Investasi Paling Intim

1959 Kata
Sofia terpaku. Gelas kristal di tangannya nyaris miring, namun matanya yang tajam tidak beralih sedikit pun dari pemandangan di depannya. Keheningan yang menyelimuti mereka berdua terasa begitu kontras dengan keriuhan musik klasik di latar belakang. ​Bagi mereka, Elena hanyalah pion kecil dalam permainan kekuasaan Julian. Sofia telah merencanakan konfrontasi ini sejak tadi malam; ia ingin memancing Elena di depan para tamu elite, memaksa gadis itu menunjukkan kemarahan atau tangisannya agar semua orang melihat betapa jomplangnya pernikahan ini—bahwa Elena hanyalah sandera yang dipaksakan masuk ke dalam dinasti Armand. ​Namun, kecupan singkat dan cara Julian memegang tengkuk Elena seolah-olah wanita itu adalah harta paling berharga sekaligus paling berbahaya, menghancurkan seluruh skenario Sofia. ​Julian tidak membiarkan Elena dipermalukan. Ia justru menggunakan otoritasnya untuk membangun dinding pelindung yang tak tertembus di sekitar istrinya. Sial, maki Sofia dalam hati. Julian baru saja menyatakan perang padaku melalui sandiwara ini. Ia memperhatikan bagaimana jemari Julian mengusap bibir Elena—sebuah gerakan yang sangat posesif, namun terlihat begitu intim bagi orang luar. Ia gagal menarik Elena ke dalam jebakan kata-kata karena Julian sendiri yang turun tangan untuk menutup celahnya. ​"Sepertinya aku salah menilai dinamika kalian," ucap Sofia akhirnya, suaranya kini terdengar lebih kaku, berusaha menutupi kekalahannya. "Aku pikir kau membawanya ke sini hanya sebagai syarat formalitas, Julian. Tapi melihat cara kau... menjaganya, sepertinya Elena memiliki nilai yang lebih tinggi dari yang aku duga." ​Julian tidak melepaskan tatapannya dari Elena yang masih mematung, seolah-olah bibinya hanyalah gangguan kecil di latar belakang. ​"Di keluarga ini, Bibi tahu betul bahwa aku tidak pernah menyia-nyiakan investasi yang berharga," sahut Julian dengan bariton yang dalam. Ia kemudian menoleh ke arah pamannya, memberikan tatapan yang begitu jernih namun mengandung peringatan. "Dan aku tidak suka jika ada orang lain yang mencoba melakukan 'audit' terhadap apa yang sudah sah menjadi milikku." Paman Leon mengangguk tipis, rahangnya mengeras. "Tentu, Julian. Kami hanya ingin memastikan dia tidak menjadi beban bagi nama besar Armand." ​"Dia tidak akan menjadi beban," potong Julian cepat, suaranya tajam seperti mata pisau. "Karena aku sendiri yang akan membentuknya. Kalian tidak perlu repot-repot memberinya pelajaran yang bukan menjadi wewenang kalian." Elena bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tubuh Julian ke tubuhnya. Di balik punggungnya, cengkeraman tangan Julian di pinggangnya tidak mengendur, seolah-olah Julian sedang menahannya agar tidak jatuh sekaligus memastikan ia tidak lari dari perang dingin ini. Dia membantah mereka, batin Elena dengan perasaan campur aduk. Bukan karena dia mencintaiku, tapi karena dia terlalu sombong untuk membiarkan orang lain mengganggu barang miliknya. Dia membelaku di depan mereka, namun di saat yang sama, dia baru saja mengukuhkan bahwa aku adalah miliknya untuk dihancurkan sendiri. Elena mendongak, menatap profil samping wajah Julian yang begitu kokoh dan tak tersentuh. Untuk sesaat, ia merasa terjebak di antara dua singa yang sedang memperebutkan mangsa, dan Julian baru saja menunjukkan siapa penguasa hutan yang sebenarnya. ​"Mari kita tinggalkan mereka, Sayang," bisik Julian, suaranya berubah menjadi lembut yang mengerikan. "Masih banyak tamu yang perlu melihat betapa bahagianya kau malam ini." Julian membimbing Elena menjauh dari Paman dan Bibinya dengan otoritas yang tenang, seolah-olah percakapan penuh intimidasi tadi hanyalah gangguan kecil yang sudah ia atasi. Namun, bagi Elena, genggaman Julian di pinggangnya kini terasa lebih nyata; itu adalah jangkar sekaligus belenggu. Mereka berhenti di depan sekelompok pria yang mengenakan setelan jas dengan harga yang setara dengan rumah mewah. Aura di lingkaran ini jauh lebih berat—ini adalah pusat gravitasi kekuasaan bisnis Julian. ​"Tuan-tuan," suara Julian mengalun, rendah namun mampu menghentikan obrolahan mereka seketika. "Saya rasa kalian belum secara resmi bertemu dengan istri saya, Elena Armand." ​Elena merasakan semua mata tertuju padanya. Tatapan mereka bukan lagi tatapan kagum seorang pria pada wanita cantik, melainkan tatapan predator yang sedang menilai seberapa berharganya "akuisisi" terbaru Julian Armand. ​"Elena," Julian menoleh sedikit, memberikan tatapan yang terlihat intim bagi mereka yang menonton. "Ini adalah Tuan Hermawan, kepala konsorsium perbankan, dan Tuan Wijaya, pemilik logistik terbesar di negeri ini." ​Hermawan, seorang pria tua dengan mata yang licik, tersenyum lebar. "Ah, jadi ini putri Baskoro Adiwangsa. Luar biasa, Julian. Kau tidak hanya mengambil alih pelabuhannya, tapi kau juga mendapatkan permata mahkotanya." ​Elena merasakan darahnya mendidih mendengar dirinya disebut sebagai 'permata mahkota' dalam konteks transaksi bisnis. Ia hendak membuka mulut untuk membalas sindiran itu, namun Julian lebih dulu mempererat pelukannya, jemarinya menekan lembut namun tegas di tulang rusuk Elena—sebuah perintah bisu untuk tetap pada naskah. ​"Elena adalah lebih dari sekadar bagian dari kesepakatan, Tuan Hermawan," sahut Julian dengan nada yang sangat datar, namun dingin. "Dia adalah alasan mengapa saya memutuskan untuk memperluas sektor investasi saya ke bidang yang lebih... personal." Personal? batin Elena getir. Dia berbicara seolah-olah pernikahan ini adalah ekspansi bisnis. Di depan orang-orang ini, aku hanyalah trofi yang menandakan kemenangannya atas ayahku. Dia memamerkanku untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak bisa dia miliki. ​Elena menatap Julian dari samping. Pria ini begitu mahir bersandiwara. Wajahnya yang tanpa cela tidak menunjukkan setitik pun rasa bersalah atas cara dia menghancurkan hidup keluarga Adiwangsa. ​"Saya dengar Nyonya Armand sangat berbakat dalam bidang kurasi seni," Tuan Wijaya menimpali, mencoba mencairkan suasana. "Mungkin Mansion Armand akan segera dipenuhi koleksi baru?" ​Elena tersenyum, senyum paling palsu yang pernah ia ciptakan. "Mansion itu sudah cukup penuh dengan... barang-barang berharga, Tuan Wijaya. Julian sangat pandai memastikan segala sesuatu berada di tempat yang dia inginkan. Termasuk saya." ​Julian memberikan tatapan tajam yang hanya berlangsung sepersekian detik sebelum ia tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat maskulin dan meyakinkan. "Istriku selalu tahu bagaimana cara memberikan pujian yang unik." Saat rekan-rekan bisnis itu mulai membicarakan angka dan saham, Julian menarik Elena sedikit lebih dekat hingga bibirnya nyaris menyentuh dahi Elena, seolah-olah ia sedang membisikkan kata-kata cinta. ​"Cukup, Elena," bisik Julian, suaranya setajam pisau di balik nada lembutnya. "Satu sindiran lagi tentang 'posisimu' di rumah ini, dan aku akan memastikan Hermawan membatalkan pinjaman talangan untuk perusahaan ayahmu malam ini juga. Mainkan peranmu, atau kau akan melihat betapa cepatnya aku bisa menjadi kejam di depan orang-orang ini. ​Napas Elena tertahan. Di bawah sorot lampu yang indah dan di tengah musik yang merdu, ia menyadari bahwa Julian sedang memaksanya melakukan tarian yang mematikan. Ia harus menjadi "Istri Armand" yang sempurna, atau ia akan menghancurkan satu-satunya alasan mengapa ia setuju untuk berada di sini. ​Elena menelan harga dirinya, lalu menatap kembali para rekan bisnis Julian dengan tatapan yang lebih tenang. "Tentu saja. Sebagai istri Julian, prioritas saya adalah memastikan warisan Armand tetap tak tersentuh oleh apa pun." ​Julian tersenyum puas. Ia mengangkat gelas wiskinya, menyentuhkan gelasnya ke gelas Elena dengan dentingan kecil yang menandakan kesepakatan. ​"Itu baru istriku," gumam Julian, matanya berkilat penuh kemenangan yang mengerikan. Suasana di lingkaran elite itu mendadak berubah menjadi lebih intim, namun bagi Elena, atmosfernya justru semakin menyesakkan. Tuan Hermawan terkekeh, menyesap cerutunya perlahan sebelum melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Elena seolah berhenti berdetak. ​"Bicara tentang warisan Armand," Hermawan menatap Julian dan Elena bergantian dengan binar penuh spekulasi. "Kapan kalian akan berangkat bulan madu? Dan yang lebih penting... kapan kita bisa mengharapkan berita tentang hadirnya penerus generasi Armand? Kekaisaran sebesar ini butuh pangeran kecil sesegera mungkin, bukan begitu, Tuan Julian?" ​Pertanyaan itu disambut tawa setuju dari rekan bisnis lainnya. Bagi mereka, rahim Elena hanyalah bagian dari aset yang harus segera membuahkan hasil untuk kestabilan saham perusahaan. Penerus? Elena merasa mual. Pikiran bahwa ia harus mengandung anak dari pria yang telah merantai hidupnya terasa seperti mimpi buruk yang paling kelam. Mereka membicarakan anak seolah-olah sedang mendiskusikan jadwal panen atau dividen tahunan. Bagi mereka, aku bukan hanya trofi, tapi juga inkubator untuk ambisi Julian. Ia melirik Julian, berharap menemukan setitik ketidaknyamanan di wajah suaminya. Namun, Julian tetaplah Julian—seorang penguasa yang tak terbaca. Julian tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Elena, tangannya yang berada di pinggang Elena bergerak naik, mengusap punggung wanita itu dengan gerakan yang perlahan dan posesif. ​"Bulan madu adalah hal yang sangat kami nantikan, Tuan Hermawan," suara Julian mengalun rendah, tenang, namun penuh penekanan. "Tapi seperti yang Anda tahu, saya suka melakukan segala sesuatu dengan presisi. Begitu juga dengan masalah penerus." ​Julian mendekatkan wajahnya ke arah Elena, memastikan semua orang melihat binar yang mereka anggap sebagai gairah, padahal itu adalah d******i murni. ​"Mengenai generasi penerus Armand," Julian berhenti sejenak, memberikan senyuman tipis yang sangat terkontrol. "Saya dan Elena sedang menghabiskan banyak waktu... 'berlatih' secara privat di Mansion. Saya pastikan, saat waktunya tiba, generasi penerus Armand akan lahir dari garis keturunan yang paling kuat dan tunduk." ​Kata "tunduk" diucapkan Julian dengan nada yang hampir tidak terdengar oleh orang lain, namun menghantam Elena tepat di ulu hati. Itu adalah pesan langsung untuknya. ​"Wah, sepertinya Tuan Julian sangat bersemangat," canda Tuan Wijaya sambil tertawa. "Bagaimana dengan anda, Nyonya Elena? Apakah sudah siap menjadi ibu dari pewaris tunggal Armand?" ​Elena merasakan