Rival

2503 Kata
Bahkan, jika semesta menginginkan kita berpisah, aku akan menentangnya. ••• "Buset Ry, lo kenapa?" tanya Arlan, dia menghentikkan langkah saat hendak menuruni tangga. Tak sengaja berpapasan dengan Mery yang menangis sambil mengusap pipinya. "Gue nggak Papa." Arlan yang curiga tidak membiarkan Mery pergi begitu saja, ia lantas menahan lengan cewek itu dan menepikkannya. Arlan mengernyit, "Lo nangis?" "Gue udah bilang gue nggak papa." "Gara-gara pacar lo lagi?" "Lan," cicit Mery. Ia menepis perlahan tangan Arlan dari lengannya. Kemudian menatap cowok itu usai mengusap air mata, "Gue nggak mau lo sama dia bermasalah lagi." "Dengan ngebiarin lo disakitin dia berulang kali?" Arlan mendengus, ia menatap Mery prihatin, "Bukannya gue mau ikut campur masalah lo sih, tapi parah banget dia bikin lo nangis sesering ini. Emang masalahnya apa?" Mery menggeleng lemah, sakit rasanya jika harus mengingat itu lagi. Salah paham atau bukan, Mery yakin Arga akan berubah secara perlahan. Arlan yang mengerti raut Mery lantas menghembuskan napas berat, "Yaudah kalo lo nggak mau cerita sekarang." Ia meraih tangan cewek itu dengan ragu-ragu, "Ayo. Gue tahu tempat yang bagus untuk lo nenangin diri." Mery membelalak, ia tidak mengerti maksud Arlan. Terutama saat tangannya digenggam cowok itu, Mery merasa canggung. "Lan, gue di kelas aja gih." "Ikut aja sih. Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo kok." "Bukan, maksud gue—" Belum selesai ucapan Mery, Arlan lebih dulu menarik tangannya pergi dari sana. Mery terpaksa mengikuti, ia pasrah saja ketika Arlan membawanya menuruni tangga. Kalau dipikir-dipikir, tidak ada salahnya juga. Toh, mereka hanya berteman, Arlan sendiri pasti tahu batasan. Saking fokusnya pada wajah Arlan, di tengah jalan, Mery tidak sengaja menabrak seseorang hingga minuman yang dibawanya tumpah. Mery reflek menutup mulut, terkejut sebab sepatu cewek itu basah. "Sorry, gue nggak sengaja," ucap Mery. Cewek itu mendongak dan mengernyit tidak suka, "Lo bisa jalan nggak?! Basah nih sepatu gue, gimana sih?!" "Gue bener-bener nggak sengaja." "Halah! Enak bener minta maaf doang. Pokoknya lo harus tanggung jawab. Gantiin sepatu gue," ucapnya. Menunjuk wajah Mery lalu mengangkat sekilas sebelah kakinya. Mery dan Arlan saling bertatapan. Menurut mereka cewek itu bener-bener berlebihan. "Nggak salah harus ganti? Kan cuma basah itu, lo bisa jemur di rumah," jawab Mery. Berusaha menahan diri agar tidak memaki cewek di hadapannya ini, "Nggak perlu pake ganti segala." Cewek berkuncir kuda dengan anting emas dan jam tangan putih itu menghentakan kaki kesal, "Ish! Dasar kampungan ya lo! Sepatu gue limited edition! Lo tau harganya berapa?" Mery reflek menggeleng, ia menyikut lengan Arlan lalu tertawa, "Ada untungnya kalo gue tau?" "Ish! Lo! Pokoknya lo harus ganti sepatu gue sekarang juga!" Tukasnya, angkuh, berkacak pinggang. Mery tertawa sekali lagi melihat cewek ini seperti melihat dirinya di masa lalu. Suka membentak menindas yang lemah, dan pastinya suka membuat masalah. Bedanya, hanya satu.Mery tidak pernah sesombong cewek itu. "Lebay banget sih, kata gue nggak mau ya nggak mau!" Jawab Mery kesal, ia melipat tangan di bawah d**a. "Ish!" Cewek itu hendak mencakarkan kukunya ke wajah Mery, namun di tahan oleh Arlan yang langsung mengambil posisi di depan Mery. "Gila lo main fisik?" Arlan menghempaskan tangan cewek itu kasar. Menatapnya tajam, "Lagian sepatunya cuma basah, lo bisa jemur atau laundry sekalian." "Duh, lo nggak usah bela-bela dia ya!" titah cewek itu, lalu memutar kedua bola matanya malas. Sekian detik setelahnya, mata cewek itu berbinar saat menemukan seorang cowok tengah berjalan ke arahnya. "Sayangg ..." rengek cewek itu. Arlan dan Mery lantas menoleh. Jika Arlan memicing tidak percaya, maka berbeda dengan Mery yang membelalak lalu membekap mulutnya. Salahkah penglihatannya sekarang? Saat yang disebut sayang oleh cewek itu tidak lain adalah Arga. Mery menahan napas kecewa. "Sayang, dia bikin sepatu aku basah," rengeknya, bergayut manja di lengan Arga. Tapi segera ditepis oleh cowok itu. "Apaan sih?! Gue bukan cowok lo!" tukas Arga, sedetik kemudian matanya bertemu dengan mata Mery. Cewek itu menggeleng tidak percaya, Arga langsung mendorong bahu Aileen kemudian bergegas menghampiri Mery. "Ry, aku bisa jelasin. Ini salah paham, dia cuma cewek gila yang ngaku-ngaku jadi pacar aku." Mery tetap menggeleng, terutama saat tangannya sudah di genggam oleh Arga. Kepercayaan yang berusaha ia bangun kini kembali runtuh untuk kedua kali. Mery menunduk kecewa, "Nggak ada yang perlu dijelasin, Ga. Sekarang aku udah tau, dia kan cewek yang ciuman sama kamu?" "Bukan ciuman, tapi dicium, kamu salah paham, Ry. Dia cium aku tiba-tiba." "Bohong!" Mery menepis kasar tangan Arga dari tangannya, kemudian cewek itu menatap Arga berderai air mata, "Aku nggak percaya lagi sama kamu." Lalu bergegas pergi entah kemana. Mengacak rambut frustasi, Arga ingin mengejar Mery, namun lagi bahunya di tahan oleh Arlan. "Mery perlu sendiri," kata Arlan. Dia menyentuh bahu Arga, "Lo udah terlalu sering nyakitin dia." "Lan, lo kok nyalahin gue juga? Ini salah paham. Gue nggak berniat sama sekali untuk nyium cewek bernama Aileen itu. Lo tau sendiri sifat Aileen tadi kayak gimana." "Terlalu agresif maksud lo?" Tanya Arlan. Arga mengangguk membenarkan, "Dia itu cewek berbahaya, dia bahkan sempat ancam bakal ngancurin hubungan gue sama Mery." "Apa?!" ☆☆☆ "Oh my good, Mery! Lo kenapa nangis?" tanya Raya, dia langsung gelagapan saat melihat Mery menangis dengan menutup wajah. Isak cewek itu terdengar, Raya menyimpulkan jika Mery baru saja mendapat masalah. Raya mengusap bahu Mery, ia mengambil duduk di samping cewek itu, begitu juga dengan Tasya yang menarik satu kursi. "Lo kenapa, Ry?" tanya Raya, usai mendaratkan pantatnya. Dia mengusap bahu Mery juga. "Gue nggak papa," jawab Mery. Usai meredakan tangisnya, jujur, hatinya masih terasa sangat sakit. "Cuma jatuh di toilet." "Halah, b***h! Lo nipu nggak kira-kira sih? Kita nggak semudah itu buat lo bohongin," kata Raya. "Jujur, lo ada masalah lagi kan sama Arga?" "Ya, nanyanya pelan-pelan, b**o!" titah Tasya. Dia melirik sinis Raya lalu kembali menatap Mery. "Ry, ngomong aelah. Lo ngadu ke kita, lo diapain sama itu cowok gila?! Sini biar gue hajar." "Siapa cowok gila?" Pergerakan Raya yang menggulung lengan seragamnya terhenti seketika. Dia menelan saliva kasar ketika menemukan Arga berdiri di belakangnya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapan cowok itu menusuk, membuat nyali Raya ciut. "Gue