Kandidat Istri

2207 Kata
Erlangga sampai di rumah kedua orang tuanya pukul 8 malam. Sore tadi mamanya dan Ane sudah kembali dari Bali dijemput oleh papanya bersama supir mereka. Begitu sampai Erlangga segera menanyakan keberadaan Ane pada sang mama Reva yang mengatakan jika anaknya kelelahan dan sudah beristirahat lebih dulu di kamar lamanya. “Ane udah tidur, baru aja. Jangan dibangunin ya mas, biarin. Kalo nggak nginep dulu disini besok kan weekend juga.” ucap Reva pada anak semata wayangnya. Erlangga hanya mengangguk dan segera menuju lantai dua kediaman kedua orang tuanya dimana kamar yang dulu ditempatinya semasa muda berada. Begitu masuk ke dalam kamar lamanya, ia segera berjalan mendekat ke arah ranjang dimana putri kecilnya tengah tertidur lelap. Erlangga mengambil tempat di samping Ane dan mengusap lembut rambut halusnya, memandangi wajah cantik putrinya yang terlihat damai. Rasanya sudah lama sekali ia tidak seperti ini, menghembuskan napasnya berat Erlangga berbisik lirih, “Maafin papa sayang.” Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah, dikecupnya lembut kening Ane kemudian beranjak keluar kamar membiarkan gadis kecilnya beristirahat sementara ia akan menemui orang tuanya dulu di bawah. “Kamu udah makan mas?” Erlangga menoleh ke arah mamanya yang berada di dapur entah sedang apa. “Belum ma.” jawabnya seraya berjalan mendekati Reva, lalu menarik satu kursi di meja makan. “Yaudah duduk disana, mama siapin dulu sebentar.” Erlangga hanya mengangguk kemudian meraih ponsel yang ada di saku celananya. Membalas beberapa pesan yang belum sempat ia lihat dari sore tadi. Tidak lama kemudian Reva sudah membawakan sepiring nasi hangat beserta lauknya ayam goreng mentega untuk makan malam Erlangga. Erlangga mulai makan dengan lahap, ternyata tanpa ia sadari perutnya lapar, membuatnya menghabiskan sepiring nasi itu hanya dalam waktu 5 menit. “Mau tambah? Kayak orang kelaperan aja kamu…” sindir mamanya. Hanya gelengan kepala yang diberikan Erlangga selagi ia menghabiskan air minumnya. “Nggak usah ma, udah kenyang kok.” Lanjutnya setelah menandaskan isi gelas tersebut. “Ck… pasti kamu selama ini makannya nggak bener deh. Makanya mama bilang apa, pindah lagi aja kesini biar ada yang ngurusin.” Omelan ibunya itu hanya ditanggapi Erlangga dengan ringisan kecil. “Aku udah bukan bujangan lagi ma. Udah punya keluarga sendiri, masa iya masih numpang sama orang tua.” balasnya. “Mau kamu masih bujangan ataupun sudah punya keluarga kamu masih anak kami Lang…” Suara papanya ikut menginterupsi. Lelaki paruh baya yang masih tampak gagah itu berjalan mendekat, menarik kursi duduk berhadapan dengan putranya. “Papa senang kamu punya pikiran seperti itu, memang sebaiknya tinggal di rumah sendiri kalau kamu sudah berkeluarga. Tapi yang papa tau, sekarang ini kamu itu duda dengan 1 anak yang umurnya baru 5 tahun.” Erlangga hanya mampu diam jika sudah begini. “Kalau kamu memang nggak mau tinggal sama kami lagi, cari istri sana yang bisa ngurusin kamu sama Ane.” Teguran seorang Hutama Lazuardy Jatmiko membuat Erlangga hanya mampu tersenyum kecut sambil menatap mamanya yang juga sedang melihat ke arahnya dengan senyum sedih. “Aku belum kepikiran buat nikah lagi pa…” ucapnya lirih. “Aku mau fokus sama perusahaan aja dulu untuk sekarang.” “Dengan mengabaikan Ane?” pertanyaan dengan nada sinis itu terasa menusuk untuk Erlangga. “Papa berterima kasih dengan semua usaha dan semangat kamu dalam bekerja untuk perusahaan keluarga kita. Tapi kamu jangan lupa Lang,” Hutama menatap tajam anak lelakinya itu. “Ane tetap harus jadi prioritas kamu. Cucu papa itu bahkan nggak pernah diasuh sama mamanya, kamu juga mau nelantarin dia? Kamu nggak kasihan sama anak kamu sendiri?” “Pa…” suara mamanya terdengar keberatan. Revalina Afida Jatmiko tampak mengusap-usap lengan suaminya untuk tidak terpancing emosi. “Pikirkan baik-baik… Kalau memang kamu berat untuk tinggal lagi disini, biar Ane aja yang disini. Papa sama mama masih sanggup untuk ngurus cucu sendiri. Setidaknya Ane punya oma dan opanya yang akan terus menemani dia bukan cuma pengasuh.” Setelah mengucapkan itu orang tuanya beranjak kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan bersantai sambil menonton salah satu acara memasak di tv meninggalkan Erlangga termenung sendiri di meja makan.   ***     Setelah mandi dan mengganti pakaiannya Erlangga langsung naik ke tempat tidur. Meraih tubuh mungil Ane perlahan dan memeluknya erat. Ia begitu menyayangi Ane hingga tidak pernah rela berpisah. Hampir satu minggu ditinggal gadis kecil ini ke Bali saja Erlangga sudah sangat rindu. Apalagi jika putrinya ini harus tinggal bersama dengan oma dan opanya sedangkan ia tinggal sendiri di rumah yang di belinya 5 tahun yang lalu, bisa -bisa Ane lupa padanya. Selama di Bali saja gadis kecil itu tampak acuh tak acuh saat Erlangga melakukan panggilan video. Yang membuatnya lebih jengkel lagi adalah saat Ane bahkan lebih sering menanyakan keadaan Mayang yang tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka dibandingkan menanyakan kabar papanya. Erlangga akui jika selama ini ia jarang meluangkan waktu bersama Ane. Seringnya ketika pulang dari kantor putri kecilnya itu sudah tertidur dan ia hanya mampu memandanginya sebentar sebelum beranjak ke kamarnya. Kadang Ane yang bosan di rumah akan menyusulnya ke kantor dan lagi-lagi Erlangga tidak bisa menemaninya karena disibukkan dengan banyak pekerjaan. “Papa sayang sekali sama Ane…” bisik Erlangga seraya melabuhkan sebuah kecupan lembut di pipi gembil anaknya. Ane yang merasa tidurnya terganggu, sedikit menggeliat ingin melepaskan diri. Mata gadis kecil itu bergerak-gerak pelan kemudian membuka. “Papa…?” panggilnya serak. “Iya sayang…” Erlangga mengusap-usap pelan punggung Ane yang berbalik memeluknya. “Ane kangen papa…” kemudian gadis kecil itu menyurukkan kepalanya lebih dekat pada sang ayah. “Papa juga kangen banget sama Ane.” Ucap Erlangga sambil terus membelai pucuk kepala putri kesayangannya. “Gimana liburan sama oma? Ane seneng?” Anggukan di berikan Ane sebagai jawaban. “Ane jalan-jalan sama oma, sama temen-temen oma juga. Temennya oma ada yang bawa cucu, jadi Ane punya temen main. Kita ke pantai main air sama bikin istana pasir terus ke kebun binatang juga. Ane seneng deh, lain kali papa ikut yah?” pintanya dengan mata yang terlihat masih mengantuk. Erlangga tersenyum. “Iya sayang, nanti kita ke Bali lagi. Sama papa ya, sekarang Ane tidur lagi, istirahat.” Setelah mengatakan itu Erlangga menepuk-nepuk pelan punggung mungil anaknya membuat Ane kembali terbuai masuk ke alam mimpi. Esok harinya pukul satu siang Shinta sudah sampai di kediaman orang tua Erlangga menunggu keponakan cantiknya untuk pergi bersama mencari hadiah. Gadis itu terlihat sedang memainkan ponselnya sambil mengunyah makan siang buatan Reva. “Tantee… Ane udah siap.” Shinta menolehkan kepalanya ke sebelah kiri dan melihat Ane sudah tampak rapi mengenakan dress lucu berwarna pink yang dihiasi mutiara kecil sebagai aksen di sekitar pinggang. Rambut panjangnya di hiasi bando berwarna senada dan gadis kecil itu juga mengenakan tas selempang kecil berwarna putih. Ane bergaya di hadapan Shinta dengan satu tangan di pinggang dan kaki yang sedikit di tekuk. “Ya ampun cantik banget sih…” ujar Shinta menahan tawa. Keponakannya ini terlihat centil dengan gayanya. “Siapa yang ngajarin gaya begitu?” Shinta terkekeh geli saat Ane malah berganti gaya dengan menaruh telunjuknya di pipi. “Nurutin kamu itu…” ujar Erlangga seraya menggelengkan kepala. Saat tadi ia akan memakaikan baju untuk Ane, ternyata gadis kecilnya sudah memiliki pilihan sendiri apa yang ingin dia kenakan, begitu juga dengan tas kecil dan bando itu. Erlangga meringis begitu menyadari jika waktu terus berlalu dan Ane tumbuh begitu cepat Menyelesaikan makannya cepat, Shinta kemudian berpamitan pada Erlangga dan orang tuanya untuk mengajak Ane ke pusat perbelanjaan. “Cuma mau nyari kado aja kok mas, nggak akan lama-lama banget.” Erlangga hanya mengangguk dan melambaikan tangannya ketika mobil yang di kendarai supir orang tuanya bergerak membawa Shinta dan Ane. Ia kembali ke dalam, berencana mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar. Panggilan Reva membuatnya menghentikan langkah di anak tangga pertama. “Mas… kemarin mama ketemu sama tante Lusi.” Erlangga hanya mengerutkan keningnya, sambil melipat bibir menunggu sang ibu menyelesaikan kalimatnya.. “Inget nggak tante Lusi yang dulu tinggal di blok depan? Yang sekarang tinggal di Bali?” Menganggukkan kepalanya Erlangga kemudian menjawab, “Hmm…terus?” “Katanya tante Lusi punya keponakan yang masih single, dokter di rumah sakit yang deket kantor itu loh mas.” Erlangga menaikkan kedua alisnya bingung. “Terus...?” Decakan kesal terdengar dari bibir ibunya, saat Erlangga hanya merespon dengan ‘terus’ berulang kali. “Tante lusi nanyain kamu. Kira-kira kamu udah ada niatan mau nikah lagi belum? Keponakannnya itu sekarang juga lagi nyari jodoh mas.” “Aku belum kepikiran mau nikah lagi ma…” Erlangga hendak melanjutkan langkahnya saat suara Reva kembali menginterupsi. “Mama udah liat fotonya, cantik loh mas, dokter lagi. Gimana kalo ketemu dulu ?” kejar Reva. “Kalaupun mungkin nanti nggak cocok nggak pa-pa. Kenalan dulu aja, yah?” pintanya lagi. “Ma please…” Erlangga mendesah lelah. “Aku belum ingin menikah saat ini.” Wajah Erlangga menatap lembut pada wanita yang melahirkannya ini, menggenggam tangannya. “Andaikan aku memutuskan untuk menikah lagi pun, aku ingin istriku nanti nggak bekerja ma. Fokus jadi ibu rumah tangga, mengurus aku dan Ane. Mama bisa bayangkan pekerjaan seorang dokter? Apa dia mau nantinya melepaskan karirnya demi hidup bersama aku? Karena aku nggak mau lagi di nomor duakan dengan pekerjaan istriku ma.” Reva menatap putra semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca. “Maafin mama mas, mama cuma…” menundukkan kepalanya ia melanjutkan, “Mama cuma nggak mau kamu kesepian. Biar bagaimanapun kamu butuh pendamping mas dan Ane butuh sosok ibu. Mama cuma khawatir…” Erlangga mengerti sekali ketakutan yang dirasakan ibunya dan ia merasa bersalah karenanya. Di usianya yang ke 36 tahun dirinya bahkan masih merepotkan orang tua dengan permasalahan jodoh. “Mama doain aja, jika memang sudah saatnya Elang bisa ketemu dengan perempuan baik yang bersedia menerima Elang dan terutama Ane, Elang pasti menikah ma.”   *** Erlangga yang sedang menonton tv dikejutkan dengan panggilan putrinya yang mendadak ingin menelepon Shinta. Gadis kecil itu sudah rapi sejak 30 menit yang lalu menunggu Shinta menjemput. “Pa.. ayo telpon tante Shinta… nanti kalo telat Ane nggak kebagian kue ulang tahun.” Rengeknya sambil menggoyang-goyangkan lengan sang ayah. “Tadi kan Ane denger sendiri papa udah telepon tante Shinta sayang, sebentar lagi juga sampe…” “Nanti kalo kelamaan Ane nggak bisa ikutan nyanyi selamat ulang tahun, nanti nggak dapet balon sama kue juga.” Kali ini wajahnya sudah merengut kesal. “Memangnya Ane mau ke tempat ulang tahunnya siapa sayang?” Hutama Lazuardi Jatmiko mengambil tempat di sofa lain yang ada di ruang tv, kemudian mengayunkan tangannya memanggil cucu kesayangan. “Ke tempat panti asuhan tante Mayang opa… minggu kemarin Ane main kesana sama tante Shinta. Seneng deh, disana rame. Ane punya banyak temen main.” Ucap gadis kecil itu seraya duduk di pangkuan kakeknya. Mendengar penuturan cucunya Hutama lalu menatap Erlangga dengan raut tanya. “Mayang siapa?” Baru akan menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, Erlangga kemudian terpaksa tutup mulut saat putri kecilnya dengan semangat menjawab. “Itu… tante Mayang yang di kantor opa, sering nemenin Ane main.” “Oh… Ane sering main di kantor papa sama tante Mayang?” pertanyaan itu ditujukan untuk Ane namun Erlangga merasa mata sang ayah menatapnya menuntut penjelasan lebih. “Itu—” “Siang semuaaa….” Erlangga mendesah lega ketika menoleh ke arah ruang tamu dan mendapati adik sepupunya sudah datang. Kini ia bisa terlepas dari tatapan tajam ayahnya berkat kehadiran Shinta. “Tante…”Ane bergegas turun dari pangkuan opanya dan berlari menghampiri Shinta. “Tante lama banget, Ane tungguin dari tadi.” Suara merajuk Ane membuat Shinta terkekeh geli, “Nggak sabaran banget sih…” Shinta menoel hidung keponakannya itu dengan ujung jari kemudian lanjut berjalan ke arah ruang tv, menyalami pakde-nya dan duduk di sebelah Erlangga sambil memangku Ane. “Kalian mau kemana?” tanya Hutama penasaran. “Ane dari tadi kayaknya nggak sabar banget nungguin kamu…” “Shinta mau ajak Ane ke Panti Asuhan Kasih Bunda, pakde. Hari ini ada anak yang ulang tahun, kita bikin syukuran kecil-kecilan.  Kebetulan udah dari 2 tahun terakhir Shinta ikut jadi pengurus di sana bareng temen.” Hutama tampak menganggukkan kepalanya menatap Shinta, “Bagus itu… kamu mengisi waktu dengan hal positif seperti itu, pakde dukung.” Ucapnya setuju. “Shinta juga taunya dari Mayang sih, karena Mayang udah lebih dulu jadi pengurus di sana.” “Mayang yang kerja di Lazuardy?” Pertanyaan dari Hutama itu membuat Erlangga menoleh ikut memperhatikan. Kenapa juga ayahnya jadi ingin tahu? “Iya..” “Katanya sering nemenin Ane main ya?” Entah mengapa Erlangga menangkap antusias berlebih  pada pertanyaan itu, membuatnya menaikkan alis. “Iya pakde…” “Wah, bude jadi tambah penasaran deh sama yang namanya Mayang ini…” Tak lama sisi kosong sofa yang ditempati Hutama sudah di isi sang istri yang ikut bergabung sambil membawa sepiring pisang goreng pesanannya.  Erlangga menatap malas kedua orang tuanya yang tiba-tiba penasaran mengenai sekretarisnya itu. “Ane juga sering banget cerita mengenai tante Mayang-nya ini selama di Bali. Kapan-kapan ajak ketemu bude dong Shin…” “Pakde juga…” Erlangga yang hanya ikut mendengarkan percakapan itu mengernyit heran. Kenapa sekarang semua anggota keluarganya jadi ingin bertemu Mayang?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN