“Papa…!” Ane menggeliat, memaksa turun dari gendongan Mayang saat mobil yang menjemput Erlangga memasuki pekarangan rumah. Ya, Erlangga memang hanya di jemput sopir. Lelaki itu melarang Mayang dan Ane untuk menjemputnya di bandara karena ia mengambil penerbangan sore dari Manado sehingga sampai di rumah sekitar malam hari. Erlangga yang baru saja menutup pintu mobil, segera meraih Ane yang berlari menubruk kakinya. Memeluknya erat. “Papa kangen banget sama Ane.” Diciuminya sekujur wajah gadis kecil itu yang tertawa geli sambil melangkah menuju sang istri yang menunggu di ambang pintu. “Ane sama Mama juga kangeeen banget sama Papa.” Ane balas memeluk erat leher sang ayah. Erlangga yang sudah berdiri di hadapan Mayang, menatap istrinya itu dengan senyum tipis. Kedua pipi Mayang memerah

