"kamu ya selalu milih teman kamu dari mama, ucap Lusi (mama Sebastian)"
"asal mama tau dia yang sudah nolong keluarga kita dari kehancuran ma, ucap Roby (papa Sebastian)"
"aku nggak mau tau pokoknya ambil semua saham dari perusahaan itu, perintah Lusi"
"kalo aku ambil sahamnya gimana dengan keluarga mereka ma?? fikir dong ma jangan hanya egois dan mau menang sendiri, ucap Roby"
"jadi papa lebih milih mereka ketimbang mama??"
"bukan begitu ma, dengarin papa dulu dong ma"
"mama tau papa masih ada perasaan sama istrinya kan?? siapa namanya pa??"
"kog mama bicara begitu??"
"ya secara papa lebih mentingin keluarga mereka daripada keluarga papa sendiri"
"papa gk da ma berfikir begitu"
"yaudah papa milih siapa mama atau mereka??"
"...."
"okay"
Roby tidak tahu kalau kejadian malam itu membuat keluarga nya berantakan, anaknya yang melihat istri nya meninggal dan ayahnya lebih memilih membela keluarga lain daripada keluarga nya sendiri.
".....hahhhhh... mimpi buruk itu lagi"
Sebastian menyalakan lampu dan berjalan ke ruang tamu untuk mengambil air minum di kulkas
"kenapa....kenapa mimpi itu lagi ya muncul??"
"kenapa papa lebih milih keluarga itu daripada mama???"
"Kenapa pa??? Sebastian mengacak-acak rambutnya frustasi"
drtdrtd drtdrtd drtdrtd dering hp memecah lumunan nya
"siapa lagi malam-malam begini (beranjak mengambil hp)"
"halo"
"halo bos, saya ada berita penting"
"langsung saja to the point"
"bos bisa menikah dengan gadis tersebut kabarnya perusahaan mereka banyak terjerat hutang yang akan jatuh tempo dan mereka butuh dana yang tidak sedikit jika mau perusahaan mereka stabil"
"oke saya mau buat mereka langsung menghubungi saya dan kamu lakukan apa yang perlu dilakukan dan saya hanya mau dengar kabar gembira"
"baik bos"
sejenak Sebastian merasa bangga dan juga merasa senang dengan situasi tersebut, dia tidak menyangka akan secepat itu untuk mendapatkan hal yang dia mau. dia teringat kejadian tadi yang sangat membuat nya menarik.
setelah pulang dari resto dia mencoba melihat informasi tentang gadis yang akan dinikahinya tersebut.
"Qonita Surya Angkasa"
"gadis yang menarik dan gue suka sikap cuek dan pemberontak nya, sebentar lagi dia akan jadi milikku dan akan gue buat ayahnya dalam kesusahan karena sudah menghancurkan keluarga ku hahahaha (tawa Sebastian)
Sebastian menelpon orang kepercayaannya dan menyuruh untuk melakukan sesuatu dan seluruh informasi nya sudah langsung dia terima dan dia terkejut gadis itu membuka pintu dengan pakaian yang sedikit terbuka.
dia mencoba mengirim chat kepada gadis itu
"jangan disisain ya, awas loh gue tau kalau lo gk habisin makanannya"
"lo siapa, tanya Qonita"
"????"
"lah emang penting banget ya gue tau lo siapa?, ucap Qonita"
"aneh, kalau berani telepon jangan taunya chat doang"
"ok"
dan Sebastian pun memutuskan untuk menelpon gadis itu
"..... (keduanya diam tanpa ada yang memulai)"
"....."
"....."
terdengar dengusan kekesalan gadis tersebut
" ih nyebelin banget sih, ni sapa juga nelpon, ngirim-ngirim makanan sok misterius banget, cerocos Qonita"
"udah habis belum makanan nya?? tanya Sebastian"
"what the .... (tanpa sadar Qonita mau mengumpat)"
"kenapa? udah tau belum siapa gue? tanya Sebastian"
"tau dari mana kalo gue gk pulang kerumah?? tanya Qonita"
"ya tau lah, semua tentang lo gue tau"
"sok tau, ucap Qonita"
"lo kalo mau buka pintu pakai yang agak tertutup ya, jangan cuma pakai hotpant dan tanktop doang, orang nanti malah berniat aneh-aneh lagi, ucap Sebastian"
"bukan urusan lo"
"lah gue bilang demi kebaikan lo"
"jangan urusin gue"
"oke" (mematikan telepon)
cuek juga tapi aku suka (diam-diam Sebastian tersenyum padahal dia terkenal dengan sikap dingin nya)