Begitu pintu ruang makan tertutup di belakang Paman Leon dan Bibi Sofia, keheningan yang mencekik kembali merayap. Julian tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat tenang namun tak terbantahkan, ia mencengkeram lengan Elena dan membimbingnya keluar dari ruangan itu.
Elena mencoba meronta, namun tenaga Julian seperti baja. Pria itu membawanya kembali menaiki tangga agung, melewati lorong-lorong sunyi mansion, hingga mereka tiba kembali di depan pintu jati kamar utama.
Ceklek.
Julian mendorong pintu itu terbuka, lalu menutupnya kembali dengan satu sentakan kaki, menguncinya rapat. Ia melepaskan tangan Elena, lalu berdiri mematung di depan pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
"Kau marah karena rumah itu?" tanya Julian. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun bergema di setiap sudut kamar yang luas itu.
"Kau merampas segalanya, Julian! Kau menghancurkan sisa martabat yang dimiliki ayahku!" Elena berteriak, air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya.
Julian melangkah maju, perlahan, memojokkan Elena hingga punggung wanita itu menabrak tiang ranjang king size yang semalam ia hindari mati-matian. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Elena, mengurungnya dalam ruang sempit yang hanya berisi aroma kayu cendana dan d******i pria itu.
"Kau salah paham, Elena," bisik Julian, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Elena yang memerah. "Aku tidak sedang menghancurkan martabat ayahmu. Aku sedang menguji sampai di mana batas perlawananmu."
Julian menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Elena, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang tak sanggup ia jelaskan.
"Kau bilang kau tidak akan pernah menyerah, bukan?" Julian menjeda, senyum tipis yang mematikan muncul di sudut bibirnya. "Kalau begitu, mari kita lihat... berapa lama kau bisa bertahan di kamar ini bersamaku, karena mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu keluar sebelum kau memohon padaku untuk tetap tinggal."
Elena menahan napas saat tangan Julian mulai bergerak perlahan, menyentuh ritsleting blouse sutra merahnya yang baru saja ia pakai.
"Selamat datang di babak kedua, Elena Armand. Dan kali ini, tidak akan ada kursi beludru yang bisa menyelamatkanmu."
Elena mematung dengan napas yang memburu. Punggungnya menekan keras pilar ranjang yang dingin, sementara kehadiran Julian di depannya terasa seperti tembok api yang siap melahapnya. Keheningan kamar itu mendadak menjadi sangat bising oleh detak jantung Elena yang tak beraturan.
Julian tidak langsung menyentuhnya. Ia hanya menatap Elena dengan intensitas yang sanggup menelanjangi semua harga diri yang masih tersisa.
"Rumah itu," gumam Julian, suaranya kini lebih rendah, lebih personal. "Penuh dengan lukisan ibumu, koleksi buku langka ayahmu, dan semua kenangan masa kecil yang kau anggap suci. Besok pagi, tim inventarisku akan mulai mengosongkan tempat itu. Kecuali..."
Julian sengaja menggantung kalimatnya. Ia memajukan tubuhnya, menghapus sisa jarak yang ada hingga Elena bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu.
"Kecuali apa?" desis Elena. Suaranya pecah, ada nada putus asa yang coba ia sembunyikan di balik kebenciannya.
"Kecuali kau bisa membuktikan bahwa kau bukan sekadar beban tambahan dalam kontrak ini," sahut Julian kaku. Tangannya yang tadinya berada di ritsleting blouse Elena kini berpindah, jemarinya membelai rahang Elena dengan gerakan yang sangat pelan, hampir menyerupai kasih sayang—namun Elena tahu, itu adalah intimidasi dalam bentuk yang paling halus.
"Berikan aku satu alasan untuk menganggapmu sebagai seorang istri, bukan sekadar aset," bisik Julian. Wajahnya semakin turun, napasnya yang beraroma kayu cendana menyapu bibir Elena. "Syaratnya sederhana, Elena. Berhentilah menganggapku sebagai musuh untuk satu malam ini. Jadilah istriku—secara sukarela, tanpa paksaan, tanpa perlawanan. Berikan hak yang seharusnya kuterima semalam, dan sertifikat rumah itu akan kembali ke tangan ayahmu sebelum matahari terbenam."
Mata Elena membelalak. "Kau... kau ingin aku menjual diriku demi sebuah properti?"
Julian tertawa kecil, suara baritonnya bergetar di d**a Elena. "Aku sudah membelimu, Sayang. Secara hukum, kau sudah milikku. Aku tidak memintamu menjual diri. Aku memintamu menyerahkan hatimu yang keras itu—hanya untuk malam ini."
Jemari Julian kini turun ke tengkuk Elena, menarik wanita itu sedikit lebih dekat hingga tubuh mereka benar-benar merapat tanpa celah.
"Kau punya waktu sepuluh detik untuk memutuskan," gumam Julian, matanya mengunci mata Elena. "Tetap menjadi martir yang kedinginan di kursi beludru sementara rumahmu rata dengan tanah... atau melangkah ke ranjang ini bersamaku dan menyelamatkan sejarah keluargamu."
Julian mulai menghitung dengan suara yang sangat tenang, setiap angka terdengar seperti vonis mati bagi Elena.
"Satu..."
Elena memejamkan mata. Ia bisa merasakan jemari Julian mulai memberikan tekanan di belakang kepalanya, menuntut jawaban.
"Dua..."
"Tiga..."
Tepat saat hitungan keempat, Elena mencengkeram kemeja Julian dengan kuat. Ia mendongak, menatap pria itu dengan tatapan yang hancur namun membara. Antara kebencian yang mendalam dan kewajiban yang mencekik, Elena menyadari bahwa sangkar emas ini baru saja mengunci pintunya rapat-rapat.
"Hanya satu malam," bisik Elena, suaranya nyaris hilang.
Julian tersenyum—senyum kemenangan yang paling tulus sekaligus paling mengerikan yang pernah dilihat Elena. "Hanya satu malam yang akan kau ingat selamanya, Elena."
Tanpa peringatan, Julian mengangkat tubuh Elena dalam satu gerakan yang mantap, membawanya menuju ranjang sutra abu-abu yang luas, sementara lampu kamar meredup secara otomatis, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang penuh dengan janji dan pengkhianatan.
Julian tidak segera merebahkan Elena. Ia menahannya dalam posisi duduk di tepi ranjang yang empuk, jemarinya beralih merapikan helai rambut Elena yang berantakan dengan gerakan yang hampir menyerupai sebuah pemujaan—pemujaan yang gelap.
"Rawatlah dirimu sebelum itu," bisik Julian, suaranya kini lebih lembut namun tetap memiliki otoritas yang tak tergoyahkan. "Rilekskan pikiranmu. Aku ingin kau dalam kondisi terbaik saat kau menyerahkan segalanya padaku."
Ia menarik diri sedikit, memberikan ruang bagi Elena untuk bernapas, meski tatapannya tetap mengunci mata wanita itu. "Mandilah dengan air hangat, hapus riasan perang di wajahmu itu. Aku ingin melihat Elena yang sebenarnya—bukan Nyonya Armand yang angkuh yang mencoba menantangku di meja makan tadi."
Julian berdiri tegak, merapikan jasnya seolah tidak baru saja melakukan negosiasi yang menghancurkan jiwa seseorang. Ia melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak untuk menoleh melalui bahunya.
"Aku sangat menantikan malam ini, Elena," ucapnya dengan nada yang begitu dalam hingga membuat suasana kamar terasa semakin pekat. "Malam di mana kau sepenuhnya menyerahkan harga dirimu yang tersisa untukku. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama."
Ceklek.
Pintu tertutup dan terkunci kembali dari luar.
Elena jatuh terduduk di atas seprai sutra yang terasa seperti duri di kulitnya. Ruangan itu kini sunyi, namun kata-kata Julian bergema di dinding-dinding mewah itu seperti vonis. Ia menatap tangannya yang masih gemetar. Di satu sisi, ia membenci pria itu dengan setiap serat sel tubuhnya. Di sisi lain, bayangan rumah masa kecilnya yang akan dihancurkan buldoser besok pagi membuatnya tak punya pilihan.
Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Di dalam cermin besar, ia melihat bayangannya sendiri: seorang wanita cantik berbaju merah darah yang tampak seperti kurban di atas altar.
Ia menyalakan air, membiarkan uap panas memenuhi ruangan, mencoba mencari ketenangan yang diperintahkan Julian. Namun, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya hanya mengingatkannya pada satu hal: malam ini, Julian tidak hanya menginginkan tubuhnya, ia menginginkan kehancuran total dari benteng terakhir harga diri Elena.