Selama perjalanan pulang, Mayang lebih banyak diam. Dengan tangan bertopang pada jendela, ia menghabiskan waktu dengan menatap ke arah kemacetan di luar sana. Ane tertidur dengan kepala berada di pangkuannya sementara kaki si kecil berada di pangkuan Erlangga. Mayang beralih ke arah suaminya yang bersandar dengan mata terpejam. Jika dilihat dari samping, visual Erlangga terlihat sempurna. Rambut hitam legam dengan hidung mancung dan rahang kokoh. Matanya tajam dan hangat secara bersamaan. Mayang menyadari jika suaminya adalah sosok lelaki luar biasa yang diidamkan setiap wanita untuk menjadi pasangan mereka. Mayang hanyalah perempuan yang beruntung karena bisa menyandang status nyonya Erlangga. Status yang begitu diinginkan bahkan dijadikan ajang perlombaan bagi setiap karyawan wanita d