pengen ngomong berdua sama Mery," ucap Arga to the point. Raya dan Tasya lantas mengangguk. Lalu pergi dari sana, setelah melempar tatapan sinisnya pada Arga. "Sekali lagi sahabat gue nangis, lo berurusan dengan gue!" ancam Raya. Arga menggidikan bahunya acuh lalu menatap Mery yang memalingkan wajah. "Kita harus bicara, Ry. Ini salah paham." "Nggak mau! Salah paham aja terus! Udah deh, Ga. Basi tau nggak!" ketus Mery. Arga menarik napas, berusaha sabar, "Dengerin dulu," ucapnya. Meraih dagu Mery, hingga cewek itu terpaksa menatapnya, "Aku bisa buktiin ke kamu kalo aku dipaksa. Tapi dengan satu syarat, kamu nggak boleh marah lagi. Deal?" Mery mengerucutkan bibir, menetralisir degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Bagaimana ia tidak gugup? Jika tatapan Arga terlalu intens. Ditambah lagi mereka jadi bahan tontonan di kelas. Pipi Mery semakin memerah. "Deal," jawab Mery singkat. Ia tidak mau terlihat luluh hanya karena tatapan cowok itu. Dirasakannya Arga mengusap lembut rambutnya, Mery semakin malu. "Oke, good girl. Ayo ikut aku." Arga menarik tangan Mery. Cewek itu terpaksa berdiri dengan alis terpatri. "Eh-eh, mau kemana?" "Ikut aja." Mery mendengus, ia terpaksa mengikuti langkah Arga. Cowok itu terus menggenggam tangannya, seolah ia akan lenyap jika dilepas barang sedetik saja. Keluar kelas lalu menyusuri lobby, menaiki tangga dan berakhir di lantai 3. Mery mulai merasa aneh, sebab Arga membawanya ke tempat yang tak pernah ia kunjungi. Sebuah ruangan yang terletak diujung koridor. Sepi. "Ini tempat apa sih? Nyeremin tau, Ga," cicit Mery. Ia menarik ujung seragam Arga, "Takut ah, balik aja deh ke kelas." Arga mengulum senyum, "Nggak usah takut, ini ruangan CCTV. Sengaja ditempatin lebih jauh supaya nggak ada yang tau." "Terus kamu kenapa bisa tau?" "Ya demi kamu, aku rela nyari tau," jawab Arga, mengulas senyum tipisnya. Pipi Mery memerah seketika, "Apaan sih ?! Lebay tau. Cepet deh buka pintunya, serem banget lama-lama di luar." "Iya-iya," kata Arga, dia mendorong pintu kayu itu, membuat Pria tua yang sedang menyesap kopi dengan mata fokus ke monitor itu mendongakkan kepala. "Adek yang tadi ya?" "Iya, Pak." "Oh. Ayo masuk-masuk." Arga mengangguk, dengan cepat ia menuntun Mery masuk ke dalam ruangan. Mery terperangah, takjub pada isi ruangan ini yang hanya dipenuhi monitor di setiap sisi. Bahkan, ia menemukan satu monitor yang menampilkan dirinya sedang kebingungan di dalam ruangan ini. Duh, Mery jadi cekikikan sendiri. Geli melihat dirinya sendiri. "Ayo duduk," ucap Bapak itu. Mendelik pada dua kursi kosong di sebelah kanannya. Arga dan Mery lantas duduk. Bapak itu bertanya. "Mau lihat rekaman di ruangan mana?" "Ruang eskul fotografi, Pak." "Jam?" Arga menatap Mery. Cewek itu mengangkat bahu acuh. Sama-sama lupa. Jadilah Arga berkata, "Boleh saya cek sendiri, Pak?" "Oh iya-iya silahkan." Bapak itu beranjak dari kursinya. Arga dan Mery langsung bergeser guna menatap monitor lebih jelas. "Kita tadi istirahat jam berapa?" tanya Arga. "Jam sepuluh, mungkin lewat sedikit." "Oke. Kita lihat rekaman lima belas menit sebelum jam sepuluh. Dengan begitu, kamu tau aku ngapain aja di sana." Mery mengangguk dengan bibir mengerucut. Tak lama, monitor itu memperlihatkan aktivitas Arga dalam ruangan eskul fotografi. Dalam rekaman tersebut, tampak Arga sedang sibuk mengerjakan sesuatu di bukunya. Lalu tersentak saat sesuatu berhasil mengenai pulpennya. Arga mempause rekamannya, "Aku kira yang melempar keripik ubi itu Arlan, kamu tau sendiri kan dia suka banget nyemilin keripik ubinya Kevin. Maka dari itu, nggak niat ngeladenin. Aku tegur aja," jelas Arga. Mery manggut-manggut paham. Cowok itu kembali memplay rekamannya, "Nah, setelah ini kamu akan tau siapa pelakunya." Mery mengangguk lagi. Kemudian memicing ketika seorang cewek masuk ke ruangan itu tanpa permisi. Dia menutup mata Arga dengan kedua tangan dari belakang. Lalu menopang menopang dagu di bahu cowok itu. Mery menahan emosinya. Satu hal yang ia sadari jika cewek itu ternyata ... "Dia? Dia cewek yang tadi, Ga! Ish! Centil banget sih! Dia ngegoda kamu itu!" "Iya-iya aku tau. Kamu liat dulu kelanjutannya." "Awas aja kalo kelanjutannya kamu megang tangan dia!" Dan benar ternyata, dalam rekaman tersebut, Arga meraba pemilik tangan lalu menepisnya kasar tiga detik kemudian. "Tuh kan! Ga, kamu nakal juga ternyata, gimana sih?!" "Itu kan aku nggak tau kalo itu bukan kamu, Ry. Makanya aku tepis tangannya." Mery mengerucutkan bibir, enggan mengalah. Kembali menatap layar, dalam rekaman tersebut Arga terlihat marah-marah sebelum akhirnya menyeret cewek itu keluar ruangan. Lantas ruangan itu menjadi kosong. Arga mempause rekamannya, "Sekarang kita liat rekaman di luar ruangan." Beralih pada rekaman di luar ruangan, yang memperlihatkan Arga mendorong Aileen secara kasar. Cewek itu memberontak. Tampak enggan pergi dari sana meski Arga telah mengomelinya. Tidak lama kemudian, Arga berbalik untuk meninggalkan Aileen, namun tangannya ditarik paksa hingga membuat Arga menoleh dan tepat saat itu juga Aileen mencium pipinya. "Keterlaluan!" pekik Mery. Ia tak terima Aileen mencium pipi Arga begitu saja. Ingin melabrak, tapi tangannya ditahan oleh Arga. "Jangan gegabah dulu, nggak baik, Ry," ujar Arga. Ia menatap Mery melas. "Menyelesaikan masalah saat emosi itu nggak benar. Sebaiknya kamu dengerin aku dulu. Aku akan ceritain semuanya, mulai dari aku pertama kali ketemu dia, sampai aku sendiri kaget dia satu sekolah sama kita." "Kaget? Maksudnya, kamu pernah ketemu cewek itu sebelumnya?" Arga mengangguk. Merasa tidak benar jika mereka mengobrol di ruangan ini, cowok itu permisi keluar setelah berterima kasih pada Bapak tadi. Arga menggenggam tangan Mery kemudian mengajaknya duduk di kursi. "Namanya Aileen, pertama kali ketemu dia waktu aku pulang dari rumah kamu kemarin malam. Saat itu hujan lagi lebat-lebatnya. Aileen minta tolong sambil nangis-nangis di tengah jalan. Dia seperti orang yang ketakutan. Bahkan dia berani berlutut di hadapan aku. Karena aku nggak tega. Aku samperin dan aku anterin dia pulang. Waktu dalam mobil, dia bilang dia diculik terus hampir diperkosa. Ya, aku percaya aja, apalagi liat bajunya robek, aku yakin dia nggak bohong," jelas Arga. Ia menatap Mery lekat, supaya cewek itu bisa melihat keseriusan atas ucapannya. "Beneran?" "Aku harus gimana lagi supaya kamu percaya? Aku anak berpendidikan. Aku masih punya banyak mimpi yang harus aku raih daripada melakukan hal menjijikan itu." "Tapi, nggak menutup kemungkinan orang berpendidikan bisa ngelakuin itu." Arga menarik napas, untuk sekian kali ia harus menahan amarahnya untuk Mery. Oke, ia mesti bersabar agar masalah tidak bertambah rumit lagi. Arga menopang dahinya di bahu Mery. Mery tersentak? "Eh, Ga? Ngapain kayak gitu?" "Nunggu jawaban dari kamu. Percaya atau enggak itu nggak penting. Yang penting, aku sudah membuktikan aku nggak salah. Jadi gimana?" "Gi-gimana apanya?" "Kamu masih percaya sama aku nggak?" "Enghh ..." Mery terdiam sejenak, kalau dipikir-pikir, ia juga salah sudah menuduh Arga tanpa bukti. Duh, kalau begini, Mery jadi merasa telah membebani Arga dengan sifat kekanak-kanakkannya, "I-iya aku percaya. Maaf udah nuduh kamu sembarangan. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Ga. Percaya itu susah dicari, jika kamu hancurin kepercayaan itu sekali aja, kepercayaan itu nggak akan pernah sempurna lagi. Meskipun kamu udah minta maaf berkali-kali." "Bijak banget ngomongnya," celetuk Arga. Wajah cowok itu berubah ceria. "Aku serius tau! Tuh kan mulai lagi. Baru aja dimaafin, ngeselin kamu ah," kesal Mery, mencubit pelan perut Arga. Lalu memalingkan muka. Arga merintih memegang perutnya, "Sakit, Ry. Aduh, berdarah." Mery sontak menolah, raut wajahnya berubah cemas. Padahal tadi cubitannya nggak keras. "Kok bisa berdarah sih, cubitannya—" Cup. Mery lantas membelalak ketika merasakan bibir tebal Arga menyentuh pipinya. Sedetik kemudian, cowok itu tertawa sambil memegangi perutnya. Mery mengerucutkan bibirnya, "Ih kamu pura-pura ya ternyata. Nyebelin banget sih, rasain nih cubitan aku." Ia mencubit perut Arga berkali-kali, kali ini lebih keras membuat Arga meringis. Akan tetapi, cowok itu berhasil menangkap tangannya, beralih menyentuhkan kedua tangan Mery ke pipinya. Mery blushing, "Ga, ngapain sih? Ada yang liat nanti malu-maluin." Tidak peduli, Arga justru dengan cepat mengecup dahi Mery, "Cukup dua kali aku jadi cowok b******k yang udah cium bibir kamu. Pertama, di balon udara, kedua, di klub malam waktu itu. Kita masih belum halal. Jadi kamu harus ngerti, ciuman nggak sepantasnya kita lakukan." Mery tertegun atas ucapan Arga, cowok itu selalu bisa menuntunnya ke jalan yang lebih baik dengan cara berbeda. "Iya. Aku minta maaf, aku nggak akan minta itu lagi ke kamu." "Yaudah nggak papa, ayo ke kelas. Bel kayaknya udah lama bunyi." Baru saja berdiri, tangan Arga ditahan oleh Mery. "Sore ini aku sama Papa mau jalan-jalan. Kamu ikut ya, Ga. Biar bisa lebih akrab gitu sama calon mertua." "Pede banget. Yakin nanti Papa kamu nggak jadi obat nyamuk?" "Nggak tau. Kamu ikut ya? Ya ya ya? Ya? Plis. Ujian kan udah selesai, yang namanya belajar atau apalah itu lupain dulu. Boleh dong?" Raut Mery memelas, ia menyatukan kedua tangan di depan d**a, Arga tidak tega. "Iya ikut. Pas banget sore nanti aku nggak ada kegiatan." "Yeay!!" Saking senangnya, Mery melompat-lompat lalu memeluk Arga, bahkan ia ingin mengacak rambut cowok itu sayangnya tidak bisa. Dia terlalu pendek. "Makanya minum s**u, biar cepetan tinggi," cibir Arga. Mery mengerucutkan bibir. Cowok itu menggandeng tangannya kemudian mereka berjalan pergi dari sana. Diam-diam, seseorang memperhatikan mereka, dari celah pintu ruangan yang terbuka. "Lihat aja suatu hari nanti, gue pasti berhasil merebut malaikat lo, Ry."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN