Kesepakatan Tanpa Cinta

1311 Kata
Lantai lima puluh Armand Tower tidak pernah mengenal musim. Di luar, Jakarta bisa saja sedang terbakar matahari atau hujan deras yang mengguyur tanpa ampun, tetapi di dalam gedung ini, waktu terasa beku. Udara selalu berada pada suhu yang sama—sejuk, terkontrol, beraroma kayu mahal dan wewangian maskulin yang samar namun berkelas. Tidak ada yang berlebihan. Semua sesuai pada porsinya. Seperti pemiliknya. Elena melangkah keluar dari lift privat dengan punggung tegak. Pintu baja itu tertutup tanpa suara di belakangnya, meninggalkannya sendirian di koridor panjang yang dindingnya dilapisi panel kayu gelap dan kaca reflektif. Pantulan dirinya tampak samar di setiap sisi—wanita dengan gaun krem sederhana, rambut terikat rapi, wajah yang tenang namun mata yang menyimpan badai. Karpet tebal meredam langkahnya. Sunyi di tempat itu bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah desain. Gedung ini seolah diciptakan untuk menyerap emosi manusia—menjinakkan gugup, meredam marah, dan membungkam takut. Dua orang asisten berdiri di depan pintu ganda berbahan jati hitam di ujung lorong. Setelan jas mereka nyaris identik, ekspresi wajah netral seperti patung marmer. Tanpa perlu ditanya, salah satu dari mereka membuka pintu ketika Elena mendekat. “Silakan, Nona Adiwangsa.” Nada itu sopan. Dingin. Profesional. Elena melangkah masuk. Ruangan itu luas, tetapi tidak terasa lapang. Langit-langit tinggi, dinding kaca floor-to-ceiling memperlihatkan cakrawala Jakarta yang membentang seperti peta kekuasaan. Sebuah meja kerja besar dari marmer hitam berdiri di sisi ruangan, namun kosong. Julian Armand tidak berada di baliknya. Ia berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu. Kedua tangannya terselip santai di saku celana bahan gelap. Siluetnya tegas, bahunya lebar, posturnya lurus tanpa cela. Dari ketinggian itu, gedung-gedung di bawah tampak kecil—seperti bidak catur yang menunggu digerakkan. Tanpa menoleh, ia berbicara. “Ayahmu selalu bilang kau memiliki ketepatan waktu yang luar biasa, Elena.” Suaranya rendah, stabil, mengisi ruangan tanpa perlu ditinggikan. Elena menahan napas sepersekian detik sebelum menjawab. “Aku menghargai waktu, Tuan Armand. Terutama ketika waktu itu hanya tersisa dua minggu.” Barulah Julian berbalik. Wajahnya tenang. Tidak ada kesan tergesa-gesa, tidak ada bayangan krisis. Kemeja biru pucatnya disetrika sempurna, kancing atas terbuka satu tingkat, tanpa dasi. Ia tampak seperti pria yang baru selesai olahraga ringan, bukan seseorang yang sedang memegang nasib keluarga lain di tangannya. Tatapannya berhenti tepat di mata Elena. Menilai. Mengukur. Sebuah senyum tipis muncul—nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk memberi kesan bahwa ia menikmati situasi ini. Ia berjalan menuju area duduk di tengah ruangan, mengisyaratkan sofa kulit krem yang tersusun simetris menghadap satu sama lain. Elena duduk tanpa ragu. Julian mengambil kursi tunggal di seberangnya, menyilangkan kaki dengan santai. Jarak di antara mereka tidak lebih dari dua meter. Namun terasa seperti jurang. ​"Langsung pada intinya. Aku suka itu," gumam Julian. Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai. "Kau sudah membaca draf yang kuberikan pada Ayahmu?" ​"Draf itu bukan kesepakatan bisnis, Tuan Armand. Itu adalah akta penyerahan diri," Elena membalas tajam. "Pernikahan?” lanjut Elena, suaranya tajam. “Di abad ini? Kau memiliki cukup uang untuk membeli setengah kota ini, tapi kau masih menggunakan metode feodal untuk mengamankan kepentinganmu?” Julian tidak tampak tersinggung. Justru ada kilatan tipis di matanya—minat. ​"Metode kuno tetap bertahan karena mereka efektif, Elena," ucap Julian tenang. "Uang bisa datang dan pergi. Kontrak bisa dibatalkan oleh pengacara yang lebih cerdik. Tapi sebuah aliansi yang melibatkan nama baik keluarga dan integritas pribadi? Itu jauh lebih sulit untuk dipatahkan. Aku tidak butuh perusahaan ayahmu—aku punya banyak yang seperti itu. Yang aku inginkan adalah kendali mutlak atas stabilitas sektor yang ia pegang. Dan kau adalah kuncinya." ​"Aku bukan kunci. Aku manusia," Elena menekan setiap katanya. "Dalam ruangan ini, kau adalah variabel yang menentukan apakah Adiwangsa akan tetap ada dalam buku sejarah atau hanya menjadi catatan kaki tentang kebangkrutan yang tragis. Mari kita jujur, Elena. Ayahmu sudah kalah. Dia tertidur saat para hiu mulai mengepung. Sekarang, dia hanya punya satu kartu sisa untuk menyelamatkan ribuan karyawannya. Kartu itu adalah kau." Kata-kata Julian jatuh seperti tetesan air dingin yang membekukan tulang. Elena merasakan kemarahan yang meluap, namun ia tahu ledakan emosi adalah hal yang paling tidak berguna di depan pria seperti Julian. "Kenapa aku?” tanyanya akhirnya. “Kau bisa memilih wanita mana pun dari keluarga konglomerat lain. Mereka akan berebut.” Julian bangkit perlahan. Ia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal. Gerakannya tenang, elegan, seperti predator yang tahu mangsanya tidak punya tempat untuk berlari. “Karena kau tidak akan berebut,” jawabnya sambil kembali menatap Elena. “Aku tidak butuh istri yang hanya tersenyum di sampul majalah. Aku butuh seseorang yang memahami beban nama besar. Seseorang yang tetap berdiri saat segalanya runtuh.” Julian mendekat. Tidak menyentuh. Namun jarak yang tersisa membuat Elena sadar betapa dominannya kehadiran pria itu. “Ayahmu membesarkanmu dengan baik. Kau cerdas. Tangguh. Dan yang paling penting… kau setia.” Kata terakhir itu diucapkan lebih pelan. ​"Kesetiaan adalah mata uang yang sangat langka di duniaku," lanjut Julian. "Aku tahu kau akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan Ayahmu. Dan itulah alasan kenapa aku memilihmu. Aku bisa memercayai seseorang yang memiliki sesuatu yang begitu berharga untuk dipertaruhkan." ​Elena mendongak, menantang tatapan dingin Julian. "Dan jika aku menolak? Jika aku memilih untuk membiarkan semuanya hancur dan mulai dari nol bersama ayahku?" ​Julian menyesap airnya, matanya tidak pernah lepas dari Elena. "Maka besok pagi, pukul sembilan tepat, eksekusi aset akan dimulai. Ayahmu akan menghabiskan sisa hidupnya di ruang pengadilan, dikelilingi oleh ribuan orang yang menuntut pesangon yang tidak bisa ia bayar. Namanya akan diseret dan kau... kau akan melihat pria yang kau cintai itu layu dan mati karena rasa malu. Aku tidak perlu menghancurkan kalian. Aku hanya perlu membiarkan hukum alam bekerja." Elena merasakan jantungnya berdegup lebih keras. Ia tahu ini bukan gertakan. Julian berbicara seperti seseorang yang telah menghitung setiap kemungkinan. “Di balik pintu tertutup,” Elena akhirnya bertanya pelan, “apa yang kau harapkan dariku?” Julian meletakkan gelasnya dengan bunyi denting halus di atas meja marmer. “Di depan publik, kau adalah Nyonya Armand. Kau akan hadir di setiap pertemuan penting. Kau akan berdiri di sisiku sebagai simbol bahwa dua dinasti ini bersatu.” Ia berhenti sejenak. “Di balik pintu tertutup…” suaranya menurun, lebih rendah, lebih intim tanpa menjadi lembut. “Aku menuntut komitmen. Rasa hormat. Tidak ada skandal. Tidak ada permainan belakang layar. Tidak ada kebocoran informasi. Kau tinggal di rumahku, membawa namaku, menjalankan peranmu.” Ia menatap Elena dalam-dalam. “Aku tidak membutuhkan cintamu. Cinta terlalu tidak stabil untuk dijadikan fondasi.” Elena tertawa pelan—bukan karena lucu, tetapi karena getir yang tak tertahankan. “Jadi aku hanya akan menjadi istri boneka?” tanyanya, menantang. “Tersenyum di acara gala, berdiri manis di sampingmu, mengenakan gaun mahal dan berlian, sementara hidupku ditentukan oleh jadwal dan citra perusahaanmu?” Julian tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala sedikit, seolah mempertimbangkan istilah itu. “Jika kau ingin menyederhanakannya seperti itu,” katanya akhirnya, tenang. “Maka iya. Sebuah boneka yang sangat berharga. Boneka yang menentukan stabilitas miliaran rupiah aset dan ribuan lapangan pekerjaan.” Kata-katanya tidak keras. Justru karena itulah terasa lebih kejam. “Sangkar emas,” Elena berbisik lagi. “Setidaknya sangkar itu tidak akan pernah runtuh,” balas Julian datar. “Dan kau tidak akan pernah kekurangan apa pun.” Kecuali kebebasan, pikir Elena. Sunyi menggantung di antara mereka, berat dan menekan. Julian melangkah mendekat, berhenti hanya sejauh satu napas. “Tidak ada kebebasan,” ujarnya pelan. “Bukan untukku. Dan jika kau menjadi istriku… bukan untukmu.” Itu bukan ancaman. Itu kepastian. Elena menegakkan dagu. “Dan jika boneka itu memutus benangnya?” Senyum Julian tipis, berbahaya. “Maka panggungnya akan runtuh. Dan siapa pun yang berdiri di atasnya akan ikut terkubur.” Di luar, matahari tenggelam sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya, Elena menyadari—ia tidak sedang memasuki pernikahan. Ia sedang melangkah ke medan perang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN