kecokelatan itu tersenyum senang. Dia segera membangunkan kedua bocah dengan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
Anaknya yang lebih besar bangun terlebih dulu. Matanya berbinar menatap gambar di kantong plastik yang tergeletak di depannya. Dia juga ikut membantu ibunya membangunkan sang adik.
Respons bocah yang kedua sama, semringah. Seperti baru pertama kali melihat makanan mahal.
Lima menit kemudian kami makan dengan lahap. Aku beralaskan kardus yang dipinjamkan si ibu, duduk tanpa canggung. Rasanya seperti mengulang masa lalu. Duduk di trotoar tepi jalan, makan bersama-sama dengan para pengemis. Tak peduli pada tatapan heran atau bergidik dari orang-orang yang berlalu lalang. Bagi kami, yang penting hari ini dapat makan kenyang dan tidur dengan perut terisi.
Urusan besok, ya, besok saja. Besok kami bisa bekerja kembali dan mengulang rutinitas yang sama. Karena tidak seperti orang kaya, kami tidak pernah memikirkan masa depan. Memikirkan ingin jadi apa atau seperti apa. Tidak menjadi beban saja sudah bersyukur. Bagi kami, impian hanya beban yang membuat diri menjadi malas untuk mencari sesuap nasi.
***