Jalan dan Angan

1714 Kata
Kalau dia benar-benar sayang, nggak mungkin tiba-tiba ngilang. ••• Setelah mendapat telepon dari rumah sakit cewek itu bergegas meninggalkan kelas. Sempat dilarang oleh pengawas, namun seorang guru berhasil membujuknya membuat cewek itu buru-buru menuju parkiran. Rasa panik mendominasi perasaannya saat ini, cewek itu terus berdoa dalam hati. Sialnya, mobil cewek itu terjebak hingga mengeluarkannya cukup menyita waktu. Selamatkan Papa Ya Tuhan, selamatkan Papa.. batin cewek itu. Berhasil mengeluarkan mobilnya, cewek itu melewati gerbang sekolah dengan menjalankan mobil di atas kecepatan rata-rata. Membelah jalanan kota Bandung yang masih ramai pagi ini. Akibatnya, tidak sampai sepuluh menit, cewek itu berhasil tiba di rumah sakit lebih awal. Dia langsung menuju kamar pasien nomor 20, dimana seorang pria paruhbaya terbaring lemah di sana. Dengan beberapa alat medis menempel di d**a dan juga pemasok oksigen yang menempel di hidungnya. "Papa!" Cewek itu langsung memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca lalu menatap seorang dokter yang baru saja menyuntikan sesuatu di impusnya. "Gimana keadaan ayah, Dok? Baik-baik aja kan?" "Pasien sempat kejang-kejang selama beberapa menit. Tapi setelah itu pingsan lagi, kami sempat mengira pasien akan bangun setelahnya, dan ternyata tidak. Ini sering terjadi sebelumnya kan?" Cewek itu mengangguk seraya menggenggam tangan keriput ayahnya. Dokter itu tersenyum samar. "Anda tidak perlu khawatir berlebihan, kami akan berusaha sekeras mungkin membuat beliau kembali membuka mata. Dan teruslah berdoa agar Tuhan memberikan keajaiban untuknya," ucap dokter itu. "Kalau begitu, saya permisi, panggil suster jika terjadi sesuatu." "Baik, Dok. Terima kasih." Sepeninggal dokter tadi, cewek itu lantas mengalihkan tatapan pada papanya. Menggenggam tangan pria itu hangat, memilin jari-jarinya yang dingin. Sudah dua tahun papanya itu koma, membiarkan cewek itu hidup dalam kesendirian. "Cepet bangun yah, Pa. Aileen kangenn." ☆☆☆  Mery bisa saja memilih berteriak sekarang, andai jam pelajaran tidak berlangsung. Kertas tadi. Ya, gara-gara kertas tadi, hati Mery mendadak panik. Dia berlari keluar perpustakaan sambil tergopoh-gopoh lagi. Masa bodoh pada soalnya. Yang penting sekarang ia memastikan Arga aman-aman saja. Cewek itu berdecak, ketika kakinya harus menapaki satu persatu anak tangga. Di saat inilah Mery mengeluh, mengapa Tuhan tidak memberikannya kaki jenjang saja? Bukan kaki pendek seperti ini. Kan bisa menapaki dua anak tangga sekaligus. Pyuh. Tingginya juga pasti akan sama dengan Arga. Terus kalo mau cium cowok itu Mery nggak perlu jinjit-jinjit deh. Hehe. Eh apa sih yang dia pikirkan? Mery menggetok kepalanya, duh khilaf deh khilaf. Sumpah! Namun tanpa diduga, Mery tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tepat di anak terakhir, cewek itu terjatuh, lututnya mendarat dengan manjah. "Huwaa sakittt," ringis Mery. Pandangannya turun pada sepasang sepatu yang berhenti di depannya. "Anyep dah! Lo ngapain sembah sujud gitu, Ry. Habis dicium sama Arga lo?" Kevin bukannya bantuin, dia malah ngakak seperti orang gila. "Lanjutin gih lanjutin." "Sembah sujud pale lo! Gue jatuh ini. Cepet bantuin! Nggak usah ngakak, b**o!" semprot Mery. "Iya-iya. Galak amat dah!" Kevin mengalah, ia meredakan tawanya sebentar lalu membantu Mery berdiri. "Kenapa sih bisa jatuh?" "Karena bumi masih punya gravitasi. Ya mana gue taulah!" ketus Mery, menepuk-nepuk tangannya yang kotor. "Dih, galak! Gak syukak," cetus Kevin lebay. Mery memutar bola mata. "Nggak ngerti deh gue kenapa Raya mau punya cowok banci kayak lo? Huh." Kevin berdecak. "Sembarangan lo ngomong. Gini-gini gue masih punya batang, gue bakal kasih Raya sebelas anak. Terus bentuk tim sepak bolah deh." "Iyain aja dah biar cepet!" Kata Mery, dia mengecak luka di lututnya. Ada lebam dan goresan merah. "Awh." "Dih, lo luka tuh." Kevin ikut meringis. "Mau gue ambilin obat merah di UKS?" "Nggak usah deh, gue buru-buru." "Bisa jalan gitu?" tanya Kevin. Melihat Mery kesusahan berdiri, cewek itu berjalan tertatih-tatih. "Mau gue bantu?" "Nggak perlu. Gue nggak selemah itu. Makasih." "Yee.. jatuh lagi baru tau rasa lo!" cibir Kevin. Cowok itu kemudian menaiki tangga meninggalkan Mery sendiri. Cewek itu berjalan tertatih-tatih seraya menyisir pandangan, barang kali Arga tiba-tiba datang dan membantunya berjalan. Atau menggendongnya ala bridal style. Emmm. Romantis deh. Tapi kemana sih cowok itu? Lama banget ke toiletnya! Apa dia boker ya? Merasa lambat, Mery mempercepat langkahnya, alhasil, cewek itu tanpa sengaja menginjak sebelah tali sepatunya yang tidak terikat. Dan bugh. Bukan! Bukan suara jatuh ke lantai keramik, tapi benturan antara jidat Mery dan d**a seorang cowok yang kini menahan lengannya. Eh, kok baunya harum ya? Ini lantai apa bukan sih? Batin Mery. Masih menutup mata. "Bisa jalan nggak sih, Ry?" Mery mendongak, ia cengar-cengir salah tingkah. "Pacar ya?" "Bukan, Ry. Setan!" semprot Arlan dari arah belakang. "Pake nanya." Mery mencebikkan bibir, pandangannya turun ke bawah. Namun, entah kenapa matanya menangkap sesuatu. Dan itu tepat di balik celana Arlan. "HUWAA!! ARLAN, b**o! LO DIAJARIN PAKE CELANA NGGAK SIH?!" pekik Mery menutup matanya. "Diajarin kok." "TAPI KENAPA ITU PUNYA LO NYEMBUL PE'A?!" Mata Arlan lantas membulat, dia menatap ke bawah. Buru-buru berbalik badan dan menaikkan resletingnya. "Astagfirullah! Sorry-sorry gue lupa naikin reseleting. Malu gue b*****t!" kesalnya, lalu menoyor kepala Arga. "Gara-gara lo nih, Yan. Ngajak gue cepet-cepet." "Kok jadi nyalahin gue, kutil?" Arga balas menoyor kepala Arlan. Mery menatap keduanya bergantian, lalu memicing heran. "Emang kalian habis darimana sih? Atau jangan-jangan... huwaa pacarrr. Kamu masih normal, 'kan?" tanya Mery, kemudian memeluk pacarnya panik. Arga mendengus. "Masihlah. Kalau nggak ngapain aku pacaran sama kamu? Kami habis dari toilet kok." "Emm... hehe," cengir Mery. Mengendus-ngenduskan hidung ke d**a Arga. Syukurlah pacarnya itu tidak seperti yang ia kira. "Kirain." Melihat pemandangan di sampingnya, Arlan memutar bola mata. "Etdah! Sakit mata gue liat manusia bucin kayak lo bedua!" "Yaudah sana pergi. Hush! Hush!" usir Mery, persis seperti mengusir kucing. Arlan mengacungkan jari tengahnya sebelum kemudian pergi dari sana. Arga menatap Mery yang masih memeletkan lidahnya pada Arlan. "Kamu ngapain tadi lari-lari?" tanyanya. Mery menatap cowok itu sebentar lalu mengeluarkan gumpalan kertas dari saku. "Aku dapat ini waktu di perpus. Ada yang lempar ke meja, tapi nggak tahu siapa." Arga mengernyit, tetap menerima uluran kertas itu. Dibacanya tulisan bertinta merah di sana. Arga yakin seratus persen tulisan ini tidak lain adalah tulisan di paket malam tadi. Toh, tulisan ini sangat mirip. Jadi, tidak ada alasan lagi untuknya berbohong saat ini. "Ayo ikut aku," Arga tiba-tiba menarik tangan Mery, namun cewek itu meringis. Arga mengikuti pandangan cewek itu. "Astaga! Lutut kamu," pekik Arga, dia menatap lebih dekat luka pacarnya. "Kenapa bisa begini? Ceroboh banget sih." "Jatuh dari tangga tadi. Setelah dapat kertas itu aku langsung khawatir terus pengen nyari kamu." Arga lagi-lagi mendengus. Dia mengusap pelan rambut Mery. "Aku nggak bakalan kenapa-napa. Nggak usah khawatir. Aku bisa jaga diri. Jadi kamu nggak perlu lari-lari kayak tadi. Bahayanya itu--" Tersenyum geli, Mery lantas membekap mulut Arga lalu memainkan pipi cowok itu. Hanya luka kecil, dan Arga menasehatinya sepanjang tadi? Duh, Mery jadi merasa istimewa banget hari ini. "Iya pacar iya. Bawel deh." "Yaudah kalau gitu jangan diulangi. Ayo ke UKS. Obatin luka kamu dulu." "Gendong? Sakit ini kalau jalan," pinta Mery, mengedip-ngedipkan matanya imut. Arga menyentil dahi cewek itu. "Masih punya kaki, 'kan?" Bibir Mery mengerucut. Huh, nyebelin, nyebelin, nyebelin! Tapi gantenggg. ☆☆☆ "Awh. Pelan-pelan dong, perih tau, Ga," ringis Mery. Ketika Arga membersihkan lukanya menggunakan kapas. Cowok itu nampak hati-hati. "Iya-iya. Udah pelan-pelan nih, kamunya aja yang lebay. Cuma luka kecil doang," ketusnya. Mery memutar bola mata, cewek itu meniup-niup rambut Arga. Karena posisi mereka sekarang berhadapan, Mery duduk di bibir kasur sedangkan Arga duduk di salah satu kursi kayu. Memudahkannya untuk memandang wajah cowok itu. "Nggak puas liatin muka aku mulu?" Mery tergelak, dia memalingkan wajah seraya menahan senyum malu. "Jadi gimana soal kertas tadi?" "Kertas yang mana?" "Yang aku kasih tadilah. Masa langsung lupa? Kamu mah." Arga tertawa pelan. "Ngetes aja." "Jadi gimana?" "Gimana apanya?" "Kamu ih!" Mery mulai kesal, ia memberanikan diri menjambak rambut Arga. Tatapan beberapa pengunjung UKS lantas terfokus ke arah mereka. "Becanda. Makanya ngomong itu yang bener. Pake Bahasa Indonesia yang baik biar jelas," kata Arga. Dia balas menarik kepang Mery. Dasar aneh pacarnya satu ini. "Nggak mau ah, ribet!" Arga terkekeh lagi. Dia melirik sekilas Mery, berlanjut menempelkan plester luka. Jujur, agak berat hati saat berkata. "Sebenarnya aku tahu siapa yang nulis pesan itu." Mery hendak membuka bersuara, tetapi Arga lebih dulu membekap mulutnya. "Jangan marah dulu." Lalu menarik napas. "Aku jelasin biar kamu paham, oke?" Mery manggut-manggut. "Oke. Tapi harus jelas dan nggak ada satu pun hal yang kamu sembunyiin dari aku." Arga mengangguk. "Jadi, paket yang datang malam tadi itu bukan paket pesanan aku. Isinya juga bukan sepatu." "Jadi kamu bohong?!" "Dengerin dulu," Arga menggenggam tangan Mery kala cewek itu memalingkan muka. "Aku takut kamu khawatir terus ngelakuin yang nggak-nggak. Makanya aku milih bohong. Jujur, aku nggak tahu siapa pengirimnya. Terlebih, isi paket itu foto masa kecil aku semua. Aku minta maaf." "Segitu enaknya minta maaf?" lirih Mery. Enggan menatap Arga. "Terus kamu mau aku ngelakuin apa? Sembah sujud di kaki kamu? Aku lakuin sekarang." Tidak main-main, Arga memundurkan kursinya guna mendekati kaki Mery, namun bahunya ditahan cewek itu tiba-tiba. "Nggak usah kayak gitu juga. Malu-maluin tau, Ga," katanya. Mendorong cowok itu lagi duduk di kursinya. Arga tersenyum tipis. "Dimaafin nih?" Mery manggut-manggut saja. Arga menghela napas, menoel-noel pipi pacarnya. "Nggak ikhlas nih." "Ikhlas kok." "Cemberut gitu." "Tau," jawab Mery, menggidikan bahunya. Masih pura-pura ngambek sama pacarnya. "Ngambekan entar cepet tua. Mau?" Mery menggidikan bahunya lagi. Kali ini cewek itu memandang tak minat pada sepatunya. Arga yang melihat itu mengulum senyum, dinaikkannya dagu cewek itu hingga pandangan mereka bertemu. "Yaudah sebagai permintaan maaf, malam ini kita jalan-jalan. Mau?" "Serius?" tanya Mery antusias, dia paling suka jalan malam-malam. Menurutnya sih lebih romantis dibanding sore yang kadang lumayan panas. "Masa bohong?" "Mauuu! Hehe. Jadi, malam ini aku dandan cantik-cantik deh." Arga menyentil dahi cewek itu. "Giliran jalan-jalan langsung mau. Dasar kamu." Mery tidak peduli, dia malah ngendus-ngendus kayak kucing di lengan Arga. Rasanya, setiap hari dekat cowok itu makin harum aja. Pakai parfum apa sih dia? Ah, bodot amatlah, yang penting nggak bau ketek. Arga mengusap punggung Mery, tak luput dari tatapan siswi-siswi di UKS saat ini. Dia menggidikan bahu nggak peduli. Sampai tatapannya tertuju pada brankar di sebelah Mery. Lho, Aileen? Sakit apa cewek itu sampai terbaring di sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN