Penyamaran

1031 Kata
c**i mendandani dirinya bagai pemulung kotor yang tengah lapar, lalu pergi ke tepi gelap terminal membawa karung berisi satu kilo heroin dan senjata api. Di tempat sampah, ia pura-pura mencari botol bekas dan apa saja yang pantas ia ambil dan masukkan ke dalam karungnya. Ia berjalan sambil melirik memantau para keamanan terminal. Setelah rasa cukup aman, ia pun melapornya pada Kang Emil menggunakan handphone dan Kang Emil sendiri menghubungi rekan bisnisnya agar ia mendatangi c**i di tempat sampah sebelah terminal. Kang Emil pun melaporkan pada c**i bahwa rekan transaksinya adalah pria yang juga menyamar menjadi tua. Ia berbaju hitam, celana pendek dan sandal jepit. Selang lima belas menit, datang lelaki tua dengan ciri-ciri persis seperti yang di katakan Kang Emil. c**i pun berjalan biasa seakan mencari botol bekas dan di ikuti oleh lelaki berjanggut uban, lalu meletakkan karung berisi heroin tersebut di sebelah tong sampah. Sementara senjata apinya ia simpan di belakang punggungnya. c**i pun pergi tanpa menoleh ke arah lelaki berjanggut uban tersebut, tanpa berbicara pula dengannya. Coli pulang selamat dan sangat bahagia, sebab baru kali ini pengawasan di terminal lengah hingga mereka berhasil melakukan transaksi tanpa sedikit pun tercium. Saking mudahnya, ia anggap bagai transaksi lombok dan singkong meskipun kondisinya gelap. Esok harinya, Kang Emil kembali mengutus c**i melakukan transaksi dalam pasar. c**i tidak bisa lagi di ragukan mengenai penyamaran, waktu lalu ia pernah menyamar menjadi banci demi transaksi di tepi jalan. Kali ini ia menyamar menjadi ibu-ibu membawa tas belanja lengkap dengan daster. Ia sama sekali tidak ragu orang-orang curiga mengenai tangan kirinya yang tidak ada. Pelan-pelan ia berjalan menuju keramaian pasar melewati para keamanan pasar, lalu memilih beberapa sayur seperti ibu-ibu yang ingin memasak sesuatu. Hingga datang wanita muda rekan bisnis mereka mengikutinya dari belakang. c**i pun singgah ke penjual daging, lalu meletakkan tas belanjanya di atas meja dan wanita muda itu diam-diam menukarnya dan berpura-pura menanyakan harga. Setelah berhasil transaksi, mereka pun sama-sama pergi. Sorenya, c**i datang ke rumah Kang Emil membawa dua botol Vodka. Di ujung bibirnya terpasang cerutu dan ia isap penuh gembira. Lalu memberikan Kang Emil sebotol Vodka sebagai perayaan keberhasilan mereka melakukan transaksi. Tentu Kang Emil rada tersenyum, tetapi keberhasilan mereka kali ini tidak membuat Kang Emil begitu puas. Ia ingin membuat rencana besar yang benar-benar membawa namanya kembali naik pitam. Memiliki anggota dan menguasai wilayah itu tujuannya. “Kali ini saya akan bercerita semua yang saya dapatkan selama transaksi Bos. Kita tahu bahwa anak-anak buah utama Kang Goban seperti Jeki dan Renal yang saling merebut posisi sebagai pemimpin. Tetapi saya rasa mereka benar-benar kecewa setelah Valdo yang di angkat Kang Goban sebagai penggantinya. Saya ada ide Bos, saya rasa ide ini benar-benar manjur dan mampu membawa kejayaan bagi kita.” Kata c**i. “Lanjutkan!” seru Kang Emil. “Bagaimana jika kita mengadudomba kedua pihak yang iri ini, mungkin antara Jeki dan Renal. Atau dua orang itu pada Valdo. Saya dengar-dengar Baban yang menjadi pemegang wilayah klub malam. Dan Baban sendiri dekat dengan Valdo tak mungkin kita jadikan kuda. Sedangkan Jeki atau Renal, sepertinya mudah kita taklukkan.” Lanjut c**i. “Terus... Bagaimana cara kita mendekati mereka?” tanya Kang Emil. “Hem... Kita harus mendekati salah satu dari anak buah Jeki atau Renal. Kita jadikan alat agar mereka membenci satu sama lain.” Lanjutnya. “Siapa kira-kira?” tanya Kang Emil sambil meneguk Vodkanya. “Tenang Bos. Biar saya yang atur. Salah satu anggota Jeki itu adalah temanku, nanti saya dekati dan rayu dia. Hal seperti itu biar saya yang urus.” “Saya percaya padamu. Ingat jangan sampai lengah!” pesan Kang Emil yang pelan-pelan mabuk. “Coba malam ini kamu transaksi lagi di klub malam. Berani?” “Di mana? Ganti namaku Bos kalau saya takut.” Kata c**i. “Tapi tunggu dulu. Saya ingin kamu membuktikan kemampuanmu merusak hubungan mereka terlebih dahulu, setelah itu ketika mereka saling membenci, baru kita hancurkan mereka. Kamu harus siap-siap untuk itu.” Selepas pulang dari rumah Kang Emil, c**i pun menghubungi Julio, mengajaknya bertemu dan berjanji akan mentraktirnya kali ini. c**i tahu bahwa teman yang tumbuh di jalan dengannya itu tak memiliki kemampuan menolak ajakan orang. Dari itu ia akan memanfaatkan Julio sebab dia satu-satunya anak buah Jeki yang ia kenal. Mereka bertemu di dekat kali yang sangat sepi, sambil meneguk bir hitam dan sebatang rokok, c**i pun melancarkan aksinya mengupas tuntas apa yang sedang terjadi pada Jeki. Julio tak pandai berbohong apalagi menutup aib tentang mereka, ia berkata bahwa memang Jeki tidak sepakat Valdo menjadi pemimpin mereka. Bila bisa memilih, Jeki akan memilih Baban sebagai pemimpin mereka. Tetapi itu adalah keputusan Kang Gabon dan mutlak keputusan tersebut tidak bisa di ganggu gugat. Coli semakin senang mendengar kabar itu, lalu meniupkan kata yang sangat halus pada Julio agar ia menuntut Jeki memilih mundur dan membangun kelompoknya sendiri. “Itu tidak mungkin. Imposible... Kamu tahu sendiri bahwa Jeki lahir dari rahim Kang Goban. Mana mungkin ia membangun kelompok sendiri, sama saja itu menentang Kang Goban.” Jawab Julio. “Bukan seperti itu maksudku, tetapi kamu harus memainkan peranmu. Aku yakin Jeki itu mudah mengambil keputusan yang membuat kalian bahagia. Lagi pula ketika kalian sudah bebas dan berdiri sendiri maka aku akan gabung dengan kalian. Dan kamu tahu bagaimana kuat dan banyak anggotaku.” “Kita akan bersinergi membangun Jakarta lebih baik dari kepemimpinan Valdo. Kalian tahu bahwa Valdo orang yang sangat licik, dan ia sangat tidak pantas menjadi pimpinan kalian. Dengar-dengar ia akan melakukan upaya pembelotan setelah sebulan menjadi pemimpin. Kan jika kamu tahu, Valdo itu bekerja sama dengan Baban agar mereka terlihat bagus di depan Kang Goban. Dan kita tahu mereka berhasil merebut kursi Kang Goban seolah-olah itu memang kerja kerasnya. Dengar Julio... Jika kalian tidak bergerak cepat, tidak memutuskan pilihan maka kalian akan di jadikan b***k penghasil uang bagi Valdo dan Baban. Pegang kataku ini. Kalau aku salah, kamu bisa memotong tangan kananku kembali atau membunuhku sekalian. Ini demi kamu Julio. Demi kalian semua.” Lanjut c**i. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Julio sendiri dengan bimbang dan ragunya memutuskan pilihan. Kali di depannya begitu kotor dan ia baru saja berpikir kali ini ia akan berbuat kotor. Tidak, ia tidak akan berbuat kotor. Tetapi menyelamatkan Jeki dari rencana kotor Valdo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN