Tatapan Erlangga dan Acara Tahunan

2378 Kata
“Pertemuan sama Mr.Sato dan timnya besok ditunda. Nanti saya akan update kamu lagi kalau sudah ada kabar pasti dari beliau.” Erlangga menghampiri meja kerja Mayang sebelum masuk ke ruangannya sendiri. Ia baru tiba di kantor karena berangkat dari rumah kedua orang tuanya yang letaknya lebih jauh dari perumahan tempat tinggalnya bersama Ane. “Sementara itu kamu bisa atur ulang jadwal saya kalau ada pertemuan yang mau di majukan ke besok, kamu atur aja.” Mayang yang tadinya sedang membuka email kantor dan baru akan membalas satu per satu pesan yang memenuhi kotak masuk terpaksa berhenti sesaat dan memperhatikan Erlangga. “Baik pak, akan saya cek lebih dulu janji yang bisa di majukan ke besok.” Erlangga menatap lama ke arah sekretarisnya itu dengan sedikit meneliti. Mungkin ini kurang pantas, hanya saja… Ah sudahlah, menganggukkan kepala Erlangga bergegas mengarahkan langkah menuju ruangannya. Begitu duduk di kursi kebesaran direktur utama, mau tidak mau pikirannya berputar pada percakapan dengan orang tuanya pagi tadi saat sarapan bersama. “Kayaknya Ane dekat banget ya sama sekretaris kamu itu Lang?” Hutama memulai tanya setelah memastikan Ane sudah meninggalkan meja makan dan bermain di ruang tv sembari menunggu Erlangga untuk mengantarnya sekolah. Kunyahan gigi Erlangga pada roti bakar dengan selai coklat yang tadi di siapkan mamanya memelan. Ia pikir pembahasan ataupun pertanyaan mengenai Mayang sudah selesai kemarin saat Shinta sedikit menjelaskan. “Kenapa papa tanya itu?” Erlangga seolah acuh dengan melanjutkan menggigit roti bakarnya yang tinggal setengah. “Papa cuma penasaran…” penerus Lazuardy Property generasi kedua itu menjawab setelah menyeruput kopi hitam yang di buatkan istri tercinta. “Ane kan anaknya nggak mudah akrab sama orang lain yang belum terlalu dia kenal. Sama keluarga aja kalau jarang ketemu dia masih ogah-ogahan gitu.” Jelasnya. Erlangga mengangguk-angguk setuju dengan apa yang dikatakan ayahnya. Ane memang cenderung pemilih sejak dulu. Anak itu tidak bisa dengan mudah di dekati dan akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Perlu beberapa kali pertemuan sampai Ane akhirnya dulu mau di bantu oleh Tuti pengasuh yang Erlangga dapatkan dari salah satu penyalur terpercaya. Itu pun masih harus terus Erlangga dampingi. Sesungguhnya Erlangga juga tidak tahu bagaimana awalnya putri kecilnya itu malah menjadi sangat akrab bahkan ketergantungan pada Mayang. Yang baru ia sadari, bahkan Ane terlihat sangat menikmati dan ceria saat bersama sekretarisnya itu. “Mama beneran penasaran deh sama sekretaris kamu itu...” Mengambil tempat di seberang Erlangga, Revalina Afida lalu melanjutkan. “Apa nggak kamu coba dekat sama yang namanya Mayang ini mas?” Hutama Suara batuk keras kemudian terdengar, saat Erlangga sedang mengunyah potongan terakhir roti bakarnya. Ia tersedak bukan main saat pertanyaan yang tidak pernah di sangkanya itu keluar dari bibir sang ibu. “Mama apa-apaan sih?” Melihat reaksi putra semata wayangnya itu reva hanya bisa tersenyum kecut. “Ya,… siapa tau kamu mau. Lagi pula Ane kayaknya udah dekat banget sama Mayang kan?” “Mama bahkan belum pernah ketemu langsung loh…” Erlangga menatap kedua orang tuanya heran. “Gimana bisa mama nyuruh aku pendekatan sama dia? Dia aja belum  itu staf aku ma, dan belum terlalu lama kerja bareng aku juga…” gerutuan Erlangga membuat dua orang lain yang berada di meja makan saling tatap. “Tapi kan Shinta udah kenal dia lama, iya kan?” Sang ibu belum menyerah juga dengan pemikiran gila itu, menatap suaminya meminta dukungan. “Kapan-kapan kita bahas lagi ya ma. Aku udah telat sekarang, harus anter Ane dulu…” Dan sepanjang jalan menuju kantornya tadi, Erlangga hanya diam memandang keluar padahal biasanya ia akan mengobrol dengan supirnya selama perjalanan. Begitu sampai di lantai 18, lantai dimana ruangannya berada pun, ia sempat mengamati Mayang dari jauh. Sekretarisnya itu kembali mengenakan busana kerja yang biasa di pakainya selama ini baik warna maupun modelnya. Dengan sanggul rambut ketat dan kacamata. Erlangga mendengus saat kembali teringat usulan mamanya. Mendekati Mayang? Yang benar saja. Masih banyak perempuan lain yang jauh lebih menarik dari sekretarisnya itu.     *** Kurang dari 10 hari lagi Lazuardy Property akan mengadakan malam penghargaan karyawan terbaik untuk setiap divisi baik dari kantor utama Lazuardy Property maupun dari kantor cabang. Dalam acara yang biasanya dihelat dengan cukup meriah dan megah itu hampir semua karyawan hadir termasuk semua petinggi dan keluarga besar Jatmiko. Acara ini di selenggarakan selain untuk terus memotivasi semua karyawan agar terus berprestasi dan menjaga persaingan antar karyawan tetap sehat juga bertujuan untuk membina keakraban antara sesama karyawan dan manajemen sehingga tercipta lingkungan kerja yang nyaman dan penuh keakraban. Semua pegawai selalu menunggu penyelenggaraan malam penghargaan itu dengan antusias. Selain karena berharap menjadi salah satu pemenang penghargaan yang nanti diumumkan, dan berpeluang mendapatkan kompensasi berupa bonus yang lumayan besar atau kenaikan jabatan mereka juga antusias karena di saat itulah baik pegawai laki-laki maupun perempuan bisa tampil semaksimal mungkin dengan busana terbaik. "Pokoknya nanti gue mesti ke salon dulu buat perawatan. Luluran, meni pedi, hairspa. Pokoknya gue mesti keliatan cetar pas hari H." Ratu, salah seorang staf di divisi Akunting membuka obrolan. Suara riuh kemudian menyambut ucapan itu.  "Kalo gue nih ya, udah booking MUA ternama si Benni Salemba buat makeup-in gue buat acara nanti. Kebayang dong gimana makeup nya si Benni? Gue akan bikin semua cowok-cowok kece kantor ini nggak berkedip, kalo bisa sih nyantol ke pak Erlangga juga..." Suara Marini terdengar di tengah gelak tawa teman-temannya yang lain. Mereka duduk di meja paling ujung kantin, tertawa bahagia mendengar angan-angan mereka sendiri. Shinta yang saat ini sedang menikmati makan siangnya bersama Mayang hanya bisa geleng kepala mendengar suara salah satu anggota timnya di divisi marketing. “Ewh… geli banget gue sumpah.” Shinta mengedikkan bahunya geli begitu kembali mendengar obrolan dari meja tempat Marini cs berkumpul. Menyeruput es jeruk pesanannya Mayang hanya mampu menahan tawa. “Kenapa? Masa iya seorang Shinta Namira takut kalah saing sama anak-anak timnya sendiri?” “Duh… ntar liat deh gimana penampilan gue.” dumel Shinta.  “Segala Benni Salemba di bawa-bawa, ada-ada aja. Kayak yang mampu aja bayar fee-nya si Benni.” Shinta kembali menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Lo dateng kan May?” Pertanyaan itu membuat Mayang yang sedang mengunyah terdiam sesaat. “Nggak taulah…” mengedikkan bahunya acuh, ia kembali menyuap satu sendok besar ayam bumbu bali yang ada di piring makan siangnya hari ini. “Pokoknya lo harus dateng May… Masa lo sama sekali nggak pernah hadir sih di acara tahunan kantor. Malesin ah….” Shinta mengerucutkan bibirnya tidak suka mendengar jawaban sahabatnya itu. Mayang mengaduk-aduk gelas jus jeruknya yang tersisa separuh sembari menghitung berapa banyak rupiah yang harus ia keluarkan untuk membeli gaun baru dan aksesoris penunjang lainnya untuk menghadiri acara itu. Sebenarnya Mayang tidak terlalu suka pesta, ia bukanlah jenis orang yang bisa berdiri anggun dengan senyum menawan terpasang di bibir selama berjam-jam. Selain tidak terbiasa mengobrol basa-basi dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenal ia juga kadang merasa kurang nyaman harus berpenampilan apik dengan busana mahal yang membuatnya menangis sedih bila mengingat isi rekeningnya yang menipis hanya untuk membeli sepotong gaun. Di tahun pertama Mayang bekerja di Lazuary Property, ia melewatkan acara tahunan ini karena masih dalam suasana duka kepergian ibunya. Tahun kedua, Mayang ikut hadir di acara tersebut dan merasa menyesal seketika. Dirinya yang saat itu masih belum memiliki teman akrab merasa begitu asing berada di tengah-tengah suasana pesta yang semarak dan meriah. Saat itu ia bahkan sengaja membeli gaun baru dengan model sederhana keluaran Zara yang harganya cukup membuatnya tercengang. Shinta baru bergabung di perusahaan setelah menyelesaikan S2 di Amerika dan Mayang memasuki tahun keduanya bekerja. Selama ini mereka memang belum pernah menghadiri acara tahunan Lazuardy Property itu bersama-sama karena 2 tahun terakhir Mayang selalu menolak dengan beragam alasan. “Lo tau gue nggak terlalu suka pesta Shin…” Mayang menelengkan kepalanya menatap Shinta. “Kan ada gue…” bujuk Shinta lagi. “Lo nggak sendirianlah… ntar kalo acaranya emang garing banget kita kabur duluan aja ke apartement gue, barbeque-an.” Shinta mengedip-ngedip lucu mencoba segala cara agar sahabatnya itu bersedia datang. “Sok imut lo…” Mayang mendorong pelan bahu Shinta yang malah terkekeh mendengar jawabannya.   ***   Mayang duduk termenung di meja kerjanya setelah kembali dari makan siang. Erlangga masih belum tiba di kantor dan ia memiliki sedikit waktu untuk sekedar duduk santai memikirkan kembali tawaran Shinta. Apalagi saat berada di lift untuk kembali ke ruangannya ia harus bertemu Marini dan gengnya yang begitu kentara menyindir ketidakhadirannya selama 2 tahun terakhir. “Guys jangan lupa dandan yang cantik buat acara award tahunan kantor ya…” Marini bersuara lantang di dalam lift yang hanya berisi gengnya dan juga Mayang yang sendirian tanpa Shinta. “Gue mau kasih tau sedikit bocoran nih,” bisiknya yang tentu saja masih dapat didengar oleh Mayang. Dengan pandangan yang sesekali beralih menatap Mayang yang berdiri di sudut belakang Marini berkata, “Tahun ini… bakal diadain penghargaan untuk karyawan dengan busana terbaik di malam penghargaan nanti!” seruan kaget pun terdengar, begitu Marini menyelesaikan pengumumannya. “Wah, kalo tau kayak gitu sih, gue kudu beli gaun baru nih…” “Setuju… gue kayaknya beneran bakal pake MUA deh buat dateng di award-nya Lazuardi…” “Gila… ini sih udah kayak acara penghargaan-penghargaan di tv gitu nggak sih…?” Ramai suara yang terdengar membuat Mayang hanya bisa menabahkan diri, berharap lift ini segera sampai di tempat tujuannya. “Pokoknya jangan sampe kalian nggak persiapan apa-apa ya...” Marini memberi nasihat dengan wajah serius menatap ke arah teman-teman gengnya. Kepalanya kemudian menoleh ke arah Mayang dengan senyuman mengejek. “Mesti dandan pol, jangan yang biasa-biasa aja. Harus bisa bedain dong dandan buat ke pesta, sama cuma ke pasar hihihi…” Menggigit bibirnya untuk menahan emosi Mayang tetap bersikap tenang mendengarnya. Ia tahu persis kalimat yang diucapkan Marini baru saja adalah untuk menyindirnya, menyindir kemampuannya menghias diri yang memang harus Mayang akui nol besar. Dulu saat pertama kalinya ia menghadiri acara penghargaan itu Mayang berdandan biasa layaknya saat bekerja sedangkan rekannya yang lain tampil memukau dengan gaun indah dan riasan wajah menawan. Mayang mengusap wajahnya seraya menghembuskan napas pelan sesaat setelah melepaskan kacamata yang selalu membingkai mata indahnya saat bekerja. Kalimat-kalimat provokatif yang sengaja di lontarkan Marini tadi entah kenapa mempengaruhi pikirannya saat ini.  Bangkit dari kursi kerja ia memutuskan untuk menyegarkan otak penatnya dengan sedikit menyiram air ke wajah. Di depan kaca besar yang ada di hadapannya, Mayang mengamati parasnya yang masih basah oleh titik-titik air. Dirinya bukan termasuk wanita yang pintar merias diri, untuk bekerja saja ia hanya menggunakan BB Cream dan bedak bayi serta memoleskan sedikit lipstick berwarna nude di bibirnya. Tidak ada pensil alis karena memang rambut alisnya tumbuh lebat dan rapi, tidak juga eyeliner, mascara, perona mata dan lainnya yang ia bahkan tidak tahu namanya. Oleh karena itu Mayang hampir tidak pernah datang ke acara-acara yang mengharuskannya untuk berdandan maksimal. Selain karena ia memang tidak memiliki keahlian dalam menggunakan tiap alat makeup, juga karena harganya yang kadang membuat Mayang sakit kepala. Namun jika kembali teringat ucapan Marini di dalam lift tadi, jujur saja Mayang merasa kesal dan marah. Gadis dengan tubuh sintal itu dulu terang-terangan mengejeknya dan mengatainya norak hanya karena ia tidak berdandan seperti karyawan wanita lainnya, membuat satu tekad baru timbul di benaknya. Ia bergegas kembali ke meja bertepatan dengan Erlangga yang juga baru tiba. Mayang yang belum sempat duduk, hanya sedikit membungkukkan badannya begitu sang atasan lewat. Belum sempat ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi panggilan Erlangga membuatnya mendongak. Bosnya itu bahkan mundur beberapa langkah dan berdiri di depan meja kerja Mayang. “Kamu…” Erlangga menatap ke arah Mayang tak berkedip. “Kaca mata kamu mana?” “Hah?” “Kenapa kamu nggak pake kaca mata?” tanya Erlangga lagi. “Oh, itu…” Mayang mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Erlangga tiba-tiba menanyakan kaca matanya? “Tadi saya dari toilet pak, kaca matanya saya tinggal. Ini…” tunjuk Mayang pada bingkai kaca mata yang tergeletak di atas mejanya. “Mata kamu…” “Mata saya sebenarnya baik-baik aja pak…” “Di—pake aja lagi…” suara Erlangga terdengar gugup. “Saya nggak mau kerja kamu nanti malah salah-salah karena penglihatan terganggu tanpa alat bantu.” Setelah mengatakan itu Erlangga buru-buru masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Mayang terdiam bingung. ***   “Nah gitu dong…” Shinta bersorak gembira saat Mayang menyatakan keikutsertaannya dalam acara tahunan Lazuardy Property. Saat ini mereka sudah berada di apartement milik Shinta setelah selama hampir satu jam berkendara karena terjebak macet. “Kalo gini kan gue nggak bakal bete sendiri…” lanjutnya dengan senyum mengembang. Shinta melepaskan sepatunya asal dan merebahkan tubuhnya di sofa sementara Mayang ke dapur mengambil minum. Gadis itu muncul dengan 2 buah gelas dan satu botol air mineral dingin. Senyum gamang di wajahnya seolah mampu di baca Shinta yang kemudian bertanya dengan kedikkan kepala, meminta Mayang untuk mengutarakan hal yang tampak membuatnya risau. “Uhm… tapi gue nggak bisa dandan…” ucap Mayang ragu. “Gue yang dandanin..” balas Shinta cepat. Perkara mendandani Mayang bukanlah hal yang sulit. “Gue juga nggak punya gaun yang layak buat di pake ke acara nanti…” lirih Mayang lagi. Menganggukkan kepala, Shinta akhirnya paham apa yang membuat sahabatnya ini bimbang sejak tadi. “Oke, gue punya beberapa alternatif saran, tinggal lo yang pilih…” Ucapan Shinta membuat Mayang segera mendekat, ia cukup tertarik mendengarnya. Shinta selalu punya solusi. “Pertama kita beli gaun baru…” Shinta bisa mendengar helaan napas sahabatnya itu saat ia mengucapkan alternatif pertama. “Yang ini emang harus ngeluarin dana lebih sih, tapi kan nantinya itu gaun jadi punya lo sendiri.” terang Shinta. “Yang kedua, kita sewa…” “Emang bisa ya?” tanya Mayang ragu. “Bisa. Ada beberapa butik yang gue tau.” Mayang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian kembali menyimak. “Kalo sewa, dana yang dikeluarin nggak sebesar kalo kita beli, tapi yang namanya sewa lo kudu balikin tu gaun.” lanjut Shinta. “dan lagi, kalo sewa mesti pinter-pinter nyari yang emang seukuran sama badan lo, karena kita cuma bisa milih gaun-gaun yang emang tersedia untuk di sewa aja. “Yang ketiga, pake punya gue… lo tinggal pilih yang ada disini atau yang di rumah, gimana?”        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN