"Tunggu Lania! Ayah bisa jelaskan semuanya!" Ayah Lania dengan wajahnya yang pucat itu tergopoh-gopoh untuk mendekati Lania. Dengan tangannya yang gemetar dan tatapan matanya yang penuh penyesalan. Ayah terus berusaha mendekati Lania. "Lania dengarkan Ayah!" pinta sang ayah. Akan tetapi, jangankan untuk mendengar penjelasan. Untuk mempertahankan kesadarannya saja Lania sudah tidak sanggup lagi. Air mata sudah membasahi pipi Lania, hatinya tercabik dan tubuhnya terasa lemas. Padahal sebelumnya keluarga kecil itu sudah menemukan tujuan baru. Mereka sudah cukup puas dengan mempertahankan keluarga kecil mereka. Saat itu, percakapan antara kakek dan ayah Lania berlangsung begitu sengit. Dari kejauhan Lania dan Vino sudah mendengar keributan yang disebabkan oleh sang ayah. "Tidak, j

