Ancaman

1799 Kata
Aku takut kehilanganmu dirimu. Dirimu yang selalu menjagaku tanpa kenal waktu. Jangan pergi, meski hubungan ini terasa sulit dilalui. -Arga Adyasta- ••• Bel istirahat kedua berbunyi. Surga dunia untuk seluruh murid SMA Bakti Buana. Terutama untuk Mery, dia hampir ketiduran saking membosankannya pelajaran Bu Wulan tadi. Selain membosankan, efek pelajaran bu Wulan juga membuatnya kepanasan. Mery menempelkan sebelah pipinya ke meja. "Kantin, kuy!" Ajak Gafa. Ketua kelas yang duduk dipojokan. "Kuy-kuy! Nyari cewek cantik sekalian!" balas Cavin, yang mengedipkan sebelah mata. "Cewek cantik cewek cantik! Itu si Citra mau lo kemanain, bang?" Gafa menoyor kepala Cavin yang mendekat ke arahnya. Cavin cengengesan, "Dih, emang siapa yang mau sama itu cewek minim kewarasan?" "Ya cocoklah. Orang lo bedua sama-sama nggak waras," sela Mery. Membuat keduanya menoleh. Gafa terkekeh ringan, sementara Cavin menaikkan satu alis, "Lo nggak ngantin ya, Ry?" tanyanya. "Biasa. Nungguin pacar ganteng gue duluan jemput." Cavin memutar bola matanya malas, "Yaelah, bucin lo!" "Terserah guelah! Udah sana hush-hush. Kehadiran lo menimbulkan pelek di mata gue," cibirnya, menunjuk wajah Cavin sambil tertawa. "Lucu ae perasa," Cavin menatapnya datar, "Kalau gitu gue ngantin dulu, tungguin tuh pacar lo sampai lumutan." Mery memeletkan lidahnya. Dasar Cavin nyebelin! Ngomong-ngomong sudah lima menit berlalu tapi Arga tidak memunculkan batang hidungnya sama sekali. Biasanya, cowok ganteng itu selalu datang tepat waktu. Mery mendesah, berpikir positif sajalah. Pacarnya ketua eskul fotografi. Ya pasti banyak urusan sana-sini. Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu itu muncul dan berdiri di ambang pintu. Mery buru-buru menghampiri dan memeluk lengan Arga sambil cengar-cengir nggak jelas. Arga yang melihat itu hanya mendengus geli. "Cantik banget," pujinya. Mengangkat sekilas kepangan Mery. "Makasih. Hehe. Gesya yang ngepangin tadi. Pacar kok lama sih?" "Biasa, urusan eskul fotografi. Udah laper ya?" tanyanya, mengusap rambut Mery yang diangguki cewek itu pasti. "Bangetlah, apalagi pagi tadi aku nggak jadi makan gara-gara ribut sama itu cewek Alien. Bikin laperr," rengeknya. "Alien?" Arga tertawa sesaat. "Yang bener itu Aileen, Ry." "Yaitulah pokoknya. Alien kek apa kek, pokoknya aku kesel banget, hehe," jawabnya. Mery melepas tangan dari lengan Arga ketika mereka sudah sampai di kantin. Mengingat, Arga paling tidak suka mengumbar kedekatan mereka di depan banyak orang. "Lain kali jangan salah lagi nyebut nama orang. Yaudah sana duduk, aku ngantri baksonya dulu." "Oke pacar. Sambelnya banyakin ya." Arga mengangguk. Mery pun mengambil tempat duduk di pojokan. Entah, dia suka sekali pojokan ini. Rasanya adem aja gitu, apalagi deket banget sama kipas angin. Kantin mulai penuh, Mery memilih memainkan ponselnya selagi menunggu Arga. Cewek itu mendongak ketika seorang cewek tiba-tiba bertanya. "Gue boleh gabung?" Mery memicing curiga, memastikan sosok di hadapannya ini. Dia? Iya dia cewek yang sempat berdebat dengannya pagi tadi. Siapa sih namanya? Alien? Kenapa bisa tiba-tiba baik begini? Batin Mery. "Lo? Nggak salah nih?" "Lah, kenapa emangnya? Semua kursi udah penuh. Cuma kursi ini yang banyak kosong. Salah kalo gue ikut gabung?" Mery masih memicing. Tidak terima andai cewek itu gabung juga. Masalahnya ada Arga. Kalian tau sendirilah, Arga nggak boleh deket-deket sama itu cewek muka dua. Kevin yang baru saja datang menyela, "Boleh-boleh ajalah, Ry. Aileen orangnya nggak gigit kok. Nggak usah lo sok najis gitu," belanya. Mery melotot tajam. Aileen tersenyum puas. Kevin merangkul bahu Aileen, "Kenalin, ini Aileen, murid baru di kelas gue. Pindahan dari London. Dia pindah ke Indo karena ada job model." "Terus gue harus gelar karpet merah buat dia gitu?" "Yah, kok lo kesannya sombong sih. Gue kan cuma ngenalin, siapa tau kalian bisa temenan." Temenan? Sama dia? Duh, sampai tuyul berambut pun Mery tidak akan sudi. Mery melirik Aileen sinis, "Oke fine, lo boleh duduk, tapi jauh-jauh sedikit. Pacar ganteng gue bentar lagi datang. Gue mau makan romantis sama dia." "Oke, gue nggak bakal ganggu kalian kok." Dasar naif emang! "Nah, gitu dong, gue beli minum dulu. Baik-baik lo bedua. Byee," pesan Kevin sebelum cowok itu pergi dari hadapannya. Tersisalah Aileen dan Mery. Mereka sama-sama memainkan ponsel sebagai pengusir kecanggungan. Meski sesekali saling mencuri pandang, ya tetap saja tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Beruntung, mata Mery dengan cepat menangkap sosok Arga yang berjalan mendekat ke arahnya. "PACARRR!!" Mery sengaja merengek, dia mengambil alih satu mangkok bakso di tangan Arga. Arga mengernyit, pandangannya sempat bertemu dengan Aileen namun cowok itu berusaha biasa saja, "Kelamaan ya?" Mery mengangguk, "Banget. Sini-sini. Kita duduknya dempetan lagi. Biar enak suap-suapannya. Hehe." Arga menurut, dia mengikis jarak dari Mery. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup membuat hati Aileen memanas. Dia yang duduk sambil mengaduk orang juice sesekali mencuri pandang pada dua orang yang sedang berbincang di hadapannya. Mery terlihat lahap memakan baksonya, sambil sesekali berceloteh membuat bibir cewek itu penuh cipratan kuah. Arga mendengus geli, dia mengambil tisu di meja lalu menyeka sudut bibir Mery, "Kebiasaan banget sih kamu, belepotan." Pipi Mery memanas. Matanya menangkap kresek hitam di atas meja. "Itu apa?" "Plastik." "Bukan ih! Isinya maksud aku." "Oh. Es krim sama kue." "Serius?" Mery menaikkan satu alis. "Mau deh." "Habisin baksonya dulu. Nggak boleh mubajir." Arga dengan cepat merebut kresek itu sebelum diambil oleh Mery, cewek itu mengerucutkan bibir kesal. Arga menepuk-nepuk puncak kepala Mery pelan. "Jadi penurut oke?" Mery menghela pasrah, diam-diam memperhatikan Aileen yang kadang-kadang mencuri lirikan ke arah mereka. Duh, kapan sih itu cewek Alien pergi? Tidak habis akal, selesai memakan baksonya, Mery sengaja menempelkan sebelah pipi ke d**a Arga, cowok itu agak terkejut. Tapi ia sendiri tau maksud Mery melakukan itu. "Sekarang boleh makan es krimnya?" tanya Mery. Aileen meliriknya sinis. Arga mengangguk, kemudian menyodorkan es krim coklatnya, "Nih." "Suapin." "Hah?" "Masa nggak denger sih? Suapin aku," rengeknya. Menekan kalimat terakhir. "Udah buka mulut nih. Aaaa." Arga menurut saja, meski agak sedikit risih pasalnya Mery tidak pernah bersikap seperti ini. Arga menyuapi Mery, sambil sesekali menyeka sisa es krim yang meleleh di sekitar bibir cewek itu. "Ga, barusan aku dapat info dari Kevin. Di kelasnya ada anak baru lho," ucap Mery. Arga mengernyit, "Aku nggak dikasih tau tuh. Emang murid barunya kaya apa?" "Seriusan nggak dikasih tau? Kamu kan temenan sama dia?" Tanyanya. Jujur, Arga tidak tahu menahu sama sekali. "Kan beda kelas, Ry." "Oh iya-ya." Mery tersenyum geli. Ini kesempatan emas mengusir cewek Alien itu dari sini. "Orangnya sombong. Cantik sih, tapi lebih cantikan aku. Parahnya lagi, orangnya naif banget. Di depan teman-temen aku dia baik, pas aku sendiri dia suka maki-maki. Muka dua banget kan ya?" Mery meninggikan nada bicara. Aileen yang mulai memanas menggebrak meja. Tanpa bicara apa pun, cewek itu pergi meninggalkan mereka. Mery terkikik dibuatnya. "Jadi, anak baru yang kamu sebutin itu—" "Alien," potong Mery cepat. Ia memeluk Arga erat. "Hehe. Hebat kan aku ngusir dia?" Arga mencubit pipi Mery. "Aileen, Ry. Hebat sih btw, tapi jangan gitu juga ngusirnya. Takut dia kesinggung." "Bodo ah. Yang penting dia nggak ganggu lagi." Mery menyembunyikan wajah di leher Arga. Cowok itu menepuk-nepuk punggung pacarnya pelan. "Pinter banget." "Yang udah pacaran mah beda ya, Lan. Bucinnya sampe kemana-mana," cibir Kevin, merangkul bahu Arlan. Arga melotot pada dua cowok itu. "Sirik lo bedua!" "Dih, selow mah bro. Eh, ayang beb gue kemana sih? RAYA! YUHU. COME ON BABY." "Duh, nggak usah narsis deh lo jomblo berkarat!" Cibir Arlan. Kevin tidak peduli, dia malah tiba-tiba pergi. Mery menatap Arga, dia mengenduskan-ngenduskan hidung ke d**a pacarnya. "Temen kamu emang nggak ada yang waras ya?" ☆☆☆ Sesuai janjinya pada Mery pagi tadi, Arga bersiap-siap menemani cewek itu jalan-jalan sore ini. Katanya, bukan sekedar jalan-jalan, ayah cewek itu telah menyiapkan sesuatu untuk bertemu seseorang. Entah, Arga tidak tahu apa, yang pasti ia tidak akan mengecewakan Mery lagi. Pergerakan Arga yang sedang menyisir rambutnya terhenti, ketika gawainya di nakas tiba-tiba berbunyi. Satu pesan line masuk dari nomor seseorang yang tidak ia kenali. 085267×××××9 Las rosas no siempre florecen. El sol no siempre brilla. Al igual que tu relación. Prepárate luchando porque he vuelto para ganar un corazón. Mawar tidak selalu mekar. Matahari tidak selalu bersinar. Seperti hubungan Anda. Siap-siap berjuang karena aku kembali untuk memenangkan hati. Arga mengernyit lalu tertawa renyah. Orang ini pasti kurang kerjaan mengirim pesan yang ia sendiri tidak tahu apa artinya. Memilih acuh saja, Arga mengarsipkan pesan itu seperti kebiasaannya sejak dulu. Dengan cepat memakai hoodie hitamnya sebelum akhirnya melangkah pergi setelah memasang sepatu sneakers putih di kaki. ☆☆☆ "Liptint udah, bedak udah, sisir udah, cat kuku?" Mery mengusap dagu. "Tapi pacar ganteng nggak suka aku pake cat kuku. Bawa nggak ya?" gumamnya. Tiba-tiba pintu kamar diketuk, buru-buru Mery menyelipkan cat kukunya di bawah bantal. Lalu membuka pintu. "HUWAAA! Pacarrr, kamu ganteng bingitss," pekik Mery. Mencubit gemes pipi seorang cowok yang baru saja ia bukakan pintu itu. "HUWAA!! Kalo gini sih aku jadi keberatan ngajak kamu jalan-jalan. Pengennya ngurung kamu di kamar aja. Ehehe." "Mulutnya." Arga terkekeh, ia menyentil bibir Mery yang terpoles liptint itu, "Udah siap belum?" Mery menggeleng. Arga mendengus pelan. "Dari tadi ngapain aja sih? Lama bener." "Ya dandanlah pacar. Biar serasi gitu. Cowok ganteng jalannya sama cewek cantik." Arga terkekeh, "Sayangnya aku nggak suka kamu bagi-bagi cantik ke orang lain. Gimana dong?" "Apa sih, ah! Gembel." "Gombal." "Nah iya itu." Mery ngakak sendiri mendapati wajah Arga berubah datar. Terlihat sangat unyu-unyu, cowok itu duduk di bibir kasurnya. "Apalagi yang belum? Sini biar aku bantu." "Ngepangin rambut. Kamu bisa?" "Ya bisalah," Arga menghampiri Mery, berdiri di belakang cewek itu yang sedang duduk menghadap cermin. "Tumben pengen ngepang rambut. Biasanya digerai aja." "Gak cantik ya?" "Bukan gak, tapi makin, nanti banyak cowok-cowok yang ngelirik kamu." Pipi Mery memanas. Tidak sanggup kalau berlama-lama dirayu Arga terus. "Ngomong-ngomong, siapa yang ngajarin kamu ngepang?" "Nggak ada sih. Cuman, dulu aku sering ngepangin rambut Hana." Mery tercekat, raut wajahnya berubah pias. Arga yang melihat perubahan wajah Mery dari cermin langsung berdehem singkat. "Oh ya, papa kamu kemana? Katanya ngajak jalan-jalan." "Papa duluan. Mau nyiapin sesuatu dulu katanya." Mulut Arga membulat sesaat. Bertepatan dengan itu kepangannya juga selesai. "Udah nih," Arga menyampirkan satu kepangan itu di bahu Mery lalu menunduk hingga wajah mereka sejajar. "Tapi ingat, cantiknya nggak boleh bagi-bagi." "Iya-iya. Cemburuan banget sih, Ga," balas Mery. Cewek itu berdiri, mengecek sebentar wajahnya ke cermin. Lalu berbalik menghadap Arga "Udah siap. Hehe. Yuk!" Namun tangannya ditahan oleh Arga. "Tunggu dulu. Ada yang kurang, Ry." "Eh, apa? Bentar-bentar aku cek handphone dulu." "Bukan." Cewek bersetelan jeans overall dan kaos biru itu mengernyit ketika Arga justru meraih tangannya. Dan cup. Arga mengecup punggung tangan Mery, membuat pipi empunya memanas. "Sudah siap jalan-jalan sama pangeran?" Mery menggangguk malu-malu. Arga mencubit gemas pipi cewek itu. Mereka pun keluar dari kamar, seraya bergandengan tangan kemudian saling melirik malu-malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN