BAB 3

1463 Kata
            “Tidak ada yang salah kan kalau kamu minum dari bekas bibir istri kamu, Erick?” Ilona tersenyum licik dengan sebelah alis terangkat. Erick menatapnya dingin.             Mereka hidup di rumah tangga yang serba kaku, dingin, angker dan ganjil. Ilona dan Erick terpenjara dengan kehendak keluarga masing-masing tanpa memikirkan bahwa menikah tanpa cinta akankah berdampak pada psikologis keduanya. Keluarga tidak memikirkan hal itu. Mereka hanya ingin melakukan hal yang semestinya. Tradisi perjodohan.             “Kenapa Bos Erick yang terhormat?” Ilona memasang ekspresi yang dibenci Erick. Senyum manis penuh kelicikan.             Erick hanya diam menatap karyawan sekaligus istrinya itu. Rambut cokelat Ilona yang identik dengan kuncir kuda dan terkadang tergerai lurus, mata almondnya, bibir ranumnya yang selalu dilapisi gincu warna mauve on dan alis tebal wanita itu tak pernah membuat Erick tertarik. Apalagi soal karakter Ilona yang selalu ingin menjatuhkan Erick. Membangkang setiap perintah Erick di kantor dan menggosipkan kekasihnya yang menurut anak-anak kantor—cantik namun norak dengan perpaduan warna busana yang buruk. Mona menjuluki Sasa dengan panggilan ‘Miss Ngejreng Noraks!’. Dan Ilona akan terbahak setiap kali Mona membicarakan soal Sasa bukan karena Sasa lucu dengan kostum-kostum warna permen karetnya tapi karena Mona selalu bisa melucu. Mona memiliki ekspresi khas. Wajahnya selalu tampak konyol.             Erick melepas jasnya. “Kamu tahu, Ilona, aku tak pernah menyukaimu.”             “Apalagi aku. Aku selalu membencimu, Erick. Rasanya saat pernikahan aku ingin sekali kabur.” Ilona membalas tatapan tajam Erick. “Jadi, kamu mau kopi ini atau kopi buatan Miss Ngejreng Noraks-mu itu?”             “Ilona! Berhenti menyebut Sasa dengan seperti itu!” Erick meraum geram.             “Faktanya bukan aku yang memberi julukan seperti itu. Julukan itu diberikan oleh seluruh penduduk kantor.” sebelum meninggalkan Erick, Ilona kembali tersenyum. Kali ini senyum menang karena berhasil membuat Erick geram padanya. Entah kenapa Ilona seperti memiliki kesenangan ganjil membuat Erick tampak kesal karena ejekannya pada Sasa.             “Bagaimana denganmu, Ilona?” Erick tidak ingin amarah menguasainya sehingga dia ingin membalas ejekan Ilona.             Ilona berbalik. “What do you mean, my Boss?” sebelah alis Ilona terangkat.             Sebelah sudut bibir Erick terangkat. “Kamu dikhianati kekasihmu yang menjalin hubungan dengan sahabatmu sendiri.” itu jelas bukan kalimat pertanyaan melainkan kalimat pernyataan.             Seketika wajah Ilona memerah. Darimana Erick tahu rahasia yang selalu disembunyikannya? Ilona merasa wajahnya memanas.             “Aku tahu semuanya, Ilona. Aku berusaha diam karena perasaan wanita itu lembut kan? Aku tidak mau menyakiti hatimu dengan menyebut-nyebut nama Arun dan Kamila.”             Baru kali ini Erick berhasil membungkam mulut Ilona. Melenyapkan senyum penuh kelicikan Ilona selama delapan bulan pernikahan mereka.             “Saat kamu menyebut nama dua orang berengsek itu, aku sudah biasa saja. Mereka hanya daun kering yang pernah hinggap di bahuku saat aku melewati sebuah pohon.”             “Oh ya?” Erick mendekati Ilona.             Mereka saling bersitatap dalam kebencian yang mereka ciptakan sendiri. Erick membenci Ilona sebelum tahu kalau dia akan dijodohkan dengan wanita ini. Dan Ilona membenci Erick saat pria itu bertingkah layaknya seorang raja.             “Mamahmu meminta kita datang ke rumah besok minggu.” Ilona sengaja mengalihkan topik pembicaraan.             “Dia pasti memintaku untuk membuat program kehamilan. Aku benci keinginan mamahmu itu.”             “Seharusnya kita memulai membuat program sekarang dengan tidur di kamarku, Ilona.” Erick menatap Ilona menantang.             Ilona mendengus. “Aku tidak sudih disentuh olehmu, Erick.” *** Ilona mengenakan kemeja biru lengan panjang dengan rok bahan crepe motif bunga tulip. Dia memberi sentuhan manis dengan sabuk kecil warna cokelat di pinggangnya. Ibu mertuanya menyukai gaya klasik seperti ini. Dan Ilona punya kewajiban menyenangkan Ibu mertuanya itu. Sejujurnya, dia sangat membenci Mamah Erick—Nyonya Amarta. Baginya, Amarta mirip tokoh antagonis di film-film drama. Dia bersikap layaknya seorang Ratu. Terlalu sok elegan. Terkadang, Ilona merasa geli mendengar dia berbicara dengan nada lembut yang dibuat-buat. Agaknya Amarta selalu melatih gaya bicaranya. Sayang, bagi Ilona gaya bicara Amarta begitu memuakan.             “Apa perkembangan hubungan kalian sekarang? Apakah kalian sudah saling mendambakan satu sama lain?” pertanyaan itu diluncurkan bibir yang dilapisi gincu warna merah gelap keunguan milik Amarta setelah dia selesai makan.             “Mah,” tegur Erick lembut.             “Kenapa? Mamah tahu kalau kalian tidak saling mencintai karena kalian menikah karena perjodohan ini kan? Tolonglah untuk memulai hidup rumah tangga kalian dengan cinta.” ada kenaikan nada di dalam suara Amarta. Dia mengalihkan pandangan pada Ilona. “Mamah sudah menuruti keinginan Ilona agar tidak ada yang tahu soal pernikahan kalian.” Dia kembali menatap putranya. “Jadi, Mamah mohon agar kamu dan Ilona menuruti keinginan Mamah. Mamah hanya ingin menimang cucu. Bermain dengan cucu, mengajarinya banyak hal.” dia menghela napas lelah. “Kalau saja papahmu masih ada, Rick. Mamah tidak akan merasa sendiri begini.” Dia kembali menatap Ilona yang sedari tadi sedikit menundukkan wajahnya. “Kalau saja Ilona mau tinggal di sini.” Amarta kembali menatap putranya.               “Mah, aku dan Ilona sudah saling mencintai. Mamah tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Mamah hanya perlu menunggu kabar kehamilan Ilona, Mah.” Erick mencoba menenangkan mamahnya. Amarta tahu kalau putranya itu sangat menyayanginya. Dia suka membuat Erick merasa bersalah. Dia suka sekali menyuruh dan memerintah Erick demi kepuasannya sendiri.             Ilona menatap Erick yang balas menatapnya. Dia benci berada di antara drama ibu dan anak itu. Amarta selalu terlihat baik, suci dan elegan di depan orang lain. Tapi di depan putra dan menantunya dia mengeluarkan semua bisanya.             Ilona ingat bahwa Amarta tak sepenuhnya menyukai Ilona. Dulu sewaktu dia belum menikah dengan Erick, Amarta sering menatapnya dengan tatapan mengejek karena dia bekerja di perusahaan calon suaminya sendiri. Meskipun Amarta selalu tampak baik pada Ilona. Ilona tak pernah menyangka bahwa bos yang dibencinya itu bakal jadi suaminya. Dan dia benar-benar terjebak dalam pernikahan yang entah bagaimana membuat dia dianggap mesin pembuat anak. Amarta selalu menyuruhnya meminum inilah-itulah agar dia cepat hamil. Luar biasa memuakan!              “Mamah tidak mau tahu, kalian harus segera memiliki anak. Mamah ingin memamerkan pewaris tunggal perusahaan kita.”             “Mah, Erick saat ini masih sibuk dengan kerjaan Erick dan Ilona juga sama. Tidak mungkin dia hamil untuk saat ini saat dia masih bekerja.”             “Bukannya perjanjiannya begitu?” Amarta memiringkan kepalanya menatap lekat putranya. “Ilona akan langsung resign saat dia hamil.”             “Mungkin, kita perlu mengadopsi seorang anak.” Ilona akhirnya berkata. Tapi dia tidak terlalu paham kenapa bibirnya mengatakan demikian.             “Apa maksudmu?” tanya Amarta dengan sebelah alis melengkung.             “Iya, mengadopsi seorang anak. Salah satu temanku mengadopsi seorang anak setelah dua tahun menikah dan belum memiliki anak. Lalu selang beberapa bulan dia hamil.” dusta Ilona. Dia hanya ingin cepat pergi dari hadapan Amarta.             “Ide  menarik!” seru Amarta, tersenyum.             Erick hanya menatap Ilona dengan tatapan tidak setuju. ***             “Siapa yang mengurusinya nanti?” tanya Erick saat mereka di dalam mobil. Kilatan emosi penuh amarah hadir di wajah Erick.             “Sasa.” jawab Ilona enteng disertai senyum sinisnya yang membuat Erick tambah murka.             “Sinting kamu.”                                       “Aku rasa ada yang salah dengan mamahmu, Erick.”             “Dia hanya ingin menimang cucu.”             Ilona menggeleng. “Kamu tidak sadar bahwa ada yang aneh dari sikap mamahmu selama ini?”             Dahi Erick mengernyit. “Apa maksudmu?” suaranya dalam.             “Mungkin suami baru akan membuat dia berpikir lebih terbuka.”             “Ilona!” sungut Erick. “Mamahku sangat mencintai papahku. Kalau dia ingin menikah, dia pasti menikah sejak dulu, Ilona. Dia memilih untuk tetap setia pada papah.”             “Erick, sadarlah, dia seperti itu untuk menarik perhatianmu. Aku yakin dia tidak akan menyuruhku lagi kalau dia punya pasangan.”             “Berengsek!” umpat Erick sebelum menyalakan mesin mobil dengan gerakan kasar.             “Aku hanya sedih melihatmu diperlakukan seperti itu oleh mamahmu sendiri. Kamu tidak menjanjikan apa-apa pada Sasa sedangkan semua orang kantor tahu kalau kamu mencintai Sasa. Dan sekarang, mamahmu menyuruhku cepat hamil seakan aku adalah sebuah mesin. Cepat, instan dan tidak repot.”             “Kapan kita mencari anak adopsi?” tanya Erick tanpa menatap Ilona. Dia sedang tidak berselera bertengkar dengan Ilona. Baginya, sekarang adalah membahagiakan mamahnya. Tak peduli bahwa tidak mungkin Ilona hamil hanya dengan mengadopsi seorang anak tanpa adanya sentuhan untuk Ilona.             Ya, ini untuk sementara. Kedepannya biar mereka berpikir kembali. Tapi kalau Amarta terus merengek meminta cucu, mau tidak mau dia akan melakukannya. Termasuk menyentuh Ilona kalau memang harus begitu. Dan Sasa, entahlah. Yang jelas wanita itu masih tinggal di seluruh ruang hatinya.             “Minggu depan.” jawab Ilona. “Aku ingin anak perempuan usia 7-8 tahun.” kata Ilona tanpa menatap Erick.             “Anak laki-laki lebih simple. Aku tidak mau mengurusi anak perempuan yang rewel.”             “Aku mau anak perempuan, Erick.” Ilona memberi penekanan pada setiap patah katanya.             “Terserahlah.” Erick pasrah.             Wanita memang rumit. Tidak ibunya tidak Ilona, dua-duanya memusingkannya. Dan dia benci saat harus mengalah pada Ilona. Sangat benci. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN