Berita kemunduran Kang Goban dari perhelatannya sebagai ketua mafia elite menjadi kabar gembira bagi kelompok mafia Elang Merah, mereka seakan merayakan kemenangan atas di gantinya Kang Goban dari posisinya.
Sembari meneguk miras, Kang Emil menatap tajam ke depan kepalanya sedang merencanakan suatu hal, bahwa malam ini mereka harus bergerak dan membuktikan langsung bagaimana keamanan klub-klub malam di Jakarta saat transisi kepemimpinan kelompok Kang Goban. Dia akan memerintah anak buahnya untuk melakukan transaksi narkoba di salah satu klub Jakarta.
Kang Emil pemimpin Elang Merah sangat membenci era dunia gelap di Jakarta saat di pimpin Kang Goban. Setiap kali anak buahnya melakukan transaksi narkoba setiap itu juga keberadaan mereka tercium dan akhirnya di jebloskan dalam penjara.
Daun di depan rumahnya baru saja jatuh, bahwa Kang Emil adalah pemasok narkoba terbesar ke Indonesia melalui jalur laut antar negara. Dia adalah bos narkoba yang memiliki relasi langsung dengan bos narkoba Pakistan, Thailand dan Brasil.
Pendapatannya selama sepuluh tahun bermain narkoba itu pasang surut layaknya laut. Jauh sebelum Kang Goban menjadi ketua mafia keamanan yang sangat di percaya polisi, Kang Emil sering berhasil menyelundupkan narkoba sebanyak satu ton, lalu membagikannya di berbagai wilayah Indonesia, dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Bali hingga Lombok. Hingga pendapatannya bisa mencapai satu terliun lebih satu kali pengiriman.
Namun sejak Kang Goban terdaftar dan di percaya sebagai pemimpin keamanan wilayah kota Jakarta dari sisi bawah, maka banyak anak buah yang ia perintah menjadi kurir narkoba tertangkap sampai di jebloskan penjara hingga ia mengalami kerugian sampai puluhan milyar.
Tapi sekarang apa yang dia tunggu-tunggu selama ini telah tiba, sebuah penantian yang cukup panjang. Kang Emil tidak tahan dengan penderitaan yang selama ini ia rasakan, sangat sengsara bahkan untuk keluar rumah saja ia harus mengubah wajahnya menjadi orang lain.
“Saatnya balas dendam.” Kata Kang Emil.
Selama ini kelompok Elang Merah telah mengalami krisis keuangan karena bisnis gelap mereka tak memiliki celah dalam transaksi. Hingga beberapa dari anggota mereka pelan-pelan memundurkan diri dan menjadi pedagang kaki lima.
Hampir saja Elang Merah yang ia pimpin itu hilang di telan zaman, di mana nama dan anggotanya saja yang tertinggal. Tetapi kali ini, Kang Emil akan mencoba lagi bagaimana keamanan klub malam dan semua wilayah kekuasaan yang sekarang di pimpin Valdo. Apakah cara dan tindakannya sama seperti Kang Goban atau malah lebih hebat dari Kang Goban.
Kang Emil tahu siapa Valdo. Dari keluarganya hingga keahliannya. Maka dari itu umur muda seperti dia mudah di pengaruhi, kalau pun sulit maka Kang Emil akan menanam ranjau propaganda di setiap wilayah milik mereka agar mereka saling membenci.
Kang Emil merasa baru sampai di atas lantai satu surga, melihat pemandangan indah dan gagahnya istana. Sekejap lagi ia akan membuka pintu istana dan tinggal nyaman di dalamnya. Istananya di penuhi bidadari hingga ia di bangunkan di atas ranjang emas dan sebotol sake dengan cawan emas.
Dia pun menghubungi si c**i tangan kanannya yang sampai sekarang setia padanya meski bisnis mereka sedang anjlok. Banyak yang mengira lelaki ini suka melakukan maksiat pemuas nafsunya karena ia di panggil c**i. Tetapi nama yang di berikan langsung oleh Kang Emil itu artinya Cowok Tuli.
Setengah jam kemudian, c**i pun datang sambil tersenyum bengis pada Kang Emil. Ia tahu bahwa Kang Emil memanggilnya sedang merencanakan hal yang sama dengannya yaitu memulai transaksi narkoba kembali.
“Ha-ha-ha...” tawa c**i menggema.
Siapa yang tak paham kebengisan c**i, kelicikan dan kejahatannya telah tersebar luar di wilayah udara, darat Jakarta. Sudah tidak ada tempat kebaikan baginya. Wajahnya laksana gladiator Romawi yang seram-seram.
Coli pernah bolak-balik masuk penjara sebanyak tiga kali karena kasus mencuri. Akibatnya tangannya hilang satu dan di punggungnya ada bekas bacokan. Meskipun begitu, c**i tak pernah jera dan sama sekali tidak memiliki niat untuk insaf atau berubah.
Kang Emil sendiri menyukai dan menjadikan c**i sebagai tangan kanan kepercayaannya karena ia di nilai gesit, licik, dan dapat di andalkan meski kadang ia membuat kocak karena ketulian telinganya. c**i itu merupakan lelaki nekat tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu dan tanpa takut. Sesekali ia di perintah maka ia akan melaksanakannya tanpa bertanya apalagi mengatakan tidak atau takut. Ia lahir dari keluarga yang sampai sekarang belum ia tahu. Hal itu pun tidak menjadikannya bingung, paling jika ia di ledek ia tinggal menusuknya.
“Saya tahu apa yang ada dalam pikiran Bos... Pasti sama dengan saya, iya kan?” kata c**i dengan tingkah anehnya.
Coli sendiri tidak tahu apa itu sopan, segan apalagi malu. Yang ia tahu ia adalah makhluk hidup tanpa bapak dan ibu. Jadi ia sama sekali tidak takut pada siapa-siapa termasuk pada bosnya Kang Emil.
Berinteraksi dengan c**i ini agak susah, kita harus berbicara padanya dengan suara keras bahkan harus di sertai gerakan tangan. Kang Emil sendiri berapa kali di buat marah olehnya ketika dia salah menangkap informasi hingga berapa kali bertindak salah.
“Sini!” kata Kang Emil bersuara keras sambil melambai tangannya. Lalu c**i mendekat, bau amis dari tubuhnya begitu mengganggu sebenarnya namun Kang Emil tahan dan tampaknya ia sudah biasa.
“Malam ini pergi ke daerah sisi terminal. Transaksilah di sana!” ucap Kang Emil menahan nafas. c**i mengangguk-angguk paham. Ia begitu serius mendengarkan.
“Malam ini akan saya siapkan dengan siapa kamu transaksi, dan ingat jangan pernah berbicara dengan lawan transaksimu. Gunakan cara seperti biasa. Dengar?” lanjut Kang Emil.
“Dengar dan paham bos. Ha-ha-ha.” Jawab c**i tertawa dan entah apa yang ia tertawakan.
“Tunggu Bos.” Ucap c**i membuat kaget Kang Emil.
“Hem.” Kata Kang Emil sambil mengangkat kepala.
“Saya tidak punya uang sama sekali Bos. Bahkan saya kesini paksa tukang ojek. Itu dia ada di depan. Masih tunggu saya memberikan ongkos. Bagaimana ini Bos, apa dia di hajar saja?” ucap c**i seperti orang teriak.
“Astaga...” kata Kang Emil sambil menepuk jidat. Kemudian menarik uang lima puluh ribu dari sakunya lalu memberikannya pada c**i agar ia membayar ongkos pada tukang ojek.
“Kamu membuatku malu saja. Masa rumah sebesar ini tidak bisa membayar ongkos ojek...” kata Kang Emil.
“Begitulah Bos.” Jawab c**i tersenyum.
“Seharusnya saya memberi nama Cogi padamu. Yaitu Cowok Gila.” Lanjut Kang Emil. Kemudian ia menghubungi pelanggan lama bisnis gelap mereka. Mungkin pelanggan lamanya tersebut telah pindah pembeli atau ia juga berhenti. Yang Kang Emil harus lakukan, merayu dari semua pelanggannya hingga ia mau melakukan transaksi kembali dengannya.