Tepat saat atmosfer di antara mereka semakin menipis, telepon di atas meja berdering tajam. Nada darurat yang tidak bisa diabaikan. Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan deru napas mereka yang beradu. Julian tidak melepaskan pelukannya, juga tidak meraih telepon. Ia justru mematikan dering telepon itu dengan satu tangan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Elena, seolah dunia di luar sana bisa menunggu hingga ia selesai dengan urusannya di sini. "Abaikan itu," bisik Julian serak. "Fokusmu masih belum sempurna, Elena. Kau terlalu mudah terdistraksi oleh hal-hal di luar kendalimu." Jemari Julian kembali bergerak, kali ini menekan lembut titik saraf di pinggang Elena di balik kain blazer putih gadingnya, memaksanya untuk kembali menatap barisan angka di layar mon

