Sedikit Perubahan

2220 Kata
“Kenapa kamu?” Erlangga memandangi Mayang yang dari tadi terlihat gelisah duduk di kursi di hadapannya. “Eh? Ng-nggak apa-apa pak.” Mayang kembali menunduk menghindari tatapan mata tajam Erlangga. Jengah dengan gerak-gerik Mayang sedari tadi yang tidak bisa diam, Erlangga kembali bertanya, “Kamu bikin saya pusing dari tadi gerak-gerak nggak karuan kayak gitu. Udah kayak cacing kepanasan. Bisulan kamu?” “Eh? Nggak lah pak!” Mayang menyahut cepat. Enak saja bisulan. Memangnya tidak ada dugaan lain selain bisul?! “Ya terus kenapa dari tadi kamu nggak bisa diem?” Erlangga kembali bertanya tidak sabar. “Nggak apa-apa pak. Kalau sudah berkasnya mau saya bawa sekarang.” Mayang segera mengumpulkan berkas titipan divisi lain yang harus di cek dan di tanda tangani Erlangga. Bergerak cepat ia segera menggabungkan semua dan membawanya dengan satu tangan. “Permisi pak…” Mayang melangkahkan kakinya cepat, tidak sabar untuk mencapai pintu keluar. Tangan kanannya yang tidak memegang apa-apa sesekali menarik blazer milik Shinta yang ia pinjam tadi pagi, walau sebenarnya tidak akan merubah apapun.  Mayang rasanya ingin menangis sekarang, ia tidak pernah terbiasa menggunakan pakaian kerja yang terlalu ketat seperti yang dipakainya sekarang, oleh karena itulah semua setelan kerjanya berupa celana bahan longgar dan blazer yang panjangnya menutupi tubuh bagian belakangnya. Salahnya sendiri yang mengikuti keinginan Shinta tadi pagi. “Gue cuma punya itu kalo lo mau pake celana. Sisanya rok, gimana?” Akhirnya karena tidak ada waktu lagi, Mayang menerima setelan pakaian kerja milik Shinta dan segera memakainya,.membuat sahabatnya itu berdecak kagum melihat bagaimana pakaian itu melekat sempurna di tubuh Mayang. “Kayaknya itu setelan emang lebih cocok lo yang pake deh. Pas banget May, lo cantik.” Sebenarnya Mayang dan Shinta memiliki ukuran pakaian yang tidak jauh beda. Hanya saja, Mayang sengaja memakai setelan satu nomor lebih besar dari ukuran tubuhnya yang asli. Ia merasa risih jika harus mengenakan pakaian yang terlalu menonjolkan lekuk tubuh. “Mayang ke ruangan saya…” Suara Erlangga terdengar dari saluran interkom membuat Mayang bergegas kembali ke ruangan bosnya itu. Ternyata Erlangga hanya ingin menyerahkan satu berkas laporan lagi yang tertinggal disana. Setelah menerimanya Mayang bergegas undur diri untuk kembali ke meja, namun karena terlalu terburu-buru ia menjatuhkan berkas itu ke lantai, tepat di samping kakinya. Mayang menunduk mengambil kembali berkas itu, kemudian sedikit berlari untuk segera mencapai pintu. Tanpa sadar Erlangga menyaksikan semuanya sedikit melongo, perasaannya saja ataukah memang ada yang berbeda dengan apa yang dikenakan Mayang hari ini? Selama menjadi sekretarisnya hampir 4 bulan ini,bukan hanya tadi Mayang menjatuhkan suatu benda dan menunduk untuk mengambilnya. Namun rasanya baru tadi Erlangga melihat cukup jelas bagian belakang tubuh Mayang, biasanya gadis itu mengenakan setelan kerja yang lebih longgar dibandingkan hari ini. “Astaga…apa-apaan.” Erlangga mengusap wajah sambil menggelengkan kepala ketika bayangan tubuh Mayang melintas di kepalanya. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada laporan keuangan perusahaan yang belum selesai ia periksa. Tidak ada waktu untuk hal lain yang tidak penting.   *** Beruntungnya hari ini tidak ada jadwal meeting apapun yang harus dihadiri Erlangga sehingga Mayang bisa tetap berada di mejanya saja. Setelah pagi tadi membacakan jadwal  Erlangga hari ini dan menyiapkan semua berkas laporan yang mesti diperiksa, Mayang tinggal mengerjakan laporan yang di minta Erlangga kemarin saat pertemuan dengan Mr.Sato. Pukul setengah dua belas siang, Erlangga tidak memiliki jadwal makan siang dengan siapa pun hari ini, mau tidak mau Mayang harus menanyakan apakah bosnya itu mau di pesankan tempat untuk makan siang atau mungkin di pesankan makan dan menikmatinya di ruangan saja. Meskipun merasa canggung dan kurang nyaman dengan pakaiannya tapi Mayang harus tetap menanyakan hal itu pada Erlangga secara langsung karena rasanya tidak sopan jika ia menanyakan melalui interkom. “Maaf pak, siang ini bapak tidak ada jadwal makan siang dengan siapa pun. Mau saya buatkan reservasi atau mungkin bapak mau pesan sesuatu untuk makan siang?” Mayang bertanya dengan suara pelan. “Hmm… nggak usah. Kayaknya saya mau coba makan di kantin aja siang ini.” Sahut Erlangga tanpa mengalihkan tatapannya pada layar ponsel. Lelaki itu mengetikkan sesuatu disana. Entah sedang berbalas pesan dengan siapa. Jawaban itu membuat Mayang mengerutkan kening, sedikit terkejut. Karena tidak biasanya Erlangga makan di kantin perusahaan. Biasanya lelaki itu memilih makan siang di luar atau meminta Mayang memesan makanan dari restoran favoritnya. “Baik pak kalau begitu. Saya permisi…” Begitu kembali ke mejanya, Mayang segera membuka aplikasi untuk memesan makanan secara online. Hari ini ia tidak ingin beranjak dari kursinya sampai jam pulang nanti. Jemarinya bergerak menggulir layar ponsel ke atas dan bawah untuk memilih menu makan. Belum sempat ia memesan suara seseorang dari divisi marketing yang cukup dikenalnya terdengar. “Ck, jadi gini kerjaan sekretaris direktur utama tiap hari? Mainan hape tiap saat kalo nggak ada orang?” Mayang menatap Marini yang berjalan ke arahnya dengan angkuh. Perempuan bertubuh sintal itu menghampiri meja Mayang dengan suara langkah yang terdengar menggema akibat gesekan sepatu hak tinggi yang dikenakannya dengan lantai marmer. “Makan gaji buta ya lo enak-enakan main hape. Gue laporin ke pak Beni baru tau rasa.” Mayang memutar bola matanya malas mendengar kicauan Marini. Bukan hal baru jika perempuan ini berkata ketus padanya. Dan Mayang tidak mau repot meladeninya. “Gue mau ambil punya divisi marketing…” Marini menadahkan tangannya ke arah Mayang dengan tampang malas. “Sebentar…” ujar Mayang seraya mencari map bertuliskan marketing di bagian depannya. Marini melirik penampilan Mayang yang terlihat berbeda hari ini, biarpun gadis itu masih memakai kacamata dan menyanggul rambutnya tapi setelan kerja yang dipakainya jelas berbeda dari biasanya. Marini tau jika Mayang hanya akan memakai 3 pilihan warna saja untuk setelan kerjanya yaitu hitam, putih dan abu-abu. Sejak kapan gadis ini mengenal warna pastel? “Baju siapa itu yang lo pake?” tanya Marini dengan mata menyipit curiga. “Lo mau kerja apa ngegodain bos hah?” Pandangan mata Marini meneliti sekujur tubuh Mayang tidak suka. “Mau penampilan lo berubah kayak gimanapun juga nggak akan ngaruh Mayang… Nggak usah kecentilan deh.” Lanjutnya. Mayang mengangkat sudut bibirnya, mendengus pelan. Sialan,ini karena ia memakai setelan milik Shinta yang memang begitu pas memeluk tubuhnya, melekat dengan sempurna sehingga menampilkan lekuk tubuhya dengan cukup jelas. “Kenapa jadi lo yang sibuk sama urusan baju kerja gue?” Mayang menarik sebuah map berwarna biru dari tumpukan dan segera memberikannya pada Marini. “Pak Erlangga yang punya perusahaan aja nggak ada masalah, jadi kenapa gue harus dengerin omongan lo?” tantang Mayang. “Lagipula dibandingkan sama apa yang gue pake sekarang, coba lo ngaca deh, penampilan siapa disini yang kecentilan. Gue apa lo yang niatnya ngegodain bos?” Mayang menatap ke arah setelan kerja Marini yang terdiri dari blus berwarna putih dengan kerah yang cukup rendah di padankan dengan rok span berwarna moka beberapa centi di atas lutut. Marini mengarahkan tatapan tajam pada Mayang kemudian berkata, “Wow… mentang-mentang naik jabatan jadi sekretaris direktur utama jadi belagu ya lo.” Senyum sinis Marini berikan pada Mayang, “Lo inget baik-baik, kalo bukan karena bu Shinta yang notabene salah satu keluarga Jatmiko, nggak akan mungkin lo ada di sini sekarang.” Helaan napas lelah Mayang tampilkan sambil memandangi Marini. “Terus menurut lo yang pantes ada disini siapa? Lo gitu?” Marini mendengus singkat seraya mengedikkan bahu, “Dibandingkan lo yang bisa duduk di posisi itu cuma karena koneksi jelas lebih pantes gue!” teriaknya kesal. “Terserah…” balas Mayang lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Marini yang masih berdiri di depan meja kerjanya. Mayang rasa tidak ada gunanya meladeni Marini yang memang sengaja selalu mencari-cari masalah dengannya. “Heh! Gue belum selesai ngomong!” teriak Marini “Sialan…” umpatnya kesal. Bisa-bisanya Mayang meninggalkannya di saat dia belum selesai mengkonfrontir gadis itu. “Siapa yang kamu bilang sialan?” Suara berat itu membuat Marini menegang. Perlahan dia memutar kepalanya menghadap belakang dan menemukan pemilik perusahaan ini, bosnya yang super tampan dan panas berdiri di depan pintu ruangannya dengan menumpangkan satu tangan di dinding. Ya Tuhan Marini merasa gugup sekali sekarang, Erlangga Lazuardi Jatmiko berdiri dihadapannya hanya berjarak beberapa meter saja. “Oh… itu maaf pak, bukan apa-apa.” Marini menampilkan senyum manis seraya menggigit bibirnya. Dia mengusap-usap kedua tangannya seolah menahan diri untuk tidak bersikap liar dan menerkam Erlangga saat ini juga. Ia lalu mengaitkan rambut coklat terangnya ke belakang telinga bersikap malu-malu. “Terus kamu ngapain disini?” tanya Erlangga lagi. “Bukannya kamu dari divisinya Shinta kan? Marketing?” Mendengar itu Marini Nampak terkejut, kedua matanya membulat tidak menyangka jika Erlangga bahkan tahu jika dirinya berasal dari divisi marketing. Seketika kepercayaan diri gadis itu meningkat tajam. “Bapak tau saya dari divisi marketing?” tanya Marini antusias. “Wah saya nggak nyangka kalo bapak seperhatian itu…” ucapnya dengan senyum malu-malu. “Ck… itu karena saya pernah lihat Shinta lagi marah-marah sama kamu karena bikin data yang salah.” Setelah mengucapkan itu Erlangga meninggalkan Marini begitu saja menuju lift membuat Marini yang tadinya tersenyum bahagia seketika merengut kecut.   *** “Jalannya biasa aja May, kalo lo sengaja tarik-tarik kayak gitu blazernya, malah jadi perhatian orang.” Shinta berdecak sebal saat Mayang tidak mengindahkan ucapannya. Gadis itu masih berusaha menarik blazer yang memang hanya sebatas pinggangnya untuk turun menutupi bokongnya, yang mana itu mustahil. “Gue risih Shin…” bisik Mayang dengan wajah yang terlihat ingin menangis “Gara-gara Marini! Argh...” Mayang meremas tangannya gemas, merasa kesal. Padahal tadi dirinya sudah bersiap untuk memesan makan siang melalui aplikasi online, tapi gadis montok itu malah mengajaknya adu mulut, membuat Mayang pening dan memilih kabur ke ruangan Shinta dan mengajaknya makan siang. “Kita ke toilet dulu…” ujar Shinta seraya menarik tangan Mayang untuk mengikutinya. Begitu sampai di toilet wanita yang terletak di lantai 16 tempat divisi marketing berada, Shinta segera mengarahkan tubuh Mayang untuk berdiri tegak di depan cermin besar setinggi hampir 2 meter. “Coba liat baik-baik diri lo di cermin itu.” paksa Shinta. “Nggak ada yang salah sama apa yang lo pake sekarang dan lo nggak perlu ngerasa malu. Apa yang lo pake sekarang bahkan jauh lebih sopan dari apa yang di pake Marini dan temen-temenya di divisi marketing, yang bikin kepala gue sakit tiap saat.” Gerutu Shinta jengkel. Mayang menatap Shinta dengan raut wajah masam melalui cermin. “Tetep aja gue risih Shin, lo tau sendiri gue hampir nggak pernah pake yang begini.” ujar Mayang membela diri. “Nggak pernah bukan berarti lo nggak pantes pake yang begini.” Shinta memutar bola matanya sebal. “Lo cantik May, suer deh.” ucapnya meyakinkan. “Lo terlihat cantik pake setelan ini, dan akan semakin cantik kalo lo bisa sedikit aja lebih percaya diri. Jangan bentar-bentar ngelirik ke belakang sambil narik-narik tuh blazer. Kayak yakin aja ada yang ngeliatin b****g lo dari belakang.” omel Shinta. Setelah mendengarkan omelan Shinta panjang lebar akhirnya Mayang bisa berjalan tanpa menarik-narik lagi blazernya, walau sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan tubuh bagian belakangnya. Mereka sampai di kantin tidak lama kemudian, memesan makanan lalu mengambil tempat yang tersisa untuk menikmati makan siang mereka. Kantin cukup ramai siang ini, Mayang mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Matanya tanpa sengaja bersirobok dengan sosok gadis yang membuatnya terpaksa harus mengisi perut disini, Marini. Gadis yang duduk berselang 3 meja dari mejanya dan Shinta itu menatap Mayang tajam sambil mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum meremehkan. Dia dikelilingi ketiga teman satu gengnya, makan siang sambil bergosip ria. Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Mayang memulai dengan meminum es jeruk-nya. Ia merasa begitu haus karena harus adu mulut dengan Marini dan berdebat dengan Shinta sebelum datang kesini. Sementara itu Shinta sudah lebih dulu menyendok sop daging dan nasinya, sahabatnya itu makan dengan lahap ditemani 2 buah tempe mendoan. “Wah kebetulan, kita gabung disini ya…” Shinta dan juga Mayang kompak mendongak mendengar suara seseorang diikuti suara derit kursi yang di tarik ke belakang. Mayang sedikit ternganga saat mengetahui siapa yang akhirnya duduk di hadapannya. “Nggak apa-apa gabung kan May? Penuh semua tuh…” suara riang Albert membuat Mayang tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke sekeliling kantin. Dan memang benar semua meja terisi. “Uhm… iya pak nggak apa-apa.” Ucap Mayang sambil menarik sudut-sudut bibirnya membentuk senyum kecil ke arah Albert yang mesam-mesem menatap ke arah depannya dimana Shinta duduk. Sementara itu Shinta memandang Mayang dengan mata melotot menyuarakan ketidaksukaannya. “Kenapa kamu mukanya gitu Shin? Nggak suka mas ikut makan disini?” “Siapa bilang?” tanya Shinta lirih. “Mas mau makan ya makan aja.” Jawabnya dengan wajah merengut. Jika ada Erlangga disini mana berani dia mengusir Albert. Shinta lalu melanjutkan makannya dalam diam setelah makanan yang dipesan oleh Erlangga dan juga Albert di antarkan. Sesekali dia menoleh menatap Mayang yang duduk disampingnya menampilkan wajah jengah yang kentara. “Kamu juga keberatan saya makan disini?” Erlangga mengarahkan matanya menatap Mayang yang baru saja saling pandang dengan adik sepupunya. Wajah sekretarisnya itu terlihat aneh, seperti tersiksa. Kali ini Mayang diam. Ia menunduk pura-pura menikmati pecel lele yang ada di hadapannya. Mayang mencampurkan nasi, potongan ikan dan juga sambal, mengaduk-aduknya pelan dengan tangan kemudian menyuap ke dalam mulutnya. “Nggak pak, nggak apa-apa.” tegasnya. “Mari makan…” lanjut Mayang setelah menelan satu suapan ikan yang lezat namun terasa menyiksa di tenggorokannya di bawah tatapan tajam Erlangga.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN