Tidak Akan Sama

1676 Kata
Kita masih punya waktu untuk bersama, setidaknya hari ini saja. -Mery Thevania- •••  "Asik banget ya pacarannya?" Mery dan Arga lantas menjauhkan mulut mereka dari perman kapas tadi, lalu saling berpandangan. Mery menunduk malu-malu, sedangkan Arga mengusap tengkuk salah tingkah. Sial, kenapa harus ketahuan sih? Marina dan Riko tersenyum geli, sebelum mereka sampai Mery lebih dulu berlari menghampiri lalu memeluk bundanya. "Huwaa, Bundaa, kangenn." "Lho kenapa nggak dilanjutin yang tadi?" "Bunda ih!" Sedangkan Arga refleks berdiri kemudian menyalimi tangan Riko sepenuh hati. "Kalian udah lama datang?" tanya Arga. Riko menepuk pundak Arga pelan. "Nggak juga. Lumayanlah bisa ngintip kalian pacaran." "Papa ih!" sungut Mery, menahan pipinya agar memerah. "Lah, kalau emang tadi itu kalian bukan pacaran terus apa? Karaokean?" "Papa!" "Udah-udah. Duduk dulu nih, bunda pegel berdiri lama-lama," sela Marina. Perdebatan Mery dan Riko lantas terhenti. Mereka mengambil duduk seperti tadi, bedanya Arga dan Mery memilih berhadapan saja. Mereka masih malu mengingat kejadian tadi. "Kalian mau pesen apa? Papa yang traktir," tanya Riko. Menatap ketiga orang di hadapannya. "Serius papa mau traktir nih?" "Seriuslah. Masa papa bohong." Mery memekik antusias, Arga menaikkan alisnya sekilas. Sementara Marina yang sudah biasa dengan sikap Riko yang itu hanya mengulum senyum geli. "Oke, kalo gitu Mery mau pesen yang ini, ini, sama ini," ucap Mery seraya menunjuk daftar makanan di buku menu. Ada Mix fruit salad, burger steak, dan orang juice pilihan cewek itu. "Gendutan ntar tau rasa," celetuk Arga. Mery memayunkan bibirnya. "Pacar mau pesan apa?" "Apa aja." "Aku pesenin semua yah?" goda Mery. Arga menatap cewek itu datar. "Canda pacar, hehe. Pacar pesen sendiri nih." Cowok itu mengangguk, kemudian mengambil alih daftar menunya. Arga memilih makanan biasa saja, tidak enak kalau harus membuat Riko mengeluarkan uang banyak. Selesai memilih, Arga menyodorkan buku menu itu pada Riko. "Sekarang kamu, pesen apa aja makanan yang kamu suka." Kali ini, Riko menyodorkan buku menu itu pada Marina. "Aku sama kayak kamu aja," ujar Marina, membuat mantan suaminya itu terdiam sejenak. Riko berdehem singkat, sedikit terkejut saat mengetahui selera Marina masih sama sepertinya. Usai memesan, Riko memberikan note pesanan itu pada seorang pelayan yang sedari tadi menunggu. Selagi menunggu, suasana mendadak hening, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Arga melihat hasil jepretannya, Riko sibuk memandang ke arah lain, Marina fokus menscroll gawainya. Mery yang sedari tidak berbuat apa-apa lantas memunculkan satu ide jahil di benaknya. Cewek itu mengambil gawainya di sling bag kemudian mengirim pesan untuk Arga. [Pacar Ganteng] Pcr Pcr Pcr Tak lama, cowok yang duduk di hadapannya itu terlihat mengecek gawainya yang bergetar di saku celana. Arga menaikkan alis sekilas pada Mery, cewek itu mengetik lagi. Jangan sampai lupa yang tadi, pokoknya kamu harus buat Papa kalah. Iya Makasih pcrrr.? Uuuu. Makin cayang deh. Umachh Detik pertama hingga detik ketiga, Mery tidak menerima balasan dari Arga. Dilihatnya cowok itu menaruh ponsel ke atas meja. Mery menghembus pasrah. Duh, pacarnya kok nggak pekaan amat yah? Balas apa kek. Mery kan jadi gundah. Cewek itu menopang dagu, sesaat gawainya kembali bergetar. Satu notifikasi chat dari Arga, ingin rasanya Mery berteriak sekarang juga. ♡ APA?! Apa ia tidak salah lihat? Arga mengirimkannya emot ketchup manjah. Oh my good, pacarrr, batin Mery. Saking gemesnya, dia kayak orang gila yang cekikikan sendiri. "Kenapa sih kayak gitu? Ada yang lucu?" tanya Riko di samping. Mery tersenyum keki. "Eh, enggak ada kok, Pa. Hehe," ujarnya. Riko mengangguk. Mery bersuara lagi. "Pa, mau tau dong. Alasan Papa ngajak makan di sini apasih? Kan banyak cafe-cafe yang lain." "Mau tahu aja, atau mau tahu banget?" Riko mengelus puncak kepala putrinya. "Mau tempe bacem," jawab Mery ngawur. Arga yang memaklumi kerecehan cewek itu terkekeh geli. "Ya mau tau banget lah. Aneh aja gitu, dari sekian banyaknya cafe, kenapa Papa aku yang ganteng milih cafe ini?" "Karena..." Ada jeda, Riko melirik Marina. Mery menahan napasnya. "Ya karena udah biasa aja. Dulu, Papa sama Bunda kamu sering ke sini." "Sering ya? Kok Mery nggak pernah diajak sih?" "Sengaja. Kamu paling ganggu kerjaannya." "Ih! Papa mah tak berperi kemanusiaan," sungut Mery, mengerucutkan bibirnya. Riko mendengus geli, "Yaudah papa minta maaf, sebagai gantinya, kamu mau apa aja Papa turutin." "Serius? Kalo gitu, Mery mau sekolah di Amriknya dibatalin," putus Mery. Riko mengeryit tidak setuju. Mery buru-buru mengoreksi, "Ehe, canda, Pa. Mery mau nantang Papa sama Arga makan-makanan pedes, gimana? Jadi siapa yang habis duluan otomatis menang. Yang kalah harus nurutin apa kata aku. Setuju?" "Emang pacar kamu setuju gitu?" Riko menatap Arga. Cowok itu menganggukan kepala. "Terserah Mery aja sih, Om," jawab Arga, membuat Mery tersenyum puas menatap papanya. "Oke. Papa terima tantangannya," final Riko. Mery mengacungkan jempol ke arah Arga. "Mas, kamu, 'kan—" "Udah aku nggak papa.." Marina berujar panik, mantan suaminya itu alergi pedas sedikit saja memakan cabai, perutnya bisa melilit berhari-hari. "Kenapa, Bun? Papa kenapa? Nggak suka pedes ya?" tanya Mery. "Enggak. Papa suka kok. Liat aja nanti papa pasti menang," Riko menepuk d**a bangga. "Huu. Papa mah sombong," cibir Mery. Tidak berselang lama, pesanan mereka akhirnya datang juga. Pelayan itu menaruh sepiring pasta, masing-masing di hadapan Riko dan Arga. Berlanjut makanan lainnya. Mery lantas mengambil mangkuk sambalnya lalu mencampur tiga sendok makan sambal itu ke piring Riko dan Arga. "Hmm. Pedes banget ini kayaknya, yakin Papa mau nyoba?" "Yakinlah. Kamu jangan meragukan Papa ya." "Heleh." Sebelum tantangan di mulai, mereka lebih dulu bertukar posisi. Mery di samping Arga, sedangkan Marina di samping mantan suaminya, meski ada sedikit rasa canggung. "Sudah siap?!" Tanya Mery, kedua tangannya memegang sendok dan garpu, "Satu! Dua! Tiga! Mulai!!" Dan inilah saat-saat yang paling menegangkan, Riko dan Arga sama-sama menyantap pasta yang pedasnya luar biasa. Bagi Arga, pedas ini bukan apa-apa, toh, cowok itu sudah biasa. Namun, lain halnya untuk Riko, papanya itu sesekali mengusap peluh yang membanjirinya pelipisnya. Marina berulang kali, membantu mantan suaminya itu mengusap peluh dengan tisu. "Menurut kamu, kita bakal menang nggak pacar?" tanya Mery. Menatap wajah Arga dari samping. Pacarnya itu tetap aja ganteng, meski sambalnya ciprat sana-sini. "Nggak tau. Aku sebenarnya nggak tega sama papa kamu. Liat tuh, udah kepedasan banget kayaknya." Arga menyuap lagi pastanya. Mery menyeka peluh Arga dengan tisunya, "Gapapa. Yang penting papa pasti ngabulin permintaan aku." "Mas! Udah gih! Kamu nanti diarean, Mas. Aduh! Udah aku bilang, mata kamu merah!" Panik Marina. "Santai aja, Mar. Aku nggak papa kok." "Kamu itu ya, keras kepala!" "Tuh, kan, bener kata kamu pacar, mereka masih saling sayang," bisik Mery. Arga bergumam saja. "Oke fix, kamu kalah, sini piringnya! Nggak boleh makan lagi!" Cetus Marina, merebut piringnya, kala melihat sudut mata Riko mengeluarkan air. Marina tahu betul, jika masuk fase itu Riko sudah tidak sanggup lagi. "Tapi, Mar, aku belum selesai—" "Minum aja nih, minum!" Marina menyodorkan air dinginnya ke bibir Riko. Pria berkemeja hitam itu terpaksa meminumnya. "Oke Mery, papa kamu kalah. Silahkan minta apa aja, asalkan jangan disuruh makan-makanan pedes lagi." "Hehe, iya, Bun, sorry." Mery mengangkat kedua jarinya, pech. Sementara Arga telah menghabiskan pastanya, cowok itu mengelap mulut dengan tisu, "Jadi, Arga menang. Yuhuuu. Udah siap dong Papa ngabulin permintaan Mery?" Riko mengangguk pelan, masih meredakan rasa terbakar di mulutnya. Mery menghampiri papanya itu, lalu memeluknya dari belakang. "Huhu. Maaf ya papaku cayang. Janji deh nggak lagi." "Iya gapapa. Jadi, permintaan putri papa apa?" Mery melirik Arga sejenak, kemudian bersuara. "Mery minta liburnya dipanjangin donggg, nambah seminggu atau sebulan gitu ya ya?" Riko tersenyum, dia mengusap lengan Mery yang melingkari lehernya, "Nambah libur sih bisa. Tapi cuma tiga hari, soalnya visa kamu udah jadi. Papa nggak bisa buat pihak sekolah nunggu kedatangan kamu di sana." Mery mendengus? "Gitu ya?" "Iya. Papa juga nggak siap pisah sama kamu. Ada lagi permintaannya?" Sebelum menjawab pertanyaan papanya, Mery menarik napas-napas dalam. Arga mengangguk pelan seolah memberi cewek itu kekuatan. "Mery mau Papa rujuk lagi sama Bunda. Bisa?" Pertanyaan sederhana tapi mampu membuat suasana hening seketika. Terutama untuk Marina, Bundanya itu menatap Mery lama, seolah tidak setuju. "Dari yang Mery liat, Papa sama Bunda masih sama-sama sayang, apa sebaiknya kalian nggak balikan aja? Mery pasti ikut seneng. Hidup Mery bakal berubah, Mery bakal punya orang tua yang lengkap seperti Raya sama Tasya--" "Nggak bisa," potong Marina tiba-tiba, berdiri dari duduknya. Mery melepas pelukan dari Riko lalu menghadap bundanya. "Kenapa nggak bisa bunda? Apa alasannya?" "Bukan urusan kamu." Marina mengemasi barangnya, bersiap pergi dari sana. Tanpa sedikitpun memandang wajah putrinya, "Aku pulang duluan, makasih traktirannya." "Bun, Mery mau bicara. Jangan pulang dulu." Mery ingin mencegat bundanya, namun Arga tiba-tiba berdiri dan menahan lengannya. "Ry," panggil Arga. Mery menghiraukan pacarnya, dia berbalik menghadap Riko "Papa kok diem aja? Ayo kejar bunda." Riko tetap bungkam, dia malah berdiri lalu memeluk Mery, "Maaf Mery, ada suatu hal yang nggak bisa kami kasih tau sekarang sama kamu." "Maksud papa?" "Engh.. Papa keluar bentar, mau ngejar bunda kamu." "Pa!" Kedua kalinya Mery berteriak, kedua kalinya lengannya ditahan oleh Arga. Ketika Riko justru bergegas lari dan meninggalkannya begitu saja. Mery menunduk kecewa, rencananya menyatukan mereka ternyata sia-sia. "Ry." Sebuah tangan tiba-tiba mengangkat dagunya, tatapan Mery langsung tertuju pada Arga, "Kita bisa coba lagi. Jangan pernah nyerah, Ry." Mery menggeleng pelan, air tertahan di sudut matanya. "Aku nggak tahu harus gimana lagi pacar, aku pasrah aja." "Nggak boleh," tukas Arga, menepuk-nepuk pelan puncak kepala pacarnya. "Gagal itu wajar. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Kita masih punya banyak kesempatan. Jangan sedih oke?" Mery mengangguk pelan, dihembuskannya napas perlahan. Tanpa diduga, Arga tiba-tiba meraih tangannya, menaruhnya di pundak cowok itu. Sedangkan tangannya yang lain digenggam, Mery merasa Arga menyelipkan tangan di pinggangnya. Mery mengerjap, dia menaikkan alisnya bertanya, jadi mereka mau dansa gitu? Namun, Arga hanya tersenyum tipis menatapnya. Terlebih, cowok itu bernyanyi tiba-tiba. Oh darling I know you’re taken ? Something ‘bout this Just don’t feel right Every time One of us, tries to leave here? Oh the other one Holds on tight Oh oh Baby tonight? There’s so much love in between us But you say you gotta get home Stay here with me I won’t tell a soul?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN