Kadang, yang datang bukan untuk bertahan. Tapi cuma singgah, terus pulang menyisakan sebuah kenangan.
•••
Setengah jam perjalanan pulang, akhirnya motor Arga tiba di rumah Mery. Cewek itu sendiri sudah tertidur pulas, Arga terpaksa membangunkannya. Menepuk-nepuk pipi pacarnya pelan, tak lama suara khas orang bangun tidur terdengar.
Mery menguap sebentar, lalu membenarkan tatanan rambutnya. "Sudah sampai?"
Arga bergumam sebagai jawaban, dia menurunkan standar motor. "Ayo turun."
"Gendong."
"Jangan manja."
Mery nyengir singkat. Ia turun dari motor kemudian menghadap Arga. "Makasih pacarrr. Kira-kira sekarang udah jam berapa ya?"
"Jam delapan," jawab Arga, melirik jam tangan hitamnya.
"Oh. Pacar nggak mau mampir dulu?"
"Enggak. Aku buru-buru. Kamu jangan lupa sholat terus tidur," pesan Arga.
Yang ditanggapi Mery anggukan pelan, dia berjalan memasuki pagar rumahnya. Berhenti sebentar di sana, lalu berbalik lagi menghadap Arga. "Lho, pacar nggak mau pulang?"
"Nunggu kamu masuk dulu, pagarnya jangan lupa di kunci."
Ucapan Arga benar-benar manis di telinga Mery. Tak mau baper lama-lama, dia lantas mengunci pagar, menatap wajah pacarnya dari sekat pagar. "Udah nih."
Tanpa membuang waktu, Arga bergegas menaiki motor dan memasang helmnya. Sempat tersenyum sekilas pada Mery, sebelum akhirnya meninggalkan rumah cewek itu dengan berat hati.
Entah, Arga hanya khawatir, sebab ia merasa diikuti sejak pulang dari cafe tadi.
☆☆☆
"Seru jalan-jalannya?" tanya Anggie, dari arah dapur, mendapati Arga menaiki tangga sambil menenteng helmnya.
"Lumayan," jawab Arga singkat, tersenyum sekilas pada Anggie. "Aku masuk kamar dulu."
"Eh, bentaran, tadi ada paket buat kamu, mama taruh di ruang tamu. Ambil sekarang gih, entar keburu dibuka sama Davina."
"Paket?" Arga lantas menghentikkan langkah, seingatnya, dia tidak memesan paket apa pun. Arga menatap Anggie penuh tanda tanya. "Dian nggak pesan barang kok, Ma."
"Masa? Kamu lupa kali! Jelas-jelas, dipaketnya itu tertulis nama kamu."
"Pengirimnya?"
Anggie mengangangkat bahu. "Nggak tahu. Mama asal terima aja tadi."
Arga mendengus, mamanya ini asal-asalan saja. Lah, kalau paket itu isinya bom gimana? Kan bisa berabe, batin Arga menahan kesal.
Kepalang penasaran, Arga pun kembali turun dari tangga, menghampiri sebuah paket berbungkus coklat yang tergeletak di nakas tamu. Benar, nama penerimanya adalah Dian Sharga Aldizar, alamatnya pun adalah rumahnya.
Tapi siapa yang mengirimnya?
"Dian bawa ke kamar," ucap Arga singkat. Membawa paket itu ke kamarnya. Menaruhnya di atas kasur. Memilih berganti pakaian lebih dulu. Sebab bau parfum Mery masih menempel di bajunya, padahal mereka nggak ngapa-ngapain lho ya. Cuma dansa terus pelukan bentar. Ya wajar sih, Mery gemesin banget deh akhir-akhir ini. Bawaannya pengen meluk mulu.
Usai melepas baju, gawainya tiba-tiba berbunyi, Arga mendapati satu notif chat dari Mery.
Meryang
Pacarrr. Kangennn...
Baru sebentar
nggak ketemu
masa langsung
kangen?
Gatau, pokoknya
kangen aja
kamu gak gitu?
Nggak tuh
???
Canda sayang,
kebiasaan banget
sih baperan.
Au ah gelap nih?
Kek hati.
Arga terkekeh pelan lalu duduk di bibir kasur. Pandangannya tertuju pada paket tadi, Arga mencoba bertanya pada Mery.
Kamu ada ngirim
Paket buat aku?
Ga ada, emgnya knp?
Ada cewek ngsih kamu
paket ya??
Mungkin, aku gatau siapa.
Ga ada nama pengirimnya
Kok bisa gitu sih.
Kamu udh tau
isinya ap?
Belum aku buka
Buka sekarang gih.
trus Kasih tau aku
Bentar
Buru-buru Arga membuka bungkus paketnya, terlihat kotak berwarna putih dengan pita merah. Terkesan tidak misterius, malah seperti paket dari pengagum rahasia.
Di sisi paket itu, tertempel secarik kertas yang bertuliskan.
"Untuk kamu yang pernah singgah di masa lalu."
Arga mengernyit lalu tertawa pelan. Masa lalu? Jadi, dia pernah ada di masa lalu orang ini gitu? Ah, bodo amatlah.
Mengabaikan tulisan itu, Arga membuka tutup kotaknya. Terkejut? Jangan ditanya lagi, banyak foto masa kecilnya di dalam paket ini.
"Ini gue?" gumam Arga. Mendapati foto masa kecilnya sedang bersepeda. Perasaan khawatir mulai menjalari hatinya.
Gawainya tiba-tiba bergetar.
Meryang
Pcr
Pcr
Pcr
Udh belum? Kok lama?
Apa isinya?
Arga menahan napas, bingung harus menjawab apa? Bohong atau jujur? Kalau jujur, dia takut Mery khawatir. Jadi, dia memilih bohong saja.
Cuman sepatu,
aku baru ingat
ada pesan ini
minggu lalu.
Oh.
Kirain ap?
Pcr mah bikin
khawatir aja.
Tuh kan.
Sorry
Gapapa kok
pcr. Yaudah
Aku mau
tidur dulu yah.
Nice a dream pcr??
Too?
☆☆☆
"Woi semprul!!" teriak Arlan, membuat lamunan Arga buyar.
"Apaan sih, Lan?! Gue nggak budeg!" Jawabnya ketus, seraya membalik halaman bukunya. Mengerjakan tugas Pak Yoshi.
"Santai aelah, nyet. Ngapain dah lo ngelamun? Tumben."
"Gue nggak ngelamun."
"Hilih. Lo kira gue buta ha? Lo ngelamun udah hampir setengah jam!" cibir Arlan. Menarik satu kursi, kesempatannya mencontek jawaban Arga. "Untung gak sampai ileran."
"Ha? Gue ileran? Serius?"
"Ngaca sana gih."
Arga menurut saja, sebelum kemudian bergegas menuju cermin di sudut kelas. Namun tidak menemukan apa-apa, malah merasa ganteng lebih dari biasanya. Ah, Arlan sialan.
Dengan mengendap-ngendap, Arga menggeplak kepala Arlan dengan buku Citra.
"Nggak ada, b**o!"
Arlan meringis. "Emang, siapa suruh lo percaya?"
"Dasar laknat!" kekeh Arga, kembali duduk di kursinya.
Arlan menggaruk belakang telinga. Cowok itu menarik buku tulis Arga lebih dekat. "Btw, lo ngelamunin apa?"
"Bukan apa-apa."
Arlan mendengus pasrah, dia mencebik kesal. Arga tetap Arga. Cowok itu paling susah kalau disuruh jujur soal perasaannya.
Tiba-tiba, tatapan Arlan tertuju pada seorang cewek di ambang pintu. Mery melambaikan tangan, seraya mendekap buku tebal di d**a cewek itu.
"Pacar lo tuh."
Lantas Arga menoleh, dia mengerutkan kening, heran.
"Mery?"
"Hai, pacar!"
Seketika, tatapan seisi kelas mengarah pada mereka. Arga menggaruk belakang telinganya, canggung. Arga menghampiri cewek itu.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Emang nggak boleh ya ke kelas pacar sendiri?"
"Bukan gitu. Sekarang masih jam pelajaran, kamu nggak papa keluar kelas?"
"Aku... remedial fisika. Hehe. Nggak tau cara jawabnya, ajarin ya.. plisss.." Memasang wajah melas, menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Arga jadi tidak tega.
"Oke-oke. Tapi jangan di sini, kita ke perpustakaan aja," jawab Arga, dia mengusap rambut Mery. Membuat sebagian siswi di kelas cowok itu klepek-klepek.
"Siap pacar!"
Arga menatap Arlan. "Lan, lempar pulpen!" perintahnya. Lantas sebuah pulpen hitam dilempar oleh Arlan, yang langsung ditangkah cowok itu mudah.
"Ayo."
Mereka pun pergi menuju perpustakaan, meninggalkan kelas cowok itu. Berjalan beriringan menuruni tangga, hati Mery berbunga-bunga. Dia kira Arga akan menolak dan ternyata malah sebaliknya.
Duh, Mery jadi makin sayang deh sama Arga. Sudah ganteng, pinter, jago moto, meski kadang-kadang ketus dan menyebalkan. Ya tetap aja Mery sayang.
Dalam perjalanan menuju perpustakaan, Merylah yang selalu berceloteh, entah soal tukang sayur yang sering lewat rumahnya atau anak tetangga yang sering terpeleset berhasil membuat humor Arga merendah saat itu juga.
"Mata pelajaran apa aja yang remedial?" tanya cowok itu, mendaratkan p****t di kursi. Berhadapan dengan Mery.
"Fisika doang kok, sisanya di atas sembilan semua. Ya meski kimia dapat tujuh sih. Hehe," cengirnya.
Arga manggut paham. Dia mulai membuka lembar soal yang diberikan Mery. Ada dua puluh soal, dan itu hitungan semua. Oke, karena Arga suka hitung-hitungan, soal itu terasa mudah saja.
"Jadi, energi potensial sama mekanik itu beda. Kalau energi potensial pake rumus m×g×h, maka energi mekanik Ep+Ek, sebelumnya kita cari dulu energi kinetiknya berapa. Rumus energi kinetik 1/2m×v pangkat 2. Ngerti?"
Arga mengangkat wajah. Karena Mery tak kunjung memberi jawaban, cewek itu malah menatapnya lekat seraya senyum-senyum gak jelas.
Melambaikan tangan di depan wajah Mery, Arga berkata. "Ry, ngerti nggak? Soalnya ada di kertas bukan di muka aku."
Lantas Mery tersadar dari lamunan. Ia mengerjab perlahan. "Eh, kamu ngomong apa tadi? Aku nggak denger."
Arga memutar bola mata malas lalu memijit batang hidungnya. "Ngerti penjelasan aku tadi?"
"Emm..." Ragu-ragu, Mery menjawab pertanyaan cowok itu. "Enggak. Hehe. Abisnya muka kamu lebih menarik sih daripada penjelasan tadi."
Oke, Arga masih sabar menghadapi sifat Mery yang satu ini. Cowok itu tiba-tiba memajukan wajahnya, menatap kedua bola mata Mery, membuat kedua tubuh cewek itu terasa kaku. Arga menahan punggung cewek itu. Pandangan mereka bertemu, pipi Mery bersemu.
Dan pandangannya turun ke arah bibir Arga, Mery buru-buru menutup matanya. Seketika sebuah jitakan pelan mendarat di jidatnya.
"m***m lagi kan?"
Bahu Mery merosot seketika seraya mengelus jidatnya yang di jitak oleh Arga. Huft, pacarr sesusah itu ya peka? Tempelin sebentar doang aja gapapa kok. Eh. Hehe.
"Kurang-kurangin deh, Ry. Belum saatnya kita ngerasain itu," kekeh Arga. Dia menyodorkan lembar soal. "Kamu tinggal masukin angkanya, aku udah kasih tuh rumusnya. Aku balik, jawabannya udah ada, ngerti?"
Mery manggut-manggut. Bibirnya mengerucut. "Pacar mau kemana?"
"Toilet."
"IKUT!!"
"Mau aku kunci di sana?"
Tuh, 'kan menyebalkan.
"Eh, enggak mau deng. Pacar mah serem."
"Yaudah. Jadi penurut, tinggal di sini terus kerjain soalnya. Paham?"
"Iya deh iya. Jangan lama-lama, ntar kangen."
Arga menggangguk, dia menarik gemas kepang Mery sebelum kemudian keluar dari perpustakaan. Yah, namanya juga Dian Sharga Aldizar, semarah apa pun cowok itu. Dia tidak pernah memakai cara kekerasan untuk membujuk Mery.
Ah, tuh kan, Mery jadi senyum-senyum nggak jelas lagi.
Mengerjakan soalnya, tiba-tiba sebuah gumpalan kertas mendarat di atas mejanya. Mery mengernyit, ia menatap sekeliling, malah tidak menemukan siapa-siapa selain penjaga perpustakaan yang tengah fokus membaca koran di sudut ruangan.
Lho, jadi siapa melempar ini kertas? Jatuh dari langit gitu? Ck ck.
Malas memikirkan, akhirnya Mery membuka gumpalan kertas itu, tertelan tulisan bertinta merah yang membuat napasnya tertahan seketika.
'Dia tidak akan kembali'