Tama begitu terkejut mendengar Naira datang menemui Sabrina. Benarkah apa yang ia katakan, karena jika itu memang benar, maka Naira sungguh sangat keterlaluan. “Benar kau menemui Sabrina, dimana?” Tama kembali bertanya untuk memastikan. Seringai Naira terlihat menakutkan, raut kecewa, sedih dan juga marah begitu tampak sangat jelas di wajahnya. “Menurutmu?” tanya Naira. “Astaga, sebenarnya apa yang kau pikirkan, Naira?” gusar Tama sambil menyugar rambutnya. Naira menatap Tama dengan sangat tajam, “Kau bilang apa yang aku pikirkan? Ya Tuhan … seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau pikirkan, Mas? Bisa-bisanya kau menemui mantan kekasihmu di belakang istrimu! Apa kau masih mencintainya? Apa kau berniat untuk kembali berhubungan dengannya?” Naira mulai meneteskan air matanya. Bagaimana