cengkeraman tangan Julian di pinggangnya mengeras, sebuah peringatan agar ia memberikan jawaban yang memuaskan para predator ini. Elena menelan ludah, mencoba mencari suaranya di tengah kerongkongan yang kering. ​"Julian adalah pria yang sangat... intens dalam segala hal yang dia kerjakan," balas Elena, suaranya bergetar tipis namun ia berusaha tetap tegak. "Termasuk dalam memastikan masa depan keluarga ini. Saya hanya mengikuti ritme yang sudah dia tentukan." Julian tampak puas. Ia mencium pelipis Elena di depan kolega-koleganya, sebuah gestur yang tampak sangat protektif. "Kami tidak akan membuat kalian menunggu terlalu lama. Tapi untuk saat ini, saya masih ingin menikmati istri saya hanya untuk saya sendiri." Elena memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang memantulkan bayangan dirinya sendiri—seorang wanita dengan gaun mewah yang tampak sempurna, namun dengan mata yang menyimpan badai. Di telinganya, tawa rekan bisnis Julian masih terngiang, memuji jawaban Julian yang baru saja menguliti harga dirinya di depan umum. Menikmati? monolog Elena dalam hati, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. Apa aku ini hanya sepotong hidangan penutup di tengah kemewahan meja makanmu, Julian? Sesuatu yang bisa kau cicipi, kau pamerkan rasanya, lalu kau habiskan sesukamu? ​Ia meremas kain gaunnya hingga buku jarinya memutih. Astaga... Jawaban macam apa itu? Dia berbicara tentang pewaris seolah-olah dia sedang memesan model terbaru dari sebuah pabrik otomotif. Baginya, rahimku hanyalah brankas tempat dia menyimpan masa depan kekuasaannya. Elena melirik Julian yang sedang berjabat tangan dengan kolega lain, tampak begitu berwibawa dan terhormat. Pria ini benar-benar monster yang dibungkus dengan etiket. Dia membelaku dari bibinya bukan karena dia peduli, tapi karena dia tidak ingin ada orang lain yang menyentuh 'makanannya' sebelum dia selesai. Dan sekarang, dia baru saja mengumumkan kepada dunia bahwa aku adalah miliknya untuk dikonsumsi kapan saja. Rasa mual kembali menyerang ulu hatinya. Setiap kali Julian menyentuh punggungnya, Elena merasa seperti ada tanda stempel panas yang ditekan ke kulitnya, menandai kepemilikan. Kau salah jika berpikir aku akan menjadi ibu dari anak-anakmu dengan patuh, Julian. Jika kau ingin aku menjadi bagian dari 'generasi penerus' itu, maka kau baru saja menciptakan musuh di dalam selimutmu sendiri. Aku tidak akan membiarkan darahmu mengalir di dalam diriku tanpa perlawanan. Begitu rekan-rekan bisnis itu menjauh untuk menyapa tamu lain, senyum di wajah Elena runtuh seketika. Ia mencoba melepaskan diri dari rangkulan Julian, namun Julian menahannya lebih kuat. ​"Kau dengar itu, Elena?" bisik Julian, suaranya kini kembali dingin dan tanpa ampun. "Dunia menuntut seorang pewaris. Dan kau tahu apa artinya itu bagimu?" ​"Aku bukan mesin penghasil anak untukmu, Julian!" desis Elena dengan kemarahan yang meluap. ​Julian tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar mengerikan di balik musik pesta yang ceria. "Dalam kontrak yang ditandatangani ayahmu, kau adalah milikku sepenuhnya. Jiwamu, tubuhmu, dan masa depanmu. Jika aku memutuskan malam ini adalah awal dari penciptaan penerus itu, kau tidak punya hak untuk menolak." ​Julian memanggil pelayan untuk membawakan mantel Elena. "Acara selesai. Kita pulang sekarang. Sepertinya kita harus mulai mendiskusikan masalah 'bulan madu' ini di tempat yang lebih tertutup."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN