bc

Sangkar Emas Tuan Armand

book_age18+
12
IKUTI
1K
BACA
dark
contract marriage
family
arranged marriage
arrogant
badboy
heir/heiress
tragedy
no-couple
serious
city
like
intro-logo
Uraian

Elena dinikahi oleh Julian Armand bukan untuk dicintai, melainkan dibentuk sesuai dengan kehendaknya. Sejak cincin melingkar di jarinya, hak atas dirinya perlahan menghilang. Senyumnya ditakar, tawanya diredam, bahkan nada suaranya harus terdengar pantas. Dalam pernikahannya, kepatuhan adalah hukum, dan kesempurnaan tak boleh retak sedikit pun. Kediaman megah keluarga Armand berubah menjadi ruang sunyi yang mengikis jati dirinya secara perlahan.

Namun semuanya berubah ketika ia menemukan rahasia kelam yang selama ini disembunyikan Julian—masa lalu yang membentuknya menjadi pria dingin dan obsesif. Di antara kendali dan luka yang tak terlihat, Elena dihadapkan pada pilihan: membebaskan suaminya dari bayang-bayang itu, atau tenggelam selamanya sebagai "istri boneka" dalam sangkar emas yang tak berakhir.

chap-preview
Pratinjau gratis
Mahar Penebusan
Elena selalu memandang hidupnya sebagai sketsa yang bisa ia hapus dan gambar ulang sesuka hati. Sebagai putri tunggal dinasti Adiwangsa, ia adalah personifikasi dari presisi—anggun, cerdas, dan selalu memegang kendali. Namun, sore itu, di bawah langit Jakarta yang menggantung kelabu seberat timah, ia menyadari bahwa tinta yang membentuk garis hidupnya bukan lagi miliknya. Lantai marmer yang dingin merambat naik melalui tumit sepatunya, seolah ingin membekukan setiap langkah Elena saat ia mendekati ruang kerja ayahnya. Aroma kayu cendana yang selama ini identik dengan wibawa dan kestabilan kini bercampur dengan bau kertas lama dan udara yang terlalu lama terperangkap. Ada kecemasan yang tak terlihat, namun bisa dirasakan—pekat dan menyesakkan. Di ambang pintu, Elena terdiam. Ia melihat punggung ayahnya membelakanginya. Baskoro Adiwangsa, pria yang selalu ia kenal tegak dan tak tergoyahkan, kini tampak menyusut di kursi kebesarannya. Bahunya merosot, seperti sedang memanggul beban tak kasatmata yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri. ​"Papa?" suara Elena nyaris tak terdengar, pecah oleh keraguan. Baskoro tidak menoleh. Matanya terpaku pada jendela besar yang membingkai hutan beton Jakarta. Lampu-lampu kantor mulai menyala satu per satu, tampak seperti bintang yang terjebak dalam sangkar besi. “Dulu,” gumam Baskoro akhirnya, suaranya serak oleh lelah yang tak lagi bisa disembunyikan, “Kakekmu membangun perusahaan ini dari satu meja kayu kecil dan mesin tik tua yang berisik. Tidak ada investor. Tidak ada koneksi politik. Hanya kepercayaan.” Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum hambar. “Dia selalu bilang, kejujuran adalah modal yang tidak pernah bangkrut.” Tawa kecilnya terdengar rapuh. “Ternyata, di dunia sekarang, kejujuran hanya membuat kita terlihat lemah di depan para hiu.” Elena melangkah masuk sepenuhnya. Ruangan itu terasa berbeda—bukan lagi pusat kendali yang solid, melainkan kapal yang perlahan karam. Berkas-berkas menumpuk tak rapi di atas meja jati legendaris. Beberapa map terbuka, memperlihatkan laporan keuangan yang dipenuhi garis merah menukik tajam. Di layar komputer, grafik penurunan saham bergerak seperti detak jantung yang melemah. ​"Duduklah, Elena," ucap ayahnya tanpa menatapnya. ​Elena meluncur ke kursi kulit di seberang meja. "Katakan padaku, Pa. Tolong, jangan ditutupi lagi. Berapa lama lagi waktu kita yang tersisa?" Baskoro memutar kursinya perlahan. Ketika akhirnya menatap putrinya, Elena melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—ketakutan. Mata itu memerah, bukan hanya karena kurang tidur. “Dua minggu,” jawabnya pelan. Dua kata yang jatuh seperti palu godam. “Dua minggu sebelum bank menyita seluruh aset utama kita. Sebelum gedung ini, pabrik-pabrik itu, bahkan rumah kita… bukan lagi milik Adiwangsa.” Suaranya bergetar. “Dua minggu sebelum ribuan karyawan yang menggantungkan hidup pada kita kehilangan pekerjaan.” ​"Tapi kita punya aset di Singapura, kita punya kolega—" “Mereka semua sudah menarik diri.” Baskoro memotongnya, kali ini tak mampu menyembunyikan nada putus asa. “Para kolega yang dulu bersulang bersama kita kini menunggu dari kejauhan. Mereka tidak ingin menyelamatkan kita, El. Mereka menunggu kita jatuh… agar bisa membeli sisa-sisanya dengan harga murah.” Sunyi menyelimuti ruangan itu. Di luar, senja benar-benar menghilang. Jakarta berubah menjadi lautan cahaya, namun di dalam ruangan itu, semuanya terasa gelap. Elena memandang meja yang dulu selalu ia lihat sebagai simbol kejayaan keluarga. Kini meja itu tampak seperti altar pengorbanan. “Tidak mungkin tidak ada pilihan lain,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. Baskoro terdiam lama sebelum akhirnya membuka laci meja. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah map kulit hitam dan meletakkannya di atas meja dengan gerakan pelan—seolah benda itu memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada kertas di dalamnya. Logo minimalis tercetak di sudutnya. Sederhana. Elegan. Dingin. Elena mengenal nama itu bahkan sebelum ayahnya menyebutkannya. “Armand Group,” katanya pelan. Angin dari pendingin ruangan terasa mendadak menusuk kulitnya. “Mereka mengajukan tawaran akuisisi?” tanya Elena, mencoba tetap rasional. “Bukan akuisisi biasa.” Baskoro menggeleng perlahan. “Mereka tidak ingin membeli perusahaan kita. Mereka ingin… aliansi.” Elena menatap ayahnya, menunggu kelanjutan yang tak kunjung datang. “Aliansi dalam bentuk pernikahan.” Kalimat itu menggantung di udara, absurd sekaligus nyata. Sejenak, Elena merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang tak pernah ia lihat sebelumnya. “Julian Armand,” lanjut Baskoro, suaranya nyaris patah. “Ia menginginkanmu sebagai istrinya.” Detik itu, suara jam dinding terdengar seperti hantaman godam. Elena mendongak, matanya berkaca-kaca karena rasa tidak percaya. "Pernikahan? Papa, ini gila! Ini bukan kontrak bisnis, ini p********n modern! Dia ingin membeli anakmu?" ​"Dia menyebutnya 'jangkar strategis'," bisik Baskoro, kepalanya tertunduk dalam, menyembunyikan rasa malu yang luar biasa. "Julian tidak percaya pada janji di atas kertas. Dia ingin jalinan darah. Dia ingin kendali mutlak atas masa depan Adiwangsa melalui dirimu." ​"Kenapa harus aku? Kenapa dia tidak mengambil saham saja?" Elena bertanya dengan suara bergetar, jiwanya meronta. ​"Karena dia memilihmu, Elena. Karena dia tahu kau adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan." ​Kata itu—dipilih—terasa seperti vonis mati. Tanpa romansa, tanpa kehangatan. Hanya sebuah transaksi dingin antara seorang pembeli dan barang koleksinya. “Papa tidak akan memaksamu.” Baskoro meraih tangan Elena, genggamannya hangat namun gemetar. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal dunia, Elena melihat ayahnya begitu rapuh—bukan sebagai pengusaha besar, melainkan sebagai seorang pria tua yang takut kehilangan anaknya. “Jika kau menolak, kita pergi dari sini besok. Papa akan menghadapi sidang kebangkrutan dengan kepala tegak. Kita mulai dari nol lagi.” Suaranya pecah. “Tapi Papa tidak sanggup melihatmu menjadi jaminan.” Kata itu menancap dalam. Elena menatap wajah yang mulai dipenuhi garis kelelahan. Pria ini yang mengajarinya bersepeda, yang menungguinya setiap kali ia sakit, yang selalu berkata bahwa dunia terlalu kecil untuk mimpi putrinya. Semua yang ia miliki—pendidikan terbaik, kehidupan nyaman, nama besar—berasal dari tangan yang kini menggenggamnya dengan putus asa. Dan untuk pertama kalinya, Elena menyadari: bukan hanya perusahaan yang sedang runtuh. Harga diri ayahnya ikut retak. Ia menarik napas perlahan. Di dadanya, sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan tumbuh—tekad. “Aku ingin bertemu dengannya,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya berubah. Dingin. Tegas. Hampir asing di telinganya sendiri. “El, kau tidak harus—” Baskoro mencoba menyela. “Aku ingin melihat langsung mata pria yang merasa dirinya cukup kaya untuk membeli hidupku.” Sunyi menggantung setelah kalimat itu. Elena melepaskan genggaman ayahnya dengan lembut, lalu berdiri. Ada getar kecil di ujung jemarinya, namun punggungnya tegak. Jika hidupnya akan dinegosiasikan seperti saham di bursa, maka ia tidak akan datang sebagai barang lelang yang pasif. Ia akan datang sebagai penawar terakhir. Di luar, malam telah sepenuhnya turun. Lampu-lampu kota menyala lebih terang, seakan Jakarta sedang merayakan sesuatu yang tidak ia pahami. Sementara di dalam ruangan itu, Elena Adiwangsa baru saja memutuskan untuk melangkah ke dalam permainan seorang pria bernama Julian Armand—bukan sebagai korban. Melainkan sebagai lawan yang ingin ia tatap langsung.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

BRIANNA [Affair]

read
131.2K
bc

Nona-ku Canduku

read
101.1K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.1K
bc

Eat Me, Daddy!

read
17.7K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
1.3K
bc

Pemuas Hasrat Mantan Suami

read
54.2K
bc

HASRAT MERESAHKAN

read
149.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook