Satu minggu berlalu sejak malam penghargaan karyawan terbaik. Selama itu pula Erlangga mendapatkan ledekan dan sindiran dari ibunya karena terlihat begitu terpesona pada penampilan sekretarisnya malam itu. “Cantik banget ya mas, sampe nggak ngedip gitu?” bisikan Reva terdengar di telinganya saat mereka berjalan pelan menuju pintu keluar aula hotel. Menutupi wajahnya yang terasa panas Erlangga berjalan sedikit lebih cepat sembari menggendong Ane yang sudah tertidur di pelukannya. Mamanya tidak akan melepaskan kesempatan ini begitu saja untuk terus meledek dan memaksanya mengakui apa yang ia rasakan tadi saat melihat Mayang. “Udah cantik, baik sayang sama Ane lagi.” kejar Reva. Mata perempuan pertengahan 50 itu melirik ke arah putranya yang sibuk mengusap-usap punggung cucu kesayangannya

