Bagian terpenting dari menjalani sebuah hubungan bukan cuman kepercayaan. Tapi juga kejujuran. Kalau saling percaya tapi sering bohong. Ya percuma.
●●●
"Yan, pliss. Hari ini aja. Gue yakin Aileen bisa naikin rating majalah sekolah kita, apalagi kalau difoto sama lo. Terus makin banyak deh yang ikut eskul ini. Dan secara nggak langsung, kita juga bantu eskul modelling nambah anggota."
"Dengan make gue?"
"Bukan!! Elo mah sotoy!"
"Terus apaan?"
Arga mengambil duduk di salah satu sofa. Dia sudah malas meladeni Kevin yang sedari tadi mengungkit soal Aileen. Cowok itu mengambil kameranya, membersihkan lensanya dengan hati-hati.
Mengingat waktunya sekarang, bagi cowok itu mengajari junior-juniornya. Meski eskul fotografi pernah dipandang sebelah mata, Arga tidak pernah berniat membubarkannya, dia justru berusaha keras mempertahankan eskul ini tetap ada.
Dan hasilnya, Arga mampu membuat eskul ini diakui sekolah. Terbukti, dari banyaknya siswa dan siswi yang kini membentuk kelompok sesuai perintah.
"Kita harus kerja sama dengan eskul modelling. Anggota-anggota mereka pasti mau diajak kerja sama. Apalagi sekarang nambah satu. Si Aileen itu. Dia punya pesona yang wow! Lumayanlah dapet satu cewek cantik buat majalah kita tahun ini," ucap Kevin bersikukuh. Dia duduk di samping Arga dan merangkul bahu cowok itu. "Nggak ada salahnya nyoba, kan?"
"Harus Aileen? Anggota yang lain juga banyak, nggak kalah cantik kalau dibandingin sama Aileen lo itu. Lagian kita nggak pernah pake dia."
"Nah, justru itu kita harus nyoba dia, nyet. Duh, belibet deh ngomong sama lo. Iyain aja napa," kekehnya. Kevin mendengus kuat-kuat. Berbicara masalah ini ternyata memerlukan tenaga ekstra karena sang ketua terus menolak permintaannya. Kevin menatap Arga melas. "Plislah. Gue baru pertama kali minta sesuatu ke elo. Dan kali ini aja lo kabulin, setelah itu gue janji nggak minta apa-apa lagi."
Arga terkekeh ringan. Dipotretnya barisan murid fotografi di depan sana sambil berkata. "Sekali pale lo! Terus yang lo minta line Raya sama gue itu apa, b**o?!"
Kevin cengengesan, ia mengangkat kedua jarinya peach.
Arga yang melihat itu terkekeh lagi. Bertepatan ketika salah satu siswi mulai mengeluh kelamaan. Dia menatap Arga berulang kali, cowok itu paham dan menghampiri barisan, meninggalkan Kevin yang mencak-mencak sendiri.
"Oke. Sebelumnya, maaf udah buat kalian nunggu lama," Arga mengawali latihannya, dengan berbicara datar kepada seluruh anggota. Aura dingin yang terpancar dari wajahnya, membuat mereka lantas menggagukan kepala.
"Hari ini kita akan belajar teknik fokus. Teknik yang sangat dasar dalam dunia fotografi. Pengaturan ini biasanya yang ada di kamera DSLR, dapat di setting secara manual atau otomatis. Pengaturan secara manual-- kalian liatin apa sih?" Arga memotong penjelasannya, ketika beberapa anggota siswi tidak memperhatikannya. Mereka malah cekikan melihat ke depan. Dan ternyata Kevin sedang membuat gerakan aneh yang memancing siapapun untuk tertawa.
Arga berbalik dan memutar bola mata. "Vin. Keluar!"
"Kagak mau. Iyain dulu permintaan gue, bos."
"Gue hitung sampai tiga. Satu."
Namun Kevin tidak beralih dari tempatnya, cowok itu terus membuat gerakan-gerakan alay. Beberapa siswi lantas tertawa, tapi menunduk lagi usai dilirik sinis oleh Arga.
"Dua."
Kali ini Kevin berhenti, dia tertawa sekilas pada Arga lalu berdiri di samping cowok itu. Menghadap barisan.
"Eh, btw, kalian mau tau nggak siapa aja yang pernah nari-nari kayak gue tadi?" Kevin berucap, dia menahan senyum geli. Mengedipkan sebelah mata pada Arga yang kini melotot ke arahnya. "Gue punya videonya loh. Kalian--ehmmm."
Belum selesai bicara, mulut cowok itu telah di bekap oleh Arga. Demi apa pun, Kevin sahabat paling sialan! Cowok itu hampir membuka aibnya.
Arga buru-buru berkata setelah melepas bekapannya. "Gue iyain permintaan lo. Dan jangan ungkit-ungkit lagi soal itu. Udah sana keluar!"
Kevin yang telah menang, langsung menari-nari nggak jelas lalu merangkul bahu Arga. "Siap pak Bos. Laksanakan!" Kemudian berbalik keluar ruangan. Menirukan gerakan anggota paskibra kalau jalan.
Arga tidak dapat menahan dengusannya keluar.
Dasar teman, durjana!
☆☆☆
Apa yang berubah dari Mery selain penampilan? Jawabannya sikap sok anak teladan. Ya, gara-gara telah dikenal sebagai murid baik-baik, tugas Mery rasanya semakin banyak saja.
Dan tadi, baru saja selesai belajar matematika bareng Arga, dia langsung disuruh bawain buku paket sebanyak dua puluh ke kelas XI-IPS 5. Padahal dia lewat kelas itu aja ya. Eh, mendadak Bu Etik memanggil terus nyuruh dia seenak jidat. Pyuh.
Sabar. Gue harus sabar, ini ujian. Latihan jadi istri yang baik buat pacarrr, hehe, gumam Mery, ia celengak-celinguk, takut ada yang denger, bisa dikira orang gila dia sebab bicara sendiri.
Mery menghela berat, langkah cewek itu sangatlah pendek, karena tangannya penuh dengan buku. Namun tiba-tiba bagian depan sepatunya menginjak sesuatu.
"Pulpen? Siapa sih yang lempar pulpen? Kurang kerjaan. Huh," gumamnya, berniat melangkah lagi, tapi kehadiran seseorang yang berjarak beberapa meter darinya menambah lipatan di jidat Mery. "Lo? Jadi lo yang lempar pulpen ini, cabe? Ckck, kurang kerjaan apa gimana sih lo?! Sampah di lapangan banyak tuh, lebih baik lo mungut itu!"
"Geer banget. Gue nggak berniat ganggu lo ya, gue disuruh Bu Etik bantu lo bawa buku. Jadi, sini separonya gue yang bawa."
"Gak gak!" Mery bergerak mundur ketika tangan Aileen ingin menggapai bukunya. "Nggak usah sok baik. Gue tau lo mau nyari muka doang sama pacar ganteng gue. Iya kan? Cih. Dasar cabe!"
"Lo tuh ya! Gue serius disuruh bu Etik. Buku itu juga bakal lo bawa ke kelas gue. Jadi siniin separohnya, nggak usah ngeyel lo. Cepetan!"
"Nggak!"
"Ih, siniin!"
"Nggak mau!"
Mereka saling berebut, Mery terus menghindarkan tumpukan bukunya dari Aileen. Tak mau jika satu buah buku saja sampai mendaratkan di tangan cewek itu. Sampai akhirnya, Mery kehilangan keseimbangan, menyebabkan bukunya jatuh berserakan.
"Tuh, kan, jatuh!" kesal Mery. Menunjuk wajah Aileen. "Gara-gara lo! Beresin cepetan!"
Aileen berdecak. "Enak aja. Itu gara-gara lo ya yang bawanya nggak kuat. Gue minta bawa separo nggak mau."
"Sembarangan! Ini gara-gara lo yang ngajak rebutan!" jawab Mery, tidak mau kalah.
Aileen mengibaskan rambutnya. "Siapa suruh lo nggak nurut?!"
"Ihh!" Kepalang kesal, Mery bergerak maju, menjambak rambut Aileen hingga cewek itu meringis kesakitan.
"Awh. Lo kira lo aja yang bisa jambak. Gue juga!" balas Aileen. Menjambak rambut Mery sama kuatnya. Kini, rambut mereka sama berantakannya.
Mendapati banyak rambutnya berjatuhan, Mery semakin menguatkan jambakannya. Begitu juga Aileen. Mereka menjadi bahan tontonan, setelah ada satu siswa yang melihat dan berteriak meminta pertolongan.
"ADA APA INI? ADA APA INI?! SIAPA YANG BERULAH SIANG-SIANG BEGINI?!" Suara Bu Martha--guru BK andalan SMA Bakti Buana, berkacak pinggang seraya membelah kerumunan. Wanita tua itu lantas geleng-geleng kepala. Langsung saja menjewer telinga keduanya. "ASTAGFIRULLAH KALIAN! IKUT SAYA KE RUANG BK! SE-KA-RANG!"
☆☆☆
Debu-debu kecil yang menempel di sudut rak buku, menyambut kedatangan Mery saat pertama kali menginjak kaki ke perpustakaan. Bukan, ini bukan perpustakaan yang sering ia datangi bersama Arga. Tapi ini perpustakaan kelas sepuluh yang berada di lantai pertama.
"Kamu bersihkan seluruh ruangan ini. Jangan sampai ada sedikitpun debu yang terlihat oleh saya. Satu jam mulai sekarang. Setelah saya kembali perpustakaan ini sudah bersih. Mengerti?"
Mery mengangguk seraya mencebikkan bibirnya. Ingin rasanya menenggelemkan bu Martha ke dalam sumur seratus meter. Apa guru itu buta ya? Dia cuma dikasih kemoceng woi! Gila aja mau ngebersihin perpustakaan segede ini, huh, nyebelinn, batin Mery. Tapi untungnya, dia nggak disuruh mungut sampah kayak Aileen. Panas-panasan lagi. Kasihan.
Usai tertawa puas, Mery lanjut menyapukan kemocengnya ke sudut-sudut rak. Lewat kaca jendela, dia bisa melihat Aileen yang misuh-misuh saat memungut sampahnya. Lumayan, ngejalanin hukuman sambil liat hiburan. Mery jadi cekikikan.
"Kerja itu yang bener, nggak usah sambil ketawa-ketiwi."
"Biarin. Supaya itu Alien tau rasa, siapa suruh nyari masalah sama Mery. Huh."
"Aileen, Ry. Bukan Alien."
Mery terkesiap, saat menyadari siapa pemilik suara.
"Bebeb?"
Arga duduk di salah satu kursi tak jauh dari ia berdiri. Fokus membaca novel yang entah cowok itu ambil dari mana. Mery lantas menghampiri.
"Bebeb udah lama di sini? Kok nggak bilang-bilang sih? Bukannya bebeb lagi sibuk eskul ya?"
Lagi, Arga menaikkan satu alis. Seolah mengerti ekspresi itu Mery segera menggubris. "Bebeb dari kata Baby. Hehe. Bagus kan? Bosen aku manggil kamu pacar mulu. Besok-besok mau manggil apalagi ya? Gaga? Car? ArAr? Yayang?" Mery mengusap dagu.
Arga menyentil dahi cewek itu. "Selesain dulu hukuman kamu. Masih banyak debu tuh."
Mery memayunkan bibirnya. "Bantuin dong. Tega banget ngebiarin pacar kamu yang cantik ini susah sendiri."
"Siapa suruh jambak-jambakkan tadi?" Arga bersedekap, dia tersenyum sekilas. "Lagian itu hukumannya buat kamu. Bukan buat aku. Yaudah selesain sendiri."
Mery menggembungkan pipi. Oke, kali ini dia mengalah. Cewek itu kembali melanjutkan hukumannya sembari ngomel-ngomel.
Arga yang melihat itu terkekeh geli. Ia tidak berniat sedikitpun membantu Mery. Cewek itu harus dibiasakan mandiri atas hukumannya. Meski status mereka pacaran, bukan berarti Arga harus selalu membantunya, 'kan?
Mengamati cewek itu, mulai dari membersihkan debu, merapikan buku, atau membuang sampah yang terjejal di rak buku, Arga sesekali memotret Mery, pose candid membuatnya terlihat lucu.
Hampir satu jam penuh kebosanan, Mery akhirnya menyelesaikan hukuman. Dia datang dengan wajah ditekuk lemas. Lalu merebahkan kepalanya di atas meja.
"Capek beb, capek," adunya.
Arga mengacak gemas rambut pacarnya. "Makanya jangan berantem lagi. Kamu tuh ya susah banget dikasih tau." Lalu menarik pelan hidung Mery. "Haus nggak?"
"Banget."
"Nih minum."
Mata Mery berbinar, melihat Arga meletakkan sebotol air mineral. Segera saja cewek itu menenggaknya.
"Wah, ademm. Makasih bebeb."
Arga mengangguk singkat. Tapi pandangannya tiba-tiba beralih ke telinga Mery.
"Telinga kamu merah? Kenapa?"
"Oh ini, dijewer sama bu Martha tadi. Nggak sakit sih. Udah biasa juga," jawabnya santai. Kemudian meminum airnya lagi.
Satu hal yang Arga sadari, selain sifat nakal Mery yang susah hilang, cewek itu juga sangat keras kepala. Ia tidak akan pernah mengalah, sebelum musuhnya menyerah.
Hal ini membawa kekhawatiran sendiri bagi Arga. Terlebih, sekarang ada Aileen di tengah-tengah hubungan mereka.