Sebuah Misi

1334 Kata
Cinta itu sederhana, manusia aja yang membuatnya rumit. ••• Mery menempelkan sebelah pipi ke bahu Arga, tangannya melingkar di perut cowok itu. Ia kira pacarnya itu menggunakan mobil tapi ternyata pakai motor sport hijau milik cowok itu. Kalau begini, Mery jadi double seneng. Selain bisa modusin Arga ia juga berasa jadi Dilan sama Milea. Senyum-senyum sendiri nggak jelas di belakang. Pikirannya berkelana jauh, membayangkan mereka nanti di pelaminan. Huftt. Pasti menyenangkan. Mery menghirup udara dalam-dalam. "Pacarrr hauss," adu Mery manja, "Ke minimarket dulu ya." "Padahal baru setengah jalan, udah hausan aja." "Yamau gimana lagi, kamu mau aku mati gara-gara dehidrasi?" "Nggak gitu juga kali, Ry. Oke kita beli minum," final Arga. Cowok itu melajukan motornya, menuju sebuah minimarket kecil tidak jauh di depan sana. Tiba di minimarket, Arga memakirkan motornya. Mery turun dan berdiri di hadapannya. Masih memakai helm, cewek itu tersenyum padanya. "Lah, ngapain senyum-senyum? Katanya mau beli minum," tanya Arga. Mery mendengus, oke, Arga sedang dalam mode tidak peka. Ia menaik-naikkan alisnya, "Kayak biasa." "Kayak biasa? Maksudnya? Mau aku temenin?" "Bukan ih! Yang lain." "Yang lain? Apasih? Aku nggak ngerti." Mery meniup-niup poninya malas, "Bukain helmnya, Ga." Mulut Arga membulat sesaat, ia tertawa pelan lalu membukakan helm Mery. "Ngomong dong sayang. Aku mana ngerti." "Kamu ish! Harusnya cowok dulu yang peka." "Iya maaf-maaf. Udah masuk sana gih, ntar kita telat." Mery memayunkan bibir lalu melengos masuk ke dalam minimarket begitu saja. Arga terkekeh pelan, dia sangat suka wajah Mery ketika kesal. Entah kenapa terlihat lucu di matanya. Selagi menunggu Arga duduk di atas motor, pandangannya menyisir sekitar. Bandung cukup ramai sore hari ini, didominasi oleh para pekerja kantoran yang pulang. Namun, matanya tiba-tiba tertuju pada seorang cewek yang berjalan menuju ke sini. Itu Aileen, sedang apa dia di sini? Memakai baju yang kekurangan bahan lagi? "Pacar." Suara Mery menyentak Arga, cewek itu mengernyit menatapnya. "Pacar liatin apa sih? Ampe bengong gitu?" Arga terdiam. Dia melirik ke pinggir Jalan. Lho, Aileen tadi sudah hilang? "Eh? Aku? Nggak liat apa-apa, kok. Kamu udah selesai beli minumnya?" "Udah, nih. Pacar haus juga?" Arga menggeleng. Dia mengusap rambut Mery. "Liat kamu minum aja haus aku udah hilang." "Dih, pacar mah suka banget ngegembel! Udah ah cepet kita berangkat, ntar papa nunggu." Arga mengangguk meski sempat terkekeh geli, dia segera menyalakan mesin motor. Lebih dulu memasangkan helm untuk Mery, walau ada rasa khawatir usai kepergok ngeliatin Aileen tadi. Semoga saja cewek itu tidak menganggu kebersamaannya dengan Mery kali ini. ☆☆☆ "Aduhh, mamaaa, lutut aku luka," rengek gadis kecil itu, seraya menatap lututnya yang berdarah. Dia terjatuh ketika ditabrak rombongan anak-anak yang berlarian mengeluari pagar sekolah. Gadis berseragam merah putih itu menangis, lututnya terasa sangat perih. Tanpa peduli dimana ia berada, gadis itu menyembunyikan wajah di antara kakinya. "Kamu nggak papa?" Gadis itu lantas mendongak, menemukan seorang cowok berlutut di hadapannya. Tangisnya berhenti ketika cowok itu mengulurkan plester luka. "Aku ada ini, kamu pakai ya, kalo dibiarin lama-lama bisa infeksi." Gadis itu menatapnya bingung sebentar, tapi kemudian menerima plester luka itu dengan senyum tipis. "Ma-makasih." "Sama-sama. Ayo ke pinggir, luka kamu harus dibersihin dulu," ujarnya. Gadis itu menurut saja, dibantu cowok tadi berjalan menuju kursi panjang dekat pos satpam. Pandangannya tak lepas dari cowok itu yang terlihat sangat tampan. Ia kira tidak ada ada yang menolongnya, mengingat ia selalu dikucilkan dan dikatai anak haram. Cowok tadi membersihkan pinggiran lukanya menggunakan kapas yang dikasih sedikit air. "Aku selalu disuruh mama bawa ini. Kamu kenapa bisa jatuh?" "A-aku ditabrak, awh," Gadis itu sedikit meringis saat cowok itu menempelkan plester luka. "Udah nih, lukanya kecil aja, lain kali hati-hati ya," pesannya. Kemudian sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Cowok itu melambaikan tangan sambil berlari menuju mobilnya, "Aku dijemput, duluan ya." Gadis itu tersenyum menanggapi, meski ada rasa tidak rela saat cowok itu pergi. Sepertinya cowok itu anak baik-baik, gadis itu meremas tasnya gemas. Jantungnya berdegup kencang. Tunggu, Apa itu artinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama? ☆☆☆ Mery menggigit permen kapasnya, saat ini mereka telah tiba di cafe yang dialamatkan papanya. Arga yang melihat itu mencubit pipi Mery gemas. Mereka bergandengan tangan menuju salah satu meja. "Keliatannya sepi banget ya?" tanya Arga, usai mendaratkan pantatnya. Mery tidak memberi jawaban. Cewek itu asik menggigiti permen kapas yang ukurannya hampir sebesar kepala manusia. Arga mendengus, dia mengubah posisi, duduk di samping Mery. Menopang sebelah pipi ke meja, menghadap pacarnya. "Nggak denger ya?" "Hah?" Mery menoleh cengo, ujung hidungnya tertempel permen kapas. "Kamu ngomong apa tadi?" "Cafenya sepi ya?" Arga menjumput sisa permen kapas di hidung Mery lalu memakannya. "Enak btw." Mulut Mery membentuk huruf o sesaat, kemudian menggigit permen kapasnya lagi, "Biasa. Paling papa udah booking semua meja di lantas atas. Cuma buat Bunda Papa bisa kayak gitu." Mata Arga membola sesaat lalu mengernyitkan kening dalam. Apa kata Mery barusan? Tidakkah cewek itu menyadari satu hal jika yang dilakukan papanya itu menyimpan sebuah alasan. "Apa itu artinya Papa masih sayang sama Bunda kamu?" Pertanyaan Arga sukses membuat Mery berpikir keras. Kalau dipikir-pikir, ucapan cowok itu ada benarnya. Apakah papanya masih mencintai bunda? "Emm. Maybe, aku kurang care sama hubungan mereka setelah bercerai. Toh, aku kan selalu ingat kata kamu, cinta nggak bisa dipaksakan. Kalau mereka memang udah nggak saling cinta, ya buat apa lagi, kan udah enak sendiri-sendiri," jelas Mery. Arga manggut-manggut paham. Disekanya hidung Mery menggunakan tissu basah. Pipi gadis itu memerah. "Memangnya, bunda kamu menikah lagi?" Tanya Arga, dia tau ini sedikit privasi. Tapi, dia juga ingin melihat Mery bahagia bersama keluarga kecilnya lagi, "Sorry aku nanya." "Eh, enggak papa kok. Setahu aku sih bunda sampai sekarang masih sendiri." "Bagus dong." "Kok bagus?" "Ya bagus, jadi kita bisa nyatuin mereka lagi, kamu nggak ada niat gitu?" Mery terdiam, dia menggeleng pelan, "Ada sih. Se ... dikit. Hehe." "Mau aku bantu?" tawar Arga. Selesai membersihkan hidung Mery, dia beralih ke dagu cewek itu. "Siapa tau perasaan mereka masih sama, sikap boleh beda, tapi kalau masih cinta, hati dan perasaan akan tetap sama. Kadang cuman gengsi aja yang bikin mereka sulit mengungkapkannya." Mery tertegun, dia menimbang-nimbang. Perkataan Arga selalu sukses membuatnya bimbang, "Nggak deh kayaknya, ribet, rumit, takutnya malah bikin mereka tambah sakit." "Cinta itu sederhana, Ry," tukas Arga. Selesai membersihkan wajah Mery, dia membuang tissu itu ke bak sampah terdekat. Menatap wajah pacarnya lekat, "Manusia aja yang membuatnya rumit. Kita memang nggak tahu pasti gimana perasaan seseorang, tapi dari perhatian yang orang itu lakukan buat kita. Kita berhak menilai kalau orang itu memiliki perasaan yang beda." "Kalo penilaian kita salah gimana?" "Nggak papa. Nggak ada salahnya kan nyoba?" "Kalau mereka makin tambah sakit hati, gimana?" Arga menatap Mery datar, pandangannya beralih pada senja yang hampir tenggelam di ufuk barat sana. Menyajikan pemandangannya yang indah untuk dinikmati oleh mata.  "Aku juga pernah nyakitin kamu," tutur Arga, dia menggenggam tangan Mery erat. Cewek itu menatapnya dengan rasa bersalah, "Tapi akhirnya, kita berusaha untuk saling mengerti, walaupun tanpa sadar hal itu membuat kita semakin tersakiti," ujarnya. Suasana semakin canggung, Mery terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Apa yang terjadi barusan? Apakah Arga mengakui sebuah kesalahan? "Aku juga salah," Mery membalas genggaman tangan Arga, "Sifat aku masih kekanak-kanakan. Maaf ya pacar, hehe." Digigitnya permen kapas yang tersisa setengah. Arga mengacak rambut Mery gemas. "Aku suka yang itu." "Yang ini?" Mery menyodorkan permen kapasnya. Arga menggeleng. "Bukan." "Terus?" "Foto yuk!" Arga tiba-tiba berdiri, sedikit menjauh dari meja mereka dan mengarahkan kamera DSLR miliknya ke wajah Mery, "Liat sini!" "Nggak mau ah. Muka aku lagi belepotan ini, ntar malah nggak cantik lagi." "Biasa aja. Buru liat ke sini! Ntar senjanya hilang." "Iya deh iya, pacar ganteng." Mery pun menurut saja, dia berpose candid sambil memegang permen kapasnya. Berlatarkan senja di belakangnya, cewek itu terlihat sangat manis di mata Arga. Pose selanjutnya mereka duduk berhadapan seraya menggigit permen kapas pada dua sisi berbeda. Diam-diam dua orang memperhatikan mereka sambil terkikik geli, di balik tembok yang terhubung dengan tangga. "Asik banget ya pacarannya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN